NovelToon NovelToon
Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Seni Balas Dendam Sang Nyonya Mahendra

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Naibelys Perez

Lima tahun Anindya Wiranegara menyembunyikan jati dirinya demi menjadi istri biasa. Lima tahun pula dia dihina suaminya, direndahkan mertuanya, dan dipandang rendah oleh semua orang.

Sampai malam pesta itu. Di anak tangga marmer sebuah hotel mewah, perempuan yang sudah lama menunggu gilirannya mendorongnya jatuh, dan sang suami hanya berkata, "Jangan merusak malamku."

Perempuan yang bangun dari rumah sakit itu bukan lagi istri penurut. Dia pewaris imperium perhotelan, perbankan, dan dunia bawah yang selama ini dia tinggalkan. Syaratnya hanya tiga: pegang kendali bisnis keluarga, kembali berlatih senjata, dan menikah dengan Arga Mahendra, taipan paling sombong dan paling ditakuti di negeri ini.

Pernikahan kontrak dimulai dengan klausul-klausul tertulis di atas meja kaca. Anindya menambahkan klausul merah miliknya sendiri. Arga menantang, Anindya membalas lebih tajam. Siapa pun yang berani menyebut pernikahan ini "sekadar bisnis" belum pernah melihat mereka berdua di ruang rapat, di meja catur, atau di ranjang.

Sementara itu, keluarga Pratama tak tahu bahwa kehancuran mereka sudah ditandatangani.

Ini bukan sekadar balas dendam. Ini seni, dan Nyonya Mahendra sudah menggoreskan tinta pertamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naibelys Perez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

API DAN INTRIK

Udara di ruang kerja pribadi itu begitu pekat, seperti dipenuhi listrik statis. Kata-kata Anindya, diucapkan dengan perpaduan mematikan antara keanggunan dan bisa, menjadi percikan yang menyulut bubuk mesiu yang lama tertahan.

Arga menatap lurus ke matanya, memerhatikan bagaimana ambisi dan amarah melebur menjadi daya tarik magnetis yang menguji seluruh disiplin legendarisnya. Ini bukan lagi soal bisnis, bukan aliansi strategis, bukan syarat-syarat membatasi dalam kontrak pernikahan yang ditandatangani dengan tinta merah. Berhari-hari, watak Anindya yang tak terjinakkan, kecongkakannya menghadapi sikap kasarnya, dan penolakan mutlaknya untuk mengalah terus menggerogoti kesabaran sang taipan.

Tanpa sepatah kata, dengan gerakan begitu cepat dan tak terduga hingga mengejutkan bahkan perempuan seawas Anindya, Arga menutup sisa jarak terakhir. Tangannya yang besar dan kokoh menangkup tengkuknya, lembut tapi dengan kekuatan tak tergoyahkan, menahannya rapat ke tubuhnya, dan bibirnya jatuh di atas bibir Anindya dengan rasa lapar yang rakus, nyaris putus asa.

Ciuman itu sama sekali tak sopan dan tak protokoler. Itu tabrakan dua kehendak, ledakan hasrat yang tertahan, dan pengakuan naluriah dua kekuatan alam yang bertabrakan berhadap-hadapan. Anindya membelalak kaget oleh serbuan itu, tapi api yang memancar dari mulut Arga terlalu panas untuk diabaikan. Alih-alih mundur atau menunjukkan kelemahan, percik tantangan menyala di matanya.

Dia memejamkan mata dan membalas dengan intensitas yang sama, mengembalikan setiap sentuhan dengan keganasan yang membuat Arga kehabisan napas. Tangannya yang tadi bertumpu di meja naik ke dada suaminya hingga mencengkeram kuat kerah kemejanya, menariknya lebih dekat lagi seolah ingin melebur menjadi satu kepingan obsidian dan api. Bibir Arga melumat bibirnya dengan kepemilikan yang membara, mencari rasa setiap sudut mulutnya, sementara geraman puas yang berat lolos dari tenggorokan sang taipan karena merasa istrinya tak hanya mengimbangi irama, tapi menantangnya meminta lebih.

Waktu seolah berhenti di ruangan yang gelap itu, tergantung di antara bunyi napas mereka yang memburu dan gesekan tubuh keduanya.

Akhirnya, dengan napas tersengal dan bibir sedikit bengkak, Arga mundur beberapa senti, meski tangannya tak melepas pinggangnya. Dadanya naik turun keras dan mata gelapnya berkilat dengan intensitas liar yang jarang dia perlihatkan pada dunia.

"Sepertinya kontrak itu lupa memasukkan klausul soal ini, Mahendra," bisik Anindya dengan suara serak, menaruh satu tangan di dada kokoh suaminya untuk menjaga jarak aman seminimal mungkin, meski senyum mengejek dan penuh kemenangan merekah di sudut bibirnya.

Arga memandangnya dengan campuran frustrasi dan geli yang tertahan, menjilat bibirnya sendiri, mengecap sisa rasa perempuan itu.

"Jangan terlalu percaya diri, Anindya," balasnya dengan suara dalam dan serak, berusaha merebut kembali kendali. "Aku cuma mengecek apakah sisa argumenmu sebagus kata-katamu."

"Tak usah cemas, Sayang," balasnya dengan nada pedas, berbalik dengan anggun sambil merapikan kerah gaunnya. "Tapi berdasarkan percobaan kecil ini... kuharap di ranjang kamu tidak mengecewakan seperti pria-pria yang selalu kamu banggakan. Karena kalau ciuman ini batas kemampuanmu, kamu hanya akan membuatku kecewa."

Arga membelalak tak percaya pada keberanian istrinya, sementara tawa kering dan serak meluncur dari dadanya. Sebelum sempat membalas dengan salah satu ancaman dominasinya yang biasa, Anindya sudah melewati pintu ruang kerja, meninggalkannya sendirian dengan gema tantangan itu dan kulit yang terbakar.

Sementara itu, jauh dari tembok antipeluru kediaman Mahendra, dunia luar mendidih oleh spekulasi.

Halaman depan koran Minggu, portal masyarakat kelas atas, dan acara-acara gosip paling mewah di negeri ini pagi itu terbit dengan judul berhuruf emas yang memonopoli obrolan di setiap kafe eksklusif dan klub pribadi.

PERNIKAHAN ABAD INI: SANG RAKSASA ARGA MAHENDRA MENIKAH DIAM-DIAM DENGAN PEWARIS IMPERIUM WIRANEGARA.

Di layar-layar televisi, para pembawa acara hiburan berspekulasi tanpa henti, membedah setiap potongan gambar buram yang ditangkap paparazi di luar kediaman keluarga Mahendra. Gambar-gambar itu memperlihatkan kedatangan Rolls-Royce antipeluru, masuknya sosok-sosok kelas atas korporasi, dan pengerahan keamanan swasta mengesankan yang menutup akses pers.

"Dia bujangan paling diincar di negeri ini!" seru seorang pembawa acara gosip bersuara melengking di depan kamera, bergerak penuh semangat di depan layar raksasa. "Pemilik konglomerat tambang, konstruksi, dan kasino terbesar di kawasan ini akhirnya menetap. Tapi yang benar-benar memikat, para pemirsa tercinta, adalah identitas sang istri yang misterius."

Gambar beralih ke serangkaian foto yang diedit dengan tanda tanya di atas wajah-wajah buram.

"Sumber-sumber dekat memastikan bahwa sang pengantin tak lain adalah putri sah Darmawan Wiranegara dan Kartika, para taipan tak tersentuh di sektor perhotelan dan keuangan internasional. Namun," lanjut sang pembawa acara sambil merendahkan suara dengan nada penuh misteri, "yang paling menarik adalah wajahnya tidak muncul di mana pun. Tak ada catatan foto dirinya di pesta-pesta lima tahun terakhir, tak ada jejak sosial namanya di arsip kalangan atas, dan portal-portal berita telah menghapus setiap jejak foto kedatangannya di pernikahan. Siapa sebenarnya putri keluarga Wiranegara? Mengapa dia bersembunyi dalam bayang-bayang sementara kakaknya, Bima, mengelola bisnis di depan publik? Sebagian bilang dia kecantikan tanpa tanding, sebagian lagi bilang dia ahli strategi yang menakutkan, yang memilih menikahi Mahendra untuk menyatukan dua imperium paling berbahaya dan kaya di negeri ini."

Di ruang kerjanya di Properti Pratama, Rendra mematikan televisi dengan sekali sentak remote, napasnya berat. Baik dia, maupun ibunya Bu Ratna, maupun Karina sendiri, sama sekali tak menyangka bahwa istri misterius Arga Mahendra sebenarnya adalah Anindya yang sama, perempuan yang mereka hina dan perlakukan seperti orang melarat. Bagi keluarga Pratama, Anindya tetap mantan istri tak berarti yang sudah mereka usir ke jalan, tanpa curiga sedetik pun bahwa perempuan yang kini menandatangani bersama taipan paling ditakuti di negeri ini adalah perempuan yang dulu mereka injak tanpa ampun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!