Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.
Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.
Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.
Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.
Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Drilon berdiri di hadapan Nadira, masih hanya berbalut handuk di pinggang, sementara Nadira tetap bersedekap menunggu jawaban.
Ia sadar tak ada gunanya menghindari percakapan ini.
"Kamu berhak mendapat penjelasan." Nadira cuma memberi isyarat agar ia melanjutkan. "Kami sudah tahu siapa dalang di balik serangan-serangan itu."
"Siapa?"
"Sebuah mafia saingan."
Ia mengerutkan kening.
"Tapi kenapa?"
Drilon menarik napas dalam.
"Mereka menerima informasi palsu tentang keluarga kami."
"Informasi palsu?"
"Ya." Ia berjalan pelan di sekeliling kamar. "Yang menyebarkan kebohongan itu sepupu mantan istriku." Nadira terdiam. "Dia jatuh cinta pada Zara sejak sebelum pernikahan."
"Dan dia menyalahkanmu."
"Persis."
Ia menunduk sejenak.
"Apa yang terjadi pada Zara?"
Drilon menjawab tanpa memalingkan pandangan.
"Dia melanggar hukum organisasi."
"Dan..."
"Aku sendiri yang menjalankan hukumannya." Kamar jadi hening. "Itu yang ditetapkan hukum mafia."
Nadira mengamati suaminya beberapa saat. Tak ada kebanggaan dalam suaranya, hanya beban seseorang yang memikul pilihan-pilihan berat.
"Sepupunya tak pernah bisa menerimanya."
"Lalu dia memutuskan membalas dendam."
"Ya." Ia mengangguk. "Dia ingin aku merasakan sakit yang sama." Ia duduk di tepi ranjang.
"Dia yang memerintahkan penyerangan kalian?"
"Benar."
"Dan Altin..."
"Itu juga akibatnya." Nadira teringat luka-luka yang diderita iparnya beberapa minggu lalu. "Untungnya dia impulsif, tapi tidak terlalu cerdas."
"Lalu apa yang terjadi padanya?"
"Dia ditangkap oleh organisasi yang membiayai serangan-serangan itu."
"Jadi sudah selesai."
"Sudah." Ia mendekatinya. "Tak ada yang dari keluarga kita lagi terancam karena dia." Nadira menghela napas lega. "Aku ingin memberitahumu sebelum pergi."
"Aku tahu."
"Tapi semuanya terjadi begitu cepat."
"Aku khawatir."
Drilon tersenyum tipis.
"Sudah kuduga."
Ia berusaha menyembunyikan senyum.
"Jangan menduga berlebihan."
Ia tertawa.
"Kamu puas dengan penjelasanku?"
Nadira memiringkan kepala sedikit.
"Hampir."
"Hampir?"
Ia melangkah maju. Tanpa berkata apa-apa, ia menumpukan tangan di bahu Drilon dan duduk perlahan di pangkuannya.
Drilon membelalak, benar-benar terkejut.
"Nadira..."
Ia tersenyum miring.
"Masih ada satu bagian lagi."
Sebelum Drilon sempat bertanya bagian apa, Nadira mendekatkan wajahnya. Keduanya hanya saling memandang beberapa detik.
Drilon mengangkat satu tangan dan membelai pipi istrinya dengan lembut. Ia memejamkan mata sesaat, mencondongkan tubuh sedikit lagi.
Ketika membukanya kembali, ia bertemu pandang dengan Drilon. Tak ada ketergesaan atau ketakutan, hanya keinginan untuk mengurangi jarak yang masih ada di antara mereka.
Lalu Nadira yang mengambil inisiatif. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Drilon, dan Drilon membalas ciuman itu dengan kelembutan dan rasa hormat yang sama seperti yang selalu ia tunjukkan sejak pernikahan.
Saat itu juga, semua keraguan, kerinduan selama hari-hari terpisah, dan kata-kata yang belum terucap seperti kehilangan arti.
Untuk pertama kalinya, suami dan istri mengizinkan diri menghayati momen itu, menghentikan percakapan dan membiarkan hening yang berbicara untuk mereka.
#BERSAMA ALTIN DAN ERA#
Kamar hanya diterangi cahaya lembut lampu-lampu meja. Setelah berhari-hari jauh, mengurus urusan mafia bersama saudara-saudaranya, Altin mengabaikan lelah perjalanan. Begitu tiba di mansion, ia mandi cepat dan langsung mencari Era.
Kini keduanya akhirnya berdua. Era berbaring di ranjang dengan gaun tidur sutra warna terang, sementara Altin menyandarkan kepala di perut istrinya, benar-benar diam.
Era mengamati rambut Altin di antara lengannya tanpa berkata apa-apa. Keheningan tak pernah mengganggunya, bahkan itu selalu tempat favoritnya.
Tapi anehnya, keheningan kali ini berbeda, terasa nyaman. Altin memejamkan mata sesaat.
"Aku tetap yakin kamu menyembunyikan seseorang di dalam sana."
Senyum tipis muncul di bibir Era.
"Kamu masih optimis."
"Bukan optimis." Ia membelai pinggang Era dengan lembut. "Ini harapan."
Era diam. Altin terus memandangi perutnya seolah benar-benar menunggu jawaban.
"Pernah membayangkan?"
"Apa?"
"Seorang anak."
Era menarik napas pelan.
"Pernah."
Altin mengangkat kepala sedikit untuk melihatnya.
"Dan?"
Era menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
"Aku selalu membayangkan, kalau suatu hari punya anak, aku akan melakukan segalanya agar mereka mengenal sisi kehidupan yang tak pernah kukenal."
Altin diam. Era jarang bicara tentang dirinya. Kalau ia bicara, Altin selalu memastikan mendengarkan.
"Aku tumbuh dengan belajar bahwa kelemahan memakan nyawa, bahwa percaya itu berbahaya, bahwa terlalu banyak merasa bisa berakibat fatal." Ia mengalihkan mata ke langit-langit. "Dunia ini mengajari kita banyak hal." Altin hanya mendengarkan. "Tapi dunia ini juga merenggut banyak hal."
Kamar kembali hening. Altin menggenggam salah satu tangan Era dengan lembut.
"Aku tak bisa mengubah masa lalu." Ia mengangguk setuju. "Tapi aku ingin membangun masa depan yang berbeda." Era menoleh lagi padanya. "Aku ingin rumah tempat anak-anak kita bisa tertawa tanpa takut, bisa berlarian di koridor tanpa mendengar tembakan." Altin tersenyum tipis. "Aku ingin mereka tahu bahwa ada ayah dan ibu yang menunggu mereka setiap malam."
Tatapan Era melembut.
"Kamu sering memikirkan itu."
"Setiap hari."
Beberapa detik ia diam, lalu perlahan membawa tangannya ke rambut Altin dan membelainya lembut.
Era bukan perempuan yang mudah menunjukkan kasih sayang, tapi isyarat-isyarat kecil, itu sangat berarti baginya.
"Aku juga ingin mencoba."
Altin mengangkat kepala lagi.
"Mencoba?"
Era mengangguk.
"Pernikahan kita." Ia menarik napas dalam. "Bertahun-tahun aku yakin ini hanya satu kewajiban lagi, kesepakatan, tugas." Ia tersenyum nyaris tak terlihat. "Tapi aku memutuskan tak ingin hidup begitu." Altin meremas tangannya sedikit. "Aku ingin rumah kita tenang, aku ingin damai, demi kebaikan semua yang sudah lahir dan yang akan lahir."
Altin tersenyum seperti anak kecil.
"Jadi kamu juga percaya mereka akan datang."
Era mengembuskan napas kecil yang geli.
"Semoga."
Altin kembali menyandarkan kepala di perutnya.
"Aku akan terus mengajak mereka bicara."
Era mengangkat sebelah alis.
"Padahal belum tentu ada?"
Altin tersenyum.
"Kalau mereka ada di sana... aku ingin mereka tahu ayahnya sudah menyayangi mereka."
Untuk pertama kalinya sejak menikah, hati Era terasa hangat dengan cara yang berbeda.
Ia tetap perempuan tertutup, dibentuk oleh tahun-tahun hidup di bawah hukum mafia, yang belajar menyembunyikan perasaan di balik akal.
Tapi berbaring di samping lelaki itu, ia mulai percaya mungkin ada cara hidup yang lain.
Mungkin saja membangun pernikahan yang dasarnya bukan hanya persekutuan antarkeluarga, melainkan rasa hormat, kepercayaan, dan, seiring waktu...
Cinta.