Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Kamar Sekar
Air di bak mandi sudah lama dingin, tapi Nala tidak beranjak.
Minggu malam. Dua puluh enam Oktober. Damar sedang di ruang kerjanya di bawah, menelepon seseorang dengan suara rendah. Rumah Pondok Indah sunyi kecuali bunyi keran yang menetes, satu tetes setiap beberapa detik, jatuh ke permukaan air dan membuat lingkaran kecil yang menyebar ke kakinya.
Sekar.
Dia sudah mendengar nama itu sebelumnya. Bukan dari Reza di puncak gunung. Bukan dari Bianca di serambi Menteng. Lebih awal.
Tiga minggu setelah dia mulai bekerja sebagai sekretaris Damar, dua tahun lalu. Pantri lantai tiga puluh dua, pukul sepuluh pagi. Dia berdiri di balik pintu, menunggu air di dispenser mendidih, dan mendengar tiga atau empat orang staf keuangan berbicara di meja kecil di dekat jendela.
"Kalian lihat nggak, mukanya? Mirip."
"Mirip siapa?"
"Sekar. Masa nggak tahu? Cinta pertama Pak Damar. Yang meninggal itu."
"Ah, gosip."
"Bukan gosip. Sepupu aku kerja di rumah Menteng dulu. Katanya di rumah itu ada satu kamar yang..."
Lalu salah satu dari mereka melihat bayangannya di kaca pintu, dan percakapan itu berhenti.
Waktu itu dia tidak memikirkannya. Gosip pantri adalah gosip pantri. Tapi kemudian, beberapa kali dalam dua tahun, di malam-malam ketika Damar tertidur di sofa ruang kerja setelah lembur, dia mendengar laki-laki itu mengigau. Kata-kata yang tidak jelas. Dan di antaranya, sekali atau dua kali, sesuatu yang dimulai dengan "Se...".
Lalu di hutan Bintan. Lalu di puncak Bromo.
Nala memejamkan mata dan membiarkan kepalanya tenggelam di bawah permukaan air yang dingin.
Dia tahu nama itu. Dia tahu nama itu jauh lebih baik daripada siapa pun di gedung itu. Yang tidak dia tahu adalah apa artinya nama itu bagi laki-laki di lantai bawah.
***
Undangan Bianca datang delapan hari kemudian, lewat pesan WhatsApp yang diakhiri dengan tiga emoji bunga.
Nala, kakimu udah sembuh? Mampir ke Menteng yuk, Senin sore. Aku lagi sering nemenin Mas Gilang di sini. Kita ngeteh, ngobrol cewek. Aku mau minta maaf soal yang kemarin.
Nala membaca pesan itu dua kali. Bianca tidak pernah minta maaf kepada siapa pun. Bianca juga tidak pernah mengundangnya ke mana pun kecuali untuk mempermalukannya.
Dia membalas: Baik, Mbak. Jam empat.
***
Teh itu tidak pernah dituangkan.
Bianca menyambutnya di pintu samping rumah Menteng, mengenakan gaun terusan berwarna krem dan senyum yang terlalu lebar. Dia menggandeng lengan Nala seperti teman lama dan membawanya bukan ke ruang tamu, bukan ke teras belakang, melainkan ke sayap timur.
Ke lorong panjang dengan dinding penuh foto keluarga.
Nala sudah pernah berjalan di sini. Dia mengenali foto-foto itu. Ratna dengan bayi di pelukannya. Damar berumur tiga belas. Tiga paku kosong. Damar berumur tujuh belas yang tidak tersenyum.
Dan di ujung lorong, pintu merah yang catnya mengelupas.
Gembok besinya tidak ada. Pintu itu terbuka sedikit, sejengkal, dan dari celahnya keluar bau debu dan cat minyak.
"Ups," kata Bianca. Dia melepas lengan Nala dan menutup mulutnya dengan tangan. "Kok kebuka, ya? Biasanya dikunci." Dia menatap Nala dengan mata yang berbinar. "Kamu tahu nggak, dulu ada ART yang iseng masuk ke sini. Besoknya langsung dipulangkan ke kampung. Nggak ada yang tahu kenapa."
"Mbak Bianca."
"Aku cuma cerita." Bianca mengangkat kedua tangannya. "Aku nggak nyuruh kamu masuk. Aku mau ambil teh dulu di dapur, ya. Kamu tunggu di sini."
Dia berbalik dan berjalan pergi, langkah tumitnya berbunyi di lantai marmer, tidak tergesa-gesa.
Nala berdiri sendirian di depan pintu merah itu.
Ini jebakan. Dia tahu ini jebakan. Seperti dia tahu, waktu itu, bahwa jam tangan di toilet hotel adalah jebakan. Dia bisa berbalik sekarang, berjalan ke dapur, duduk di sebelah Bianca, dan minum teh yang tidak akan pernah dituangkan.
Dia mendorong pintu itu.
***
Ruangan di balik pintu merah itu tidak besar. Mungkin bekas kamar tidur, atau bekas ruang jahit. Satu jendela, tertutup tirai tebal. Satu lampu gantung tua. Satu lemari besi di sudut.
Dan dinding.
Keempat dindingnya, dari lantai sampai hampir ke langit-langit, tertutup foto.
Foto seorang gadis. Gadis yang sama, di setiap foto. Rambut panjang yang diikat asal. Mata yang besar dan cerah. Lesung pipit di pipi kiri ketika dia tertawa, dan dia hampir selalu tertawa. Gadis itu di pantai. Gadis itu di depan kanvas dengan kuas di mulutnya. Gadis itu di atas sepeda, di bawah pohon flamboyan, di kafe dengan secangkir kopi yang terlalu besar untuk tangannya.
Nala berdiri di tengah ruangan itu dan tidak bisa bernapas.
Dia tidak perlu bertanya siapa gadis itu.
Dia berjalan ke lemari besi di sudut. Lacinya tidak dikunci. Di dalamnya, bertumpuk-tumpuk kanvas kecil dan lembaran kertas gambar. Lukisan cat minyak. Sketsa pensil. Pemandangan laut, bunga, sebuah tangan yang memegang cangkir, seekor kucing tidur di bingkai jendela. Di sudut kanan bawah setiap lukisan, dengan huruf kecil yang miring dan rapi, sebuah tanda tangan.
S.W.
Nala menyentuh tanda tangan itu dengan ujung jarinya. Catnya sudah lama kering. Teksturnya kasar di bawah kulitnya.
Di atas lemari besi itu, ada sebuah kalender meja. Kalender lama, kertasnya sudah menguning, debunya tebal sampai warnanya hampir abu-abu. Halamannya berhenti di bulan Desember, tiga tahun yang lalu. Tidak ada yang membaliknya lagi sejak itu.
Satu tanggal dilingkari dengan spidol merah. Dua puluh dua.
Nala menatap angka itu lama. Lingkaran merah itu digambar dengan tangan yang tergesa-gesa, tidak rapi, ujungnya tidak bertemu. Di sebelahnya ada tulisan kecil yang sudah luntur, terlalu pudar untuk dibaca.
Dia tahu tanggal itu. Dia tahu tanggal itu seperti dia tahu bentuk tangannya sendiri. Setiap tahun, ketika tanggal itu datang, dia mematikan ponselnya dan tidak keluar dari kamar sampai matahari terbenam.
Dia tidak menyentuh kalender itu. Dia takut kalau dia menyentuhnya, sesuatu di dalam dirinya akan runtuh, dan dia tidak akan bisa membangunnya kembali sebelum laki-laki itu datang.
Dia mengembalikan lukisan itu dan kembali ke dinding. Matanya bergerak dari satu foto ke foto lain, mencari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.
Lalu dia menemukannya.
Satu foto, di dekat jendela, setinggi dadanya. Gadis itu duduk di tangga sebuah gedung kampus, tertawa ke arah kamera dengan mata menyipit. Di bahu kirinya, ada sebuah tangan. Tangan orang lain, yang merangkulnya dari samping.
Tapi orang itu tidak ada.
Foto itu sudah digunting. Rapi, lurus, tepat di sebelah bahu gadis itu. Yang tersisa dari orang di sebelahnya hanya tangan itu, dan sedikit pergelangan tangan.
Dan di pergelangan tangan itu, sebuah bekas luka. Garis pendek, sedikit miring, pucat di kulit yang kecokelatan.
Nala berhenti bernapas.
Dia berdiri di depan foto itu. Kuku-kuku tangan kanannya masuk ke telapak tangannya, semakin dalam, sampai dia merasakan sesuatu yang perih. Tangan kirinya, tanpa dia sadari, menarik ujung lengan blusnya ke bawah sampai menutupi pergelangan tangan.
Seseorang menggunting orang itu dari foto ini. Seseorang memutuskan bahwa gadis ini lebih baik sendirian di dinding ini, tanpa siapa pun di sebelahnya.
Di luar, di lorong, dia mendengar suara Bianca. Terlalu keras, seperti sengaja.
"Halo, Mas Damar? Aduh, maaf ganggu. Aku lagi di Menteng. Nala juga di sini. Iya. Iya, aku udah bilang jangan, tapi dia..." Jeda yang dibuat-buat. "Mas mending ke sini deh. Sekarang."
Nala tidak bergerak.
Dia tahu dia harus keluar. Dia tahu dia punya mungkin dua puluh menit, mungkin kurang, sebelum mobil hitam itu berhenti di halaman. Dia tahu apa yang akan terjadi kalau laki-laki itu menemukannya di sini.
Dia tetap berdiri di depan dinding itu.
Matanya kembali ke lemari besi. Dia mengambil satu lukisan dari tumpukan teratas, kanvas kecil seukuran buku tulis. Bukan pemandangan. Bukan bunga. Lukisan dua perempuan muda yang duduk berdampingan di atas tembok pembatas pantai, membelakangi pelukisnya, menatap matahari terbenam. Rambut yang satu panjang. Rambut yang satu lagi lebih pendek.
Di sudut kanan bawah, S.W.
Dia memegang lukisan itu dengan kedua tangan. Jari-jarinya gemetar.
Ini dia, pikirnya. Ini yang tersisa.
***
Langkah kaki di lorong. Dua pasang. Satu ringan dan berbunyi tumit. Satu lagi berat dan cepat.
"Mas, aku udah larang dia. Sumpah." Suara Bianca, tergesa-gesa dan penuh penyesalan palsu. "Aku cuma ke dapur sebentar, pas balik dia udah di dalam. Aku sudah melarangnya."
Pintu merah itu terbuka penuh.
Damar berdiri di ambangnya. Napasnya terengah-engah. Jasnya tidak dikancing, dasinya longgar, seolah dia berlari dari mobil. Dia menatap ruangan itu, dinding-dindingnya, lemari besi yang terbuka. Lalu dia menatap Nala.
Nala berbalik menghadapnya.
Dia tidak perlu berpura-pura. Matanya sudah merah sejak lama, sejak foto di dekat jendela itu. Dia hanya membiarkannya terlihat.
"Jadi," katanya pelan, "Pak Damar menahan saya di sisi Bapak karena dia."
Damar tidak menjawab.
Di belakangnya, Bianca menahan senyum dengan sangat buruk.
Tapi Damar tidak melihat Bianca. Dia bahkan tidak melihat wajah Nala lagi. Matanya turun perlahan, ke tangan Nala, ke kanvas kecil yang dia pegang di depan dadanya.
Dua perempuan di atas tembok pantai. Matahari terbenam.
Wajah laki-laki itu memucat. Sedikit demi sedikit, seperti air yang surut dari pasir, sampai tidak ada warna yang tersisa.