Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayyana Sanders
Di balik pintu geser bertirai tebal yang memisahkan area resepsi mewah dari ruang rias pribadi, pertengkaran hebat pecah tanpa tercium oleh media maupun para tamu VIP.
Ciara Sanders, wanita anggun yang biasanya selalu tampil tenang dan penuh keanggunan istana, kini berdiri dengan napas berburu.
Matanya menyala oleh murka seorang ibu yang mendapati putri tunggalnya dijadikan tumbak penambal malu.
"Kamu gila, Dex!" maki Ciara dengan suara tertahan namun sarat penekanan yang tajam. Suaranya bergetar hebat. "Kamu biarkan anak gadis kita—satu-satunya putri yang kita rawat bagai ratu—dinikahi oleh pria lain begitu saja?!"
Dex Sanders berdiri mematung di dekat jendela, kedua tangannya terkepal di balik saku celana. "Ciara, dengarkan aku dulu—"
"Dengarkan apa?!" potong Ciara cepat. Ia melangkah maju, mencengkeram jas suaminya dengan mata memerah menahan tangis dan amarah. "Keluarga Sinclair itu sudah jelas-jelas mempermainkan anak kita! Haikal kabur, dan mereka dengan mudahnya menyodorkan anaknya yang lain seolah Ayyana ini barang yang bisa ditukar-tukar?!"
Ciara berbalik, menunjuk lurus lewat celah tirai kaca yang mengarah ke pelaminan outdoor.
Di sana, di bawah lengkungan bunga megah dan embusan angin laut Florida, berdiri Ayyana.
Gadis itu mematung, kaku bagaikan pajangan gaun mewah tanpa nyawa. Dan di sampingnya, berdiri Chester—gagah, tegap, namun dengan aura sekeras batu karang.
"Lihat putri kita, Dex!" bisik Ciara histeris, tangannya bergetar menunjuk ke arah pasangan baru itu. "Ayyana cuma bisa diam bak patung di samping pria dingin itu! Kamu lihat mukanya?! Pria Sinclair yang satu itu menikahinya dengan tatapan yang seolah siap membunuh siapa saja! Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan! Kamu tega menumbalkan Ayyana ke dalam neraka seperti itu cuma demi reputasi Sanders Corp?!"
Dex memejamkan mata rapat-rapat. Setiap makian Ciara menghantam dadanya seperti pukulan telak, karena jauh di dalam hatinya, ia tahu seluruh perkataan istrinya adalah kebenaran yang menyakitkan.
Di antara deretan kursi baris depan yang diisi para petinggi militer, Laksamana Muda Harris—atasan langsung yang membawahi divisi khusus tim Eclipse—menyipitkan matanya. Cerutu yang terselip di antara jarinya dibiarkan padam begitu saja.
Tatapan tajamnya tak lepas dari sosok Chester yang berdiri kaku di pelaminan.
"Ada yang tidak beres," gumam Harris suara berat, hampir tak terdengar oleh perwira tinggi di sampingnya.
Sebagai atasan yang mengenal Chester luar dalam, Harris tahu betul tabiat kapten terbaiknya itu.
Chester adalah tipe prajurit yang sangat teratur, terencana, dan membenci kejutan.
Baru dua hari lalu Chester menghadap di ruangannya untuk menyerahkan laporan evaluasi taktis, dan pria itu sama sekali tidak menyebutkan satu patah kata pun tentang pernikahan.
Jangankan jadwal menikah, berkas izin cuti untuk keperluan pribadi pun tak pernah masuk ke mejanya.
"Bukannya ini seharusnya pernikahan Haikal?" bisik Kolonel Vane yang duduk di sebelah Harris, menyenggol pelan lengan atasannya. "Kenapa malah Kapten Chester yang berdiri di sana pakai tuksedo?"
"Itu yang sedang kupikirkan," balas Harris dengan raut wajah yang makin keruh.
Ia memperhatikan gerak-gerik Chester yang dinilainya sama sekali tidak mencerminkan seorang pengantin baru.
Postur tubuh Chester tetap dalam siaga penuh, matanya terus menyapu area sekitar seolah sedang memimpin operasi pengamanan VIP, bukan menikmati momen sakralnya.
"Chester tidak pernah bertindak impulsif," lanjut Harris dingin, matanya beralih menatap Jenderal Jacob yang berdiri tak jauh dari pelaminan dengan wajah tegang. "Pria itu tidak sedang merayakan pernikahan. Dia sedang menjalankan perintah darurat."
Laksamana Muda Harris menyesap sisa minumannya yang telah dingin, matanya tak pernah lepas dari sosok Chester yang berdiri tegak di pelaminan bak patung baja. Intuisinya sebagai komandan veteran berteriak ada yang tidak beres.
Tanpa mengalihkan pandangan, Harris memberi isyarat pelan dengan jarinya.
Seorang prajurit muda berseragam rapi yang berdiri dua langkah di belakangnya langsung membungkuk sedikit, menempelkan telinganya mendekat.
"Kapten," bisik Harris dengan nada rendah yang dingin dan penuh penekanan. "Buka basis data markas sekarang. Cari berkas pengajuan pernikahan atas nama Eclipse-Zero."
Ajudan itu sempat tertegun sejenak. "Pengajuan pernikahan Kapten Chester, Jenderal?"
"Jangan bertanya," potong Harris tanpa menoleh, raut wajahnya mengeras. "Periksa dokumen perizinan militer, verifikasi tanggal pengajuan, dan periksa apakah ada berkas persetujuan yang melewati meja saya tanpa stempel resmi. Lakukan sekarang, sebelum resepsi gila ini selesai."
"Siap, Jenderal!"
Ajudan itu memberi hormat singkat, lalu berbalik cepat dan melangkah setengah berlari keluar dari area wedding garden, menghilang di antara kerumunan tamu VIP untuk menghubungi pusat data markas besar.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menginjakkan kaki di altar, Chester memutar tubuhnya persis menghadap Ayyana.
Tinggi tubuh pria itu yang menjulang kini sepenuhnya mengurung Ayyana dalam bayang-bayang tegapnya.
Chaster menunduk sedikit, memangkas jarak hingga Ayyana bisa merasakan helaan napasnya yang dingin dan teratur.
Manik mata Chester yang tajam mengunci pandangan Ayyana tanpa cela.
Tak ada kehangatan seorang suami, tak ada pula rasa simpati atas gaun pengantin Ayyana yang kini terasa seperti kain kafan.
"Memilih saya menggantikan Haikal tak lantas menyelesaikan masalah," bisik Chester. Suaranya bergema rendah, penuh tekanan yang sanggup merindingkan bulu kuduk, teredam sempurna di tengah keriuhan tepuk tangan para tamu VIP.
Ayyana mematung, napasnya tertahan di tenggorokan saat mata dingin itu seakan menguliti ketakutannya.
Dada Ayyana bergemuruh.
Rasa takut yang sempat menghimpitnya seketika terbakar habis oleh kemarahan atas harga dirinya yang dipijak-pijak.
Pria di hadapannya ini bertindak seolah-olah dialah korban satu-satunya, padahal Ayyana-lah yang paling dipermalukan di hari yang seharusnya menjadi sejarah dalam hidupnya.
Ayyana menegakkan dagunya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Chester yang dingin, menolak untuk gentar meski jarak mereka teramat dekat.
"Aku bahkan tak meminta pernikahan ini tetap berlangsung, Kapten Sinclair," balas Ayyana ketus, menyiramkan sarkasme dingin di setiap kata yang keluar dari bibirnya. Suaranya sepelan bisikan, namun sarat akan kegetiran yang tajam.
Bukannya tersinggung, rahang Chester justru kian mengeras mendengar penolakan terang-terangan dari wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
Tatapan matanya semakin mengintimidasi, seolah menilai seberapa jauh keberanian sang ahli waris Sanders Corp.
"Bagus kalau kamu sadar," bisik Chester tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Setelah ini, jangan bertindak apa pun tanpa persetujuan saya, Ayyana," lanjut Chester, jemari tegapnya yang berbalut sarung tangan formal tanpa sadar mencengkeram jemari Ayyana sedikit lebih erat—sebuah peringatan mutlak. "Sepatah kata pun yang kamu keluarkan, itu bisa membunuh kita berdua."
Ayyana menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menyalurkan seluruh rasa sengat dan emosi yang meluap di dadanya hingga rasa asin darah tipis mengecap di ujung lidahnya.
Kata-kata Chester baru saja mendarat seperti tamparan dingin yang membangunkannya dari kenyataan pahit.
Ia menatap rahang tegas pria itu yang tak menunjukkan sedikit pun belas kasih.
Pria yang berdiri di hadapannya ini bukan Haikal yang pandai merangkai kata manis untuk meramahi perasaannya. Ini adalah Kapten Chester Sinclair—seorang prajurit yang memandang ikatan suci ini tak lebih dari sekadar zona perang dan penugasan darurat.
Di balik senyum palsu yang terpaksa ia sunggingkan saat kilatan kamera media mulai menembak ke arah mereka, Ayyana mencengkeram buket bunga di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kalau begitu, pastikan kamu tidak mati duluan sebelum menyelesaikan kekacauan yang keluarga mu ciptakan ini, Kapten," bisik Ayyana dari sudut bibirnya yang terukir senyum penuh kepalsuan untuk publik, tetap mempertahankan sisa harga diri terakhir yang ia miliki.