Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Api Liar dan Pedang Kayu
Provinsi Harima, tiga minggu setelah tragedi di dojo klan Shinmen di Mimasaka.
Aroma lumpur basah dan jerami busuk menyengat hidung, tetapi bagi Bennosuke, tidak ada yang lebih menyegarkan daripada bau kebebasan dan bau masalah yang baru saja dibuatnya.
"TANGKAP BOCAH IBLIS ITU!"
"JANGAN BIARKAN DIA LOLOS! DIA MENGOSEK BENDERA KEHORMATAN PERGURUAN KITA UNTUK MEMBUNGKUS DAGING BABI!"
"PEMBANGKANG! BOCAH LIAR TAK BERPRIBADI!"
Teriakan-teriakan histeris itu membahana di sepanjang jalan setapak Provinsi Harima. Sekitar lima belas samurai berseragam rapi, lengkap dengan hakama biru berkilat dan katana yang terhunus, berlari terengah-engah mengejar seorang bocah laki-laki berambut liar yang melompat-lompat santai di atas pagar tanaman warga.
Bennosuke yang kini berusia hampir dua belas tahun dengan tubuh kian tinggi bongsor dan kulit makin legam diterpa matahari mengarahkan pandangannya ke belakang seraya memamerkan cengiran bahagianya. Di mulutnya, ia menggigit sebatang lobak putih mentah yang baru saja dipetiknya dari ladang warga, sementara di punggungnya terikat dua bilah bokken tebal yang diukir kasar.
"Hei, Pria-pria Berzirah Biru!" teriak Bennosuke dengan mulut penuh potongan lobak. "Lari kalian lambat sekali! Apakah aturan Bushido Harima mengajarimu berlatih pedang sambil membawa karung beras di perutmu?!"
"Bocah Kurang Ajar!" jerit sang Guru Kepala Dojo Harima yang berada di barisan terdepan, wajahnya sudah merah padam bagaikan buah kesemek matang. "Kau masuk ke dojo kami tanpa izin, mengalahkan delapan instruktur senior kami dengan pedang kayu kusam, meludahi lantai suci kami, dan sekarang kau mengejek berat badan kami?!"
"Aku tidak meludah! Aku hanya membuang sisa biji cabai!" bidas Bennosuke seraya melompati seekor babi lokal yang melintas kaget di jalanan. "Lagipula, instruktur kalian itu terlalu banyak gaya! Berdiri tegap seperti tiang jemuran, berteriak 'Hah!' dan 'Hiya!' selama sepuluh menit sebelum mengayunkan pedang! Di medan pertarungan sungguhan, kalau kau berteriak sejaring itu, musuhmu sudah selesai makan siang!"
BOK!
Bennosuke melempar sisa buntut lobaknya tepat ke arah dahi sang Guru Kepala. Lemparan yang sangat presisi itu membuat sang ahli pedang terjerembab ke dalam kubangan lumpur bersama dua murid di belakangnya.
"Ugh! Lumpur ini... tangkap dia!"
Bennosuke tertawa terbahak-bahak, suara tawa liarnya memantul di antara Dinding-dinding batu perumahan warga.
Sejak diusir dari klan Shinmen oleh Munisai dua tahun lalu, Bennosuke mengembara menelusuri perbukitan dan desa-desa di barat. Tanpa nama klan, tanpa uang, dan tanpa aturan, ia hidup bagaikan babi hutan liar. Bagi Bennosuke, setiap dojo formal yang dikunjunginya bukanlah tempat suci untuk menyembah tradisi, melainkan warung makan gratis dan tempat uji coba keliaran taktik bertarungnya.
Namun, situasi di Harima agak berbeda.
Perintah Katanagari yang dicanangkan oleh Toyotomi Hideyoshi telah mencengkeram provinsi ini dengan sangat ketat. Para samurai di Harima bukan sekadar penjaga dojo lokal, sebagian dari mereka adalah retainer resmi dan pejabat perbatasan yang ditugaskan oleh istana Kyoto untuk merampas senjata besi dari rakyat serta menangkap siapa pun yang dianggap berpotensi menjadi pemberontak.
Dan Bennosuke yang membawa dua pedang kayu besar dengan kelakuan seperti iblis jalanan adalah target nomor satu yang paling membuat mereka sakit kepala.
"Awas di depan!" jerit seorang warga yang sedang membawa keranjang lobak.
Di ujung simpang tiga jalan desa, lima samurai istana berseragam kelabu, petugas resmi pengawas Katanagari muncul memblokir jalan dengan tombak panjang yang teracung rapat.
"Berhenti, Bocah Liar!" seru komandan pengawas dengan nada dingin. "Atas nama Tuan Kampaku Toyotomi Hideyoshi, serahkan pedang kayumu dan berlututlah!"
Bennosuke tidak melambat sedikit pun. Mata bulatnya berkilat gembira melihat rintangan baru di depannya.
"Berlutut? Aku baru saja mau sarapan!" seru Bennosuke.
Dengan kelincahan yang luar biasa, Bennosuke meraih keranjang lobak milik warga di sampingnya, melempar seluruh isinya ke udara! Puluhan lobak putih raksasa melayang jatuh bagaikan hujan meteor pendek di atas kepala para samurai pengawas.
BUGH! BOK! BUGH!
"Auw! Mataku!"
"Lobak ini keras sekali!"
"Jangan dorong-dorong!"
Di tengah kekacauan hujan lobak tersebut, Bennosuke melesat maju. Tanpa mencabut pedang kayunya dari punggung, ia menggunakan teknik pertarungan jarak dekat yang sama sekali tidak ada di dalam buku manual Bushido mana pun, ia memiting leher salah satu petugas, menyandung kaki petugas kedua, dan menyundulkan kepalanya tepat ke hidung komandan pengawas!
KRAK!
"Aaaargh! Hidungku!" jerit sang Komandan seraya memegangi mukanya yang mandi darah.
Bennosuke melompati pundak sang komandan yang bungkuk, mendarat mulus di atas atap jerami rumah warga, lalu berdiri tegak membelakangi matahari siang.
Ia memamerkan senyuman liarnya yang lebar, menatap ke arah belasan samurai Harima dan petugas istana yang tergeletak tumpang-tindih di tanah berdebu bersama lobak-lobak yang hancur.
"Aturan Katanagari kalian itu konyol!" seru Bennosuke, suaranya nyaring membelah udara Harima. "Kalian pikir dengan merampas besi dari tangan rakyat, kalian bisa menghentikan orang untuk bertarung?! Selama seseorang punya tangan untuk memukul, gigi untuk menggigit, dan kayu untuk dipukul... pedang tidak akan pernah bisa dimusnahkan dari tanah ini!"
Para samurai yang berada di bawah menatap bocah berumur dua belas tahun itu dengan campuran rasa murka dan ketakutan yang aneh. Di mata mereka, Bennosuke bukan lagi sekadar anak nakal yang melanggar hukum, anak itu adalah ancaman murni sebuah benih keliaran yang tak sanggup dijinakkan oleh rantai kekuasaan Toyotomi.
"Tembak dia dengan panah!" jerit sang Komandan yang hidungnya patah.
Namun sebelum para pemanah sempat mencabut anak panah mereka, Bennosuke sudah berbalik badan, melompati jajaran atap rumah warga, dan menghilang ke dalam kerapatan hutan pinus di pinggiran Provinsi Harima dengan suara tawa gila yang membahana.
***
Sore harinya, di balik goa batu yang tersembunyi di perbukitan Harima.
Bennosuke duduk bersila di atas batu datar. Sebuah api unggun kecil menyala di depannya, membakar dua batang lobak sisa yang berhasil diselamatkannya.
Sifat liarnya yang jenaka perlahan mereda disapu angin sore. Bennosuke mencabut salah satu pedang kayunya, mengamati bekas goresan dan celah luka di sepanjang bilahnya. Ia mengusap kayu keras itu dengan ibu jarinya yang penuh kapalan.
Meskipun ia selalu tertawa dan membuat ulah di setiap dojo yang dikunjunginya, pikiran Bennosuke sangat tajam. Ia sadar bahwa para samurai yang dikerjainya hari ini adalah bukti betapa zamannya sedang berubah secara drastis. Hukum Hideyoshi telah membungkus seluruh negeri dalam ketakutan, membuat para pendekar pedang kehilangan jiwa bertarungnya dan berubah menjadi anjing pelaknat yang patuh pada aturan Kyoto.
"Semua orang menjadi penakut..." gumam Bennosuke pelan pada kobaran api unggun, menggigit lobak bakarnya yang panas. "Mereka bertarung bukan untuk mencari kebenaran pedang, tapi karena takut dihukum oleh orang-orang berzirah di ibu kota."
Bennosuke menyandarkan kepalanya pada dinding goa batu, menatap ke arah langit barat yang memerah.
Ia tahu bahwa perjalanannya di Harima hanyalah persinggahan sementara. Di luar sana, di jalanan panjang yang membentang menuju ibu kota dan wilayah utara, ada ribuan ahli pedang yang masih memegang teguh martabat darah dan Bennosuke bertekad untuk menantang mereka satu per satu, meruntuhkan keangkuhan tradisi mereka dengan dua pedang kayunya.
Anak liar tanpa nama dari Mimasaka itu memejamkan matanya perlahan, membiarkan angin Harima menyelimuti tubuhnya yang lelah, siap menyongsong badai pertempuran hidup dan mati yang sesungguhnya di masa depan.