Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: HARGA SEORANG ANAK - RP 500 JUTA
"Rp 500 juta! Anak gadis saya masih perawan, Bos! Masih 21 tahun! Kuliah semester 6!"
Aku mematung di balik pintu kayu lapuk yang sudah hampir roboh. Tanganku yang memegang tas kuliah bergetar hebat sampai buku-buku di dalamnya jatuh berantakan ke lantai tanah. Suara itu, suara ayahku sendiri, Pak Hendra Maharani, terdengar begitu jelas, begitu menjijikkan di telingaku.
Aku, Sinta Maharani, baru saja pulang dari kampus dengan angkot terakhir. Harusnya hari ini aku bahagia karena dosenku memuji skripsiku. Tapi sekarang, dunia ku runtuh.
"400 juta saja, Hendra. Jangan banyak tawar. Anakmu itu apa istimewanya? Kurus, pucat, tidak ada pengalaman," jawab suara berat seorang pria. Suara yang dingin, dalam, dan penuh kekuasaan.
Aku mengintip dari celah pintu. Di ruang tamu kami yang sempit dan pengap, duduk seorang pria yang sama sekali tidak pantas berada di tempat kumuh seperti ini.
Dia memakai jas hitam mahal yang pasti harganya puluhan juta, jam tangan Rolex berkilau di pergelangan tangannya, dan sepatu kulit yang mengkilap. Wajahnya tampan, sangat tampan, seperti patung pahatan dewa Yunani, tapi tatapannya... tatapannya seperti es di kutub utara. Tidak ada kehidupan di sana. Hanya kekuasaan dan kebencian.
Aku mengenal wajah itu. Semua orang di Jakarta mengenalnya. Arga Wijaya. CEO termuda di Indonesia, pemilik Wijaya Group, perusahaan properti dan teknologi terbesar. Usianya baru 28 tahun tapi kekayaannya sudah triliunan. Di media dia dijuluki CEO Rogue, karena dia tidak punya pack, tidak punya keluarga, dia hidup sendiri, kejam, dan tidak pernah terlihat bersama wanita mana pun.
Kenapa dia ada di rumahku?
Ayahku tertawa canggung sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. "Jangan begitu Bos Arga. Sinta itu cantik Bos, putih, mulus. Bos kan butuh istri kontrak buat syarat warisan dari kakek Bos? Sinta nurut Bos, saya jamin dia nurut! Dia anak baik-baik!"
Warisan? Istri kontrak?
Jantungku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit. Ayahku menjualku untuk menjadi istri kontrak?
Arga Wijaya membuka koper kulit hitam yang ada di samping kakinya. KLIK. Koper itu terbuka dan isinya membuat mata ayahku hampir keluar.
Tumpukan uang merah. Banyak sekali. Pecahan seratus ribu yang masih baru dan diikat rapi.
"Di sini ada Rp 400 juta tunai, Hendra. Seperti yang kamu minta di telepon. Sisanya Rp 100 juta akan saya transfer setelah surat nikah dan kontrak selesai di notaris besok pagi. Bagaimana?"
Ayahku langsung menyambar koper itu seperti anjing kelaparan yang melihat tulang. Dia memeluk koper itu, menciuminya, matanya berkaca-kaca karena serakah.
"Deal! Deal Bos Arga! Sinta pasti mau! Sinta anak berbakti!"
Cukup. Aku tidak tahan lagi.
BRAK!
Aku mendobrak pintu kayu lapuk itu dengan seluruh tenagaku. Pintu itu hampir lepas dari engselnya.
"AYAH! APA-APAAN INI?!"
Ayahku dan Arga Wijaya sama-sama menoleh ke arahku. Ayahku kaget, wajahnya pucat, tapi kemudian berubah marah.
"Sinta! Kamu sudah pulang! Masuk! Masuk kamu! Jangan bikin malu!"
Aku tidak peduli. Aku menatap ayahku dengan air mata yang sudah tidak bisa kutahan lagi. "Ayah jual aku? Ayah jual aku seharga 500 juta?! Aku ini anak Ayah! Bukan sapi!"
Ayahku bangkit dan menarik tanganku dengan kasar. Cengkeramannya sakit. "Diam kamu! Kamu mau kita diusir? Kamu mau kita tidur di jalanan? Hutang Ayah di kampung sudah 500 juta! Kalau tidak dibayar mereka akan bakar rumah ini! Kamu mau Ibu mu di kampung kenapa-napa?! Kamu harus berkorban untuk keluarga!"
Ibu. Dia selalu membawa nama Ibu.
Aku terisak. Aku tahu Ayah punya hutang judi online yang sangat besar. Tapi aku tidak menyangka dia akan sejahat ini.
Di tengah tangisku, aku merasakan tatapan tajam menusukku. Aku mengangkat wajahku.
Arga Wijaya sudah berdiri tepat di depanku. Dia sangat tinggi, mungkin 185 cm. Aku yang hanya 160 cm harus mendongak. Aromanya... ya Tuhan, aromanya begitu kuat. Aroma Alpha dominan, aroma kayu dan hujan, aroma yang membuat seluruh serigala di dalam diriku bergetar ketakutan dan tunduk.
Dia mengangkat tangannya. Aku pikir dia akan memukulku. Aku memejamkan mata.
Tapi dia hanya mencengkeram daguku dengan lembut tapi sangat menguasai. Dia memaksa ku mendongakkan wajah, menatap matanya yang berwarna abu-abu gelap.
"Jadi kamu Sinta Maharani?" Suaranya pelan, tapi setiap kata terasa seperti cambukan.
Aku mengangguk dengan gemetar. Air mataku jatuh membasahi tangannya.
"Umur 21 tahun, mahasiswi? Anak dari Hendra Maharani dan Lastri?" Dia melanjutkan. Matanya meneliti wajahku, dari mata, hidung, bibir, leher.
"Iya..."
Saat aku menyebut nama keluargaku, sesuatu yang mengerikan terjadi. Wajah tampan Arga Wijaya yang tadinya hanya dingin, kini berubah menjadi penuh kebencian yang membara. Rahangnya mengeras, matanya menyala, dan cengkeraman di daguku menguat sampai aku meringis kesakitan.
"MAHARANI," dia berbisik, tapi bisikan itu penuh racun. "Keluarga Maharani dari Surabaya? Yang punya pabrik tekstil Wijaya-Maharani 10 tahun lalu?"
Aku terkejut. Bagaimana dia tahu? Ayahku memang pernah punya pabrik di Surabaya bersama partnernya dulu sebelum bangkrut.
"Jawab aku!"
"Maaf... aku tidak tahu... Ayah tidak pernah cerita..."
Arga melepaskan daguku dengan kasar, membuatku hampir terjatuh. Dia tertawa, tawa yang mengerikan, tawa yang penuh dendam.
"Luar biasa. Takdir memang lucu. Aku mencari istri kontrak untuk mendapatkan warisan kakekku, dan yang dikirim adalah anak dari keluarga yang telah membunuh orang tuaku."
Dunia ku berhenti berputar.
"Apa... apa maksud Bapak?"
"Kebakaran pabrik 10 tahun lalu, Sinta. Pabrik tekstil Wijaya-Maharani terbakar habis. Kedua orang tuaku mati terpanggang di dalamnya. Dan ayahmu, Hendra Maharani, satu-satunya yang selamat dengan asuransi miliaran. Polisi bilang itu kecelakaan. Tapi aku tahu, itu bukan kecelakaan."
Kakiku lemas. Aku harus berpegangan pada dinding agar tidak jatuh. Ayahku... pembunuh?
Ayahku yang mendengar itu langsung pucat pasi dan berteriak, "Itu fitnah! Itu kecelakaan Bos! Saya tidak..."
"DIAM!" Bentak Arga. Satu bentakan itu membuat ayahku langsung bungkam dan gemetar.
Arga kembali menatapku. Tatapannya kini berbeda. Bukan hanya benci, tapi ada sesuatu yang lain. Nafsu untuk memiliki dan menghancurkan.
"Kamu akan ikut saya, Sinta Maharani. Kamu akan tanda tangan kontrak ini. Satu tahun kamu akan menjadi istriku. Nyonya Arga Wijaya. Kamu akan tinggal di rumahku, tidur di ranjangku, dan melakukan apapun yang aku perintahkan."
Dia menyodorkan sebuah map kulit hitam tebal ke arahku. Di atasnya tertulis PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Isinya membuatku mual.
Pasal 1: Pihak kedua (Sinta Maharani) setuju dinikahi oleh Pihak Pertama (Arga Wijaya) selama 1 tahun.
Pasal 2: Pihak Kedua tidak boleh jatuh cinta kepada Pihak Pertama.
Pasal 3: Pihak Kedua tidak boleh hamil. Jika hamil, harus digugurkan.
Pasal 4: Pihak Kedua harus melayani semua kebutuhan Pihak Pertama.
Pasal 5: Setelah 1 tahun, pernikahan berakhir dan Pihak Kedua akan mendapat kompensasi Rp 50 juta.
Hanya Rp 50 juta untukku? Ayahku dapat 500 juta?
"Kenapa... kenapa aku harus mau?" Aku berbisik.
Arga mendekatkan wajahnya ke telingaku. Napasnya panas di leherku, membuat bulu kudukku berdiri.
"Karena kalau kamu menolak, saya akan pastikan ayahmu masuk penjara karena hutang dan penipuan asuransi 10 tahun lalu itu. Dan ibumu yang sakit-sakitan di kampung itu akan saya buat tidak punya tempat tinggal. Pilih, Sinta. Jadi istriku selama setahun, atau lihat keluargamu hancur malam ini juga."
Air mataku mengalir deras. Ini bukan pilihan. Ini adalah ancaman.
Ayahku mendorong sebuah pulpen ke tanganku. "Tanda tangan, Sinta! Cepat tanda tangan! Ini demi Ibu mu! Demi kita semua!"
Aku melihat pulpen di tanganku, melihat tumpukan uang di tangan ayahku, dan melihat mata Arga Wijaya yang menatapku seperti predator yang akan menerkam mangsanya.
Dengan isakan yang tertahan, dengan hati yang hancur berkeping-keping, aku menggoreskan pulpen itu di atas kertas.
SINTA MAHARANI.
Tinta hitam itu adalah akhir dari hidupku yang lama.
Arga Wijaya mengambil map itu, melihat tanda tanganku, dan tersenyum puas. Senyum iblis yang tampan.
"Selamat datang di neraka, Nyonya Wijaya."
Dia kemudian menarik tanganku dengan kasar, menyeretku keluar dari rumah kumuh itu, meninggalkan ayahku yang sedang menghitung uang dengan mata serakah di belakang.
Aku dijual. Seharga Rp 500 juta. Kepada CEO Rogue yang ternyata adalah musuh bebuyutan keluargaku.
Dan malam ini, adalah malam pertama ku di neraka itu.
(Bersambung...)