Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara tawa renyah beradu dengan denting piring yang sedang ditata di atas meja makan. Rumah dua lantai di kawasan pinggir kota itu terasa begitu hidup berkat langkah-langkah kecil yang tak berhenti berlarian di ruang keluarga.
"Mama! Lihat, kelinsi Aila bisa telbang tinggi sekali!"
Nala menoleh sembari meletakkan mangkuk sup ayam hangat di atas meja. Wanita berusia 30 tahun itu tersenyum manis mendapati putri kecilnya yang berusia tiga tahun sedang berlarian mengangkat tinggi-tinggi boneka kelinci merah muda kesayangannya. Pipi balita itu mengembang kemerahan, dengan mata bulat bening yang menjadi jawaban paling indah atas doa-doa panjang Nala dan suaminya.
"Aira, jalannya pelan-pelan, Sayang. Nanti tersandung," tegur Nala lembut, mengibaskan apron yang terpasang di pinggangnya.
Aira menghentikan langkahnya, lalu berjalan cepat menghampiri Nala dan menyenderkan kepalanya yang beraroma minyak telon di paha sang ibu. "Kelinsi Aila capek, Mama. Mau makan sup woytel seperti Aila."
Nala berlutut, mengusap lembut dahi putrinya yang sedikit berkeringat. Mengingat perjalanan hidupnya selalu membuat dada Nala berdesir hangat. Sepuluh tahun lalu, saat usianya masih 20 tahun dan Arka berusia 23 tahun, mereka diikat dalam pernikahan perjodohan antar-keluarga. Kala itu, Nala masih seorang mahasiswi muda, sementara Arka baru saja menyelesaikan gelar tekniknya dan mulai bekerja sebagai site engineer di sebuah perusahaan konstruksi internasional.
Kehidupan awal pernikahan mereka tidaklah mudah, namun ujian terberat bukanlah soal penyesuaian sifat atau jarak, melainkan penantian .
Selama tujuh tahun berturut-turut—sejak Nala berusia 20 hingga 27 tahun—rumah mereka sepi tanpa tangis bayi. Di tengah tekanan kerabat dan rasa cemas yang berkecamuk di dada, mereka bertahan. Hingga akhirnya di tahun ketujuh pernikahan, keajaiban itu datang: Nala dinyatakan hamil dan melahirkan Aira.
Namun, tuntutan pekerjaan Arka di proyek lepas pantai dan pembangunan infrastruktur luar negeri membuat pria itu jarang berada di rumah. Tiga tahun tumbuh kembang Aira sebagian besar dilalui Arka dari balik layar video call ponsel. Arka adalah sosok suami dan ayah yang hadir dalam bentuk transferan bulanan melimpah dan mainan yang dikirim lewat paket, tetapi absen secara fisik.
Sampai malam ini.
Ting tong.
Suara bel rumah berdering teratur. Nala mengerutkan kening. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan ia tidak merasa memesan barang apa pun.
"Biay Aila yang buka!" seru balita itu penuh semangat, siap melompat menuju pintu.
"Eh, Aira, tunggu dulu!" Nala dengan cepat menangkap jemari mungil putrinya. Ia menggandeng Aira berjalan menuju foyer depan.
Begitu pintu tebal itu ditarik terbuka, angin malam yang dingin menyapa kulit Nala. Namun, yang membuat napasnya benar-benar tertahan adalah sosok pria jangkung yang berdiri tegap di balik pintu.
Pria itu mengenakan jaket windbreaker hitam dengan ransel besar menggantung di bahu dan sebuah koper perak di sampingnya. Garis wajahnya makin tegas di usia 33 tahun, kulitnya sedikit lebih gelap karena tempaan terik matahari lapangan proyek luar negeri, tetapi tatapan matanya tetap sama—tajam, dalam, dan penuh intensitas.
Arka.
Nala terpaku di tempatnya. "mas...? Bukankah kamu bilang di telepon kalau jadwal kepulanganmu minggu depan?"
"Aku mengambil penerbangan darurat dan memajukan cuti panjangku," suara Arka terdengar berat dan sedikit serak karena kelelahan perjalanan jauh. Matanya yang tajam menatap Nala dari ujung rambut hingga ujung kaki, memancarkan binar rindu yang tak lagi mampu ia sembunyikan di balik topeng kaku yang biasa ia kenakan. "Aku pulang, Nala. Proyek luar negeriku sudah selesai sepenuhnya. Aku minta dipindah ke kantor pusat."
Pandangan Arka kemudian perlahan turun ke bawah—pada balita mungil yang bersembunyi rapat di balik gaun rumah Nala, mengintipnya dengan mata bulat yang polos dan penuh rasa ingin tahu.
Seketika, raut wajah Arka yang semula tegas dan dingin melunak total. Pria yang di lapangan proyek disegani ratusan pekerja itu tanpa ragu berlutut di atas satu kaki di atas lantai. Tangannya yang besar dan berurat terangkat ragu-ragu di udara, gemetar halus. Matanya berkaca-kaca menatap putri kecil yang lahir setelah tujuh tahun penantian panjang dalam hidupnya.
"Halo, Aira..." panggil Arka dengan nada suara yang bergetar lembut, sangat kontras dengan perawakannya yang kekar.
Aira memiringkan kepalanya, memeluk erat boneka kelincinya, lalu mendongak menatap ibunya dengan raut bingung.
"Mama... Om tinggi ini siapa?" tanya Aira dengan kepolosan tanpa dosa. "Kenapa mukanya miyip sama foto Papa di meja belajay Aila?"
Nala tersenyum lembut, ikut berlutut di samping Arka. Sementara Arka sempat membeku di tempatnya. Panggilan 'Om' dari putri kandungnya sendiri terasa bagaikan sembilu yang menghantam dadanya, berganti rasa bersalah yang mendalam karena telah melewatkan tiga tahun masa emas putrinya.
Arka berdehem pelan, menetralkan rasa perih di dadanya. Ia menatap Aira dengan pandangan paling hangat yang pernah ada. "Ini Papa, Aira. Papa yang suka diajak Mama bicara lewat layar HP. Ingat?"
Aira kedip-kedip menatap pria asing yang kini berjarak sangat dekat dengannya. Ia mengambil satu langkah mundur, menyembunyikan wajahnya di lipatan gaun Nala. "Bohong... Papa Aila kan gepeng dan tinggal di dalam HP Mama. Om ini besay sekali, ndak muat masuk HP."
Nala tidak bisa menahan tawa kecilnya melihat ekspresi Arka yang mendadak cemberut—kombinasi antara lelah, gemas, dan cemburu pada ponselnya sendiri.
Nala mengelus lembut rambut putrinya. "Aira, ini beneran Papa. Ingat kan dongeng Mama setiap malam tentang Papa yang bekerja jauh menyeberangi laut? Sekarang Papanya sudah pulang untuk memeluk Aira."
Aira mengintip dari balik bahu Nala, menatap Arka yang kini memasang raut wajah serba salah. Perlahan, balita itu mengulurkan tangan mungilnya, menyentuh pipi tegas Arka yang terasa agak kasar karena bekas cukuran tipis.
"Pipi Papa... agak kasay," cicit Aira polos.
Arka terkekeh rendah—suara tawa yang sudah bertahun-tahun tidak Nala dengar secara langsung. Tanpa menunggu lama, Arka langsung merengkuh tubuh mungil Aira ke dalam pelukan hangatnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher putrinya sembari menghirup dalam-dalam aroma minyak telon balita itu.
"Iya, ini Papa, Sayang. Maafkan Papa karena baru pulang sekarang," bisik Arka lirih, menahan getaran haru di dadanya.
Aira sempat kaku sejenak di dalam pelukan erat itu, tetapi kehangatan dan rasa aman yang memancar dari pria itu membuatnya perlahan melingkarkan lengan kecilnya di leher Arka. Di saat yang sama, tangan Arka yang satu lagi terulur meraih pinggang Nala, menarik istrinya mendekat hingga mereka bertiga saling berpelukan di depan pintu
.
Nala menyandarkan kepalanya di dada bidang Arka, tersenyum haru mendengar detak jantung suaminya yang berpacu cepat. Setelah sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian, dan tiga tahun terpisah jarak, keluarga kecil mereka akhirnya lengkap di bawah satu atap.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga