NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Kalimat yang Tak Bisa Ditarik

Pukul dua kurang lima menit, Navin sudah duduk di ruangan Bu Retno, yang sejak pagi ia ambil alih tanpa meminta izin siapa pun.

Ia membuka berkas kontrak distribusi dan menatap lembar demi lembar tanpa membaca satu kata pun. Sudah dua kali ia mengulang paragraf yang sama. Di kepalanya, hanya ada satu adegan yang berputar: lorong sepi, kertas beterbangan, dan pergelangan tangan yang tadi ia genggam.

Kecil. Hangat. Nadinya berdenyut cepat di bawah ibu jarinya.

Bodoh, maki Navin pada dirinya sendiri. Kamu menangkap karyawan yang hampir jatuh. Itu refleks. Itu saja.

Ibunya sudah menelepon lima kali sejak pagi, selalu tentang hal yang sama: makan malam, putri Pak Hartanto, dan pernyataan halus bahwa dua puluh delapan adalah usia yang tepat untuk berumah tangga. Navin tidak sanggup mendengarnya sekali lagi. Ia tidak menyadari bahwa itu bahan bakar untuk kalimat yang sebentar lagi ia ucapkan.

Tapi refleks tidak menjelaskan kenapa ia menolak panggilan ibunya dengan kasar. Refleks tidak menjelaskan kenapa ia memungut kertas-kertas itu, sesuatu yang belum pernah ia lakukan untuk siapa pun. Dan refleks jelas tidak menjelaskan kenapa ia meminta Dimas memanggil Ophelia Puspa ke ruangan ini, padahal semua data yang ia butuhkan sudah ada di tangannya.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

"Masuk."

Ia masuk dengan map di tangan, tanpa senyum, tanpa tanda gugup. Blazer abu-abu, rambut dikuncir rapi, dan mata yang menatapnya lurus. Navin menyadari bahwa ia sudah menunggu tatapan itu, dan menyadari hal itu membuatnya marah pada dirinya sendiri.

"Duduk."

Lia duduk. "Bapak ingin membahas rincian denda, atau ada hal lain?"

"Jelaskan bagaimana kamu menemukan klausul itu."

Lia menjelaskan. Suaranya tenang dan teratur, setiap kalimat tersusun seperti angka dalam kolom yang rapi. Ia menerangkan bahwa selama tiga bulan terakhir ia membandingkan laporan pengiriman dengan perjanjian distribusi, menemukan pola keterlambatan yang tidak wajar, dan menelusurinya sampai ke lampiran yang jarang dibuka orang. Navin mendengarkan, dan di antara kalimat-kalimatnya, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya mengeras. Perempuan ini bekerja lebih teliti daripada tiga direktur yang ia pecat tahun lalu.

"Berapa kerugian kalau kontrak dibiarkan sampai akhir tahun?"

"Sekitar delapan ratus juta, Pak, kalau tidak dinegosiasikan ulang."

"Solusimu?"

"Ajukan revisi klausul denda kepada distributor, disertai opsi mengalihkan volume ke pemasok lain. Saya sudah menyiapkan drafnya dan daftar dua pemasok alternatif." Lia menggeser map ke seberang meja.

Navin membuka map itu dan membalik halamannya satu per satu. Draf surat, perbandingan harga, simulasi margin. Rapi. Terlalu rapi untuk staf yang tidak pernah diminta apa-apa.

"Kamu tahu masalah ini sejak tiga bulan lalu," katanya datar. "Kenapa baru sekarang bicara?"

"Saya sudah melaporkannya dua kali lewat memo internal, Pak. Dua-duanya tidak mendapat balasan."

"Kamu tidak mencoba lagi?"

"Saya mencoba, sampai saya sadar bahwa di perusahaan ini, memo dari staf biasa jarang naik lebih tinggi dari meja manajer." Lia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sama tenangnya, "Mungkin karena orang-orang di sini lebih takut pada atasan daripada pada kerugian, Pak."

Ruangan menjadi sunyi.

Kalimat itu tidak dilontarkan dengan kurang ajar. Tidak ada nada menantang. Justru itu yang membuatnya menusuk. Karena Navin tahu, tanpa perlu diberi tahu, siapa yang dimaksud dengan atasan yang ditakuti itu.

Ia merasakan panas naik dari dada ke wajahnya. Bukan marah. Sesuatu yang lebih buruk: malu. Dan Navin Sundara tidak tahu bagaimana caranya menangani rasa malu, sebab tak seorang pun pernah membuatnya merasakan itu.

Ia tahu ia harus berhenti. Ia tahu ia harus mengucapkan sesuatu yang profesional dan mengakhiri percakapan ini. Tapi mulutnya bergerak lebih dulu daripada akal sehatnya, seperti mesin yang sudah bertahun-tahun bekerja sendiri.

"Kamu pintar mengoreksi orang lain, ya," katanya pelan, dingin, tenang. "Aku baca berkasmu. Tiga puluh satu tahun, belum menikah. Mungkin itu sebabnya. Tidak ada laki-laki yang tahan dengan perempuan yang selalu merasa dirinya paling benar."

Waktu berhenti.

Navin melihat sesuatu berubah di wajah Ophelia. Bukan drastis. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya sepersekian detik ketika matanya melebar sedikit, bibirnya menegang, dan cahaya di dalam tatapan itu meredup seperti lampu yang dimatikan pelan-pelan.

Lalu ia tersenyum. Tipis. Sopan. Sempurna.

Dan itu jauh lebih mengerikan daripada tangisan. Sebagian dari dirinya berharap perempuan itu menangis, karena tangisan berarti ia menang. Tapi Lia tidak menangis.

"Terima kasih atas penilaian pribadinya, Pak," kata Lia. Suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang retak halus di dalamnya. "Apakah masih ada hal yang perlu saya jelaskan tentang kontrak?"

Tenggorokan Navin mengering. Ia ingin berkata sesuatu. Ia ingin menarik kalimatnya kembali. Ia ingin berkata bukan begitu maksudku. Tapi lidahnya seperti terkunci, dan yang keluar hanya suara yang lebih dingin lagi.

"Tidak. Keluar."

Lia berdiri. Ia menunduk hormat dengan sempurna, tidak terlalu dalam dan tidak terlalu dangkal, seperti seorang prajurit yang tahu persis berapa banyak harga dirinya yang masih tersisa. Lalu ia berbalik, berjalan ke pintu dengan punggung tegak.

Di ambang pintu, tangannya berhenti sesaat di gagang. Navin melihatnya: jemari yang menggenggam gagang itu bergetar. Sedikit sekali. Hampir tidak terlihat.

Pintu tertutup.

Navin duduk tidak bergerak. Ruangan itu terasa jauh lebih besar dan jauh lebih dingin daripada sepuluh menit yang lalu. Di atas meja, berkas kontrak masih terbuka, tapi ia tidak melihat apa pun kecuali bayangan senyum tipis yang sempurna itu.

Tiga puluh satu tahun, belum menikah.

Ia mendengar ulang suaranya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti hal yang benar-benar jahat.

Ia sudah mengatakan hal-hal serupa pada puluhan orang. Kepada direktur yang berusia dua kali lipat darinya, kepada manajer yang menangis di depan matanya, kepada karyawan yang dipecatnya karena satu kesalahan ketik. Tidak pernah ada yang membekas. Tidak pernah ada yang menyisakan rasa tidak enak di perutnya.

Tapi kali ini, kalimat itu tersangkut di tenggorokan seperti pecahan kaca yang tak bisa ditelan maupun dimuntahkan.

Ia teringat cahaya yang meredup di mata Ophelia tadi. Ia pernah melihat tatapan serupa pada ibunya sendiri, dulu, ketika ayahnya mengucapkan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali. Tak seorang pun mengajarinya bahwa kata-kata bisa meninggalkan bekas sepanjang itu.

Dimas mengetuk dari luar. "Pak, jadwal berikutnya..."

"Batalkan," suara Navin serak. "Beri saya sepuluh menit."

Dimas tidak bertanya. Ia hanya menutup pintu perlahan.

Navin menatap gagang pintu yang tadi digenggam tangan gemetar itu, dan tidak menemukan cara untuk memaafkan dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!