NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Hari kedua Hazel melangkahkan kaki di kampus barunya tidak membawa suasana yang lebih tenang.

Pagi di Los Angeles diselimuti kabut tipis yang dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan gugur yang mengambang di udara.

Meskipun hari ini jadwal kuliah Manajemen Bisnis Internasional tidak diampu oleh Profesor Jameson Baxter Ashford, keberadaan pria itu di lingkungan kampus justru menjadi kenyataan yang tak terelakkan.

Pria yang biasanya hanya menampakkan diri saat jam kuliah atau rapat fakultas penting itu, secara mengejutkan terlihat melangkah tegas menyeberangi pelataran utama kampus sejak pukul delapan pagi.

Jas abu-abu gelap terpotong sempurna membingkai bahunya yang tegap, dipadukan dengan kemeja putih tanpa dasi yang bagian kancing atasnya dibiarkan terbuka santai.

Namun, pendar mata hazel-nya tetap menyimpan aura intimidatif khas keluarga Ashford yang membuat siapapun mahasiswa yang berpapasan dengannya otomatis menepi dan mengangguk hormat.

"Bukankah hari ini Profesor Ashford tidak ada jadwal mengajar di kelas kita?" bisik Seraphina sembari merapatkan kardigan tebalnya saat mereka berdua berjalan menyusuri koridor kaca menuju Gedung Bisnis.

"Kenapa dia ada di kampus pagi-pagi begini?"

Hazel tidak menjawab.

Ia tetap berjalan dengan keanggunan alaminya, membawa tas kulit cokelat serta satu map berisi dokumen referensi.

"Mungkin dia punya urusan pribadi dengan dekanat, Sera."

"Urusan pribadi?" Seraphina memutar bola matanya pelan.

"Pria sekelas Jameson Ashford tidak akan membuang waktunya di kampus jika bukan karena urusan yang sangat penting atau... seseorang."

Belum sempat Hazel membalas ucapan sahabatnya, suara langkah sepatu berirama tegas bergema di lantai marmer di hadapan mereka.

Langkah Hazel dan Seraphina terhenti seketika.

Jameson berdiri tepat di tengah persimpangan koridor, menghalangi jalur berjalan mereka.

Postur tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang yang seolah mengurung Hazel sepenuhnya.

Sepasang mata pekat sang dosen muda terkunci rapat pada Hazel, mengabaikan keberadaan mahasiswa lain yang berlalu-lalang di sekitar mereka.

"Selamat pagi, Miss Brooks," panggil Jameson dengan suara beratnya yang tenang namun dipenuhi kendali mutlak.

"Selamat pagi, Profesor Ashford," sahut Hazel datar, mengangguk singkat penuh formalitas.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Jameson mengambil satu langkah mendekat, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Saya sudah memeriksa berkas administrasi asistenmu yang kau serahkan kemarin sore. Kau mengosongkan kolom nomor ponsel pribadi di formulir tersebut."

Hazel menatap lurus ke sepasang mata hazel milik pria itu tanpa setitik pun rasa gentar.

"Kolom itu sengaja saya kosongkan, Profesor. Saya rasa komunikasi akademis cukup dilakukan melalui surel resmi universitas atau bertemu langsung di ruang kerja Anda saat jam operasional."

Sebuah senyuman miring yang provokatif terukir tipis di sudut bibir Jameson.

"Surel resmi?" dengus Jameson rendah, suara kekehannya yang dingin memantul di dinding koridor.

"Perlu aku ingatkan, Miss Brooks, bahwa tugas seorang asisten dosen bersifat mendadak dan membutuhkan koordinasi secepat mungkin. Jika ada perubahan jadwal kuliah, penyusunan materi mendadak, atau urusan administratif penting terkait mata kuliah Manajemen Bisnis, nomor ponsel adalah hal yang wajib diberikan."

"Saya selalu memeriksa surel saya setiap satu jam sekali, Sir," potong Hazel cepat, artikulasi bahasanya tetap halus namun memotong tegas argumentasi Jameson.

"Ponsel pribadi saya hanya diperuntukkan bagi keluarga dan rekan terdekat. Saya tidak mencampurkan urusan pribadi dengan tanggung jawab akademis."

Atmosfer di koridor seketika membeku.

Jameson menyipitkan matanya, memajukan tubuhnya hingga jarak di antara wajah mereka hanya tersisa belasan sentimeter.

Aroma parfum kayu cedar dan tembakau mahal milik Jameson kembali menyeruak, mengepung indra penciuman Hazel.

"Memisahkan urusan pribadi dan akademis?" bisik Jameson dengan suara serak yang sangat rendah, sengaja hanya ditujukan untuk telinga Hazel.

"Apakah membayar dosenmu dengan segepok uang tunai di kamar hotel juga masuk dalam kategori 'memisahkan urusan pribadi', Miss Brooks?"

Mata Hazel menyipit tipis, rahangnya mengetat kaku mendengar godaan menusuk itu.

Namun, keahlian Hazel dalam mengendalikan emosi jauh di atas rata-rata.

Wajah cantiknya tetap tenang bagai porselen, tanpa rona merah atau kepanikan yang diharapkan oleh Jameson.

"Saya memutuskan untuk tetap tidak memberikan nomor ponsel pribadi saya, Profesor," tegas Hazel dengan nada suara yang tak tergoyahkan.

"Jika Anda merasa keberatan dengan keputusan ini, Anda berhak mencari asisten lain yang lebih bersedia memenuhi kualifikasi Anda."

Mendengar penolakan terang-terangan di depan umum itu, alis tebal Jameson menaut tajam.

Keangkuhannya sebagai seorang Ashford dan posisinya sebagai dosen paling ditakuti di kampus ini seolah ditantang secara terbuka oleh mahasiswi barunya sendiri.

"Kau tidak dalam posisi untuk memberikan tawar-menawar atau memilih mengundurkan diri, Hazel," balas Jameson dingin, menyebut namanya tanpa sebutan formal.

"Kau adalah asistenku, dan aku yang menentukan aturan mainnya di sini."

Sementara perdebatan dingin itu berlangsung intens, Seraphina yang berdiri satu langkah di belakang Hazel membeku di tempatnya.

Mata Seraphina membelalak lebar, memandang bergantian antara raut wajah tegas sang profesor dan ketenangan sahabatnya.

Seluruh rumor tentang Profesor Jameson Ashford—bahwa pria itu dingin bagai es, anti-sosial, sangat menjaga jarak dari mahasiswa, dan tidak pernah membuang waktu untuk percakapan tidak penting—seolah runtuh berkeping-keping di depan matanya sendiri.

Dosen yang selama ini dikenal sangat kejam dan acuh tak acuh... bertingkah sekompulsif ini hanya demi meminta nomor telepon asistennya? Batin Seraphina meronta heran.

Pertanda apa ini sebenarnya? Bukankah ini terlalu berlebihan hanya untuk urusan tugas kuliah?

Ada sesuatu yang tersembunyi di antara mereka berdua...

"Profesor Ashford," potong Hazel tenang, memecah ketegangan yang makin pekat.

"Kelas pertama saya akan dimulai lima menit lagi. Jika tidak ada instruksi spesifik mengenai berkas kuliah hari ini, saya permisi."

Tanpa menunggu balasan dari Jameson, Hazel memberikan anggukan formal yang singkat, lalu memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri koridor.

Seraphina terkejut, terburu-buru mengangguk hormat pada Jameson dengan wajah pucat, lalu berlari kecil menyusul langkah Hazel.

"H-permisi, Profesor!"

Jameson tetap berdiri di tengah koridor, menyilangkan tangannya di pinggang.

Matanya yang tajam dan pekat mengunci punggung Hazel yang makin menjauh.

Sebuah smirk penuh ketertarikan dan dominasi yang tertahan terukir perlahan di wajah tampannya.

"Kau pikir kau bisa lari dariku hanya dengan menolak memberikan nomor ponselmu, Hazel?" gumam Jameson lirih pada udara dingin koridor.

"Kita lihat seberapa lama kau sanggup bertahan dalam permainan ini."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di dalam kelas, Seraphina langsung menarik lengan baju Hazel begitu mereka mengambil duduk di barisan tengah.

"Hazel! Demi Tuhan, apa yang baru saja terjadi di koridor tadi?!"

Bisik Seraphina heboh, matanya menatap Hazel dengan pandangan menuntut penjelasan.

"Kau baru saja menolak memberikan nomor teleponmu pada Profesor Ashford secara terang-terangan! Dan reaksi pak dosen... astaga, dia menatapmu seolah ingin menelanmu hidup-hidup!"

Hazel membuka buku catatannya dengan tenang, mengambil pena, lalu melirik sahabatnya.

"Dia hanya bersikap berlebihan soal tugas asisten, Sera. Tidak ada yang spesial."

"Tidak ada yang spesial?!" Seraphina memegang dahinya, menggelengkan kepala tak percaya.

"Hazel, aku kenal reputasi Profesor Jameson sejak tahun pertama di kampus ini. Dia tidak pernah berdebat dengan mahasiswi. Jika ada mahasiswa yang bertingkah membangkang, dia akan langsung mencoret namanya atau menyerahkan urusan itu pada sekretariat fakultas. Tapi padamu? Dia mendatangi kampus di hari liburnya hanya untuk mengonfrontasimu soal kolom nomor telepon!"

Seraphina memajukan tubuhnya, berbisik sangat pelan di dekat telinga Hazel.

"Katakan padaku secara jujur... apa kau dan Profesor Ashford pernah saling mengenal sebelum kau pindah ke Los Angeles?"

Hazel menghentikan gerakan penanya di atas kertas sejenak.

Tatapan matanya yang jernih menatap Seraphina dengan ketenangan yang membius.

"Aku baru pertama kali melihat wajahnya saat dia melangkah masuk ke aula kuliah kita kemarin, Sera," jawab Hazel dengan kebohongan yang terstruktur amat sempurna dan mulus.

"Mungkin dia hanya tipe dosen dominan yang tidak suka jika perintahnya tidak dituruti 100 persen."

Seraphina menyenggol lengan Hazel dengan helaan napas pasrah, meskipun kecurigaan di dalam hatinya belum sepenuhnya padam.

"Terserahlah apa katamu, tapi tetap saja... bersikap berani pada pria keluarga Ashford itu seperti bermain-main dengan bom waktu. Kau harus ekstra hati-hati, Hazel."

Hazel hanya mengulas senyum tipis yang tak tertebak, lalu kembali menggoreskan penanya di atas kertas catatan, menyembunyikan rapat-rapat kilatan dingin di balik iris mata indah miliknya.

...----------------...

Happy reading 🦋

1
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
lagi up nya Thor 🤗🤗💪
safaana
pengen tampar tu muka Cristine,,udah selingkuh tak tau malu lagi,slalu ada ular berbisa
Rosdianah 🌷: kwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel keren 😁😁😁
Rosdianah 🌷: iya dong 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... cantik dan ganteng 😁😁🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut
Lilla Ummaya: Yaaa skrng thore
total 2 replies
safaana
nikahi saja jame,dan suruh mommy bilang pada hazel yang baik2
Lilla Ummaya
Lanjuut
safaana
deddy lean dulu kan nikah dulu
Rosdianah 🌷: author lupa 🙏🏻🤣
total 1 replies
safaana
berasa aku yang berada di sana tegang bnget
Rosdianah 🌷: hhah🤣
total 1 replies
Debu Nakal
langsung nikahkan aja mom glow 🤣
Rosdianah 🌷: iya benar2 bahaya dia orang ini🤣
total 1 replies
safaana
hahaha ceroboh sekali si jame,jdi tontonan gratis
Rosdianah 🌷: agak lain 😭🤣
total 1 replies
Nita Nita
malah tebar pesona🤣😄🤭
Rosdianah 🌷: Sipaling sempurna 😭
total 1 replies
safaana
maka kejarlah sejauh mungkin jame
safaana
jangan menjebaknya hazel ntar kau sendiri yang masuk jebakan sendiri
Rosdianah 🌷: nah benar 🤭
total 1 replies
Nita Nita
aduh aduh aduh 😄😄🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Seru seru lg terus thor,,malming baca karyamu..kerenn
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Debu Nakal
siap dikejar tayang ma reader ngak thor
up up up 🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut thoor yg bnyak donk
Lilla Ummaya: Ini dlu thoor
total 2 replies
Yusry Ajay
ternyata hazel pembunuh Thor 😶😶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!