Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebas Dari Penjara
Tahanan yang tangannya tertusuk segera menarik tangannya. Darah mulai mengalir dari luka tersebut, membuatnya meringis menahan sakit.
“Berani sekali kau menyerang kami!” bentak temannya sambil maju hendak menyerang Vivian.
Vivian langsung berdiri dan membalikkan meja di hadapannya.
Brak!
Makanan dan peralatan makan berserakan di lantai.
Kedua tahanan itu refleks mundur beberapa langkah. Keributan tersebut sontak menarik perhatian para tahanan lain yang sedang makan.
Tidak lama kemudian, beberapa petugas penjaga penjara datang menghampiri mereka.
“Berhenti! Apa yang kalian lakukan?” bentak salah satu petugas.
“Dia melukaiku!” jawab tahanan yang tangannya terluka sambil menunjukkan tangannya yang berdarah.
Vivian tetap berdiri tenang.
“Aku hanya melindungi diriku. Mereka datang untuk menyerangku karena ingin membalas dendam."
“Bawa dia berobat dulu!” perintah salah satu petugas kepada rekannya.
Tahanan yang terluka segera dibawa pergi untuk mendapatkan perawatan. Sementara itu, tahanan lainnya yang terlibat dalam keributan dipisahkan dan diasingkan bersama tahanan dari blok lain.
Petugas kemudian menatap Vivian dengan tegas.
“2187, jangan membuat masalah lagi. Masa bebasmu hanya tinggal menghitung hari.”
“Iya,” jawab Vivian singkat.
Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin.
"Walaupun sekarang aku memberitahu siapa dalang di balik semua ini, tidak akan ada gunanya. Papa dan kakak pasti akan berusaha melindungi Vivi," batinnya.
Vivian mengepalkan tangannya.
"Lebih baik aku diam untuk sementara.
Setelah aku bebas, aku akan pulang dan membalas semuanya satu per satu."
Beberapa hari kemudian.
Setelah menjalani hukuman penjara selama satu tahun, akhirnya Vivian dibebaskan.
Siang itu, dengan langkah penuh semangat, Vivian berjalan keluar dari gerbang penjara. Tidak ada lagi rasa takut di wajahnya. Setelah melewati satu tahun yang penuh tekanan, ia merasa seperti mendapatkan kembali kebebasannya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria keluar.
Pria itu adalah Tom Wei, kakaknya.
Tom menatap Vivian dengan tatapan sinis sebelum berkata dengan nada kesal,
“Cepat masuk! Papa dan Mama sedang menunggumu di rumah!”
Vivian meliriknya dari atas sampai bawah.
“Kalau tidak suka datang menjemputku, tidak perlu datang. Daripada harus menjemputku dengan wajah seperti orang yang baru saja kehilangan nyawa.”
Wajah Tom langsung mengeras.
“Apakah kau tidak bisa menjaga ucapanmu? Selalu saja bicara sembarangan!”
Vivian tertawa kecil.
“Kakak, tolong pintar sedikit. Walaupun mulutku memang suka bicara sembarangan, jangan salahkan aku kalau yang keluar justru kenyataan.”
Ia menatap Tom dengan tajam.
“Setidaknya aku tidak menabrak orang lalu melemparkan kesalahan kepada orang lain. Tidak seperti adik kesayanganmu itu.”
Tom langsung membalas dengan kesal.
“Dia adalah kakakmu juga. Apa kau tidak bisa berkorban sedikit untuknya?”
Vivian menghentikan langkahnya dan menatap Tom.
“Kalau begitu, Kakak saja yang berkorban.”
“Sejak kapan aturan negara mengatakan saudara yang tidak melakukan kesalahan harus menanggung kesalahan kakaknya?”
Vivian melangkah mendekat.
“Jangan salah. Kalau aku ingin menuntut kembali masalah itu, adikmu harus bersiap masuk penjara.”
Tom terdiam.
Vivian kemudian membuka pintu mobil dan masuk tanpa menunggu jawaban.
“Kalau mau pulang, cepat masuk. Aku sudah tidak sabar bertemu keluarga yang selama setahun ini bahkan tidak pernah datang menjengukku.”
Tom mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Kenapa tatapannya sekarang sangat berbeda dengan dulu?" batin Tom.
***
Selama perjalanan, Vivian hanya diam. Berbeda dengan dulu, ketika ia selalu ceria dan berusaha mencari topik pembicaraan setiap kali bersama keluarganya. Namun kini, ia lebih memilih diam.
Tom memandang melalui kaca spion di atas kepalanya. Gadis itu hanya memejamkan mata tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kenapa dia berubah sama sekali? Kalau dulu dia sering berusaha mendekatiku,” batin Tom.
“Setelah pulang, jangan ungkit masalah ini lagi di depan Vivi,” kata Tom. “Aku tidak ingin dia sedih.”
“Kau takut dia sedih, tapi tega membiarkanku dipenjara. Luar biasa sekali keluarga yang aku miliki,” sindir Vivian.
“Kami akan menebusnya. Apa kau puas?” tanya Tom.
“Kebebasan yang sudah hilang dan perasaan yang sudah terluka tidak akan sembuh dengan cara apa pun. Aku manusia, bukan robot. Kalau emosiku meledak, siapa saja bisa masuk rumah sakit. Kalau tidak percaya, telepon dan tanyakan kepada petugas penjara. Orang yang mencari masalah denganku tidak sedikit. Dan semua itu berkat adik kesayanganmu.” Vivian membuka matanya dan menatap Tom dengan dingin.
“Jadi, kalau kau dan adikmu itu masih sayang dengan nyawa, lebih baik jangan mencari masalah denganku.”