NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 17

Pagi itu, Damian sudah selesai mengenakan jas hitamnya. Ia berdiri di depan cermin besar di kamar, merapikan dasi sebelum mengambil jam tangan yang terletak di atas meja.

Sementara itu, Emma duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan suaminya dari kejauhan. Kondisinya memang sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari lalu, meskipun tubuhnya terkadang masih terasa lemas.

Damian melirik Emma melalui pantulan cermin.

“Aku akan berangkat ke kantor. Kau sudah benar-benar sehat, kan?” tanyanya sambil memasang jam tangan di pergelangan tangannya.

Emma mengangguk. “Sudah. Memangnya kau mau memeriksa suhu tubuhku setiap pagi?”

“Kalau perlu, iya.”

Emma langsung mendengus. “Aku bukan anak kecil, Damian.”

“Bagus kalau kau menyadarinya. Kalau begitu, jangan bertingkah seperti anak kecil.”

“DAMIAN!”

Pria itu hanya mengangkat sebelah alis, sama sekali tidak merasa bersalah karena berhasil membuat istrinya kesal sepagi itu.

Ia kemudian berjalan mendekati Emma.

“Hari ini, Mami seharusnya sudah mengirim Sonia dan beberapa pelayan lain untuk membantumu di rumah,” jelas Damian. “Jadi, kau tidak perlu repot mengurus semuanya sendiri.”

Emma mengangguk pelan.

“Oh, iya. Aku juga ingin belajar memasak,” katanya tiba-tiba.

Damian yang hendak mengambil tas kerjanya langsung menghentikan langkah.

“Belajar memasak?”

“Iya. Kemarin kau bisa membuat nasi goreng. Aku juga mau bisa memasak makanan sendiri.”

Damian menghela napas panjang, seolah-olah baru saja mendengar permintaan yang sangat merepotkan.

“Baiklah. Kau boleh belajar, tetapi ada beberapa aturan yang harus kau patuhi.”

Emma menatapnya dengan penuh curiga.

“Aturan apa lagi?”

“Pertama, jangan sampai kau terluka sedikit pun. Kedua, jangan menyentuh wajan, pisau, kompor, atau peralatan dapur lainnya. Kau hanya boleh memperhatikan para pelayan ketika mereka memasak.”

Emma terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia menatap Damian dengan wajah tidak percaya.

“Kalau begitu, bukan namanya belajar!” protesnya. “Aku cuma jadi penonton!”

“Memangnya kau pikir aku akan membiarkanmu bermain-main dengan pisau dan kompor setelah baru sembuh dari demam?”

“Aku tidak akan bermain-main! Aku mau belajar!”

“Belajar mengamati dulu.”

“Damian, kau ini benar-benar menyebalkan!”

“Aku menerima pujianmu.”

“Itu bukan pujian!”

Damian mengabaikan protes Emma dan kembali mengambil tas kerjanya. Baginya, membiarkan Emma belajar memasak dengan bebas setelah perempuan itu baru saja sembuh dari demam adalah ide yang sangat buruk.

Ia bahkan masih ingat bagaimana Emma mengigau memanggil bundanya ketika demamnya tinggi beberapa hari lalu.

Sejak saat itu, tanpa disadarinya, Damian menjadi jauh lebih berhati-hati terhadap keadaan istrinya.

Belum sempat ia melangkah menuju pintu, ponselnya tiba-tiba bergetar.

Ting!

Sebuah pesan masuk dari Raina.

Damian membuka pesan tersebut dengan santai. Namun, begitu membaca isinya, keningnya langsung berkerut.

Mami:

Sebelum berangkat, pastikan hati istrimu dalam suasana senang. Peluk dan cium keningnya dulu.

Damian mengernyit semakin dalam.

Belum selesai ia membaca, pesan kedua kembali masuk.

Mami:

Mami memperhatikan setiap gerak-gerikmu, Damian. Jangan sampai kau membuat menantu Mami sedih. Mengerti?

Damian menatap layar ponselnya selama beberapa detik.

Kemudian, ia memijat pangkal hidungnya.

“Ya ampun, Mami ini sebenarnya ibu siapa, sih?” gumamnya kesal.

Sejak kapan ibunya berubah menjadi pengawas hubungan rumah tangganya?

Lebih parah lagi, bagaimana mungkin Raina menyuruhnya mencium kening Emma seolah-olah hal itu sama mudahnya dengan menandatangani dokumen perusahaan?

Damian melirik Emma yang masih duduk di ranjang.

Perempuan itu sedang sibuk memainkan ujung selimut tanpa menyadari bahwa suaminya tengah berperang dengan pikirannya sendiri.

Apa aku benar-benar harus melakukannya?

Damian menghela napas.

Ia bisa menghadapi para pesaing bisnis tanpa berkedip. Ia juga bisa membuat seluruh ruangan rapat terdiam hanya dengan satu tatapan.

Namun, entah mengapa, membayangkan dirinya mencium kening Emma justru membuatnya merasa canggung.

“Kenapa kau diam saja?” tanya Emma ketika menyadari Damian terus berdiri di dekat pintu. “Bukankah tadi kau bilang mau berangkat?”

Damian memasukkan ponselnya ke saku jas.

“Tidak ada apa-apa.”

“Wajahmu seperti orang yang baru saja kehilangan uang satu miliar.”

“Emma.”

“Iya, iya. Aku diam.”

Emma segera menutup mulutnya, tetapi senyum jahil masih terlihat di wajahnya.

Damian menggeleng pelan sebelum akhirnya menghampiri Emma.

“Aku berangkat sekarang,” katanya.

Emma mendongak. “Hati-hati di jalan.”

Damian mengangguk singkat.

Namun, ketika ia hendak berbalik, Emma kembali memanggilnya.

“Damian.”

“Apa lagi?”

Emma memainkan jemarinya sebentar sebelum mengajukan pertanyaan dengan nada sedikit ragu.

“Kalau aku mau menanam bunga di taman, boleh?”

Damian menatapnya.

“Menanam bunga?”

Emma mengangguk cepat. “Iya. Aku bosan kalau hanya duduk di rumah. Lagipula, taman kita bagus. Sayang kalau tidak ada bunga yang kutanam sendiri.”

Damian sebenarnya ingin melarangnya melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan. Namun, melihat mata Emma yang berbinar penuh harapan, ia akhirnya mengangguk.

“Boleh.”

Wajah Emma langsung cerah.

“Benarkah?”

“Ya. Tapi ingat, jangan sampai kau terluka sedikit pun. Kau tidak boleh menggunakan alat berkebun yang tajam atau melakukan pekerjaan berat. Minta Sonia dan para pelayan membantumu.”

Emma mengangguk bersemangat.

“Iya, Tuan Damian. Aku mengerti.”

“Dan jangan mengabaikan mereka kalau mereka menyuruhmu beristirahat.”

“Iya.”

“Jangan terlalu lama berada di bawah matahari.”

“Iya.”

“Kalau merasa pusing atau tidak enak badan, segera masuk ke rumah.”

Emma mulai mengerucutkan bibir.

“Iya, Damian. Aku sudah mengerti semuanya.”

Damian menatapnya beberapa saat untuk memastikan Emma tidak sekadar mengiyakan perkataannya.

“Bagus.”

Emma kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arah Damian.

Pria itu mengernyit.

“Apa?”

“Salim dulu,” jawab Emma polos.

Damian menatap kedua tangan yang terulur di hadapannya, lalu kembali menatap wajah Emma.

“Untuk apa?”

“Ya, supaya kau berangkat kerja dengan tenang. Memangnya salah?”

Damian terdiam.

Ia tidak tahu apakah harus tertawa atau justru menghela napas menghadapi tingkah istrinya.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Emma kembali mengulurkan tangannya dengan ekspresi penuh harap.

Akhirnya, Damian mengalah.

Ia meraih kedua tangan Emma, kemudian mengangkatnya perlahan hingga telapak tangan perempuan itu berada di dekat wajahnya. Bukannya sekadar berpamitan, Damian justru meletakkan kedua tangannya di pipi Emma.

Emma langsung membeku.

“Da-Damian?” panggilnya gugup.

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya menundukkan kepala, lalu mengecup kening Emma dengan lembut.

Satu kecupan singkat.

Namun, bagi Emma, rasanya seperti waktu berhenti selama beberapa detik.

Matanya membesar. Kedua tangannya yang masih berada dalam genggaman Damian mendadak kaku, sementara wajahnya perlahan memerah.

Damian sendiri juga tidak jauh berbeda.

Begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Astaga. Aku benar-benar melakukannya.

Ia segera melepaskan kedua tangan Emma dan berdeham kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

“Sudah. Aku berangkat.”

Emma masih terdiam.

Damian baru berjalan beberapa langkah ketika suara Emma terdengar dari belakang.

“T-Tunggu!”

Ia berhenti dan menoleh.

“Apa lagi?”

Emma memegang keningnya sendiri, kemudian menatap Damian dengan wajah merah padam.

“Kau … kau baru saja menciumku?”

Damian berusaha memasang wajah datar.

“Memangnya kau tidak merasakannya?”

“Bukan begitu maksudku!”

“Lalu?”

Emma membuka mulut, tetapi tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar.

Bagaimana bisa ia menjelaskan sesuatu yang bahkan membuat pikirannya sendiri kacau?

Damian menatapnya sebentar, lalu menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.

“Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Aku hanya berpamitan kepada istriku.”

Setelah mengatakan itu, Damian segera berbalik sebelum Emma sempat membalas.

Namun, baru beberapa langkah, ia mendengar suara Emma kembali memanggilnya.

“DAMIAN!”

Pria itu menghentikan langkah dengan sabar yang semakin menipis.

“Apa lagi, Emma?”

Emma menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya.

“Hati-hati di jalan!”

Damian terdiam sesaat.

Lalu, tanpa menoleh, ia menjawab, “Kau juga jaga dirimu.”

Ia akhirnya meninggalkan kamar dengan langkah tenang, meskipun jantungnya belum sepenuhnya kembali normal.

Sementara itu, Emma menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang begitu mendengar suara pintu tertutup.

Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan … kenapa dia tiba-tiba begitu, sih?” gumamnya malu.

Emma menggulingkan tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, sebelum akhirnya membenamkan wajah ke bantal.

“Gila! Aku benar-benar salting!”

Perempuan itu tidak tahu bahwa di lorong luar, Damian juga sempat berhenti sebentar untuk menenangkan dirinya sendiri.

Keduanya sama-sama salah tingkah.

Hanya saja, tidak ada satu pun yang mau mengakuinya.

 

Di kantor Damian

Suasana ruang kerja Damian terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya.

Begitu tiba di kantor, pria itu langsung disambut oleh Vandes yang sudah menunggu dengan beberapa dokumen di tangan.

“Selamat pagi, Tuan. Dokumen untuk rapat pertama sudah saya siapkan. Selain itu, ada beberapa laporan yang membutuhkan persetujuan Anda,” ujar Vandes sambil menyerahkan map kepadanya.

Damian menerima dokumen tersebut.

“Letakkan di meja. Aku akan memeriksanya.”

“Baik, Tuan.”

Awalnya, semuanya berjalan normal.

Damian memeriksa laporan, menandatangani beberapa dokumen, dan mengikuti rapat bersama para kepala divisi. Namun, ketika salah satu manajer menjelaskan laporan keuangan yang ternyata masih memiliki beberapa kesalahan, suasana hatinya langsung memburuk.

“Saya sudah meminta laporan ini diperiksa sebelum diserahkan kepada saya!” tegur Damian dengan suara dingin.

Manajer yang berdiri di hadapannya langsung menundukkan kepala.

“Maaf, Tuan Damian. Kami akan segera memperbaikinya.”

“Segera?” ulang Damian tajam. “Kalian tahu berapa banyak waktu yang sudah terbuang hanya karena kesalahan seperti ini?”

“Maaf, Tuan. Kami akan memastikan hal ini tidak terulang.”

Damian menutup map di tangannya dengan sedikit kasar.

“Saya tidak membutuhkan janji. Saya membutuhkan hasil. Periksa kembali semuanya, lalu kirimkan laporan yang benar sebelum siang.”

“Baik, Tuan.”

Manajer itu segera meninggalkan ruangan dengan wajah tegang Vandes yang berdiri tidak jauh dari meja Damian hanya bisa diam. Ia sudah cukup lama bekerja untuk pria itu sehingga tahu betul kapan sebaiknya berbicara dan kapan lebih baik menutup mulut.

Namun, pagi ini Damian terlihat jauh lebih mudah tersulut daripada biasanya.

Beberapa menit kemudian, seorang staf lain masuk untuk meminta persetujuan atas jadwal pertemuan yang berubah.

“Maaf mengganggu, Tuan. Ada perubahan jadwal dari pihak rekan bisnis. Apakah rapat sore bisa dipindahkan ke pukul empat?”

Damian mengangkat wajah.

“Kenapa baru sekarang disampaikan?”

“Pihak mereka baru mengonfirmasi perubahan tersebut beberapa menit lalu.”

“Kalau begitu, atur ulang jadwalnya dan pastikan semua orang menerima pemberitahuan. Jangan sampai saya mendengar keluhan karena informasi yang tidak jelas.”

“Baik, Tuan.”

Staf itu segera pergi.

Damian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu bersandar pada kursi.

Vandes memperhatikan atasannya selama beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Apakah ada masalah di rumah, Tuan?”

Damian langsung menatapnya.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Karena sejak tadi suasana hati Anda terlihat kurang baik.”

“Pekerjaan sedang menumpuk. Apa itu belum cukup menjadi alasan?”

Vandes segera menundukkan kepala.

“Maaf, Tuan. Saya hanya bertanya.”

“Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu.”

“Baik, Tuan.”

Vandes keluar dari ruangan tanpa mengajukan pertanyaan lain.

Damian kembali membuka dokumen di hadapannya. Ia berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan, tetapi entah mengapa pikirannya terus melayang ke rumah.

Lebih tepatnya, kepada seorang perempuan yang pagi tadi masih tersipu-sipu setelah ia kecup keningnya.

Damian menghentikan gerakan tangannya.

Kenapa aku malah memikirkan dia?

Ia menghela napas, lalu kembali membaca laporan.

Namun, baru beberapa menit berlalu, pikirannya kembali terarah kepada Emma.

Apakah perempuan itu sudah sarapan?

Apakah Sonia sudah datang?

Apakah Emma benar-benar akan menanam bunga seperti yang dikatakannya?

Dan yang paling penting, apakah perempuan itu akan mengikuti semua larangannya?

Damian menutup dokumen di hadapannya.

“Kenapa aku jadi memikirkan hal-hal seperti ini?” gumamnya kesal.

Ia mengambil segelas air, meminumnya sedikit, lalu mencoba kembali bekerja.

Akan tetapi, semakin ia berusaha mengabaikan pikirannya, semakin banyak pula pertanyaan yang bermunculan.

Sampai akhirnya—

Ting!

Ponselnya yang tergeletak di meja berbunyi.

Damian mengambilnya dengan malas, mengira pesan tersebut berasal dari salah satu rekan bisnisnya.

Namun, ketika membaca isi pesan itu, ekspresinya langsung berubah.

Pesan tersebut berasal dari salah satu petugas keamanan yang ditugaskan menjaga rumahnya.

Petugas keamanan:

Selamat pagi, Tuan Damian. Kami ingin menginformasikan bahwa Nyonya Emma baru saja keluar rumah bersama Sonia. Keduanya sedang menuju pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan.

Damian membaca pesan itu dua kali.

Kemudian, ia meletakkan gelasnya ke meja dengan sedikit kasar.

“Keluar rumah?” gumamnya.

Rahangnya mengeras.

Perempuan itu pergi ke luar tanpa memberitahuku?

Ia segera meraih ponselnya kembali, lalu membaca pesan tersebut sekali lagi.

Tidak ada yang salah dengan Emma pergi berbelanja bersama Sonia. Mereka bahkan ditemani pengawal yang sudah ditugaskan untuk menjaga keselamatannya.

Namun, yang membuat Damian kesal adalah kenyataan bahwa Emma sama sekali tidak memberitahunya.

Bukankah pagi tadi ia sudah mengatakan bahwa Emma harus berhati-hati?

Bukankah ia juga sudah memperingatkan istrinya agar tidak melakukan sesuatu yang berisiko?

Damian segera membuka ruang obrolan dengan Raina, berniat menanyakan apakah ibunya mengetahui kepergian Emma.

Namun, sebelum mengetik apa pun, ia tiba-tiba terdiam.

Ia baru menyadari sesuatu yang sangat memalukan.

Ia bahkan belum memiliki nomor telepon Emma.

Damian menatap layar ponselnya dengan wajah kaku.

Selama ini mereka tinggal di rumah yang sama, sehingga ia tidak pernah merasa perlu meminta nomor perempuan itu. Jika membutuhkan sesuatu, ia bisa langsung memanggilnya atau meminta Sonia menyampaikan pesan.

Namun, sekarang Emma berada di luar rumah, dan ia bahkan tidak bisa menghubunginya secara langsung.

“Luar biasa,” gumam Damian sambil mengusap wajahnya. “Aku ini sebenarnya suaminya atau orang asing?”

Ia langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja.

Vandes yang kebetulan hendak masuk membawa dokumen hampir menabraknya.

“Tuan? Anda mau ke mana?” tanyanya terkejut.

“Ke ruanganmu. Aku membutuhkan sesuatu.”

Vandes segera mengikuti Damian kembali ke ruangannya.

Begitu pintu tertutup, Damian langsung menatap asistennya.

“Hubungi petugas keamanan yang mengawal Emma. Aku ingin mereka memastikan istriku tidak terpisah dari Sonia dan tidak pergi ke tempat yang tidak mereka kenal.”

“Baik, Tuan.”

“Pastikan juga mereka menjaga jarak yang wajar. Jangan membuat Emma merasa diawasi secara berlebihan, tetapi jangan sampai lengah.”

Vandes mengangguk.

“Apakah Nyonya Emma sedang dalam bahaya?”

“Belum tentu,” jawab Damian. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Dan minta Sonia memastikan Emma tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Kalau dia ingin membeli apa pun, biarkan Sonia yang membawanya. Emma tidak boleh mengangkat barang berat.”

“Baik, Tuan. Akan saya sampaikan.”

Vandes segera menghubungi petugas keamanan yang bertugas mengawal Emma. Setelah memastikan instruksi Damian dipahami, ia kembali berdiri di hadapan atasannya.

“Semua sudah diatur, Tuan.”

Damian mengangguk singkat.

Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali mengambil ponselnya.

“Vandes.”

“Ya, Tuan?”

“Berikan nomor Sonia kepadaku.”

Vandes sempat terdiam, tetapi segera menyebutkan nomor yang diminta. Damian menyimpannya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Sonia.

Damian: Pastikan Emma tetap aman. Kabari aku kalau ada sesuatu yang tidak beres.

Setelah mengirim pesan itu, Damian kembali duduk di kursinya.

Ia mencoba membuka dokumen yang tadi belum selesai diperiksa, tetapi pikirannya masih tertuju pada Emma Sampai akhirnya, ia mengambil ponselnya sekali lagi dan membuka kontak yang baru saja disimpan.

Nama Sonia terpampang jelas di layar Damian menatapnya selama beberapa detik sebelum menghela napas panjang.

“Setelah dia pulang, aku harus meminta nomor teleponnya,” gumamnya.

Ia berhenti sebentar, kemudian mengerutkan kening.

“Tidak. Aku harus memintanya sekarang.”

Damian segera mengirim pesan kepada Sonia untuk meminta nomor Emma, dengan alasan agar ia bisa menghubungi istrinya jika terjadi sesuatu.

Namun, jauh di dalam hatinya, ada alasan lain yang tidak ingin ia akui Ia ingin bisa menghubungi Emma kapan saja.

Ingin tahu apakah perempuan itu sudah makan, apakah ia masih merasa pusing, dan apakah ia sedang tersenyum seperti ketika mereka berbicara di rumah.

Damian bersandar di kursinya, lalu menatap layar ponsel yang masih menampilkan percakapannya dengan Sonia.

“Benar-benar merepotkan,” gumamnya pelan.

Akan tetapi, kali ini tidak ada kemarahan dalam suaranya.

Hanya ada sedikit kekhawatiran yang diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang bahkan belum mampu ia beri nama Dan tanpa Damian sadari, pagi itu bukan hanya Emma yang mulai terbiasa mencari dirinya Damian pun mulai terbiasa ingin mengetahui segala sesuatu tentang Emma.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!