NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Galian Di Bawah Mangga

Jam empat sore, kabut merah masih menggantung tipis di atas Langgur, tapi tidak setebal pagi tadi. Matahari sore terlihat samar seperti kuning telur yang pecah di balik kain merah. Udara masih bau besi, tapi warga sudah mulai keluar dari rumah masing-masing.

Di halaman belakang rumah Ara, sudah berkumpul tujuh orang. Pak RT Unus yang sudah tua dan jalannya agak pincang, Bu Ani dan suaminya Pak Karim yang membawa cangkul besar, dua pemuda tetangga bernama Jali dan Edo yang membawa linggis, serta Mama Ino yang duduk di bale-bale sambil memegang tasbih dan terus berdoa dengan suara pelan. Semua wajah mereka tegang dan pucat.

Ara berdiri di depan pohon mangga kecil yang tumbuh semalam. Pohon itu sekarang sudah setinggi pinggang orang dewasa, padahal pagi tadi masih selutut. Daunnya hijau mengkilap dan batangnya kokoh, tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Akarnya terlihat menonjol keluar dari tanah, seperti cakar yang mencengkeram tanah dengan kuat.

"Jadi di bawah pohon ini?" tanya Pak RT Unus dengan suara berat. Dia menatap tanah basah di bawah pohon mangga itu dengan dahi berkerut.

Ara mengangguk. "Iya, Pak RT. Revan bilang jasadnya ada di sini. Orang kota itu yang kubur dia di sini lima tahun lalu setelah mereka pukul kepalanya."

Pak Karim, suami Bu Ani, meludah ke tanah dengan marah. "Brengsek mereka itu. Pantas saja tanah di sini tidak pernah subur lagi. Ternyata ada mayat di bawahnya. Mereka pikir kita orang kampung bodoh, bisa dibohongi terus."

Jali dan Edo mulai menggali. Tanah di bawah pohon mangga itu ternyata sangat gembur dan basah, meski sudah tiga hari tidak hujan. Bau tanahnya sangat menyengat, bau lumpur bercampur bau anyir darah. Semakin dalam mereka menggali, bau itu semakin kuat.

Mama Ino terus membaca doa, suaranya semakin keras. Tasbih di tangannya diputar dengan cepat.

Setelah menggali hampir satu meter, cangkul Jali membentur sesuatu yang keras. Bukan batu. Bunyinya berbeda. Bunyi kayu yang sudah lapuk.

"Kayu, Pak! Ada kayu di bawah!" teriak Jali dengan napas terengah.

Semua orang langsung mendekat ke lubang galian. Pak RT menyuruh Jali dan Edo menggali lebih pelan dan hati-hati. Tanah di sekitar benda keras itu dibersihkan dengan tangan.

Perlahan, terlihat sebuah peti kayu sederhana yang sudah lapuk dan hampir hancur dimakan rayap. Peti itu tidak terlalu besar, hanya seukuran orang dewasa yang meringkuk. Di atas peti itu, ada kain hitam yang sudah sobek dan berlumuran tanah merah. Di samping peti, ada jaket hitam yang robek di lengan kiri. Jaket yang sama yang dipakai Revan semalam.

Ara langsung menangis keras. Dia jatuh berlutut di pinggir lubang galian. Itu jaket Revan. Jaket yang dia belikan untuk Revan dari hasil jualan kue di pasar, dua minggu sebelum Revan hilang. Jaket itu masih ada bercak darah kering di bagian lehernya.

"Revan," bisik Ara dengan suara pecah.

Pak RT membuka peti kayu itu dengan linggis. Kayunya sudah rapuh, jadi mudah terbuka. Ketika peti itu terbuka, semua orang yang ada di sana langsung mundur selangkah dan menutup hidung.

Di dalam peti, ada kerangka manusia yang masih memakai baju yang sama, baju biru yang dipakai Revan waktu melaut. Tengkoraknya retak di bagian pelipis kiri, persis seperti luka yang dilihat Ara di wajah Revan semalam. Di leher kerangka itu, masih melilit rantai besi kecil yang sudah berkarat. Rantai yang dipakai untuk mengikat jangkar perahu.

Pak Karim mengangkat rantai itu dengan kayu. "Lihat, mereka rantai dia. Mereka tidak cuma pukul, mereka tenggelamkan dia dengan rantai biar tidak mengapung. Tapi mungkin karena takut ketahuan, mereka kubur dia di sini."

Bu Ani yang melihat kerangka itu langsung pingsan. Pak Karim memapahnya ke bale-bale. Mama Ino menangis semakin keras sambil memeluk Ara.

Tiba-tiba, angin kencang datang dari arah laut. Kabut merah yang tadinya tipis, kembali menebal dengan sangat cepat. Pohon mangga kecil yang baru tumbuh itu bergoyang sangat keras, daunnya berguguran. Dari dalam lubang galian, keluar asap tipis berwarna putih yang membentuk seperti siluet orang.

Semua orang yang ada di sana terdiam dan menatap lubang itu dengan takut.

Asap putih itu perlahan membentuk wajah Revan. Wajahnya tidak lagi pucat seperti semalam. Wajahnya terlihat tenang dan tersenyum. Dia menatap Ara, lalu menatap Mama Ino, lalu menatap Pak RT dan warga lainnya.

"Terima kasih," suara Revan terdengar pelan, tapi jelas, terbawa angin. "Terima kasih sudah temukan aku."

Ara mengulurkan tangannya ingin menyentuh asap itu, tapi asap itu menghilang tertiup angin. Yang tersisa hanya bau harum bunga melati yang tiba-tiba muncul di tengah bau tanah anyir.

Pohon mangga kecil itu berhenti bergoyang. Dari batangnya, keluar getah bening yang menetes ke tanah galian. Getah itu jatuh tepat di atas kerangka Revan.

Pak RT Unus yang sudah hidup tujuh puluh tahun di Langgur, langsung mengerti apa yang terjadi. Dia berlutut dan mengambil tanah merah di sekitar galian.

"Ini tanah sengketa. Tanah ini dijaga arwah. Orang kota itu sudah langgar adat. Mereka harus bayar," kata Pak RT dengan suara bergetar tapi tegas.

Saat itu juga, dari arah penginapan baru di ujung desa, terdengar suara teriakan keras. Teriakan laki-laki gemuk berkacamata hitam yang tadi siang tertawa. Teriakannya terdengar panik dan ketakutan.

Semua warga di halaman belakang langsung berlari ke arah ujung desa untuk melihat apa yang terjadi. Ara ikut berlari, meski kakinya masih lemas.

Sesampainya di depan penginapan LANGUR PARADISE RESORT, mereka melihat pemandangan yang sangat aneh. Air mancur besar yang baru dibangun di depan penginapan, yang tadinya airnya jernih, sekarang menyemburkan air berwarna merah darah yang sangat kental. Air merah itu menyembur tinggi dan membasahi seluruh dinding putih penginapan, membuat bangunan megah itu terlihat seperti berlumuran darah.

Laki-laki gemuk pemilik penginapan itu berteriak-teriak menyuruh pekerjanya mematikan pompa air, tapi pompa itu tidak bisa dimatikan. Air merah terus menyembur keluar.

Di atas atap penginapan, berdiri siluet Revan dengan jaket hitamnya, menatap ke bawah dengan mata merah menyala. Di belakangnya, berdiri puluhan siluet lain, semua memakai pakaian adat Kei, semua menatap marah ke arah pemilik penginapan itu.

Mereka adalah penjaga tanah Langgur yang sudah lama mati, yang tanahnya diambil paksa untuk bangunan itu.

Ara tersenyum untuk pertama kalinya setelah lima tahun. Senyum yang lega.

Perang belum selesai, tapi malam ini, Langgur akhirnya melawan balik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!