Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Bertahan Selagi Dibutuhkan
Orang tua Mireya hanya tinggal selama dua malam di rumah keluarga Zarreti.
Sebenarnya Arven sudah menawarkan agar mereka tinggal lebih lama. Namun, keduanya menolak. Mereka masih memiliki kebun yang harus diurus.
Pada pagi ketiga, Mireya mengantar kedua orang tuanya sampai ke halaman.
Sebelum masuk ke mobil, ibunya menggenggam kedua tangan Mireya. “Kali ini, kamu harus lebih hati-hati dengan pernikahanmu.”
Raut wajah Mireya sedikit berubah. Tak tega rasanya ia mengakui bahwa pernikahan ini hanya untuk sah sebagai ibu bagi Elden, bukan sah sebagai istri Arven.
Ibunya menatapnya lekat-lekat. “Jangan sampai bercerai lagi.”
Mireya tersenyum kecil. Namun, ia tak boleh membuat orang tuanya semakin khawatir. “Aku tahu, Buk.”
“Kamu bahagia di sini?”
Pertanyaan itu membuat Mireya berpikir sesaat. Kemudian ia melirik ke arah rumah besar di belakangnya. Tidak jauh dari sana, Elden sedang bermain dengan boneka gajahnya.
Mireya tersenyum. “Ibu jangan khawatir. Aku baik-baik saja.”
Ibunya menghela napas lega. “Kalau begitu, jaga rumah tanggamu dengan baik.”
Mireya hanya mengangguk.
Lalu, ia memeluk sang ibu. 'Maafkan aku, Bu,' isaknya dalam hati.
Setelah mobil kedua orang tuanya menghilang di ujung jalan, Mireya berdiri beberapa saat.
Kemudian ia mengembuskan napas panjang. “Sebenarnya aku tak tahu bagaimana cara mempertahankan pernikahan yang sebenarnya tak ada ini. Namun, aku akan berusaha bertanan selama aku dibutuhkan oleh Elden.”
Ia menepuk kedua pipinya beberapa kali. Lalu mengembuskan napas berat. “Sekarang kembali bekerja.”
.
.
Sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat, Mireya tidak pernah mengusik urusan Arven.
Ia tidak pernah bertanya sama sekali tentang pekerjaan, bagaimana dia bekerja, bahkan ke mana pun pria itu pergi.
Tidak bertanya tentang siapa saja yang datang menemuinya di rumah itu. Dan semakin lama ia tinggal di sana, ia semakin sadar. Semua yang menghuni vila besar itu adalah pria.
Mulai dari tukang masak, tukang cuci pakaian, tukang membersihkan rumah, para supir, para pekerja kebun, semuanya berjenis kelamin laki-laki. Semua orang itu dikomandoi oleh Pak Can, sebagai kepala pengurus sekaligus asisten pribadi Arven.
Hanya dia lah perempuan di sana. Tak heran, Elden langsung dekat pada Mireya. Karena Mireya lah, satu-satunya yang memiliki naluri keibuan di rumah itu.
Tidak hanya menanyakan apa pun kegiatan pria berstatus suaminya, ketika Arven berada di rumah pun, Mireya tidak pernah dengan sengaja mencari keberadaannya.
Ia hanya sibuk dengan satu hal. Sebagai tugas utamanya menemani Elden. Dan melakukan hobi yang tak pernah lagi ia kerjakan semenjak tinggal di kota sebagai istri Syahzan, yakni berkebun.
Setiap pagi, setelah sarapan, Mireya akan mengajak Elden keluar.
Anak itu yang sebelumnya sangat sulit diajak meninggalkan rumah kini justru menjadi orang pertama yang berdiri di depan pintu.
“Ibu! Ayo kita ke kebun. Aku sudah tak sabar!”
“Iya, tunggu.”
“Hari ini sudah bisa ditanam, Bu?” tanya Elden dengan polos.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Tanahnya harus kita bersihkan dan olah dulu.”
Elden mengangguk dengan wajah serius. “Kalau begitu, Elden akan membantu Ibu.”
Mireya menatapnya. “Kamu membantu dengan cara apa?”
Elden berpikir sebentar. “Menemukan cacing.”
Mireya tertawa kecil. “Boleh, itu akan membuat kebun kita semakin subur.”
“Elden juga bisa menemukan batu.”
“Bagus, itu akan menjadi penyangga sayuran kita nanti.”
Elden semakin bersemangat. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah. “Kalau main menemukan Bona yang hilang?”
“Boleh ... Tapi Bona kan selalu ada di tanganmu.”
Elden menunduk. Boneka gajah kecil itu memang sedang ia peluk. “Oh, iya.”
Mireya akhirnya tertawa. Sejak hari itu, hampir setiap pagi mereka berada di lahan belakang perkebunan.
Mireya mulai membersihkan bagian-bagian yang selama ini terbengkalai. Tanaman liar tumbuh di mana-mana.
Sebagian menutupi permukaan tanah. Sebagian lainnya menjalar ke tanaman yang masih bisa diselamatkan.
Mireya tidak langsung meminta bantuan para pekerja. Ia ingin mengerjakan bagian itu sendiri. Bukan karena tidak percaya kepada mereka.
Namun karena ia ingin memahami kondisi tanah tersebut dari awal. Hari pertama wajar terasa begitu berat. Karena ia sudah bertahun lamanya tak melakukan ini semua.
Hari kedua masih cukup berat. Keringat mengucur hebat di setiap mili tubuhnya.
Hari ketiga, tubuhnya mulai terasa pegal bahkan sebelum pekerjaan selesai.
Namun Mireya tetap datang keesokan paginya.
Ia menggunakan alat yang tersedia, memotong tanaman liar yang mengganggu, mengumpulkannya, kemudian membawanya dengan gerobak ke tempat pembuangan.
Satu kali. Dua kali. Lima kali. Sepuluh kali. Bolak-balik. Awalnya, langkah Mireya masih terasa berat. Namun semakin hari dan hari-hari yang tak terhitung, semuanya menjadi sesuatu yang biasa.
Ia mulai tahu bagian mana yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Tanaman mana yang bisa dicabut. Tanaman mana yang sebaiknya dipotong agar tidak merusak bagian tanah di bawahnya.
Hitungan minggu berlalu hingga minggu-minggu yang tak lagi bisa ia sadari terus berganti.
Hari ini, Elden yang bermain tidak jauh darinya langsung berlari mendekat.
“Ibu!”
“Hm?”
“Lihat!”
Anak itu menunjukkan seekor ulat kecil di telapak tangannya.
Mireya langsung mundur. “Jangan dekat-dekat!”
Elden tertawa. “Ibu takut!”
“Bukan takut.” Mireya menunjuk ulat itu. “Ibu hanya menjaga jarak aman.”
Elden semakin tertawa.
Mireya menghela napas. “Sudah. Taruh lagi.”
Elden menurut. Kemudian ia kembali berlari. Mireya memperhatikannya sambil tersenyum.
Dulu, kata Pak Can, Elden bahkan sulit diajak keluar rumah.
Sekarang?
Anak itu bisa berlari ke sana kemari selama berjam-jam. Membawa pulang batu, daun, ranting, kadang-kadang serangga, dan hampir setiap lima menit ia akan berteriak,
“Ibu! Lihat!”
...........
Sembari menunggu update berikutnya, yuk mampir pada karya temen author. Menemani waktu luang kakak semua. 😇
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹