Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 kembalinya masalalu yang kelam
Pesawat yang membawa Lily akhirnya meninggalkan landasan. Dari balik jendela, gedung-gedung bandara perlahan mengecil, kemudian tertutup awan yang menyelimuti sebagian cakrawala.
Lily menyandarkan kepalanya pada kursi. Kedua tangannya menggenggam tas hitam yang berisi dokumen penting, tabungan, dan salinan berkas perceraian. Tidak banyak yang ia bawa dari kehidupan lamanya, tetapi semua yang diperlukan untuk memulai kembali telah berada dalam genggamannya.
Ia memejamkan mata, berusaha beristirahat setelah melalui pagi yang panjang.
Namun, pikirannya kembali tertuju pada rumah kecil di Jepang.
Ia telah membelinya secara diam-diam menggunakan uang hasil pekerjaannya sebagai penulis dan tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Rumah itu tidak besar, tetapi memiliki halaman kecil dan beberapa jendela yang menghadap ke jalan desa. Dalam foto yang pernah dilihatnya, tempat itu tampak sederhana dan jauh dari keramaian.
Lily membayangkan dirinya duduk di dekat jendela sambil menulis cerita, membuat sarapan sendiri, lalu berjalan ke pasar.
Ia ingin kehidupan yang tenang.
Kehidupan yang tidak membuatnya waspada setiap kali mendengar langkah kaki seseorang.
Akan tetapi, ada satu persoalan yang belum selesai.
Perceraiannya dengan Satoshi Katagiri belum diputuskan secara resmi.
Lily mengetahui bahwa proses tersebut dapat memakan waktu. Ia mungkin harus menghadapi pertanyaan, pemeriksaan dokumen, atau bahkan tuntutan agar kembali untuk menyelesaikan urusan hukum. Ia telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu, meskipun belum mengetahui bagaimana Satoshi akan menanggapi kepergiannya.
Pria itu mungkin akan marah.
Mungkin juga akan menganggap kepergiannya sebagai penghinaan.
Namun, Lily tidak lagi ingin menyusun hidupnya berdasarkan dugaan tentang reaksi Satoshi.
Ia membuka mata dan menatap awan di luar jendela.
“Aku hanya ingin semuanya berakhir dengan benar,” bisiknya.
Pesawat terus melaju menembus langit.
Lily tidak menyadari bahwa di belahan dunia lain, seseorang sedang berusaha mencari tahu ke mana ia pergi.
---
Satoshi sudah berada dikantor miliknya, dan baru saja menerima telepon dari stafnya.
“Pesawat yang ditumpangi Nyonya Lily telah lepas landas, Tuan,” lapor pria itu. “Berdasarkan informasi penerbangan yang kami peroleh, tujuan akhirnya adalah Jepang.”
Satoshi berdiri di dekat jendela ruang kerjanya.
“Jepang?” ulangnya.
“Benar, Tuan.”
Ia terdiam beberapa saat sebelum bertanya, “Apakah ada informasi mengenai alamat tempat tinggalnya di sana?”
“Kami masih memeriksanya.”
“Cari sampai ketemu.”
Satoshi memutuskan sambungan telepon, kemudian meletakkan perangkat itu di atas meja. Tatapannya jatuh pada kursi di seberang meja kerja, tempat Lily dahulu sering duduk ketika mengantarkan makanan untuknya.
Ia teringat bagaimana perempuan itu selalu menyiapkan bekal, bahkan ketika dirinya tidak pernah menghargai usaha tersebut. Ia juga mengingat wajah Lily ketika mereka bertengkar, caranya menunduk saat ketakutan, dan bagaimana ia memilih diam setelah menerima perlakuan buruk darinya.
Selama ini, Satoshi menganggap semua itu sebagai bukti bahwa Lily tidak akan pernah meninggalkannya.
Ternyata ia salah.
Lily telah mengumpulkan keberanian untuk pergi, bahkan tanpa membawa barang-barang mahal yang selama ini tersedia di rumah mereka.
Satoshi berjalan menuju meja, membuka laci, lalu mengeluarkan salinan dokumen pernikahan mereka yang tersimpan di sana. Nama mereka tercetak berdampingan pada selembar kertas.
Ia memandangnya cukup lama.
“Apakah kau benar-benar tidak ingin memberiku kesempatan lagi, Lily?”
Tidak ada jawaban.
Ia tahu pertanyaan itu tidak adil. Selama tiga tahun, dirinya sendiri yang menutup setiap kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Ia tidak pernah berusaha memahami Lily, apalagi memberinya alasan untuk merasa aman.
Kini, ia menginginkan kesempatan yang tidak pernah diberikannya kepada perempuan itu.
Satoshi meremas tepi dokumen, kemudian meletakkannya kembali.
Telepon genggamnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari bagian administrasi perusahaan. Pesan itu memberitahukan bahwa ada dokumen dari pengadilan yang perlu diperiksa dan ditindaklanjuti.
Satoshi membukanya tanpa banyak perhatian.
Namun, ketika melihat nama Lily pada bagian pengirim dan keterangan mengenai pengajuan perceraian, wajahnya berubah.
Lily benar-benar telah memulai proses tersebut.
Ia tidak sekadar mengancam untuk pergi.
Ia telah mengambil langkah nyata untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Satoshi menatap layar cukup lama sebelum akhirnya duduk. Untuk pertama kalinya, ancaman kehilangan Lily tidak lagi terasa seperti sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dengan memerintah atau mengeluarkan uang.
Ia harus menghadapi akibat dari tindakannya sendiri.
Dan mungkin, ketika ia akhirnya memahami apa yang telah hilang, semuanya sudah terlambat.
---
Sementara itu, di lokasi konstruksi, Tyson sedang menyelesaikan pekerjaannya ketika telepon genggamnya kembali bergetar.
Ia segera mengambilnya, berharap ada balasan dari Lily.
Namun, pesan yang muncul bukan berasal dari perempuan itu.
Sebuah nomor asing mengirimkan pesan singkat.
Apakah Anda mengenal Lily Valley?
Tyson mengerutkan kening. Ia tidak mengenali nomor tersebut. Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian mengetik jawaban singkat.
Ya. Siapa ini?
Beberapa detik berlalu.
Balasan datang.
Jangan menghubunginya lagi jika tidak ingin terseret masalah, sayangilah adikmu yang cacat itu.
Tyson berdiri tegak. Wajahnya berubah serius.
Ia mengetik bagaimana yang mengiriminya pesan tau tentang kondisi adiknya, tetapi nomor tersebut tidak lagi membalas. Ketika mencoba meneleponnya, panggilan tidak tersambung.
Tyson menatap layar dengan kebingungan.
Siapa yang mengetahui kedekatannya dengan Lily?
Siapa yang tau tentang adiknya?
Bagaimana orang itu mendapatkan nomornya?
Dan mengapa seseorang merasa berhak melarangnya menghubungi perempuan tersebut?
Ia teringat Satoshi Katagiri, pria yang pernah muncul di hadapan mereka dengan sikap penuh kuasa. Saat itu, Tyson baru mengetahui bahwa Lily adalah istri seorang pengusaha kaya. Ia juga masih mengingat cara Satoshi menarik Lily pergi tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa pun.
Tyson mengepalkan tangan.
Ia tidak tahu apakah pesan tersebut berasal dari Satoshi atau orang lain. Ia juga tidak ingin membuat kesimpulan tanpa bukti.
Namun, satu hal menjadi jelas baginya: kepergian Lily mungkin tidak akan sesederhana yang diharapkannya.
Ia menyimpan tangkapan layar pesan tersebut dan mencatat nomor pengirimnya. Setelah itu, ia kembali bekerja, meskipun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di lokasi konstruksi.
Tekadnya untuk mengubah hidup semakin kuat.
Bukan untuk mengejar Lily dengan memaksanya menerima perasaannya, melainkan agar suatu hari ia memiliki kemampuan untuk membantu tanpa harus merasa tidak berdaya, melindungi orang-orang yang dia sayang.
Jika ada seseorang yang mencoba mengendalikan kehidupan Lily, Tyson ingin menjadi cukup kuat untuk berdiri di pihaknya.
Tetapi ia harus berhati-hati.
Ia belum mengetahui seberapa besar kekuasaan yang dimiliki keluarga Katagiri, apalagi sampai sejauh mana Satoshi akan bertindak ketika menyadari bahwa istrinya tidak akan kembali.
---
Beberapa jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Lily mulai menurunkan ketinggiannya.
Pengumuman dari awak kabin terdengar, memberi tahu para penumpang bahwa mereka akan segera mendarat di Jepang.
Lily membuka mata. Ia merapikan rambutnya, memastikan tas hitamnya masih berada di pangkuan, lalu memandang ke luar jendela.
Di bawah sana, hamparan kota mulai terlihat.
Ia telah sampai di negara tempat dirinya berharap dapat membangun kehidupan baru.
Setelah pesawat mendarat dan penumpang diperbolehkan turun, Lily berjalan menuju area kedatangan. Ia mengikuti petunjuk di bandara, menyelesaikan pemeriksaan yang diperlukan, lalu mengambil telepon genggamnya.
Ada beberapa pesan masuk.
Sebagian besar merupakan pemberitahuan biasa. Namun, satu pesan dari nomor yang tidak dikenalnya membuat langkah Lily terhenti.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
Selamat datang kembali di Jepang, Nona Lily Valley.
Lily menatap layar.
Ia tidak pernah memberikan nomor teleponnya kepada orang asing di Jepang. Selain itu, ia sudah lama tidak tinggal di negara tersebut dan tidak banyak orang yang mengetahui rencananya untuk kembali.
Jari-jarinya bergerak, hendak membalas pesan itu.
Namun, sebelum ia sempat mengetik, sebuah pesan kedua masuk.
Rumah yang Anda beli di desa itu sudah tidak kosong.
Wajah Lily seketika kehilangan warna.
Ia membaca kalimat tersebut berulang kali, berharap telah salah memahami maksudnya.
Rumah itu dibelinya melalui proses yang panjang. Ia telah memeriksa dokumen kepemilikan dan memastikan pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan. Tidak seorang pun seharusnya dapat tinggal di sana tanpa sepengetahuannya.
Dengan tangan yang mulai dingin, Lily membuka daftar kontak dan mencari nomor pihak yang mengurus pembelian rumah tersebut.
Sebelum ia sempat menekan tombol panggil, teleponnya kembali bergetar.
Pesan ketiga muncul.
Jika ingin mengetahui siapa yang menunggu Anda di sana, datanglah sendirian.
Lily terdiam di tengah keramaian bandara.
Ia tidak tahu siapa pengirim pesan itu. Ia juga tidak mengetahui apakah pesan tersebut merupakan ancaman atau peringatan.
Namun, satu hal pasti: seseorang telah mengetahui kedatangannya bahkan sebelum ia sempat mencapai rumah barunya.
Lily mengangkat kepala dan memandang orang-orang yang berlalu-lalang di sekelilingnya. Setiap wajah tampak asing. Tidak ada seorang pun yang terlihat sedang memperhatikannya secara terang-terangan.
Ia kembali menatap layar telepon.
Kemudian, sebuah foto masuk.
Foto itu memperlihatkan rumah kecil yang dibelinya di desa terpencil Jepang.
Pintu depannya terbuka.
Di ambang pintu berdiri seorang pria yang wajahnya tidak terlihat jelas karena membelakangi kamera.
Namun, Lily mengenali pakaian yang dikenakan pria itu.
Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika ia memperbesar foto tersebut.
Sebab, pakaian itu adalah pakaian yang pernah ia lihat dahulu saat dia masih kecil.
Dan tepat di bawah foto itu, muncul satu kalimat tersebut.
Dia sudah mengetahui tempat persembunyianmu.
Lily menggenggam teleponnya erat-erat.
Ia telah meninggalkan rumah Katagiri, mengajukan perceraian, dan terbang ke negara yang dipilihnya sebagai tempat memulai kehidupan baru.
Namun, ketika akhirnya tiba, ia justru menemukan bahwa masa lalunya kembali menerornya.
Siapa yang menunggunya di rumah itu—dan apakah Satoshi benar-benar telah menemukannya, atau ada seseorang yang jauh lebih berbahaya sedang menantinya?
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁