NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Baru

Menjelang sore, beberapa barang milik Alya akhirnya selesai dipindahkan ke kamar utama. Ia merapikan pakaian ke dalam lemari, menata perlengkapan ibadah di salah satu sudut kamar, lalu meletakkan beberapa buku di atas meja kecil dekat jendela.

Kamarnya sangat luas dan terasa nyaman. Dari balkon, ia bisa melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan Jakarta yang mulai ramai menjelang jam pulang kerja.

Alya berdiri sebentar di sana, menikmati udara sore sebelum kembali masuk. Ia belum sepenuhnya terbiasa tinggal jauh dari orang tuanya, tetapi ia tahu kehidupan barunya harus dimulai dari sekarang.

Sementara itu, Arga juga sedang berada di kamar kedua. Ia baru saja selesai memindahkan beberapa pakaian dan perlengkapan pribadinya ke lemari. Kamar itu memang lebih kecil dari pada kamar utama, tetapi fasilitasnya cukup lengkap. Ia tidak keberatan menempatinya. Justru setelah kejadian malam pertama mereka, Arga merasa keputusan itu adalah hal yang paling masuk akal. Setidaknya, Alya tidak perlu merasa terpaksa berbagi kamar dengannya.

Ketika Arga keluar, ia mendapati Alya sedang memeriksa catatan belanja di ruang makan. “Sudah selesai merapikan barang-barangmu?” tanyanya.

Alya mengangkat wajah. “Sudah. Mas juga?”

“Lumayan. Masih ada barang yang akan dikirim dari rumahku besok.”

Alya mengangguk, lalu menunjukkan catatan di tangannya. “Aku membuat daftar kebutuhan yang belum ada. Kita perlu beras, telur, minyak goreng, beberapa bumbu dapur, dan perlengkapan kebersihan.”

Arga melirik daftar itu. “Banyak juga.”

“Tidak semuanya harus dibeli hari ini. Aku hanya mencatat supaya kita tidak lupa.”

“Kita bisa pergi ke supermarket sekarang. Sekalian membeli makan malam.”

Alya melihat jam di dinding. Hari sudah menjelang petang, sebentar lagi waktu magrib dan ia memang belum memikirkan menu makan malam.

“Boleh. Tapi kita beli secukupnya saja dulu. Nanti kita keburu magrib.”

Arga mengangguk setuju.

Mereka bersiap sebentar sebelum turun ke area parkir. Di perjalanan menuju supermarket, Arga beberapa kali bertanya tentang barang yang ingin dibeli Alya. Perempuan itu menjelaskan dengan sabar, tanpa membuat urusan sederhana menjadi rumit.

Sesampainya di supermarket, Alya mengambil keranjang belanja, sedangkan Arga mendorong troli kecil.

Mereka mulai dari bagian kebutuhan pokok. Alya memilih beras, minyak goreng, telur, dan beberapa bahan makanan yang bisa disimpan selama beberapa hari. Setelah itu, mereka membeli sabun pencuci piring, spons, tisu, dan perlengkapan kebersihan lainnya.

Ketika melewati rak makanan ringan, Arga berhenti. “Kamu suka biskuit?” tanyanya.

Alya menoleh. “Suka. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Barangkali kamu ingin membeli sesuatu untuk camilan.”

Alya memperhatikan rak tersebut sebelum mengambil satu bungkus biskuit cokelat. “Kalau begitu, ini saja.”

Arga mengangguk, lalu memasukkan satu bungkus lagi ke troli.

Alya menatapnya heran. “Kenapa dua?”

“Siapa tahu kamu ingin menyimpannya di kamar.”

“Mas, aku tidak perlu menyimpan makanan di kamar.”

Arga tertawa kecil. “Baiklah. Satu saja.” Ia mengembalikan bungkus kedua ke rak. Entah mengapa, percakapan kecil itu terasa cukup menyenangkan baginya.

Setelah membayar belanjaan, mereka kembali ke apartemen. Alya langsung membawa bahan makanan ke dapur dan mulai menyimpannya di tempat yang sesuai. Arga membantu mengangkat kantong belanjaan tanpa diminta.

“Aku bisa mengerjakannya sendiri, Mas,” kata Alya ketika melihat suaminya hendak membuka lemari dapur.

“Aku tahu. Tapi barang-barangnya cukup banyak. Tidak ada salahnya aku membantu. Lagi pula biar cepat selesai nanti keburu magrib.”

Alya tersenyum tipis. “Terima kasih.”

***

Usai melaksanakan shalat magrib, Alya kembali melangkah menuju dapur. Ia memasak makan malam sederhana berupa nasi, telur dadar, dan tumis sayuran. Ia sebenarnya bisa saja memesan makanan, tetapi setelah seharian berpindah tempat, ia merasa lebih nyaman menyantap masakan sendiri.

Arga duduk di meja makan ketika Alya selesai menyiapkan hidangan. “Masak sendiri?” tanyanya.

“Tentu saja. Memangnya di sini ada orang lain selain aku? Cobain, pasti Mas suka.”

Arga tersenyum, lalu mencicipi tumis sayuran yang disajikan Alya. Rasanya sederhana, tetapi enak. “Masakannya enak,” komentarnya.

Alya yang sedang mengambil air minum menoleh. “Benarkah?”

“Memangnya aku harus berbohong?”

“Bukan begitu. Aku hanya memastikan Mas tidak sedang memujiku karena merasa tidak enak.”

Arga tertawa. “Kalau tidak enak, aku pasti bilang kurang garam.”

Alya ikut tersenyum kecil. Untuk beberapa saat, suasana makan malam mereka terasa lebih santai daripada sebelumnya.

Mereka membicarakan hal-hal ringan, mulai dari barang yang belum datang hingga rencana menata ruang tamu. Tidak ada pembicaraan tentang malam pertama mereka, apalagi tentang Nadira. Mereka bercerita layaknya teman yang tinggal seatap.

Selesai makan, Alya hendak membawa piring ke dapur, tetapi Arga lebih dahulu berdiri dan mengumpulkan peralatan makan.

“Tadi kamu sudah masak, biar aku yang mencuci,” katanya.

Alya sempat terdiam. “Tidak perlu, Mas. Aku yang memasak.”

“Lalu kenapa? Kita sama-sama makan.” Tanpa menunggu jawaban, Arga membawa piring ke dapur. Alya akhirnya membiarkannya, lalu membantu menyimpan sisa makanan ke dalam wadah.

Malam semakin larut setelah mereka menyelesaikan pekerjaan kecil di dapur. Alya memeriksa pintu dan jendela sebelum kembali ke kamar. Sementara itu, Arga menyiapkan beberapa dokumen yang harus dibawanya ke kantor esok hari. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, mereka berpapasan di lorong.

“Aku tidur dulu, Mas,” kata Alya.

“Iya. Selamat tidur.”

Alya mengangguk singkat, laku masuk ke kamar utama dan menutup pintunya. Arga masih berdiri sebentar menatap pintu kamar yang baru saja tertutup rapat sebelum kemudian berjalan menuju kamar tamu.

Hari itu tidak terjadi sesuatu yang istimewa. Mereka hanya berbelanja, memasak, makan malam, dan membereskan rumah bersama. Namun, ketika berbaring di tempat tidur, Arga justru teringat pada percakapan-percakapan kecil sepanjang hari. Ia tidak menyangka bahwa melakukan kegiatan sederhana bersama Alya bisa terasa senyaman itu.

Ia tahu mereka masih jauh dari hubungan suami istri yang sebenarnya. Kepercayaan Alya kepadanya belum pulih, dan ia sendiri masih terikat pada kehidupan yang telah dibangunnya bersama Nadira. Arga tidak bisa mengubah semua itu hanya dengan satu hari yang berjalan baik. Untuk saat ini, ia hanya ingin melewati hari berikutnya tanpa membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Sementara di kamar utama, Alya telah selesai membaca beberapa halaman buku sebelum mematikan lampu. Ia tidak mengharapkan perubahan besar dari Arga. Baginya, selama mereka bisa saling menghormati dan menjalani kehidupan dengan tenang, ia akan berusaha melakukan bagiannya.

Mereka tidur di bawah atap yang sama, tetapi masih berada di dua kamar berbeda. Dan untuk sementara, itulah batas yang perlu mereka jaga.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!