Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Mencari Tempat Aman
Di sudut kota gedung putih yaitu rumah sakit, yg sangat mencekam dan masih banyak dari mereka untuk mencari tempat aman, Langkah demi langkah dari para warga untuk keluar dari rumah sakit pusat kota itu, Dulu, tempat itu adalah harapan bagi setiap orang yang sakit, tempat di mana nyawa diselamatkan. Namun hari ini, rumah sakit itu berubah menjadi neraka yang paling mengerikan. Pintu kaca yang pecah berantakan, koridor yang penuh jejak darah, dan sunyi yang mencekam sesekali dipecahkan oleh geraman rendah dari balik ruangan yang tertutup.
remaja dan para orang dewasa berharap ada yg menyelamatkan mereka dan membawa air minum, atau makanan. Para Pasien, perawat, hingga dokter yang dulu menyelamatkan nyawa kini berjalan tak tentu arah, menatap kosong, dan siap menerkam siapa pun yang bernapas.
"sampai kapan kita harus berdiam diri di sini.." kesal seorang pria dengan tubuh yg gempal.
"aku tidak tau, tapi kita harus bersabar.." timpal nya.
"ya tapi sampai kapan.." balas nya.
"Diam lah... Jangan berdebat.." sahut yg lain melerai.
Saat ia hendak bersuara, terdengar suara tembakan di luar. keempat orang itu lalu saling pandang, dan mendekati celah ventilasi untuk mengintip siapa yg datang
"hei lihat, ada orang yg berseragam tentara dan polisi datang untuk kita!" seru pemuda itu, dengan wajah yg berbinar namun tetap memiliki ketakutan.
"hei... Kami di sini,tolong kami..." teriak si pria dengan tubuh gempal, ia memanggil beberapa orang-orang yg ada di sana.
"aku rasa mereka mendengar kita..."
"ya aku rasa begitu.
di sisi lain, mereka yg datang membawa perlengkapan senjata mencari beberapa korban yg akan di selamatkan. Di antara nya ada polisi dan tentara, lalu dokter dan 3 warga sipil yg juga memegangi senjata masing-masing.
Polisi dan tentara itu tidak bertugas di bawa kepimpinan atau perintah dari atasan, kenapa... karena kedua orang beda profesi itu sudah sangat kecewa dengan pemerintah yg memilih menyelamatkan diri ketimbang para warga di kota ini.
Keenam orang itu lalu masuk ke dalam dan mencari ruangan yg berisi obat-obatan.
"kita berpencar, kalian bertiga selamatkan mereka yg tak terinfeksi, aku, Danu, dan dokter Rizal akan mencari obat-obatan." perintah nya.
"oke .. Tapi tadi aku mendengar suara orang yg memanggil.." ucap nya.
"iya aku juga sama, mungkin itu mereka.. Kalian cari ke lorong itu , siapa tau mereka ada di sana."
Tanpa banyak bicara, mereka bertiga melangkah menuju ke lorong yg kiri, sedangkan dokter Rizal dan tentara itu ke lorong Kanan untuk mencari perlengkapan obat-obatan.
"aku tidak mengira akan menjadi seorang Rambo.." seru nya.
"ya ya... Rambo berperang di kiamat zombie.." Dokter Rizal tertawa pelan.
"shhh... Diam, aku mendengar sesuatu.." sahut tentara itu yg bernama Aldo, Danu dan Dokter Rizal saling pandang, dan mengikuti langkah rekan nya menuju ke pintu yg bertuliskan 'jangan di buka'.
"hei Aldo,, aku rasa jangan melanggar perintah, lihat ada tulisan untuk jangan buka." cegah Danu, ia merasa jika larangan adalah sebuah perintah.
"tapi.. Aku mendengar sesuatu di sana.." yakin nya.
"jangan Aldo.. Lebih baik jangan.." namun larangan itu tetap tak ia hiraukan.
Aldo lalu membuka Pintu ruangan itu terbuka sedikit, menampakkan kegelapan pekat yang menyembunyikan apa saja di dalamnya. Napas mereka tertahan sejenak, jari-jemari mencengkeram senjata yang terasa berat di tangan. Polisi itu mengisyaratkan diam, lalu perlahan mendorong pintu itu terbuka lebar.
Hanya kesunyian yang menyambut—sebentar.
Tiba-tiba, geraman rendah meledak dari segala arah. Belasan sosok yang dulunya manusia merayap dan berjalan terhuyung dari balik lemari obat, di bawah tempat tidur, hingga dari balik tirai yang compang-camping. Mata mereka kosong merahnya, darah mengering di pakaian seragam medis yang tak lagi rapi.
"Mundur! Jangan biarkan mereka mendekat!" bentak Danu.
Tembakan meledak memecah keheningan. Satu, dua, tiga sasaran tumbang, namun yang lain tak berhenti melangkah. Mereka tak merasa sakit, tak takut mati, hanya dipandu oleh satu naluri: melahap. Peluru terbukti tak cukup menghentikan semuanya, hanya menunda sejenak.
Di lorong sebelah, tiga orang yang dikirim menyelamatkan warga segera berhadapan dengan pemandangan yang sama. Pria gempal yang tadi berteriak meminta tolong kini terbelalak ngeri saat sosok yang dulu adalah perawat berjalan mendekat dengan tangan terjulur.
"Jangan bergerak! Tetap di belakangku!" perintah salah satu penyelamat, mengarahkan senjata dengan tangan gemetar namun mantap.
Di tengah kekacauan itu, dokter Rizal berteriak dari kejauhan, "Jangan habiskan peluru untuk yang masih jauh! Tembak tepat di kepala! Hanya itu yang menghentikan mereka!"
Kata-kata itu menjadi penuntun. Perlahan namun pasti, mereka mulai mengatur langkah, mundur selangkah demi selangkah sambil melindungi satu sama lain. Tidak ada lagi perdebatan, tidak ada lagi keluhan. Hanya kesadaran bahwa nyawa mereka kini bergantung pada kesigapan rekan di sebelahnya.
Danu menendang satu sosok yang hampir merobek lengan pria gempal itu, sementara polisi di sampingnya melepaskan satu tembakan tepat di kening makhluk itu.
"Kita harus keluar sekarang! Dinding belakang gudang obat lebih lemah, kita jebol dari sana!" seru dokter Rizal sambil meraih kotak obat yang tersisa.
Mereka berlari menerobos lorong yang kini mulai dipenuhi makhluk-makhluk itu, suara geraman dan langkah berat mengejar di belakang. Di luar sana, dunia mungkin sudah hancur, namun di antara mereka yang tersisa, satu hal baru saja terbentuk: ikatan yang tak terduga, dan tekad untuk bertahan hidup bersama, walau maut mengintai di setiap sudut.
Namun mereka sudah sangat terdesak peluru dari setiap pistol masing-masing sudah menipis.. Keenam orang itu ditambah 4 orang yg di selamatkan hanya bisa pasrah, namun tidak dengan Danu dan juga imron seorang anggota polisi, berusaha mendobrak paksa pintu keluar agar mereka bisa menyelamatkan diri dari bahaya yg mencekam.
Bersambung