Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 — Perubahan Angin
Kemenangan Kael atas Reyes mengubah dinamika di Heavenly Sword Sect lebih cepat daripada yang dia perkirakan.
Dalam beberapa hari setelah duel itu, sikap sebagian besar murid sekte berubah drastis. Mereka yang sebelumnya ragu atau curiga kini mulai mendekatinya dengan rasa hormat yang tulus, ingin belajar dari teknik adaptasinya yang legendaris, atau sekadar berteman dengan Holy Son yang ternyata sekuat rumor yang beredar.
Namun tidak semua perubahan itu positif.
"Kau harus lebih berhati-hati sekarang," Aria memperingatkannya suatu sore, ketika mereka duduk bersama di taman sekte setelah sesi latihan bersama.
"Kemenangan seperti itu membuatmu semakin menonjol, dan itu berarti semakin banyak mata yang mengawasimu—tidak semuanya dengan niat baik."
"Kau bicara seperti Seraphina," Kael berkata sambil tersenyum, meski dia mengakui kebenaran di balik peringatan itu.
"Siapa itu Seraphina?" Aria bertanya dengan nada penasaran yang tidak sepenuhnya tersembunyi.
Kael terdiam sejenak, menyadari dia belum pernah secara resmi memperkenalkan Seraphina kepada siapa pun di sekte. "Temanku. Dia menemaniku sejak Death Forest."
"Teman yang seperti apa?" Aria bertanya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih menyelidik.
"Teman yang sangat berharga," Kael menjawab dengan hati-hati, memilih untuk tidak mengungkapkan lebih banyak detail.
"Dia membantuku memahami dunia ini ketika aku baru tiba."
Aria menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik jawaban yang diplomatis itu, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. "Baiklah. Aku harap suatu hari aku bisa bertemu dengannya."
"Mungkin bisa diatur," Kael berkata, meski dalam hati dia tidak sepenuhnya yakin bagaimana Seraphina akan bereaksi terhadap ide bertemu dengan putri kerajaan.
Sementara itu, di sisi lain sekte, Tetua Godric mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa tetua lain yang berbagi kekhawatiran serupa tentang kenaikan pesat Kael.
"Kemenangannya atas Reyes tidak bisa disangkal," Tetua Godric berkata kepada rekan-rekannya di ruangan tertutup itu, "tetapi itu justru membuatku semakin khawatir. Tidak ada murid normal yang bisa beradaptasi secepat itu terhadap Seribu Bayangan Pedang, sebuah teknik yang bahkan Reyes sendiri baru menguasainya setelah bertahun-tahun."
"Apa yang Anda sarankan, Tetua Godric?" salah satu tetua lain bertanya.
"Aku sarankan kita mengumpulkan lebih banyak informasi tentang asal-usulnya yang sebenarnya," Godric menjawab tegas.
"Sect Master mungkin terpesona oleh potensinya, tetapi kita punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa kekuatan seperti itu tidak akan membahayakan sekte di masa depan."
"Anda pikir dia berbahaya?"
"Aku pikir kita tidak tahu cukup tentang dia untuk memastikan dia tidak berbahaya," Godric mengoreksi dengan hati-hati.
"Dan dalam pengalamanku selama tiga abad memimpin urusan keamanan sekte ini, ketidaktahuan semacam itu selalu berujung pada masalah cepat atau lambat."
Diam-diam, Tetua Godric mulai mengirim beberapa muridnya yang paling dipercaya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang Kael—menyelidiki setiap sudut Eldermere yang pernah dia kunjungi, mencoba melacak jejak apa pun yang bisa mengungkap kebenaran di balik asal-usulnya yang misterius.
Kael sendiri tidak menyadari penyelidikan diam-diam ini, terlalu sibuk dengan persiapan menuju Kingdom Tournament yang semakin dekat. Setiap hari, dia menghabiskan waktu berlatih dengan intensitas yang semakin meningkat, menyerap setiap sumber daya yang tersedia baginya sebagai Holy Son.
[Qi Gathering 3★ — Progres: 55%.]
Perkembangannya terus melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk para tetua yang mulai mengawasi latihannya dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan yang semakin sulit disembunyikan.
Suatu malam, ketika Kael kembali ke pavilionnya setelah sesi latihan yang panjang, dia menemukan Seraphina duduk menunggu dengan ekspresi serius yang jarang dia tunjukkan belakangan ini.
"Ada yang mengikutiku hari ini," katanya tanpa basa-basi. "Bukan Ren, bukan pula sosok berjubah gelap seperti yang pernah kita lihat sebelumnya. Ini terasa berbeda—lebih halus, lebih berhati-hati."
"Kau pikir dari sekte?" Kael bertanya, teringat percakapan singkatnya dengan Aria sore itu.
"Mungkin," Seraphina menjawab, meski nada suaranya menunjukkan ketidakpastian. "Tapi aku juga merasakan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sensasi yang mengikutiku ... rasanya familiar, seperti sesuatu yang pernah kurasakan seribu tahun lalu."
"Dravos?" Kael bertanya pelan, mengingat nama yang sudah menjadi momok tersembunyi dalam pikiran mereka berdua sejak percakapan mereka tentang masa lalu Seraphina.
"Aku tidak bisa memastikan," Seraphina menjawab, wajahnya menegang dengan kekhawatiran yang tulus. "Tapi jika benar dia atau pengikutnya sudah mulai mengawasi kita secara langsung, itu berarti mereka sudah cukup dekat untuk bertindak kapan saja mereka mau."
Kael terdiam, mempertimbangkan implikasi dari informasi itu. "Kalau begitu, kita harus semakin waspada. Terutama menjelang turnamen, ketika kita berdua akan lebih terekspos di depan umum."
"Aku setuju," Seraphina mengangguk. "Tapi ada hal lain yang perlu kau pertimbangkan, Kael. Jika Dravos benar-benar sudah dekat, mungkin ini saatnya kita mulai memikirkan strategi bukan hanya untuk turnamen, tetapi juga untuk konfrontasi yang mungkin datang lebih cepat dari yang kita harapkan."
Kael menatap keluar jendela pavilionnya, ke arah bulan yang bersinar terang di langit Grandis, merasakan berat dari tanggung jawab yang perlahan mulai terbentuk di pundaknya—bukan hanya untuk membuktikan dirinya di turnamen, tetapi untuk melindungi seseorang yang telah menjadi sangat berharga baginya dari bayangan masa lalu yang mengancam untuk kembali menghantuinya.
"Kita akan hadapi apa pun yang datang," katanya akhirnya, suaranya penuh keyakinan yang menenangkan. "Bersama, seperti yang sudah kita janjikan."
Seraphina menatapnya, dan meski kekhawatiran masih membayangi matanya, ada kehangatan yang tulus di sana—kepercayaan yang telah tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di dungeon yang gelap, kini menjadi fondasi yang kokoh untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Peringatan Seraphina terbukti benar lebih cepat dari yang mereka duga.
Tiga malam setelah percakapan mereka tentang sosok yang mengikuti, Kael terbangun di tengah malam karena sesuatu yang tidak biasa—bukan suara, tetapi perubahan tekanan udara di sekitar pavilionnya, seolah ada yang menyusup dengan sangat hati-hati untuk menghindari terdeteksi.
Dia tetap berbaring diam, mengatur napasnya agar terdengar seperti masih tidur, sementara indranya yang sudah jauh lebih tajam sejak menembus Qi Gathering mulai memetakan pergerakan di sekitarnya.
Satu sosok. Bergerak sangat pelan, hampir tanpa suara, mendekati jendela kamarnya dari arah taman belakang.
[Peringatan: Entitas asing terdeteksi. Level kekuatan: Qi Gathering tingkat tinggi hingga Spirit Core Realm.]
Kael menunggu, mengukur waktu dengan sabar seperti yang telah dia pelajari dari pertarungan melawan Blood Bear bertahun—yang terasa seperti bertahun meski baru beberapa bulan—lalu.
Ketika sosok itu akhirnya membuka jendela dengan gerakan halus, Kael melesat dari posisi berbaringnya, pedang yang sudah dia siapkan di bawah bantal langsung teracung ke arah leher penyusup itu.
"Berhenti," katanya tegas, "atau aku tidak akan segan."
Sosok itu membeku, dan dalam cahaya bulan yang menyusup lewat jendela terbuka, Kael bisa melihat sosok itu mengenakan pakaian serba hitam ketat, wajahnya tertutup masker kain, hanya matanya yang terlihat—mata yang familiar.
"Ren?" Kael bertanya, terkejut mengenali sosok dari Shadow Sect yang pernah dia temui di Eldermere.
Sosok itu mengangkat kedua tangannya perlahan, tanda menyerah, lalu menurunkan maskernya dengan gerakan lambat untuk menunjukkan identitasnya.
"Kau punya insting yang tajam," Ren berkata, suaranya tetap tenang meski pedang masih menempel di lehernya.
"Aku terkejut kau bisa mendeteksiku secepat ini."
"Kenapa kau menyusup ke pavilionku tengah malam?" Kael bertanya, tidak menurunkan pedangnya sedikit pun.
"Untuk memberimu peringatan langsung," Ren menjawab, "yang tidak bisa kusampaikan lewat cara normal tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan."
"Peringatan apa?"
"Dravos sudah bergerak," Ren berkata, kata-katanya membuat Kael menegang lebih jauh.
"Shadow Sect memiliki jaringan informasi yang luas, dan kami baru-baru ini menemukan bukti bahwa dia telah menempatkan beberapa mata-mata di dalam sekte-sekte besar Valtherion, termasuk mungkin di sini, di Heavenly Sword Sect."
Kael akhirnya menurunkan pedangnya, meski tetap waspada. "Kenapa Shadow Sect peduli dengan informasi ini? Kenapa kau memberitahuku secara langsung, dengan risiko seperti ini?"
Ren terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan seberapa jauh dia bisa mengungkapkan kebenaran.
"Shadow Sect punya sejarah panjang dengan klan vampir kuno, termasuk klan Seraphina. Beberapa dekade lalu, kami membantu memburu pengikut Dravos yang mencoba mengambil alih beberapa wilayah kekuasaan di bawah bayang-bayang. Kami tahu bahaya yang dia bawa jika berhasil mendapatkan apa yang dia cari."
"Dan yang dia cari adalah aku."
"Darahmu, tepatnya," Ren mengoreksi. "Kami tidak sepenuhnya memahami mengapa darahmu begitu penting baginya, tapi informasi yang kami kumpulkan menunjukkan dia percaya darahmu bisa membangunkan sesuatu yang disebutnya 'Kekuatan Sejati'—entah apa maksudnya."
Kael mengingat kembali momen ketika Crimson Moon Chalice bereaksi terhadap darahnya, kata-kata *Blood of the Primordial* yang muncul di permukaannya. Apa pun itu, jelas ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kekuatan biasa yang tersembunyi dalam dirinya.
"Apa yang kau sarankan aku lakukan?" Kael bertanya.
"Untuk sekarang, terus perkuat dirimu, dan berhati-hatilah dengan siapa yang kau percaya," Ren menjawab.
"Kingdom Tournament akan menjadi titik kritis. Dravos kemungkinan besar akan menggunakan kesempatan itu, ketika perhatian tertuju sepenuhnya padamu, untuk membuat langkah pertamanya."
"Kau tahu rencananya secara spesifik?"
"Tidak sepenuhnya," Ren mengakui.
"Tapi Shadow Sect akan terus mengawasi dari bayangan. Jika situasi menjadi terlalu berbahaya, kami mungkin akan turun tangan—meski aku tidak bisa menjanjikan itu, karena keputusan semacam itu berada di luar wewenangku sendiri."
Kael menatapnya lama, mencoba menilai kejujuran di balik kata-kata itu. "Kenapa aku harus mempercayaimu?"
"Kau tidak harus," Ren menjawab jujur.
"Tapi aku sudah memberimu dua peringatan sekarang, tanpa meminta imbalan apa pun. Anggap itu sebagai bukti niat baikku, sebanyak yang bisa kutawarkan dalam situasi seperti ini."
Setelah momen hening yang panjang, Kael akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Terima kasih atas peringatannya, meski caranya sedikit tidak konvensional."
Sudut bibir Ren yang samar melengkung tipis di bawah cahaya bulan. "Aku akan mengingat untuk mengetuk pintu depan lain kali."
Dengan gerakan secepat kedatangannya, Ren menghilang kembali melalui jendela, meninggalkan Kael sendirian dengan pikiran yang berkecamuk. Dia duduk di tepi ranjangnya, menatap keluar jendela ke arah bulan yang sama yang menyaksikan begitu banyak momen penting dalam perjalanannya sejauh ini.
Keesokan paginya, dia menceritakan seluruh percakapan itu kepada Seraphina, yang mendengarkan dengan ekspresi yang semakin serius seiring cerita berlanjut.
"Kekuatan Sejati," Seraphina mengulang kata-kata itu dengan nada yang penuh pertimbangan.
"Aku pernah mendengar istilah itu, samar-samar, dalam legenda kuno klanku tentang asal-usul kekuatan vampir sendiri. Konon, ada sesuatu yang disebut sebagai 'darah pertama'—sumber dari semua kekuatan darah yang ada di dunia ini, yang hilang atau tersembunyi sejak zaman purba."
"Kau pikir aku punya hubungan dengan itu?"
"Aku tidak tahu," Seraphina menjawab jujur, "tapi kombinasi antara reaksi Chalice, obsesi Dravos, dan kekuatanmu yang tidak bisa diukur oleh artefak sekalipun—semuanya terasa terlalu berkaitan untuk menjadi kebetulan."
Kael menghela napas panjang, merasakan beban misteri yang semakin dalam mengelilingi keberadaannya di dunia ini. "Kalau begitu, kita punya lebih banyak alasan untuk mencari tahu kebenarannya sebelum Dravos melakukannya lebih dulu."
"Setuju," Seraphina mengangguk tegas.
"Dan itu berarti kita harus semakin serius mempersiapkan diri, bukan hanya untuk turnamen, tetapi untuk apa pun yang mungkin terjadi setelahnya."
Di kejauhan, jauh melampaui tembok Grandis, di sebuah benteng tersembunyi di pegunungan yang jarang dijamah manusia, Dravos berdiri di balkon yang menghadap ke arah ibu kota Valtherion, matanya yang merah menyala berkilat dengan antisipasi.
"Segera," gumamnya kepada dirinya sendiri, seringai lebar terpampang di wajahnya yang sudah lama tidak tersenyum tulus.
"Segera, darah primordial itu akan menjadi milikku, dan dunia ini akan menyaksikan kebangkitan kekuatan yang telah lama mereka lupakan."