NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 - Tanah Warisan Mbah Sembada

Hampir satu jam kemudian Ibu kembali. Di tangannya menggantung kantong plastik bening; sekilas terlihat isinya: dua bungkus mi instan dan dua butir telur bebek.

Sudah masuk tengah hari, dan Ibu pulang dengan langkah cepat. Untungnya warung desa masih menyimpan plester; Ibu sempat menanyai tetangga dekat warung untuk memastikan, lalu membeli sebungkus plester bersama kebutuhan dapur sehari-hari — mi instan dan dua butir telur bebek — untuk mengisi perut siang itu.

"Bu, tadi di warung ada plester?" Intan mengibas-ngibaskan jarinya yang terluka di depan Ibu.

Ibu tercengang, lalu memarahi, "Kusuruh cuci tangan, tetapi kerjamu seperti habis menggali batu bara?"

"Sudah besar begitu masih kanak-kanak!"

Intan menarik napas panjang; wajahnya murung. Ia menunggu Ibu menimba seember air lagi, lalu berjalan mendekat dan menjelaskan dengan nada sengsara. "Bu, tadi memang sudah kucuci. Kalau tidak, air yang Ibu sisakan untukku tidak akan habis. Siapa sangka, baru sekali masuk kamar tangan jadi begini lagi."

"Sudah, sudah." Kamu kan tahu rumah tua itu tidak layak huni, masih juga kau masuki. Itu salah siapa? Ibu memarahi sambil merobek-robek bungkus plester.

Begitu Intan selesai mencuci tangan, Ibu mencari lukanya. Dicarinya lama; tidak ketemu.

"Lukanya di mana?"

"Sini!" Intan mengulurkan jari telunjuknya. Lalu ia sendiri menatap jarinya — di ujung itu tidak ada jejak apa pun selain tetesan air, apalagi luka.

Ibu memeriksa punggung dan telapak tangan putrinya bergiliran. Entah karena kebetulan atau memang karena sesuatu, goresan kecil yang tadi siang mengeluarkan darah itu tidak meninggalkan bekas. Intan sampai menggerak-gerakkan jarinya seolah-olah luka itu bisa muncul kembali kalau ia mau. Tangan kecilnya tetap teracung. Ia membalikkan jarinya ke segala arah, bahkan menerawangkan telapak tangannya, seolah-olah luka itu hanya disembunyikan di tempat yang tidak ia periksa. Betapa membingungkan bila sebuah goresan yang sedemikian jelas mendadak lenyap tanpa meninggalkan jejak apa pun. Ia mulai mengira dirinya kelelahan, lalu menyalahkan penglihatannya sendiri.

Intan terpaku.

Ibu mengira Intan sedang bercanda, padahal tadi ia benar-benar menyaksikan jari putrinya meneteskan darah. Ibu dan anak sama-sama terdiam.

Keheningan itu pecah oleh ayam yang berkokok dari kejauhan. Ibu menggeleng, memilih jalan pikiran yang paling masuk akal: mungkin goresan tadi siang hanya dangkal, dan sekarang sudah mengelupas tanpa menyisakan sisa. Bagaimanapun, hari masih panjang, dan masih ada makan siang yang menunggu untuk dimasak.

Untungnya Ibu orang yang periang. Karena tidak menemukan luka, ia menghela napas lega lalu tersenyum. "Mungkin darahnya sudah berhenti. Kau balut sendiri saja. Aku masak."

Ibu tidak bertanya lebih jauh. Dalam pikirannya, barang selengkap plester memang tidak mungkin tersimpan di rumah tua yang sudah terbengkalai bertahun-tahun; ia cukup bersyukur goresan itu sudah berhenti berdarah. Ia lalu menyibukkan diri menyiapkan dapur, membiarkan anaknya sibuk dengan urusannya sendiri.

Intan bengong. Plester? Masak harus ada luka dulu baru bisa ditempel! Mau ditempel ke mana sekarang? Namun bungkus plester sudah terlanjur disobek; daripada sia-sia, plester itu ia tempelkan saja di tempat yang tadi terluka. Memang, ibu dan anak itu sama-sama royal dalam urusan semacam ini.

Dapur rumah tua masih memakai tungku kayu besar. Piring dan sendok tersimpan rapi di dalam lemari, masih bisa dipakai setelah dicuci dengan sabun. Ibu memasak mi instan seadanya dan menggoreng dua telur bebek untuk makan siang.

Usai makan siang, jarum jam baru saja lewat pukul satu. Tanpa berhenti, keduanya harus bergegas pulang ke Cilacap. Seharian diobrak-abrik perjalanan, Intan benar-benar kelelahan. Begitu tiba di rumah, ia menenggelamkan diri di kasur dan tertidur mendengar bunyi-bunyi dapur yang dibuat Ibu.

Dalam mimpi, Intan mendapati dirinya telah berada di dalam ukiran pemandangan itu.

Ia merasakan udara yang berbeda dari rumah tua itu — dingin, segar, seperti setelah hujan pertama. Langkahnya menapak rerumputan yang tidak ia kenal, dan di kejauhan, di balik kabut tipis, air itu terus mengalir. Intan tidak menoleh ke belakang; ia hanya berjalan mengikuti suara gemericik yang menuntunnya, seperti orang yang sudah lama diundang pulang.

Mata air berkelok jernih mengalir kurang dari dua puluh meter di depannya, diselimuti pepohonan yang tak ia kenal. Di tepiannya tegak sebuah prasasti batu; tulisan di permukaannya tidak bisa ia baca sama sekali. Untungnya, di sebelah prasasti itu ada catatan-catatan kecil dengan huruf yang ia pahami, ditulis oleh seseorang di kemudian hari.

Dari catatan itulah Intan mulai memahami tanah sakti itu.

Tanah ini bernama Tanah Mustika — warisan seorang pengukir kayu bernama Mbah Sembada, cikal bakal kampung mereka. Bila diambil sejumput lalu dilarutkan ke dalam air, air itu menjadi air mustika. Setetes saja dapat menghidupkan kembali dahan yang mati dan memulihkan tanaman yang layu; siapa pun yang meminumnya akan panjang umur dan bebas dari penyakit. Namun kekuatannya terlalu pekat. Sebelum dipakai, tanah itu harus diencerkan dalam banyak air. Dan meskipun sakti, tanah itu tidak memberikan keabadian — manusia tetaplah manusia, tetap akan beranjak tua dan akhirnya pergi.

Mbah Sembada hidup pada masa penjajahan, jauh sebelum Intan lahir. Setelah pengukir tua itu meninggal, ikatan antara dirinya dan tanah sakti itu pun terputus. Tanah Mustika merekat pada ukiran kayu buatannya, menunggu pemilik berikutnya. Entah siapa yang menyulap ukiran kayu itu menjadi dinding sebuah kotak, lalu menyembunyikannya di dalam laci lemari tua — sehingga hampir seabad lamanya ia tak pernah melihat cahaya matahari, hingga detik ini.

Intan tidak pernah mendengar nama Mbah Sembada disebut di depan keluarganya bahkan sekali pun. Semua itu telah lama menjadi sejarah yang hilang, sama seperti nama-nama leluhur yang perlahan pudar dari bingkai foto di ruang sembahyang. Kini ia mengerti mengapa kotak itu disembunyikan begitu rapat: apa yang tidak dikenal orang biasanya justru paling berharga.

Beberapa kebetulan yang tak terduga membawa Intan sampai ke sana.

Ketika terjaga, hal pertama yang dicarinya adalah kotak kayu ukiran itu. Mimpi itu tidak meluntur sedikit pun; bahkan rasa dingin dan aroma segar mata air terasa masih membekas di kulit. Intan mengingat betul pesan-pesan tentang batas dosis — apa pun kekuatannya, tidak boleh rakus menggunakannya. Satu pelajaran yang ia pegang erat dari mimpi itu: kekuatan sebesar apa pun tidak boleh jatuh ke tangan yang serakah.

Ia menarik laci lemarinya dengan hati-hati, menyisipkan kotak itu di balik pakaian yang sudah lama tidak ia pakai. Sebelum menutup pintu kamarnya, ia mengunci pintu itu perlahan seperti biasa — tidak ada jejak yang boleh tersisa.

Ia tahu harus menyimpannya di mana: pot tembikar berisi sejumput Tanah Mustika, dibungkus rapi, disembunyikan di balik pakaiannya — dan untuk selamanya dijaga sebagai rahasia terbesar keluarganya. Tangan kecilnya menggenggam erat hingga senja berlalu. Esok hari, di rumah Cilacap ini, ia akan membuktikan sendiri kebenaran kata-kata Mbah Sembada.

1
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
ginevra
wkwkwk... ibu dimana2 gitu ya, kalau sekali marah bergetar bumi seisinya
Aquarius97 🕊️
Nah iya.. kemana vino Tan .. jelaskan 🙄
Kartika Candra Buwana: sibuk selingkuh tuh
total 1 replies
Aquarius97 🕊️
walaupun bicaranya ceplas ceplos.. tapi mereka menghargai intan dan sangat mengerti .. sukaa macam ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!