Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Gesekan di Antara Debu Konstruksi
Selasa pagi, matahari terik membakar area pembangunan Grand Dirgantara Tower di wilayah Jakarta Barat. Suara bising alat berat dan dentuman tiang pancang memenuhi udara, bercampur dengan bau debu semen dan besi tempa.
Dania berdiri di area lantai tiga yang belum berdinding lengkap, mengenakan rompi keselamatan oranye dan safety helmet putih. Di sampingnya, Erlangga—arsitek senior berpenampilan kasual dengan kacamata bingkai hitam—sedang sibuk mencatat spesifikasi rangka kaca pada papan jalan di tangannya.
"Kalau pakai material kaca reflektif impor dari Jerman ini, beban struktur bagian atrium depan bakal berkurang sepuluh persen, Dania," kata Erlangga seraya menunjuk kerangka baja di depan mereka. "Gimana menurutmu?"
Dania meneliti draf di tangannya, lalu mengangguk setuju. "Secara estetika dan ketahanan angin juga jauh lebih stabil. Nanti kita jadikan ini rekomendasi utama untuk draf rapat besok."
Erlangga tersenyum hangat. Tangannya terulur refleks untuk mengusap sedikit noda debu semen yang menempel di dekat pelipis Dania. "Kamu kerja keras banget minggu ini. Muka kamu kelihatan agak pucat, lho."
Dania sedikit terkejut dan hendak melangkah mundur, namun sebuah suara bariton yang dingin dan memotong udara mendadak terdengar dari arah tangga darurat.
"Tanganmu bisa disimpan untuk memegang papan jalan itu saja, Tuan Erlangga?"
Seketika Dania dan Erlangga menoleh.
Arvin berdiri di ambang pintu masuk lantai tiga. Pria itu mengenakan jas hitam tanpa dasi yang berpadu dengan helm keselamatan warna kuning berlogo Dirgantara Group. Di belakangnya, Rian dan dua pengawal bertubuh tegap berdiri siaga.
Erlangga seketika menarik tangannya kembali, membungkuk hormat dengan canggung. "Selamat pagi, Tuan Arvin. Kami... kami hanya sedang meninjau sampel material kaca."
Arvin melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat di atas lantai beton bertulang menciptakan dominasi mutlak yang seketika membuat udara panas di area konstruksi terasa membeku.
Manik mata pekat Arvin menatap Erlangga secara mendalam, lalu beralih menatap Dania.
"Area ini adalah zona bahaya kelas satu yang belum dipasangi jaring pengaman penuh," kata Arvin datar, suaranya pelan namun mengandung perintah mutlak. "Interaksi personal yang tidak perlu di lokasi kerja hanya akan memecah fokus dan memicu kecelakaan."
Dania menyilangkan tangan di dada, membalas tatapan Arvin dengan tenang meski dadanya berdesir gusar. "Kami sedang bekerja secara profesional, Tuan Arvin. Erlangga hanya membantu mengecek spesifikasi."
"Aku tidak bertanya," potong Arvin kaku seraya menoleh pada Erlangga. "Tuan Erlangga, silakan turun ke lantai dasar dan koordinasikan sampel baja bersama tim pelaksana. Aku yang akan meninjau sisa area ini bersama Nyonya Dania."
Erlangga menatap Dania cemas, lalu melirik dua pengawal Arvin yang berdiri menjulang. "Baik, Pak Arvin. Saya permisi dulu, Dania."
Setelah Erlangga melangkah pergi menuruni tangga, Dania menghembuskan napas kasar. Ia mendekati Arvin, menatap pria tegap itu dengan kemarahan yang ditahan.
"Apa-apaan Anda ini?" bisik Dania tajam agar tidak terdengar oleh Rian dan pengawal. "Anda sengaja mengusir Erlangga dan bersikap kekanak-kanakan di depan tim saya?"
Arvin tidak bergeming. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat pada Dania, menghalangi hembusan angin keras dari tepi lantai konstruksi yang terbuka.
"Aku melakukan tugas peninjauan sebagai pemilik proyek," sahut Arvin kaku tanpa raut bersalah. "Dan aku tidak suka melihat ada orang asing yang menyentuhmu—di dalam maupun di luar kantor."
"Erlangga bukan orang asing, dia teman kerja saya!" balas Dania cepat. "Dan Anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi atau gerakan refleks teman saya!"
"Pernikahan kita memang rahasia, Dania," potong Arvin seraya menundukkan kepala, membisikkan kata-katanya tepat di samping telinga Dania hingga napas hangatnya menyapu kulit leher wanita itu. "Tapi statusmu saat ini adalah istriku. Menjaga batas jarak dengan pria lain adalah bagian dari menjaga kehormatan kesepakatan kita."
Dania menelan ludah, dadanya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena intensitas tatapan Arvin yang begitu posesif dan dingin.
KREAK...
Tiba-tiba, suara besi bergeser nyaring terdengar dari langit-langit lantai atas.
Sebelum Dania sempat mendongak, sebuah balok kayu penahan bekisting yang terlepas mendadak meluncur jatuh dari lantai empat tepat menuju ke arah berdiri Dania!
"Dania, awas!"
Dalam hitungan detik, Arvin menyambar pinggang Dania dengan kuat, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya dan membalikkan posisi mereka seraya merunduk rapat ke dinding beton.
TAK! BRAAK!
Balok kayu tebal itu menghantam lantai beton tepat di tempat Dania berdiri satu detik yang lalu, hancur berkeping-keping dan menerbangkan debu tebal ke udara.
Dania memejamkan mata rapat-rapat, mendapati dirinya berada sepenuhnya dalam dekapan dada tegap Arvin. Aroma parfum woody pria itu bercampur dengan bau debu, sementara tangan kokoh Arvin melindungi bagian belakang kepala Dania dengan rapat.
"Arvin... Anda tidak apa-apa?" bisik Dania panik begitu deru debu mereda, mendongak menatap wajah Arvin yang berada hanya beberapa senti dari wajahnya.
Arvin membuka matanya perlahan. Wajahnya mengeras penuh amarah yang berbahaya, bukan karena terluka, melainkan saat ia menatap pecahan balok kayu di lantai.
"Seseorang sengaja melonggarkan ikatan bekisting itu," desis Arvin dingin seraya menatap ke arah tangga lantai atas.