Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kringgg!
Bel tanda berakhirnya jam sekolah akhirnya berbunyi nyaring.
Tommy segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ranselnya yang sudah kusam.
"Heh, Tom, tugas kelompok sejarah besok lo yang kerjain semua ya," ucap Bagas sambil menendang kaki meja Tommy.
"Iya, Gas, nanti aku kerjakan," jawab Tommy dengan wajah menunduk patuh.
"Awas aja kalau sampai salah semua kayak ulangan kemarin, gue habisin lo," ancam Reno sambil tertawa mengejek.
Tommy hanya mengangguk pelan dan bergegas keluar dari kelas tanpa membalas ucapan mereka.
Nadin menatap kepergian Tommy dengan dahi sedikit berkerut dari bangku depannya.
"Kenapa dia selalu diam saja ditindas seperti itu?" batin Nadin merasa sedikit jengkel melihat kepasrahan Tommy.
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gadis pintar itu sejak kejadian koreksi rumus fisika kemarin.
Namun Tommy terlihat terlalu bodoh dan menyedihkan untuk dicurigai sebagai murid jenius yang sedang menyamar.
Tommy berjalan cepat menyusuri gang kecil yang berada di belakang area sekolahnya.
Ia berhenti di depan sebuah ruko gelap dengan papan nama usang bertuliskan Berkah Net.
Kriet.
Pintu kaca berderit saat Tommy mendorongnya masuk ke dalam warnet tersebut.
Aroma asap rokok dan mi instan langsung menyengat hidungnya dengan sangat kuat.
"Main berapa jam, Dek?" tanya penjaga warnet berambut gondrong yang sedang fokus menatap layar ponselnya.
"Pakai paket hemat tiga jam saja, Bang," jawab Tommy sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan lecek.
"Bilik nomor tujuh di pojok sana," ucap penjaga itu tanpa menoleh sedikit pun.
Tommy berjalan menuju bilik paling sudut yang sedikit tersembunyi dari pandangan pengunjung lain.
Ia duduk di kursi plastik yang keras dan menyalakan tombol daya komputer tua di depannya.
Wunggg.
Suara kipas CPU terdengar kasar saat mesin usang itu mulai menyala.
Tommy menatap layar monitor yang berkedip dengan tatapan yang langsung berubah tajam.
"Sistem, aktifkan Pengetahuan Kriptografi Dasar," batin Tommy memberi perintah.
Ting!
[Skill Pengetahuan Kriptografi Dasar Aktif telah diterapkan pada ingatan pengguna.]
Seketika itu juga, ribuan baris kode, algoritma enkripsi, dan struktur jaringan membanjiri otak Tommy bagai air bah.
Semua informasi asing itu terasa sangat familier seolah ia sudah mempelajarinya selama puluhan tahun.
Klik! Klik!
Tangan Tommy mulai bergerak cepat membuka peramban web dan masuk ke jaringan forum peretas bawah tanah.
Tampilannya sangat sederhana, hanya berupa teks hitam dan hijau tanpa gambar sama sekali.
"Mari kita cari ladang uang yang cepat," gumam Tommy sambil menggulir halaman forum tersebut.
Matanya memindai ratusan utas diskusi dalam hitungan detik berkat kecepatan prosesor otaknya yang baru.
Pandangannya terhenti pada sebuah pengumuman dengan judul yang ditulis menggunakan huruf kapital besar.
[SAYEMBARA BUG BOUNTY KEAMANAN SERVER UTAMA NUSANTARA JAYA TECH - HADIAH 25 JUTA RUPIAH.]
"Nusantara Jaya Tech?" batin Tommy mengingat nama perusahaan rintisan teknologi terbesar di kota ini.
"Perusahaan yang baru saja mendapat suntikan dana dari luar negeri itu rupanya sedang menguji sistem keamanan baru mereka."
Tommy membuka tautan tersebut dan membaca peraturannya dengan sangat teliti.
Peraturannya cukup sederhana, siapa pun yang bisa menembus dinding api lapis ketiga mereka dan menemukan celah masuk, akan mendapatkan hadiah uang tunai.
Sayembara ini sudah berjalan selama tiga hari dan belum ada satu pun peretas di forum itu yang berhasil memberikan laporan valid.
"Dinding api lapis ketiga buatan luar negeri memang terkenal tangguh," gumam Tommy sambil menganalisis struktur sistem keamanan perusahaan tersebut dari jauh.
"Tetapi tidak ada sistem buatan manusia yang benar-benar sempurna dari cacat."
Tak! Tak! Tak! Tak!
Jari-jari Tommy mulai menari di atas keyboard tua yang tombolnya sudah banyak pudar.
Kecepatan mengetiknya sangat tidak masuk akal untuk ukuran anak SMA yang biasanya kesulitan mengetik tugas makalah.
Layar monitornya kini dipenuhi dengan jendela terminal hitam yang menampilkan deretan angka dan huruf yang terus berjalan tanpa henti.
"Mereka menggunakan enkripsi dua ribu empat puluh delapan bit untuk pintu depannya," ucap Tommy sambil tersenyum meremehkan.
"Sangat standar, kaku, dan memakan terlalu banyak waktu saat proses validasi data."
Ia tidak mencoba mendobrak pintu depan itu secara paksa seperti yang dilakukan oleh para peretas amatir di forum tadi.
Dengan pengetahuan dari sistem dan IQ sembilan puluh delapannya, Tommy justru mencari celah dari protokol sinkronisasi waktu internal server mereka.
"Ketemu celahnya," bisik Tommy dengan mata berbinar puas.
Hanya dalam waktu empat puluh lima menit sejak ia duduk di bilik warnet itu, layar hitam di depannya memunculkan sebuah pesan berwarna hijau.
[AKSES ADMINISTRATOR DITERIMA.]
Tommy telah berhasil masuk ke jantung server utama Nusantara Jaya Tech tanpa memicu alarm keamanan mereka sedikit pun.
Jika ia mau, ia bisa saja mencuri data rahasia bernilai miliaran rupiah dari dalam pangkalan data tersebut.
Tetapi tujuannya hari ini bukanlah berbuat kriminal, melainkan memenangkan hadiah sayembara sebesar dua puluh lima juta rupiah secara legal.
"Sekarang tinggal menulis laporan celah keamanannya dan mengirimkannya ke email perusahaan mereka," batin Tommy sambil meregangkan jari-jarinya yang sedikit kaku.
Tommy membuka layanan email terenkripsi sekali pakai agar alamat IP aslinya tidak bisa dilacak oleh siapa pun.
Ia mulai mengetik langkah demi langkah bagaimana ia menembus dinding api mereka beserta solusi tambalan kodenya.
"Nama pengirim," gumam Tommy menatap kolom kosong di bagian atas draf emailnya.
Ia harus membuat sebuah nama samaran agar mudah dihubungi oleh pihak perusahaan untuk pencairan hadiah nanti.
Tommy mengetik lima huruf sederhana di sana tanpa berpikir terlalu panjang.
"Blank," ucapnya pelan membaca nama itu.
Sebuah identitas kosong, tidak terlihat, namun kehadirannya ada di mana-mana.
Klik.
Email laporan itu pun terkirim melintasi jaringan internet, menembus berbagai peladen langsung menuju kotak masuk perusahaan tersebut.
Tommy langsung menjalankan skrip pembersih untuk menghapus semua jejak digitalnya dari komputer warnet itu.
Ia mematikan komputer dan melangkah keluar dari bilik nomor tujuh dengan perasaan sangat lega.
Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota yang berjarak belasan kilometer dari warnet kumuh tersebut.
Ruang divisi keamanan jaringan Nusantara Jaya Tech terlihat sangat sibuk dengan belasan programer yang sedang bekerja.
Trring!
Sebuah notifikasi email khusus dengan bendera merah tiba-tiba muncul di layar monitor Kepala Divisi Keamanan IT, Pak Hendra.
"Email dari peserta sayembara lagi?" keluh Pak Hendra sambil meminum kopinya yang sudah mulai dingin.
"Paling-paling isinya cuma laporan palsu atau tebakan asal-asalan bocah pengangguran seperti biasa."
Ia membuka email dari pengirim bernama Blank itu dengan malas dan bersandar di kursinya.
Tetapi sedetik kemudian, mata Pak Hendra terbelalak lebar hingga cangkir kopi di tangannya nyaris terjatuh ke lantai.
"Ini... ini tidak mungkin," gagap Pak Hendra dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ia membaca baris demi baris laporan kode di layar itu dengan tangan gemetar.
Orang bernama Blank ini tidak hanya berhasil menembus server utama mereka, tetapi juga memberikan celah masuk yang sama sekali tidak terpikirkan oleh tim insinyurnya.
Dan yang paling membuat Pak Hendra ketakutan setengah mati adalah jejak waktu peretasannya.
"Dia membobol sistem keamanan jutaan dolar kita hanya dalam waktu kurang dari satu jam?!" teriak Pak Hendra membuat seluruh staf di ruangan itu menoleh kaget.
"Lacak alamat IP pengirim email ini sekarang juga, jangan sampai lolos!" perintah Pak Hendra dengan panik sambil menggebrak mejanya.
Beberapa programer terbaik di ruangan itu langsung mengetik dengan cepat di komputer mereka masing-masing.
"Tidak bisa dilacak, Pak," lapor salah satu staf senior dengan suara bergetar putus asa.
"Email ini dikirim dari server virtual acak yang melompat-lompat melintasi tiga benua sebelum sampai ke kita."
Pak Hendra menelan ludah dengan susah payah menatap layar komputernya yang menampilkan nama pengirim tersebut.
"Siapa sebenarnya monster bernama Blank ini?" batin Pak Hendra dengan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya.
Di saat kepanikan melanda gedung perkantoran mewah itu, Tommy baru saja tiba di depan gang rumah kontrakannya yang gelap.
Ting!
Layar biru sistem tiba-tiba menyala dan memunculkan suara notifikasi di depan pandangannya.
[MISI BARU TERSEDIA.]
[Misi: Dapatkan pembayaran pertama dari keahlian barumu tanpa mengungkapkan identitas aslimu kepada perusahaan target.]
[Hadiah: +3 Poin IQ dan +50 Poin Sistem.]
Tommy tersenyum tipis membaca notifikasi tersebut di bawah sorot lampu jalan yang temaram.
Uang sepuluh juta rupiah untuk melunasi utang lintah darat itu akan segera berada di genggaman tangannya.
Bahkan ia akan memiliki sisa uang belasan juta rupiah yang bisa digunakan untuk memperbaiki kehidupan ibunya.
"Rencananya berjalan sangat mulus," batin Tommy sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya.
Satu-satunya hal yang perlu ia lakukan besok pagi di sekolah hanyalah kembali menjadi Tommy si bodoh agar tidak ada yang curiga dengan perubahan nasibnya.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇