Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Aku bawa mobil sendiri..." gumam Alena pelan, mencoba mencari sedikit celah untuk bernapas dan menjauh dari aura dominan Baskara, walau hanya untuk seperjalanan.
"Ohh, tidak bisa. Mobilmu biar dibawa sopirku. Aku tidak mau calon istriku kabur di malam pernikahan kita," potong Baskara lugas.
Kalimatnya tak menerima sanggahan sedikit pun saat ia memberikan kode pada sopirnya untuk mengambil alih kunci mobil Alena.
"Jahat kamu, Bas..." bisik Alena pasrah, merasakan dadanya sesak oleh keputusasaan yang kian menghimpit.
Baskara tak membalas makian itu. Ia justru meraih jemari Alena, menggandeng tangan wanita itu dengan genggaman yang teramat erat—seolah memastikan mangsanya tak akan punya celah untuk meloloskan diri—lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir di depan restoran.
Di sepanjang perjalanan, Baskara tidak melepaskan tangannya sama sekali.
Ibu jarinya sesekali mengusap punggung tangan Alena, sebuah gestur lembut yang ironisnya terasa seperti belenggu besi bagi Alena.
Keheningan dalam kabin terasa begitu pekat, hanya diisi oleh deru mesin halus dan napas Alena yang masih tak beraturan.
Alena menatap keluar jendela, membiarkan bayangan lampu-lampu jalanan kota memantul di kaca yang buram oleh embun air matanya.
"Seharusnya kamu bersyukur karena ada lelaki tampan yang akan menikahimu," ucap Baskara mendadak, memecah keheningan dengan nada suara santai, seolah-olah gertakan dan paksaan gila tadi hanyalah obrolan biasa di meja makan.
Alena menoleh lambat, menatap wajah samping Baskara dengan tatapan tak percaya. Pria ini benar-benar tidak memiliki empati.
"Bersyukur?" Alena tertawa hambar, suara parau membasahi bibirnya.
"Kamu memaksa wanita usia empat puluh tahun untuk menandatangani kontrak perbudakan, mengancam memenjarakannya atas tuduhan konyol, lalu mengharapkanku bersyukur hanya karena wajah tampanmu itu? Kamu benar-benar sosiopat, Baskara."
Baskara menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang amat tipis.
Sorot matanya yang tajam menatap Alena tanpa ada penyesalan sedikit pun.
"Panggil aku sesukamu, Alena," sahut Baskara tenang, makin mempererat genggaman tangannya hingga Alena tak bisa menggerakkan jemarinya sama sekali.
"Tapi mulai malam ini, sosiopat ini adalah satu-satunya pria yang memegang kendali penuh atas hidupmu."
Sesampainya di rumah Alena, aroma pizza yang hangat masih menyengat di udara.
Kedua orang tua Alena yang sedang asyik menikmati pizza buatan putri mereka mendadak mengehentikan kunyahannya, dikejutkan dengan kedatangan Alena dan lelaki tampan yang melangkah masuk tanpa ragu.
"Dia Ferry?" tanya sang papa bingung, membandingkan pemuda tinggi berwajah tegas di depannya dengan foto pria paruh baya yang ia pegang beberapa jam lalu.
"Bukan, Pa. Dia putra mendiang Ferry," sahut Alena dengan suara serak, menyiratkan keputusasaan yang tak mampu ia sembunyikan.
Baskara melangkah maju satu pukulan, memasang gestur sopan namun penuh wibawa yang tak tertolak.
"Om, perkenalkan saya Baskara yang akan menikahi putri Om sekarang juga. Om jangan khawatir tentang usia kita yang berbeda jauh. Dan ayo kita lakukan pernikahan ini," ucap
Baskara tegas, langsung menyampaikan niatnya tanpa berbelit-belit.
Kedua orang tua Alena terpaku. Sang mama yang merasakan ada ketidakberesan melangkah cepat dan menarik putrinya sedikit menjauh ke sudut ruangan.
"Ada apa sebenarnya, Alena?" bisik sang mama panik, menatap wajah anaknya yang sembap.
Alena menggelengkan kepalanya pasrah, air matanya nyaris tumpah kembali.
"Dia lelaki gila, Ma..."
"Aku mendengarnya, Alena," potong suara berat Baskara dari belakang dengan tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang papa.
"Ishhh... Menyebalkan!" gumam Alena setengah berbisik, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada dalam genggaman pemuda yang tak kenal ampun itu.
Papa Alena terdiam sejenak, menatap Baskara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Meski terkejut dengan kabar duka tentang sahabatnya, ketegasan dan keberanian Baskara di hadapannya justru meninggalkan kesan yang tak biasa.
"Pernikahan sekarang juga?" ulang sang papa, memastikan ia tidak salah dengar.
"Ya, Om. Segalanya sudah saya siapkan," jawab Baskara mantap.
"Saya hanya butuh persetujuan dan wali dari Om untuk menuntaskan amanah terakhir Ayah saya malam ini."
Penghulu sudah duduk berhadapan dengan Baskara di ruang tamu yang mendadak disulap menjadi tempat akad nikah.
Suasana yang tadinya penuh ketegangan perlahan berubah menjadi sakral dan hening.
Alena duduk di samping ibunya dengan dada bergemuruh hebat, menatap punggung tegap Baskara yang tampak begitu tenang seolah tak ada beban sama sekali di pundaknya.
Papa Alena membetulkan posisi duduknya, menatap calon menantu mudanya itu dengan tatapan dalam sebelum mengulurkan tangan.
Baskara menyambutnya tanpa ragu, menggenggam erat jemari calon mertuanya.
Penghulu memberi isyarat, dan Papa Alena mulai mengucapkan kalimat ijab dengan suara berat dan berwibawa:
"Ananda Baskara Putra bin Ferry, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Alena Swasti binti Febrian, dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai!"
Tanpa jeda sedetik pun, dengan satu tarikan napas dan suara tegas yang menggelegar di dalam ruangan, Baskara menjawab lantang:
"Saya terima nikah dan kawinnya Alena Swasti binti Febrian dengan mas kawin seratus juta rupiah dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu memecah keheningan.
"Sah!"
"Sah!"
Suara sah bergemuruh di seluruh ruangan. Penghulu memimpin doa pasca-akad, sementara Alena hanya bisa memejamkan mata erat-erat.
Dalam hitungan detik, statusnya berubah total. Di usianya yang ke-40 tahun, ia kini resmi menjadi istri dari Baskara—pemuda berbahaya berusia jauh lebih muda yang baru saja mengikat hidupnya dalam sebuah ikatan pernikahan gila.
"Sekarang, ayo waktunya kita pulang, Istriku," ucap Baskara dengan nada suara yang terdengar begitu tenang, namun sukses membuat bulu kuduk Alena meremang.
Kata 'istriku' yang diucapkannya terasa begitu mutlak dan mengikat.
Baskara menoleh ke arah orang tua Alena, membungkuk sedikit dengan gestur yang sopan namun penuh wibawa.
"Papa, Mama, terima kasih. Dan saya janji akan menjaga istri saya dengan baik," ujar Baskara tegas.
Mendengar itu, mama Alena langsung menarik putrinya ke dalam pelukan hangat.
Air mata sang mama menetes di bahu Alena, menyalurkan perasaan campur aduk antara lega karena putrinya akhirnya menikah, namun juga cemas melihat ketegasan sang menantu yang tak biasa.
Papa dan Mama memeluk tubuh putrinya erat-erat secara bergantian.
"Sekarang patuh sama suamimu ya, Nak," bisik sang mama lembut di telinga Alena, mengelus rambut putrinya penuh kasih sayang tanpa tahu mimpi buruk macam apa yang baru saja disetujui putrinya lewat secarik kontrak.
Alena hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukan ibunya, menelan mentah-mentah rasa sesak di dadanya.
Perjodohan konyol yang awalnya ia harapkan gagal total justru berujung pada pernikahan kilat paling gila dalam sejarah hidupnya.
Tak lama kemudian, Baskara berdiri dan mengulurkan tangannya, menunggu Alena menyambutnya.
Dengan langkah berat dan hati yang diliputi sejuta keraguan, Alena meletakkan telapak tangannya di genggaman Baskara—memulai awal dari kehidupan baru yang sepenuhnya berada di bawah kendali sang suami muda.
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭