NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan di Balik Pintu yang Tertutup

Pintu tidak pernah benar-benar menutup rapat. Selalu ada celah — sehelai cahaya yang menyelinap, sepotong suara yang lolos, secercah kebenaran yang tak sengaja terungkap. Dan di rumah besar ini, di antara dinding-dinding tebal yang menyimpan begitu banyak rahasia, bisikan-bisikan itu selalu menemukan jalan keluar, menembus celah-celah itu, hinggap di telinga siapa saja yang kebetulan lewat di dekatnya.

Aku tidak bermaksud mendengarkan. Aku hanya berjalan pelan di lorong panjang itu, tangan menyentuh dinding berukir halus, berniat kembali ke kamar setelah mengambilkan selimut tambahan untuk Arga yang sedang duduk membaca di ruang kerja. Namun saat melewati ruang tamu kecil di ujung lorong — ruangan yang biasanya kosong di jam-jam ini — suara-suara terdengar samar, lalu makin jelas seiring langkahku yang berhenti tanpa sengaja.

Pintu itu tertutup hampir sempurna, hanya tersisa celah sempit di bagian bawah, tempat cahaya lampu menyelinap keluar. Di dalam sana, beberapa kerabat berkumpul — suara mereka aku kenal, nada bicara yang selalu terdengar sopan saat berhadapan denganku, namun kini berubah menjadi tajam dan penuh penilaian.

"Kau lihat tadi? Ia berdiri di sampingnya seakan tempat itu memang miliknya," suara seorang wanita terdengar, berisi ketidaksetujuan yang tak disembunyikan lagi. "Padahal siapa dia? Gadis dari desa, tanpa apa-apa. Tidak ada kedudukan, tidak ada koneksi, tidak ada apa pun yang bisa diandalkan."

"Arga telah gila," sahut suara lain, lebih tua dan berat. "Membuang harta, nama baik, semua itu... hanya demi seorang gadis yang tak tahu apa-apa. Ia tidak memikirkan masa depan keluarga ini. Ia hanya memikirkan perasaannya sendiri."

"Dan yang paling menyedihkan, ia tidak menyadari kenyataannya," tambah suara yang lain. "Suatu hari nanti ia akan sadar — gadis itu tidak akan pernah bisa menempati tempat itu dengan layak. Ia tidak mengerti cara hidup kita. Ia tidak mengerti apa yang diharapkan dari seorang pendamping pewaris. Ia akan selalu terlihat asing, di mana pun ia berada."

Aku berdiri diam di luar pintu itu, napas tertahan di kerongkongan, seakan terikat di tempat. Setiap kata menancap pelan, tepat di dada, tempat yang paling lembut dan paling sulit disembuhkan. Mereka tidak berteriak, tidak memaki — itu justru yang membuatnya terasa lebih menyakitkan. Mereka berbicara seakan membicarakan sesuatu yang sudah rusak, sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat yang indah ini.

"Bagaimana jika ia pergi? Bagaimana jika gadis itu akhirnya menyadari bahwa ia tidak pantas di sini?" suara wanita itu kembali terdengar, lebih rendah namun lebih tajam. "Mungkin itu yang terbaik. Sebelum Arga kehilangan segalanya. Sebelum ia terlalu jauh terlibat."

"Siapa yang bisa meyakinkannya? Arga tidak mendengarkan siapa pun sekarang," jawab suara pria. "Ia buta. Ia melihat apa yang ingin ia lihat — kesederhanaan yang ia anggap keindahan, kepolosan yang ia yakini ketulusan. Padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada di balik wajah itu."

Hati yang tadinya hangat perlahan mendingin. Mereka tidak hanya meragukan kedudukanku — mereka meragukan niatku, perasaanku, segalanya. Mereka melihatku bukan sebagai manusia yang mencintai, melainkan sebagai gangguan, kesalahan, halangan yang harus disingkirkan.

Kaki yang tadi berdiri diam kini terasa berat untuk digerakkan. Aku mundur perlahan, menjauh dari pintu itu, seakan menjauhi sesuatu yang membakar. Tidak ada yang baru sebenarnya — aku sudah mendengar hal serupa sejak awal. Namun mendengarnya langsung, dengan telinga sendiri, tanpa topeng keramahan, tanpa kata-kata yang dibungkus sopan santun... itu terasa jauh lebih nyata, jauh lebih menyakitkan.

Aku tidak kembali ke kamar. Aku berjalan ke arah yang berlawanan — ke halaman belakang, tempat pohon-pohon besar berdiri tenang, tempat tidak ada suara bisikan, tidak ada mata yang menilai. Di sana, di bawah langit yang mulai gelap, aku duduk di bangku kayu tua, memeluk diriku sendiri, membiarkan air mata jatuh tanpa ditahan.

Mungkin mereka benar, pikirku perlahan, dan pikiran itu terasa berat namun tak bisa kutolak. Mungkin aku memang halangan. Mungkin jika aku tidak ada di sini, Arga tidak perlu kehilangan dukungan mereka. Ia tidak perlu memilih antara harta dan aku. Ia bisa tetap menjadi pewaris yang dihormati, dikelilingi orang-orang yang mengerti dunianya, tanpa harus mengorbankan apa pun.

Pikiran itu tumbuh perlahan, memakan tempat di hati yang sudah lelah. Bagaimana jika kehadiranku justru menyakitinya? Bagaimana jika cinta yang kubawa tidak menjadi kekuatan, melainkan beban?

Bayangan seseorang jatuh di depanku. Aku tidak mendongak. Aku tahu siapa itu — langkahnya tenang, berat, dan penuh perhatian.

"Angin malam makin dingin," suara Arga terdengar lembut di dekatku. "Mengapa duduk sendirian di sini?"

Aku mengusap wajahku cepat, berusaha menyembunyikan jejak air mata. "Hanya... ingin melihat bintang."

Ia duduk di sampingku, tidak langsung menyentuhku, hanya berdiri di dekatku dengan kehadiran yang menenangkan. Namun ia tahu. Ia selalu tahu.

"Kau mendengar mereka," ucapnya, bukan pertanyaan.

Aku mengangguk pelan, tidak sanggup berbohong. "Mereka bilang aku bukan tempatmu. Bahwa aku tidak pantas berdiri di sisimu."

Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan ke udara yang sejuk. "Aku tahu mereka berbicara begitu. Aku mendengarnya berkali-kali sejak dulu — tentang siapa yang seharusnya berdiri di sampingku, tentang siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Mereka tidak berubah. Hanya orang yang mereka bicarakan yang berubah."

Ia menoleh ke arahku, menatapku lekat-lekat meski cahayanya remang. "Dan kau tahu apa yang tidak mereka pahami? Mereka membicarakan pantas atau tidak pantas berdasarkan nama, harta, asal-usul. Mereka lupa satu hal — cinta tidak menilai dengan ukuran itu. Cinta menilai dengan hati."

"Tapi Arga..." suaraku bergetar. "Mereka keluargamu. Pendapat mereka penting bagimu. Dan aku... aku tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan. Aku tidak bisa membuat mereka menerimaku."

"Kau tidak perlu meminta penerimaan mereka," jawabnya tegas namun lembut. "Penerimaan yang paling penting sudah ada — di hatiku. Dan itu tidak akan berubah, apa pun yang mereka katakan."

Ia menggenggam tanganku yang dingin. "Bisikan itu hanya suara ketakutan mereka, Lia. Mereka takut dunia yang mereka kenal berubah. Mereka takut cara pandang mereka salah. Jadi mereka menyalahkan sesuatu yang baru — sesuatu yang tidak mereka pahami. Dan kau adalah hal baru itu."

"Apakah aku benar-benar hal yang baik?" tanyaku pelan, keraguan masih menancap di sana.

Arga mengangkat tanganku, mencium punggungnya dengan lembut. "Sejak kau datang, rumah ini tidak lagi sepi. Sejak kau datang, aku tidak lagi takut menghadapi hari. Sejak kau datang, aku tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat. Itu bukan hal yang buruk. Itu adalah anugerah terindah yang pernah kuterima."

Namun kata-kata itu, meski indah, tidak langsung menghapuskan apa yang kudengar. Bisikan itu tetap ada, bergaung pelan di kepala saat hening — tidak pantas, tidak cukup, tidak seharusnya di sini. Dan aku tahu, selama aku berada di tempat ini, suara-suara itu tidak akan benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu pintu tertutup, menunggu aku sendirian, lalu kembali berbisik.

Malam itu, saat kami berbaring, Arga memelukku erat seakan tahu ada bagian dariku yang ingin pergi. "Jangan dengarkan mereka," bisiknya di telingaku. "Dengarkan aku. Hanya aku."

Aku menyandarkan kepala di dadanya, mendengar detak jantungnya yang tenang dan kuat. "Bagaimana jika aku tetap mendengarnya?"

"Maka aku akan berbicara lebih keras," jawabnya mantap. "Setiap hari, setiap saat, sampai suaraku satu-satunya yang kau dengar."

Dan ia melakukannya. Setiap kali kerabat berbisik, ia berdiri di sampingku. Setiap kali ada yang menatapku meremehkan, ia menyapaku dengan kehangatan yang tak disembunyikan. Setiap kali aku ragu, ia mengingatkanku — bukan dengan kata-kata indah, tapi dengan kehadirannya yang tak tergoyahkan.

Namun bisikan itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya berubah bentuk — menjadi pandangan yang menyimpang saat lewat, senyum yang tak sampai ke mata, keheningan yang menyambutku saat masuk ke ruangan. Dan di saat-saat paling hening, aku bertanya pada diriku sendiri — berapa lama aku bisa bertahan di antara mereka yang tidak menginginkanku? Berapa lama aku bisa menjadi satu-satunya alasan Arga memilih untuk tetap bahagia meski dikelilingi ketidaksetujuan?

Pintu itu tertutup kembali, namun suaranya tetap tertinggal. Dan aku tahu — perjuangan ini belum selesai. Mungkin baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!