Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Ambisi yang Tersembunyi
Berbeda halnya di dalam kamar tidur Lea yang terasa sangat kontras dengan ketenangan dan kehangatan yang mengalir di kamar Moana. Pendar lampu tidur berwarna jingga redup membiaskan bayangan panjang dua sosok wanita yang duduk berhadapan di atas kasur berseprai merah muda.
Lea duduk bersila sambil memeluk bantal gulingnya rapat-rapat ke dada. Matanya yang sembab dan memerah berkaca-kaca kembali, seakan menyimpan tumpukan amarah, cemburu, dan kepahitan yang tak kunjung padam.
Di hadapannya, Sintia duduk menyandarkan punggung pada kepala ranjang, jemarinya yang dihiasi cat kuku berwarna merah menyala sibuk mengelus punggung tangan keponakannya.
"Tante Sintia..." bisik Lea dengan suara parau yang bergetar menahan tangis. "Lea bener-bener gak sudi liat perempuan itu tinggal di rumah ini. Setiap kali liat dia senyum sok manis di depan Papa, rasanya dada Lea mau meledak, Tante!"
Sintia tidak menarik napas atau berusaha meredakan emosi keponakannya. Sebaliknya, senyum tipis yang sarat akan makna terselubung terukir di bibirnya yang bergincu tebal.
Sintia mengusap bahu Lea dengan gerakan memprovokasi, seolah-olah sedang menyiramkan bahan bakar ke atas kobaran api kebencian yang sudah membara di dada gadis remaja itu.
"Tante mengerti banget perasaan kamu, Lea," tutur Sintia dengan nada suara yang sengaja dipanjangkan, dan terdengar penuh simpati palsu. "Siapa sih anak yang sudi liat posisi mamanya digantikan begitu cepat sama orang lain? Apalagi sama wanita yang cuma bekas guru privat! Gak ada levelnya sama sekali kalau dibandingin sama Mbak Ratna dulu."
Kalimat Sintia bagaikan angin segar yang makin membakar amarah Lea. Gadis berusia empat belas tahun itu mendongak, dan menatap tantenya dengan binar penderitaan yang jujur.
"Bener kan, Tante?! Lea gak salah kan kalau benci sama Tante Ayu?!" ceracau Lea, air mata pun kembali menetes membasahi pipinya. "Dia tuh muka dua, Tante! Di depan Papa dia akting sok lembut, sok perhatian, terus ngerebut Moana dari Lea! Kalau malam pas Moana mimpi buruk, biasanya Lea yang nenangin, tapi dia malah masuk kamar Moana dan bertindak seolah-olah dialah ibu kandungnya Moana! Posisi Lea sebagai kakak direbut gitu aja!"
Sintia terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang menyembunyikan bisa beracun di balik kata-katanya. Ia memegang kedua bahu Lea, dan menatap lurus ke dalam mata keponakannya dengan pandangan yang tajam dan manipulatif.
"Kamu tuh gak salah sama sekali, Lea. Kamu sama Kenzo itu korban!" dorong Sintia dengan nada memprovokasi yang amat pekat. "Mas Yoga, papa kamu itu lagi dibutakan sama wajah polosnya wanita itu. Kalau kamu sama Kenzo makin diam, lama-lama harta Papa kamu, rumah ini, bahkan kasih sayang Papa kamu bakal dikuasai sepenuhnya sama Ayu! Kamu mau kebun sawit dan aset Mbak Ratna jatuh ke tangan dia?"
"Gak mau, Tante! Lea gak mau!" potong Lea histeris seraya menggelengkan kepalanya rapat-rapat.
"Makanya kamu harus makin keras!" bentak Sintia pelan namun menohok. "Jangan biarkan dia merasa nyaman sedetik pun di rumah ini! Buat dia stres, buat dia merasa gak dihargai, sampai akhirnya dia nyerah dan angkat kaki dari kehidupan kalian!"
Bukannya memberikan nasihat yang menyejukkan sebagai seorang dewasa dan tante kandung yang bijaksana, Sintia justru terus menyuntikkan racun pemikiran buruk ke dalam benak Lea yang masih labil. Ia memanfaatkan rasa sakit hati dan rasa kehilangan Lea untuk kepentingannya sendiri.
Sintia kemudian menyandarkan badan, memutar bola matanya seraya menghembuskan napas panjang yang sarat akan penyesalan terselubung.
Sebuah ide gila dan ambisi kelam yang selama ini terpendam rapat di dalam hatinya mendadak menyeruak keluar melalui lidahnya tanpa filter.
"Aduh, Lea..." bisik Sintia dengan pandangan mata yang menerawang menatap langit-langit kamar, dengan suara yang terdengar begitu dramatis. "Coba saja kalau dulu Papa kamu lebih bisa mikir panjang... Andai Tante bisa menggantikan posisi mama kamu di rumah ini... pasti kalian berdua bakal jauh lebih bahagia. Rumah ini gak bakal jatuh ke tangan orang asing."
Seketika itu juga, keheningan yang aneh merayap di dalam kamar.
Lea membeku di tempatnya. Isak tangisnya terhenti mendadak. Dahi gadis remaja itu berkerut rapat, matanya membelalak menatap wajah Tante Sintia dengan kebingungan yang sangat besar.
Pikiran Lea yang masih polos itu bekerja keras. Kalimat "Andai Tante bisa menggantikan posisi mama kamu" bergema berulang kali di dalam kepalanya, namun otaknya yang masih remaja belum sanggup menjangkau makna dewasa di balik frasa tersebut. Dalam bayangan Lea, kata "menggantikan posisi" hanyalah sebatas sosok adik kandung ibunya yang datang tinggal di rumah untuk merawat mereka sebagai seorang tante.
"Maksud... Maksud Tante Sintia gimana?" tanya Lea polos dengan suara yang agak gagap. "Tante Sintia mau tinggal di sini sama kita? Mau bantu jagain Lea sama bang Kenzo di rumah ini?"
Sintia tersentak kecil saat menyadari keterlanjuran kata-katanya. Namun, bukannya meluruskan, wanita muda itu justru tersenyum misterius seraya mengelus pipi Lea dengan kelembutan yang manipulatif.
"Maksud Tante... kalau dari awal Papa kamu memilih orang yang punya ikatan darah sama Mbak Ratna, seperti Tante, kalian gak bakal pernah merasa kehilangan sosok Mama," tutur Sintia berbelit-belit, dan sengaja menanamkan bibit anggapan baru di benak keponakannya. "Tante kan adik kandungnya Mbak Ratna. Tante pasti sayang seratus persen sama kalian bertiga tanpa ada pura-pura."
Lea menundukkan kepalanya, jemarinya meremas selimut. Pikiran remajanya yang masih sangat terbatas mencoba mencerna arti pembicaraan itu.
Konsep turun ranjang, sebuah pernikahan antara seorang pria dengan adik iparnya sendiri pasca kematian sang istri, sama sekali berada di luar jangkauan logika dan pemahaman Lea.
Yang ditangkap oleh Lea saat itu hanyalah satu hal: Tante Sintia sangat membenci Ayu, dan Tante Sintia siap menjadi sekutu utamanya untuk mengusir Ayu dari rumah mereka.
"Jadi... Tante Sintia bakal bantuin Lea sama Bang Kenzo kan buat usir Tante Ayu?" desak Lea dengan mata berbinar penuh harapan yang salah arah.
Sintia mengulas senyum lebar yang dipenuhi bisa kejahatan. Ia merengkuh tubuh Lea ke dalam pelukannya, dan mengusap rambut keponakannya dengan tatapan mata yang dingin menatap dinding kamar.
"Pasti, Sayang... Tante bakal berdiri di belakang kamu dan Kenzo," bisik Sintia penuh kepalsuan. "Kita bakal bikin wanita itu sadar diri kalau dia cuma benalu di dalam keluarga ini."
Di balik dekapan hangat sang tante malam itu, Lea tidak pernah menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan alat dan pion permainan oleh ambisi kelam Sintia.
Sebuah dorongan tersembunyi yang kelak siap menghancurkan sisa-sisa keharmonisan di rumah tangga ayahnya demi sebuah posisi dan kekuasaan yang tak berhak ia miliki.
Waduh! Lea...
Bersambung...