Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Gugatan
Tiga hari setelah Ratna pindah ke kamar belakang klinik, Dimas datang membawa seorang pengacara.
Namanya Farida Lestari. Usianya sekitar empat puluh lima, memakai kerudung navy, kacamatanya tipis, suaranya tenang. Ia bukan pengacara yang banyak gaya. Tasnya sederhana, tetapi cara ia membuka berkas membuat Ratna merasa perempuan ini tahu apa yang ia kerjakan.
Mereka duduk di ruang periksa klinik setelah pasien terakhir pulang.
Raka ikut hadir lewat panggilan video. Melati tidak datang, tetapi mengirim pesan panjang yang isinya meminta Ibu jangan terburu-buru. Ratna membaca separuh, lalu menutupnya.
Farida memeriksa dokumen satu per satu.
"Ibu Ratna dan Pak Bambang menikah tercatat di KUA Kecamatan Sukamaju tahun 1987, betul?"
"Betul."
"Tidak ada perjanjian pisah harta?"
"Tidak ada."
"Rumah dan tanah dibeli setelah menikah?"
"Tanah dari bantuan orang tua saya, tapi sertifikat diurus setelah menikah dan atas nama Bambang."
Farida mencatat.
"Untuk perceraian, karena Ibu Muslim dan pernikahan tercatat di KUA, gugatan masuk ke Pengadilan Agama. Nanti ada tahap mediasi. Hakim biasanya akan menasihati agar rukun kembali. Ibu harus siap secara mental."
Ratna mengangguk.
Dimas bertanya, "Kalau Bapak menolak cerai?"
"Menolak bukan berarti gugatan berhenti. Kalau alasan kuat dan rumah tangga terbukti sulit dipertahankan, hakim bisa mengabulkan. Tapi prosesnya bisa panjang, tergantung sikap tergugat."
Raka dari layar ponsel berkata, "Alasan kuatnya banyak, Bu. Selingkuh, rumah untuk selingkuhan, makam, penghinaan."
Farida menatap layar, lalu kembali pada Ratna.
"Bukti perselingkuhan ini cukup membantu, tapi kita harus hati-hati. Chat, foto, bukti transfer, perjanjian rumah, bukti kavling makam. Jangan sebarkan ke grup atau media sosial. Simpan untuk proses hukum."
Ratna berkata, "Saya tidak ingin mempermalukan siapa pun di internet."
"Bagus. Itu akan membuat posisi Ibu lebih kuat."
Dimas membuka catatan. "Soal harta bersama?"
Farida menatap Ratna. "Ada dua pilihan. Pertama, fokus gugatan cerai dulu, lalu setelah putusan berkekuatan hukum tetap, ajukan gugatan harta bersama. Kedua, sekaligus memasukkan tuntutan harta bersama, tetapi bisa membuat proses lebih kompleks. Mengingat ada transaksi dengan Bu Sari, kita juga perlu strategi."
Ratna diam sejenak.
"Saya ingin bercerai dulu," katanya akhirnya. "Tapi uang yang dipakai untuk rumah Sari dan makam harus dicatat. Jangan sampai hilang."
Farida mengangguk. "Kita bisa sebutkan sebagai fakta dalam posita gugatan. Untuk pengembalian detail, bisa disiapkan gugatan lanjutan atau mediasi keluarga dengan perjanjian tertulis."
Raka berkata, "Jangan terlalu lunak, Bu."
Ratna menatap layar. "Aku tidak lunak. Aku hanya tidak mau seluruh sisa hidupku habis di pengadilan."
Raka terdiam.
Farida menatap Ratna dengan sedikit senyum. "Itu keputusan yang sehat."
Sore itu, Ratna menandatangani surat kuasa.
Tangannya tidak gemetar.
Setelah Farida pulang, Dimas duduk lama di kursi pasien. Di luar, langit mulai gelap. Suara anak-anak mengaji dari musala terdengar samar.
"Bu," kata Dimas.
"Ya?"
"Aku minta maaf."
Ratna menoleh.
Dimas menunduk. "Waktu awal, aku terlalu banyak menghitung. Uang, rumah, proses. Aku tahu Ibu pasti merasa..."
"Kamu anak sulung. Kamu terbiasa memikirkan beban."
"Tapi aku lupa bertanya Ibu sakit seperti apa."
Ratna tidak langsung menjawab.
Ia melihat wajah Dimas. Anak kecil yang dulu sering demam itu sekarang sudah menjadi pria dewasa, punya istri, anak, cicilan, dan ketakutannya sendiri. Ratna tidak ingin membenci anak-anaknya hanya karena mereka tidak sempurna.
"Aku juga baru belajar bertanya pada diriku sendiri," kata Ratna.
Dimas mengangguk, matanya memerah.
"Kalau nanti Bapak marah besar..."
"Biarkan."
"Kalau dia datang mengamuk ke klinik?"
"Klinik ini ada pintu. Kalau perlu, aku kunci."
Dimas tersenyum kecil meski sedih. "Ibu makin galak."
"Terlambat, ya?"
"Tidak. Mungkin memang waktunya."
Malam itu, Bambang datang.
Ratna baru selesai membersihkan alat tensi ketika bayangannya muncul di pintu klinik. Ia tidak mengetuk. Dulu ia bebas keluar masuk. Sekarang ia berhenti di ambang pintu, seolah baru sadar tempat itu bukan lagi bagian dari rumah yang bisa ia kuasai.
"Aku dengar kamu cari pengacara."
Ratna menutup laci. "Iya."
"Kamu benar-benar mau menggugat?"
"Iya."
Bambang tertawa, tetapi suaranya kosong. "Kamu berubah jadi keras karena anak-anak mengompori."
"Tidak. Aku keras karena kamu terlalu lama menginjak."
Wajah Bambang menegang.
"Ratna, aku sudah bicara dengan Sari. Rumah itu bisa dibatalkan. Makam juga."
"Bagus."
"Kalau begitu untuk apa cerai?"
Ratna menatapnya. "Karena masalahnya bukan hanya rumah dan makam."
"Aku sudah mau memperbaiki."
"Kamu mau memperbaiki setelah ketahuan."
Bambang masuk selangkah. "Apa bedanya? Yang penting aku kembali."
Ratna menatap laki-laki yang puluhan tahun tidur di sampingnya. Ia mencari sisa rasa yang mungkin bisa membuatnya luluh. Ada kenangan, tentu. Ada anak-anak. Ada masa susah. Ada tawa kecil saat cucu pertama lahir. Namun semua itu seperti foto lama yang warnanya mulai pudar.
"Aku tidak menunggumu kembali lagi," kata Ratna.
Bambang menelan ludah.
"Kamu pikir hidup sendiri enak?"
"Belum tahu."
"Kamu akan kesepian."
"Mungkin."
"Kamu akan menyesal."
Ratna tersenyum kecil. "Kalau menyesal, setidaknya itu penyesalan yang kupilih sendiri."
Bambang menatapnya lama, lalu berkata dingin, "Baik. Kalau kamu ingin perang, aku layani."
Ratna mengambil kunci klinik dari meja.
"Ini bukan perang, Bang. Ini jalan keluar."
"Jalan keluar untukmu."
"Iya," jawab Ratna. "Untukku."
Bambang seperti tidak siap mendengar jawaban itu. Ia pergi tanpa pamit.
Keesokan harinya, gugatan cerai Ratna Wulandari terhadap Bambang Santoso resmi didaftarkan di Pengadilan Agama Sukamaju.
Nomor perkara dikirim Farida lewat WhatsApp.
Ratna membaca pesan itu di ruang periksa, di antara bau antiseptik dan tumpukan kartu pasien.
Ia tidak bersorak. Tidak menangis. Tidak merasa menang.
Ia hanya menyimpan ponsel, lalu memanggil pasien berikutnya.
"Pak Hasan, silakan masuk."
Hidup belum selesai.
Justru mungkin baru mulai.
Siang itu, setelah pasien berkurang, Ratna duduk sebentar di kamar belakang. Ia membuka pesan dari Farida sekali lagi, membaca nomor perkara yang terasa asing sekaligus nyata.
Nomor itu bukan sekadar angka.
Itu tanda bahwa luka rumah tangganya tidak lagi hanya berada di dapur, kamar, dan bisik-bisik tetangga. Luka itu sudah masuk ke tempat yang punya meja, arsip, jadwal sidang, dan hakim. Entah menang atau kalah, setidaknya ada ruang di mana Bambang tidak bisa hanya berkata, "Kamu salah paham," lalu semua selesai.
Melati menelepon sore harinya.
"Bu, aku dengar dari Mas Dimas. Gugatan sudah masuk?"
"Sudah."
Di seberang sana, Melati diam cukup lama.
"Aku takut, Bu."
"Ibu juga."
Jawaban itu membuat Melati menangis pelan. Mungkin ia mengira ibunya sudah berubah menjadi batu. Ratna memang ingin kuat, tetapi kuat tidak berarti tidak takut.
"Kalau nanti hakim menyuruh rukun?"
"Ibu akan bilang Ibu sudah mencoba rukun tiga puluh tujuh tahun."
"Kalau Bapak marah?"
"Bapak sudah marah."
"Kalau orang-orang menyalahkan Ibu?"
Ratna menatap dinding kamar klinik yang kusam.
"Mereka sudah menyalahkan sebelum tahu cerita utuhnya. Jadi tidak ada yang baru."
Melati terisak. "Bu, maaf aku belum bisa seberani Ibu."
"Jangan jadi berani karena meniru Ibu. Jadilah berani sebelum hidup memaksamu."
Setelah telepon ditutup, Ratna merasakan lelah yang dalam, tetapi juga ada rasa tenang kecil. Anak perempuannya belum sepenuhnya memahami, namun pintu di antara mereka tidak lagi tertutup rapat.
Malamnya, Ratna menulis daftar kebutuhan untuk sidang pertama: pakaian rapi, map dokumen, obat maag, air minum, dan nomor Farida.
Di bagian bawah, tanpa sadar ia menulis satu kalimat.
Jangan mundur hanya karena semua orang menyuruhmu malu.
Ia menempelkan kertas kecil itu di balik pintu lemari plastik.
Tidak ada yang akan melihatnya kecuali dirinya.
Namun Ratna merasa perlu meninggalkan tanda. Selama ini seluruh rumah penuh tanda kebutuhan orang lain: jadwal obat Bambang, ukuran seragam cucu, daftar belanja, nomor tukang galon, catatan utang warung.
Untuk pertama kalinya, ada satu catatan kecil yang isinya hanya untuk Ratna.
Jangan mundur.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi sebelum mematikan lampu.
Lalu ia tidur dengan map dokumen di samping bantal, bukan karena takut hilang, melainkan karena untuk pertama kalinya kertas-kertas itu terasa seperti penjaga.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan