NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 Sibuk Sendiri, Ayah dan Ibu yang Aneh

Saat ini adalah hari penting buat Slamet. Dia terlihat sibuk sekali didalam rumahnya. Dia sedang mondar-mandiri kesana-kemari mencari minyak rambut yang biasa dipakainya, saat mendekati seorang gadis impiannya.

"Dimana ya, minyak kemiriku?" Slamet bergumam sendiri didalam hatinya.

"Biasanya ada di laci ini." Sambil Slamet mengeluarkan isi laci yang merupakan bagian dari meja kerjanya.

Slamet mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu. Sambil menggerutu sendiri,

"Lagi perlu begini, malahan tak ketemu, huft..." Slamet membatin.

Slamet yang merasa lelah dan letih pun, karena mencari minyak rambut kemiri andalannya yang tinggal beberapa tetes itupun akhirnya menyerah, Slamet berjalan ke arah kamar mandi.

"Sudahlah, pake air saja, yang penting rapi." Gerutunya sambil  memasuki kamar mandi.

Slamet masuk kedalam kamar mandi, dan menuju bak mandi, lalu Dia melihat kearah samping dimana terdapat cermin kecil tempat sabun dan sampo, setelah selesai membasahi kepalanya menggunakan air dengan telapak tangannya. Dia melihat botol kaca, berisi cairan hijau yang isinya tinggal sedikit itu.

"Sialan, ini dia yang ku cari. Minyak rambut, Sialan! Rambut sudah ku basahi, baru ketemu." Umpatnya dalam hati.

"Sial...Sial...Akh... "

Kemudian Dia memasukkan, botol minyak kemiri tersebut kedalam sakunya, lalu keluar kamar mandi setelah sebelumnya menyisir rambutnya terlebih dahulu menggunakan sisir yang biasanya disimpan dan di bawa di dalam sakunya.

Slamet segera berjalan ke depan dan menggunakan sepatu yang biasa dipakainya setiap paginya.

Aroma berbagai macam kotoran sudah tak terhingga banyaknya yang singgah baik di tapak maupun sedikit bagian samping sepatu.

Slamet keluar dari pintu rumah dan tak lupa menutupnya. .

Slamat berjalan tergesa-gesa, karena dia tahu bahwa hari ini dia sudah sangat terlambat masuk bekerja.

Jalanan di Kampung ini belum diaspal sama sekali. Jalanan masih terbuat dari tanah dan bebatuan. Jalanan juga masih kurang rata di sana-sini terdapat lubang, dan tonjolan dari batu kerikil baik yang besar maupun yang kecil.

Saat tengah berjalan dengan terburu-buru, Slamet tersandung, oleh batu yang menonjol, lalu dia terjatuh, terjerembab (dan tak bisa bangun lagi, pov:Lirik lagu) dan tak sengaja tangannya menyentuh kotoran kambing yang sering sekali berada di jalanan itu. Sebab warga kampung yang memelihara piaraan juga menggunakan jalan itu untuk mengembalakan kambingnya.

"Sialan...," Umpat Slamet penuh amarah.

"Kambing siapa sih yang berak sembarangan, nampak sekali kambing orang miskin, nggak tahu ini Jalan umum, masak berak di sini, pasti kambing orang miskin nih..." Gerutu Slamet sambil mulai bangkit dengan menahan rasa sakit di telapak tangan dan didengkul kakinya yang juga terkena batu. .

Ia pun melihat ke arah kanan dan kiri jalan, serta sambil membersihkan tangannya menggunakan dedaunan yang terdapat di pinggir jalanan itu.

"Untung saja tidak ada yang lihat, kalau tidak bisa malu sekali Aku." Sambung Slamet lagi sambil menggerutu.

Tak lupa Dia mencium tangannya,

"Sialan bau banget, kambing nggak pernah sekolah ini. Dasar kambing orang miskin." Oceh Slamet sambil menggosokkan dedaunan ke tangannya, dengan pikiran dipenuhi kedongkolan dan amarah.

Merasa sudah sedikit bersih, Slamet pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah tempat dia bekerja, sambil menggerutu.***

Dirumah Jhon.

Di tempat lain, seorang laki-laki sedang berdandan dan senyum-senyum di depan cermin, Dia sedang menggunakan pakaian terbaiknya, sebuah baju kemeja dengan lengan pendek dan celana cutbray yang terkenal pada tahun itu. Dia memakai minyak rambut, sambil menyisir rambutnya di depan cermin.

Dia bersiul-siul, sambil menyemprotkan parfum ke badannya.

Lelaki itu adalah Jhon, yang sudah termakan oleh tipu daya Slamet. Dia dijanjikan akan bertemu dengan Wati guru sekolah dasar di Kampungnya itu, yang telah memikat hatinya.

"Wati mau bertemu dengan kamu Jhon  katanya dia ada perlu, penting dengan kamu." Kenang John akan kata-kata Slamet.

"Tetapi jangan lupa kamu bawa Sari agar Aku nanti bersama Sari dan kamu bersama dengan Wati." Pinta Slamet waktu itu.

Hal ini memang membuat Jhon curiga. Dia curiga,

"Mengapa Wati mau bertemu denganku, yah?" Pikir Jhon didalam hati

"Dan.. Mengapa Aku harus membawa Sari juga bersama denganku?"

Berbagai pertanyaan timbul didalam hatinya pada waktu itu.

Tetapi Slamet berhasil meyakinkan Jhon.

"Kau Jhon harus membawa Sari supaya nantinya, Aku akan cari alasan agar dapat pergi dengan Sari sehingga Kau dan Wati dapat lebih leluasa bicara dan berduaan." Slamet memakai jurus terbaik meyakinkan Jhon waktu itu.

Sebenarnya Jhon tidak rela sama sekali untuk membawa Sari, karena Sari adalah adiknya yang dia sayangi.

Dia juga tidak terlalu suka kalau nantinya Sari menjadi istri dari Slamet. Tetapi karena Jhon sudah merasa senang akan bertemu dengan Wati dan diyakinkan oleh Slamet. Akhirnya dia pun menuruti semua permintaan dari Slamet untuk membawa Sari juga di pertemuan itu.***

Kemarin malam, saat meyakinkan Sari untuk ikut.

Jhon baru saja pulang dan masuk kedalam rumah setelah seharian bersama Slamet dan Harjo di warung Widuri.

Jhon kembali ke rumah itu sudah agak sorean, yakni menjelang gelap. Dia Kelihatan bahagia dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Jhon mandi sambil bersenandung dan bersiul-siul menunjukkan bahwa hatinya saat ini dalam keadaan sangat berbahagia.

Di luar kamar mandi, Sari bersama Ayah dan Ibunya mendengar senandung dan nyanyian dari Jhon yang berada didalam kamar mandi.

Saat ini Sari dan Ibu sedang menyiapkan makan malam.

"Sepertinya Kakakmu sedang bahagia!" Seru Ibu tua yang adalah orang tua Jhon dan Sari.

"Iya Bu, jarang sekali Kakak mandi sambil bersenandung seperti ini." Jawab Sari yang juga merasa bingung.

"Apa mungkin karena Dia mendapatkan Proyek besar!" Ibu menduga, hal itulah yang menyebabkan Jhon kelihatan bahagia saat ini.

"Tetapi sepertinya agak berbeda, Bu." Sari memberikan pendapatnya sambil tetap kelihatan berpikir dan menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya.

Ayah Jhon dan Sari hanya mengangguk sambil menikmati sebatang rokok dan kopi serta pisang goreng yang ada di meja ruang tamu. Hal ini sudah dilakukan ayah dari tadi sore, sambil menunggu jam makan malam.

Ayah, usia 60 tahun adalah mantan kepala Kampung yang sudah beberapa periode menjabat, namun setelah kematian ayah dari Harjo beliau mengundurkan diri. Ayah memiliki sawah dan kebun yang cukup luas, sehingga hasil dari pertanian dan perkebunannya saja sudah lebih dari mencukupi dari kebutuhan keluarga itu.***

"Sudah tidak perlu dipikirkan, nanti kita tanya saja, langsung kepadanya." Ayah pun akhirnya bersuara.

Jhon akhirnya keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya terlihat bersih, segar dan ceria. Tidak seperti biasanya.

"Mari makan Jhon!" Panggil Ibu.

"Baik Bu." Jawab John dengan cepat.

Ayah yang sedari-tadinya duduk di ruang tamu pun berjalan menuju ruang makan dan duduk di kursi meja makan. Begitu juga dengan Jhon yang sudah selesai mandi.

Sari sedang mengisi nasi ke piring. Ayah dan John mulai duduk di atas kursi meja makan di mana Ibu sudah duduk dari tadi, sambil menata piring dan lauk-pauk.

"Mengapa Kakak kelihatan berbeda sekali hari ini?"

Tanya Sari sambil mengisi piring dengan nasi lalu menaruhnya di meja di hadapan Jhon, lalu dihadapan Ayah dan Ibu serta buat Sari sendiri tentunya.

"Iya Jhon. Ibu juga merasa begitu, dari tadi kamu bersenandung terus, nggak biasanya?"

Tanya Ibu menyambung pertanyaan dari Sari.

"Ah nggak ah Bu, biasa aja kok."

Jawab Jhon dengan malu-malu mencoba merahasiakannya.

"Masa sih?"

Sari masih kelihatan tak percaya dan mencoba menggali apa sebenarnya yang terjadi dengan Jhon.

"Nggak biasa aja kok, nggak ada yang berbeda." Jawab Jhon menutupi apa yang ada di dalam hatinya.

"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu," kata Ayah sambil mulai memimpin doa.

Ibu, Sari dan John pun ikut berdoa dipimpin oleh Ayah, sebelum mereka mulai makan.***

Di keluarga John saat makan mereka juga sering mengobrolkan segala sesuatu yang dirasakan perlu.

Jhon mulai mengambil ikan dan sayur lalu mulai memakan makanannya.

Ayah sudah mulai makan, Ayah yang sedari-tadi sore kelihatannya sudah lapar sekali, mulai makan dengan lahap.

Sari dan ibu juga demikian mulai memakan makanannya.

Namun Sari tak dapat menahan dirinya, lalu bertanya.

"Masa sih nggak ada Bang?"

Tanya Sari yang masih terlihat penasaran sekali, di sela-sela Sari memakan makanannya.

"Iya, nggak ada. Serius Dik nggak ada, masa nggak percaya sih sama Aku"

Jhon memberi penjelasan, walaupun Dia tahu orang tuanya dan Sari pasti tidak akan percaya.

Tiba-tiba John mendapatkan ide untuk mengajak Sari seperti permintaan Slamet.

"Ya sudah kalau nggak percaya. Besok ikut Kakak deh jalan-jalan ke pinggir kali, di sana ada warung tempat makan-makan yang baru saja dibangun."

Jawab Jhon, mencoba mengajak Sari. Setelah dia mendapatkan ide, mengalihkan pembicaraan.

"Iya benar di situ ada warung yang baru saja dibuka, Ayah juga sudah dengar"

Ayah membenarkan cerita Jhon mengenai rumah makan baru yang berada dipinggir sungai itu.

"Oh baru toh, pantesan Ibu belum tahu ada tempat makan di situ, tetapi Ibu nggak bisa ikut ya!"

Jawab Ibu menolak ajakan Jhon, Ibu menduga mereka sekeluarga diajak semuanya.

"Iya dong, Bu, yang Jhon ajak kan Sari, Bu!" jawab Jhon cepat.

"Kan, rencananya yang ke sana cuma anak-anak muda saja, yang belum pernah menikah Bu!"

Ujar Jhon menjelaskan lagi.

"Kenapa kak, kan bisa saja Ibu atau Ayah ikut?"

Sari merasa bingung dengan jawaban Jhon.

"Oh itu, di sana ada teman kakak dan juga Bu Wati. Rencananya besok mau ke sana sambil menikmati malam mingguan." Jhon lebih berani untuk terbuka.

"Oh, Wati guru SD itu. Dia kan temen aku Kak"

Sari memberi tahukan kepada Jhon bahwa Wati adalah teman dari Sari.

"Kamu kenal dengan Wati?" Jhon sedikit terkejut.

"Kalau begitu bagus deh, kamu bisa bertemu juga dengannya" Jhon melanjutkan perkataannya.

Didalam hatinya dia berkata, "Mengapa nggak tahu dari awal, kalau tahu dari awal, lebih baik aku minta Sari yang kenalkan aku."

"Iya waktu kegiatan PPL Penyuluhan Pertanian Lapangan di balai Kampung, aku kan ikut, Wati juga ikut. Di situlah kami berkenalan juga dengan Jo" Sari memberi penjelasan panjang lebar.

"Oh begitu" Jhon menganggukkan kepala sambil tersenyum.

"Memangnya, Kakak ada hubungan apa dengan Wati. Kakak suka ya?"

Tanya Sari penuh menggoda John dengan rasa penasaran.

"Enggak Kakak belum ada hubungan apa-apa dengan Wati" Jawab Jhon sedikit gugup.

"Tetapi kamu bisa ikut kan, besok?" Tanya Jhon untuk menghilangkan rasa gugupnya.

"Oke, Aku ikut" Jawab Sari cepat dan pasti.

Sari berpikir akan bertemu dengan lelaki yang dia kagumi dari kecil. Sari yakin akan bertemu dengan laki-laki itu lagi disana nantinya. Sehingga dia menyetujui untuk ikut serta.

" Oke deh, baguslah!" Jawab Jhon merasa lega.

Jhon merasa lega karena Sari sudah memutuskan akan ikut serta besok. Dia pun memakan makanannya dengan lahap sambil tersenyum, hatinya terasa lega sekali.

Selesai makan mereka semua bercengkrama di ruang tamu sampai akhirnya semua orang kembali masuk ke kamar masing-masing.***

Di dalam kamar Ayah belum tidur, sedangkan Ibu mulai merebahkan badannya di atas kasur.

Ayah mulai berbincang dengan Ibu, karena dalam hatinya menyimpan banyak pertanyaan.

"Bu, Bu sudah tidur?" Ayah menggoyangkan pundak Ibu. Ayah ingin memastikan bahwa Ibu sudah tertidur atau belum.

"Belum, kenapa Yah?" Tanya Ibu.

"Ayah mau ya?" Tanya Ibu, berpikir kalau Ayah ingin olahraga malam berdua.

"Nggak, bukan itu Ayah masih lelah" Jawab Ayah cepat.

"Kirain..." Ibu merasa sedikit sebel.

"Terus, Ada apa Yah?" Tanya ibu menyambung perkataannya tadi.

"Ini Ibu tahu nggak pemilik warung pinggir sungai yang baru saja didirikan itu. Siapa pemiliknya?" Tanya ayah panjang lebar.

"Tidak tadi kan Ibu sudah katakan Ibu belum tahu kalau di pinggir sungai sudah didirikan sebuah warung baru. Bagaimana mungkin Ibu tahu siapa pemiliknya?" Jawab Ibu memberi penjelasan.

"Ayah dengar sih, seorang janda muda, dan memiliki beberapa pelayan yang cantik dan sexy. Jangan-jangan Jhon tertarik kepada mereka. Mereka-kan belum jelas, asal usulnya, Ayah kurang setuju!" Ayah menjelaskan maksud dihatinya.

"Sudah nanti kalau Ibu ada waktu, Ibu akan tanyakan kepada Jhon. Sekarang mari tidur dahulu, Ibu sudah mengantuk sekali." Jawab Ibu yang sudah mulai tertidur.

Mendengar jawaban Ibu, Ayah akhirnya sedikit tenang.

Mereka pun akhirnya tertidur pulas.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!