NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:88.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Ketika Masa Lalu Kembali

Langlang berdiri menatap gedung tinggi yang menjulang di hadapannya.

Aksara Group. Salah satu perusahaan besar di negeri ini.

"Semoga aja ada lowongan," gumamnya.

Ia kemudian melangkah memasuki lobby dengan membawa tas sederhana yang tersampir di bahunya.

Namun baru beberapa langkah, pandangannya tertumbuk pada dua perempuan di meja resepsionis.

Langlang langsung melebarkan mata. "Nara? Riva?"

Percakapan Aynara dan Riva seketika terhenti. Keduanya membeku sesaat sebelum perlahan menoleh.

"Langlang?" gumam Aynara.

Riva ikut menatap pria yang baru datang itu. Kemeja putih sederhana yang dikenakan Langlang dipadukan dengan celana kain hitam. Sebuah tas kerja sederhana menggantung di bahunya.

"Kamu nyari lowongan kerja?" tanya Riva.

"Iya." Langlang kemudian mengalihkan pandangan kepada Aynara. "Kamu juga?"

Aynara mengangguk singkat. "Hm."

Langlang kembali menatap Riva. "Kamu kerja di sini, Riv?"

Riva mengangkat alis. "Kelihatannya?"

Langlang terkekeh kecil. "Ah, iya juga." Ia kemudian mengusap rambutnya. "Gak nyangka bisa ketemu kalian di sini."

Aynara melirik jam di pergelangan tangannya. Ia teringat janji dengan Asti. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya, Riv. Takut sudah ditunggu."

"Oke. Selamat bersenang-senang." Riva tersenyum. "Hati-hati."

"Siap." Aynara kemudian menoleh kepada Langlang. Ia hanya mengangguk kecil sebagai salam sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan lobby.

Tanpa kata mata Langlang mengikuti punggung Aynara yang semakin jauh hingga perempuan itu menghilang di balik pintu.

Riva menyandarkan kedua tangannya di meja resepsionis. "Kamu jadi mau melamar kerja atau mau lihatin mantan sampai pintunya ditutup?"

Langlang tersentak dan segera menoleh. "Ah, iya. HRD-nya di sebelah mana, Riv?"

"Ck. Ck. Ck." Riva menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baru juga ketemu, udah lupa tujuan awal."

Ia kemudian menunjuk ke arah koridor di sebelah kanan. "Ke sana. Naik lift ke lantai lima. Bagian HRD ada di ujung koridor."

Langlang mengangguk. "Makasih, Riv."

Ia berjalan menuju lift, tetapi sebelum masuk, matanya kembali melirik ke arah pintu tempat Aynara tadi pergi.

Entah mengapa, pertemuan singkat itu membuat pikirannya sedikit terusik. Aynara yang tadi dilihatnya terlihat berbeda.

Dan yang paling membuatnya heran... perempuan itu bahkan tidak berusaha mengajaknya berbicara lebih lama.

"Sejak menikah dia benar-benar berubah."

***

Aynara memasuki kafe dengan langkah sedikit tergesa. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari nomor meja yang sebelumnya disebutkan Asti.

Begitu menemukan meja yang dimaksud, bibirnya otomatis melengkung. Asti sedang duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya.

Aynara bergegas menghampiri wanita paruh baya itu. "Ma, maaf aku terlambat."

Mendengar suara itu, Asti langsung tersenyum lebar dan mengangkat wajah. Namun, senyumnya seketika membeku. Matanya terpaku pada gadis yang berdiri di hadapannya.

Seorang perempuan dengan pakaian sederhana, rambut tertata rapi, dan wajah tanpa riasan berlebihan. Tidak ada kemewahan yang mencolok dari penampilannya, tetapi kecantikan alaminya justru membuat Asti sulit mengalihkan pandangan.

Asti mengerjapkan mata beberapa kali. "Kamu... Aynara?"

Aynara tersenyum kecil. "Iya, Ma. Ini aku, Nara."

Asti masih terdiam. Dalam ingatannya, wajah Aynara pada hari pernikahan masih jelas. Wajah gadis itu sembap, kemerahan, dan dipenuhi bintik-bintik akibat alergi. Bahkan saat itu Asti tidak bisa melihat jelas seperti apa wajah asli menantunya.

Namun gadis yang berdiri di depannya sekarang... sungguh berbeda.

"Ya ampun..." Asti akhirnya beranjak dari duduknya. Matanya membulat kagum. "Ternyata menantu Mama cantik banget."

Aynara terkekeh kecil. "Mama bisa aja."

"Bukan bisa aja." Asti menggeleng cepat. "Ini kenyataan."

Asti kemudian meraih tangan Aynara dan menariknya agar duduk di sampingnya. "Jujur, Mama sampai gak percaya."

Aynara tersenyum tipis. "Kenapa?"

"Karena waktu pertama kali lihat kamu, Mama kira wajahmu..." Asti menghentikan ucapannya, lalu tersenyum kikuk. "Pokoknya Mama gak nyangka kalau kamu secantik ini."

Aynara hanya tersenyum malu.

Asti memperhatikan wajah menantunya sekali lagi. Dalam hati, ia menghela napas. "Kalau saja Aksa tahu wajah istrinya yang sebenarnya..."

Namun sesaat kemudian Asti teringat bagaimana putranya memperlakukan Aynara. Senyumnya perlahan memudar. "Anak itu benar-benar keterlaluan."

Asti mengangkat tangan memanggil pelayan yang kebetulan melintas. "Mau pesan apa, Ra?"

Aynara melirik daftar menu yang ada di atas meja. "Aku ikut Mama aja."

"Jangan begitu," ujar Asti lembut. "Pilih sendiri."

Aynara akhirnya menunjuk salah satu minuman dan makanan ringan yang tertera di menu. "Yang ini aja, Ma."

Asti mengangguk, kemudian memesan minuman dan beberapa makanan ringan untuk mereka berdua.

Tak lama kemudian, pesanan datang. Aynara menyeruput minumannya perlahan, sementara Asti mulai membuka percakapan.

"Kamu sekarang tinggal di mana, Ra?"

Aynara terdiam sejenak sebelum menjawab jujur, "Untuk sementara masih di rumah Ayah."

Asti mengangguk pelan. "Mama sebenarnya ingin kamu tinggal di rumah bersama Aksa."

Aynara hanya tersenyum tipis. Ia tidak ingin membicarakan masalah rumah tangganya terlalu jauh.

Asti pun tidak memaksa. Sebaliknya, ia mengalihkan pembicaraan ke hal-hal sederhana. Mulai dari masa kuliahnya, makanan yang disukai, sampai cerita-cerita kecil tentang Aksa ketika masih kecil.

"Jadi waktu kecil Aksa pernah jatuh dari pohon?" Aynara menahan tawa.

Asti langsung tertawa. "Bukan cuma jatuh. Dia nangis sambil bilang gak sakit."

Aynara akhirnya terkekeh. "Padahal sakit, 'kan?"

"Sakit banget." Asti ikut tertawa. "Tapi gengsinya setinggi langit."

Mereka kembali tertawa. Tanpa terasa, obrolan yang awalnya terasa canggung perlahan mengalir begitu saja. Tidak ada lagi jarak antara ibu mertua dan menantu yang baru hitungan hari menikah.

Asti bahkan beberapa kali menyendokan camilan ke piring Aynara ketika melihat gadis itu hanya mengambil sedikit.

"Ini enak. Coba."

Aynara menurut. "Enak, Ma."

"Nah, 'kan?"

Aynara tersenyum. Entah mengapa, berada di samping Asti membuat hatinya terasa begitu nyaman.

Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada perkataan yang membuatnya merasa rendah. Bahkan ketika berbicara, Asti selalu membuatnya merasa dihargai.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aynara bisa tertawa dan berbicara dengan seorang perempuan yang rasanya seperti sudah dikenalnya bertahun-tahun.

Asti pun merasakan hal yang sama. Ia tidak menyangka bisa sedekat ini dengan menantunya dalam waktu sesingkat itu.

Padahal baru beberapa hari mengenal Aynara.

Namun rasanya... mereka seperti ibu dan anak yang sudah lama terpisah lalu akhirnya dipertemukan kembali.

Obrolan mereka terus mengalir hingga tanpa terasa makanan ringan di atas meja hampir habis.

Asti tersenyum memandang Aynara. Entah mengapa, semakin lama berbincang, semakin ia merasa nyaman dengan gadis itu.

"Ra..."

"Hm?"

Asti mencondongkan tubuh sedikit. "Ikut Mama, yuk."

Aynara mengernyit penasaran. "Ke mana, Ma?"

Senyum Asti mengembang tipis. "Ketemu Aksa."

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari apa yang pertama kali kita lihat. Sebab, kesan pertama hanya menunjukkan satu sisi dari dirinya, sementara mengenal seseorang membutuhkan waktu, perhatian, dan hati yang terbuka.”...

...“Ada orang yang baru kita kenal beberapa hari, tetapi mampu memberi rasa nyaman yang tidak pernah kita dapatkan dari mereka yang sudah bertahun-tahun berada di sekitar kita. Karena kedekatan bukan tentang berapa lama kita mengenal seseorang, melainkan tentang bagaimana ia memperlakukan hati kita.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Aksa punya kembaran yang dinyatakan meninggal. Apa bayi Arsa telah ditukar oleh seseorang ?

Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.

Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.

Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!