[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya! Menjadi Ksatria Magang Tingkat 1
Tiga hari telah berlalu sejak Simon Blake melarikan diri dari kobaran api yang menghancurkan benteng bandit.
Jubah hitamnya kini tampak compang-camping, sementara tudungnya ditarik rendah hingga hanya menyisakan siluet mulut dan setengah hidungnya yang terlihat.
Di punggungnya, ia memanggul karung goni berisi daging hasil buruannya selama perjalanannya, sebuah perjuangan hidup mati melawan hewan buas yang berhasil ia atasi, mungkin berkat keberuntungan.
Simon berhenti sejenak untuk memanggil panel pribadinya yang sunyi.
Nama: Simon Blake
Usia: 16 tahun
Pekerjaan: Calon Magang Ksatria
Keterampilan: Pernafasan Ular Hitam: Dasar (98/100).
"Hanya dua poin lagi sebelum aku resmi menjadi Ksatria Magang Tingkat 1," batin Simon dengan mata merah yang tersembunyi di balik bayang-bayang jubah.
Dari titik itulah, perjalanan sejatinya sebagai seorang ksatria di Benua Varent akan benar-benar dimulai.
Tak jauh di depan, pandangan Simon tertuju pada sebuah karavan dagang yang terhenti.
Roda kereta kayu mereka terperosok sangat dalam ke dalam kubangan lumpur yang mengeras dan lengket.
Beberapa prajurit pendamping kelihatannya sudah kehabisan tenaga mencoba mengangkat beban berat tersebut.
......
Micel, pria paruh baya dengan rambut coklat yang kini berantakan, mendengus tidak puas sembari menyeka keringat di dahinya. Amarahnya memuncak melihat tentara bayaran yang ia sewa justru terlihat tidak berdaya menghadapi genangan lumpur.
"Kalian tidak berguna! Sia-sia aku membayar kalian mahal!" bentak Micel dengan nada tajam.
Pikirannya berantakan, kontrak pengiriman persediaan ini dengan Baron Brent adalah masalah hidup dan mati.
Jika ia gagal tiba sebelum esok hari, denda yang tertulis di kontrak akan menghancurkan keuangannya.
Sebagai seorang pedagang, kegagalan finansial sering kali berarti akhir dari segalanya.
"Aku bisa membantu menarik kereta kuda ini dari lumpur," sebuah suara yang tenang namun dingin memecah kepanikan Micel.
Micel menoleh, menatap curiga ke arah suara sosok yang baru muncul.
Orang itu mengenakan jubah hitam compang-camping yang aneh, menutupi sebagian besar wajahnya.
"Siapa kau? Ah, itu tidak penting saat ini. Jika kau memang bisa membantu, aku akan sangat berterima kasih," ucap Micel, meski matanya tetap waspada menatap orang asing tersebut.
"Tentu saja bantuan ini tidak gratis," sela Simon datar.
"Jika aku berhasil melakukannya, kau harus memberiku 5 koin emas sebagai bayaran, Bagaimana?"
Dalam hatinya, Simon merenung, 'Seharusnya 5 koin emas bukan jumlah besar bagi pedagang kaya ini. Aku butuh modal untuk membeli ramuan ksatria nanti.'
Micel sempat ragu. 5 koin emas adalah jumlah yang cukup signifikan bagi orang biasa, namun jika dibandingkan dengan denda denda keterlambatan yang harus dibayarnya kepada Baron Brent, nilai itu jauh lebih kecil.
"Baiklah, aku setuju. Lima koin emas jika kau bisa mengeluarkannya," kata Micel akhirnya.
"Sepakat," balas Simon singkat.
Simon melangkah mendekati kereta kuda yang terjebak. "Menyingkir," perintahnya kepada para tentara bayaran.
Salah satu tentara bayaran yang bertubuh kekar menoleh, menatap Simon dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Hah! Tubuh kurus sepertimu bisa apa? Kami yang berlima saja tidak sanggup, apalagi bocah compang-camping sepertimu—"
Belum sempat tentara itu menyelesaikan kalimatnya, Simon sudah mengambil posisi kuda-kuda rendah.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengalirkan kekuatannya ke seluruh otot lengan. Dengan satu sentakan kuat yang tenang, Simon mengangkat bagian belakang kereta kuda tersebut seolah-olah beban itu hanya terbuat dari kayu ringan.
KRETEK!
Lumpur yang menempel dipaksa lepas. Kereta itu terangkat ke tanah yang lebih keras hanya dalam satu gerakan.
Mulut para tentara bayaran itu melebar, mata mereka seolah ingin keluar dari rongganya. Keheningan mencekam seketika menyelimuti karavan tersebut.
"Kau... kau seorang ksatria kah?" tanya salah satu dari mereka dengan suara gemetar penuh ngeri.
Kehebohan pecah di antara para pengawal lain. Mereka saling berbisik panik, menyadari bahwa pemuda misterius ini memiliki kekuatan fisik setingkat Ksatria Semu yang mampu menggulingkan beban masif dengan tangan kosong.
Micel berdiri terpaku, wajahnya memucat karena terkejut. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang ksatria dengan kekuatan luar biasa di wilayah terpencil dan terabaikan ini.
Simon menurunkan kembali kereta itu dengan perlahan, lalu menoleh ke arah Micel sembari mengulurkan telapak tangannya. menunggu bayaran yang dijanjikan.
Micel segera menyerah kantung berisi koin emas ke tangan Simon.
"Jika kamu tidak percaya liat dulu saja." Kata Micel.
"Tidak, aku percaya pada kamu." Kata Simon sambil memainkan kantung uang itu.
Micel masih kepikiran, apa itu ksatria? dalam tatanan sosial, seorang ksatria bukanlah sekadar prajurit biasa.
Mereka adalah entitas manusia super yang melatih tubuh dengan teknik pernapasan, sebuah metode kuno yang sangat sulit didapatkan karena dimonopoli sepenuhnya oleh kaum bangsawan dan petinggi gereja.
Jikapun kamu punya teknik pernafasan, Untuk melatih seorang ksatria saja, dibutuhkan bakat yang mumpuni serta sumber daya finansial yang sangat besar.
Micel, sang pedagang, berdiri terpaku saat menyadari bahwa pemuda kurus di hadapannya adalah seorang praktisi ksatria.
Ekspresi acuh tak acuhnya seketika berubah menjadi pandangan menjilat. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya sembari berdehem untuk memecah keheningan, lalu menoleh tajam ke arah tentara bayarannya yang masih tertegun.
"Kenapa kalian diam saja?! Segera selesaikan persiapan! Kita harus berangkat sekarang agar tiba di wilayah Baron Brent sebelum fajar menyingsing!"
Bentak Micel, memberikan otoritas yang sempat hilang. Ia kemudian berbalik ke arah Simon dengan senyum yang sangat ramah.
"Astaga, saudaraku, ternyata kau adalah seorang ksatria. Jika tidak keberatan, maukah kau masuk ke dalam kereta dan mengobrol denganku? Kau pasti memiliki tujuan ke wilayah Baron Brent, bukan?"
Simon hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dan mengikuti Micel masuk ke dalam kemewahan kereta kuda tersebut. Di dalam, sembari kereta mulai melaju.
"Untung saja ada kamu saudara ku, jika tidak ada kamu aku tidak tau harus berkata apa, jika kontrak gagal kafilah dagangku mungkin sjaa bangkrut." Kata Micel dengan lesu.
"Oh, jadi tuan micel juga ada urusan di wilayah baron brent?" Tanya Simon.
"Tentu aku harus mengirim persediaan ini ke sana, ngomong-ngomong kalau boleh tau , saudaraku kamu berasal dari mana?" Micel menatap Simon dan mengangguk.
"Dan mengapa pakaian mu sedikit kacau?"
Micel menanyakan asal-usul Simon.
Simon, yang memiliki jiwa realistis dari abad ke-21, memberikan alasan palsu bahwa ia berasal dari keluarga ksatria yang jatuh di wilayah Utara yang sangat jauh.
"Astaga! Bukankah wilayah itu di serang orang para bar-bar, syukurlah kamu bisa keluar dari sana saudaraku."
Micel tampak terkejut mendengar hal itu. Ia mengetahui melalui informasi perdagangan bahwa wilayah Utara akhir-akhir ini memang telah jatuh ke tangan para barbar yang beringas.
"Ini cuma keberuntungan." Kata Simon.
Setelah berbincang cukup lama, kelelahan akhirnya membuat Micel tertidur pulas. Simon memanfaatkan momen tersebut untuk duduk bersila dan kembali melatih ritme napasnya.
[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]
Seketika, sebuah arus hangat yang pekat menyelimuti seluruh tubuh Simon, mengalir deras melalui pembuluh darah dan memperkuat kepadatan ototnya.
Kekuatannya meningkat drastis!
Hal ini memberikan sugesti kuat untuk Simon agar segera melepaskan energi tersebut.
Di dalam benaknya, Simon merasakan keinginan untuk menghantam sesuatu guna menguji batas kekuatannya.
Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 1
Keterampilan: Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 0/200
Pada panel pribadinya, status 'Calon Ksatria Magang' telah berubah menjadi Ksatria Magang Tingkat 1.
Jika sebelumnya ia hanya mampu berhadapan dengan satu orang, kini Simon merasa yakin mampu melumpuhkan sepuluh manusia biasa sekaligus dengan tangan kosong.
Tekad yang kuat membara di dalam hati Simon saat ia merasakan denyut kekuatan di genggamannya.
"SERANGAN MUSUH!"
Namun, lamunan Simon terhenti ketika sebuah suara gaduh dan ringkikan kuda yang panik terdengar dari luar.
Kereta kuda berhenti secara mendadak, membuat Micel terbangun seketika dengan mata terbelalak tampak sangat terkejut.
"Apa yang terjadi?!" tanya Micel gemetar.
Simon tidak menjawab.
Ia segera keluar dari kereta dan mendapati sekelompok bandit telah mengepung karavan mereka sepenuhnya.
Para tentara bayaran tampak beradu argumen dengan kelompok kriminal tersebut, namun hanya dibalas dengan tawa meremehkan.
Pemimpin bandit, yang mengenakan bandana merah, melangkah maju sembari menjilat bilah pedangnya dengan tatapan haus darah.
"Serahkan seluruh isi kereta dan harta benda kalian jika ingin nyawa kalian tetap utuh!" ancam sang pemimpin bandit bandana merah.
Micel, dengan wajah pucat pasi, mencoba bertahan. "Ini adalah seluruh aset dagangku dan kontrak resmi dengan Baron! Aku tidak akan menyerahkannya begitu saja!"
"Kalau begitu, matilah disini mweheheh!."
Pemimpin bandit itu tertawa keras, lalu memberikan perintah kepada bawahannya. "SERANG! Jarahan ini akan kita bagi rata untuk seluruh saudara!"
Mendengar hal itu, para bandit bersorak semangat dan mulai menerjang.
"Lindungi tuan Micel!"
Tentara bayaran segera membentuk formasi pelindung di sekitar Micel. Di tengah ketakutan yang melanda rombongan tersebut,
Di sisi lain Simon justru berdiri dengan tenang. Di balik tudung jubah hitamnya, sebuah senyum menyeramkan terukir.
Bukankah ini kebetulan sekali? Aku baru saja ingin menguji kekuatan baruku, dan bandit-bandit ini seolah dikirim langsung dari surga untukku? batin Simon.