[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Kesepakatan
Matahari pagi mulai merayap naik, membiaskan cahaya jingga pucat yang menembus celah-celah jendela berdebu di paviliun timur. Udara dingin sisa malam masih terasa menusuk kulit, namun hal itu tidak menyurutkan langkah Fang Hua yang sudah terbangun sejak pagi buta.
Ia berdiri di dekat meja kayu tua, sibuk merapikan beberapa peralatan medis kecil dan sisa botol kimia yang ia bawa dari abad 21. Di sudut ruangan, Luo Huanran masih terlelap tenang di atas balai-balai bambu, napasnya terdengar teratur setelah melalui hari yang melelahkan kemarin. Fang Hua sengaja tidak membangunkan gadis itu; ia ingin berkeliling sebentar untuk memetakan situasi di sekitar kompleks istana barat yang luas dan sunyi ini.
Dengan langkah senyap, Fang Hua membuka pintu kayu paviliun secara perlahan. Ia memastikan serbuk pelindung yang ditaburnya semalam masih utuh. Begitu keluar, aroma tanah basah dan kabut tipis langsung menyambut indra penciumannya.
Suasana di luar tampak sangat lengang. Tidak ada pelayan istana yang berlalu-lalang, tidak ada suara bising obrolan prajurit, yang terdengar hanya desiran angin pagi yang menggoyang dahan-dahan pohon kering di halaman.
Fang Hua berjalan menyusuri koridor batu yang dipenuhi lumut, mengamati setiap struktur bangunan dan titik-titik pos penjagaan. Dari informasi yang ia kumpulkan secara visual, istana barat ini dirancang layaknya sebuah benteng isolasi. Siapa pun yang dikirim ke sini memang sengaja dibiarkan terisolasi dari dunia luar hingga perlahan-lahan runtuh mentalnya.
"Melangkah selangkah lagi, dan kau tidak akan bisa kembali bernapas."
Sebuah suara bariton yang dingin dan berat tiba-tiba bergeming dari arah belakang, memecah kesunyian pagi secara mutlak.
Fang Hua sama sekali tidak terkejut. Langkah kakinya terhenti seketika, namun ia tidak langsung berbalik badan dengan panik. Ia tahu betul siapa pemilik suara baritone yang sangat khas itu.
Perlahan-lahan, Fang Hua memutar tubuhnya menghadap ke sumber suara. Beberapa meter di hadapannya, berdiri sosok Pangeran Kelima, Wang Yiche. Pagi ini, pria itu tidak mengenakan topeng besi peraknya, memperlihatkan garis wajah aslinya yang sangat tajam, rahang yang tegas, serta sepasang mata elang kelam yang menatapnya tajam. Namun, di pelipis kiri hingga mendekati tulang pipinya, terpampang jelas sebuah luka bakar memanjang berwarna kemerahan yang terlihat cukup mengerikan, bukti nyata dari tragedi masa lalu yang mengubah hidupnya.
Fang Hua menatap luka itu sekilas tanpa secuil pun rasa jijik atau takut di matanya. Tatapannya tetap datar, objektif, layaknya seorang peneliti yang sedang mengamati sebuah data klinis.
Wang Yiche menyipitkan matanya melihat reaksi gadis di hadapannya. Biasanya, orang-orang istana atau pelayan yang tidak sengaja melihat wajah aslinya, terutama luka bakar tersebut,akan langsung menjerit ketakutan, menutup mata, atau gemetar sujud memohon ampun. Namun, gadis dari keluarga Luo ini justru berdiri tegak menatapnya lurus-lurus.
"Cukup menarik," ucap Wang Yiche sinis, melangkah mendekat perlahan dengan tangan bersedekap di dada. "Para gadis bangsawan ibu kota biasanya akan pingsan ketakutan jika melihat wajahku tanpa topeng. Tapi kau... sepertinya kau justru sedang menilai seberapa parah kerusakan jaringan kulitku."
Fang Hua menyunggingkan senyuman tipis yang sangat misterius. Ia melipat kedua tangannya di dada, menyamai sikap sang pangeran.
"Jaringan kulit yang mengalami luka bakar tingkat dua akhir memang akan meninggalkan bekas scar hipertrofik jika tidak ditangani dengan perawatan antiseptik dan salep regenerasi sel yang tepat di masa lalu," jawab Fang Hua tenang, menggunakan istilah medis modern yang sama sekali asing di telinga orang-orang Dinasti Tang. "Jadi, daripada menilai seberapa parah kerusakannya, aku lebih tertarik pada fakta bahwa kau masih bisa bertahan hidup dengan sistem saraf yang begitu tegang."
Wang Yiche tertegun di tempatnya. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa cela, memuat kosakata aneh yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya. Alis tebal pria itu bertaut tajam.
"Istilah apa itu? Racun baru dari istana pusat?" desis Wang Yiche, melangkah semakin dekat hingga jarak mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal saja. Tekanan intimidasi yang luar biasa besar kembali menguar dari tubuh sang pangeran. "Katakan, Nona Luo... siapa sebenarnya yang mengirimmu ke sini? Apa tujuannya menjadikanmu pengantin bayangan di sarangku?"
Alih-alih mundur karena terdesak, Fang Hua justru mendongakkan dagunya lebih tinggi, menatap tepat ke dalam manik mata pria itu tanpa gentar sedikit pun.
"Tidak ada yang mengirimku ke sini atas dasar sukarela selain keserakahan keluarga Jenderal Luo yang ingin membuangku," balas Fang Hua tajam tanpa ragu. "Tapi jika kau mengira aku adalah mangsa yang bisa kau intimidasi dengan tatapan membunuh itu, maka kau salah besar, Yang Mulia. Kita berdua sama-sama orang buangan di tempat ini. Daripada saling mengancam di pagi buta, bukankah jauh lebih menarik jika kita membuat kesepakatan?"
Udara di koridor tua itu mendadak terasa semakin membeku. Wang Yiche menatap lekat-lekat sosok gadis di hadapannya, merasakan debaran asing yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan kebencian.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️