NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara Pesan di Kaki Lima

Reza mengusulkan makan malam di luar hotel, dan tanpa diduga, Madoc yang pertama kali bilang mau ikut.

"Ada tempat makan enak deket sini," kata Reza, menutup laptopnya setelah sesi sore selesai. "Warung nasi Bandung yang legendaris, jalan kaki doang dari hotel. Siapa yang mau ikut?"

Enam tangan terangkat—Gwen, Bas, dan empat anggota tim lain—semua antusias, sudah bosan dengan menu hotel yang itu-itu saja sejak kemarin.

"Saya ikut," kata Madoc, tiba-tiba.

Ruangan hening sebentar. Reza menoleh, agak kaget. "Bapak yakin? Itu warung kaki lima, Pak, bukan restoran."

"Gak masalah," katanya, mencoba terdengar santai. "Saya juga pengen coba."

Elias, yang berdiri di dekat pintu mengemasi peralatan presentasi, menahan senyum sambil menggeleng pelan. Dia tahu persis apa yang jadi alasan sebenarnya di balik keputusan mendadak itu, tapi memilih untuk tidak berkomentar apa-apa.

---

Warung nasi itu ramai, bangku-bangku kayu panjang berjejer di bawah tenda terpal, asap kambing bakar mengepul dari sisi kanan, dan antrean pemesanan cukup panjang untuk ukuran malam biasa.

Gwen berjalan di depan, sudah hafal cara memesan di tempat seperti ini—dia sering makan di warung kaki lima sejak kuliah, kebiasaan yang tidak pernah hilang meski sekarang gajinya jauh lebih besar dari dulu.

"Nasi campur, satu," katanya ke ibu penjual, cepat dan jelas. "Ayam bakar, tempe, sama sayur asem. Es teh manis."

Madoc berdiri di belakangnya, menatap papan menu yang ditulis tangan dengan spidol di atas kertas karton, penuh singkatan yang tidak sepenuhnya dia mengerti.

"Mau pesen apa, Pak?" tanya ibu penjual, menatapnya menunggu.

Madoc membaca papan menu itu sekali lagi. _Nasi + ayam kremes / nasi + gepuk / nasi + jeroan / nasi + paru._ Dia tidak pernah dengar istilah "gepuk" seumur hidupnya, dan "jeroan" terdengar seperti sesuatu yang mungkin sebaiknya tidak dia coba tanpa persiapan mental.

"Yang... biasa aja," katanya, akhirnya, mencoba terdengar tidak terlalu bingung.

Ibu penjual mengangkat alis. "Biasa gimana, Pak?"

"Yang gak terlalu... eksotis."

Gwen, yang sudah selesai memesan dan menunggu di sampingnya, menoleh, menahan senyum geli. "Bapak mau nasi campur biasa juga? Isinya ayam, tahu, sama sayur. Aman."

"Iya," kata Madoc, cepat, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari situasi yang lebih rumit dari yang seharusnya. "Itu aja."

"Level pedesnya, Pak?" tanya ibu penjual lagi.

Madoc menatap Gwen, panik kecil yang tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan.

"Yang sedikit aja," kata Gwen, membantu, sambil menahan tawa. "Beliau gak begitu kuat pedas."

Ibu penjual mengangguk, mulai menyiapkan pesanan tanpa komentar lebih lanjut, sementara Madoc berdiri di sana dengan ekspresi yang jarang muncul di depan siapa pun—campuran antara malu dan lega, seperti orang yang baru pertama kali sadar betapa dia sudah lama tidak pernah melakukan hal sesederhana ini sendiri.

---

Mereka duduk berjejer di bangku kayu panjang, Gwen kebetulan duduk di sebelahnya lagi—kali ini benar-benar kebetulan, karena bangku itu sudah setengah penuh dan cuma tersisa dua kursi berdampingan.

"Bapak jarang makan di tempat kayak gini, ya?" tanya Gwen, membuka percakapan sambil menunggu pesanan datang.

"Jarang," aku Madoc, jujur. "Biasanya kalau makan di luar, ya di restoran yang udah pasti menu sama harganya."

"Gak pernah nyoba jajan kaki lima sama sekali?"

"Pernah, waktu kecil. Tapi udah lama banget."

Gwen menatapnya sebentar, mencoba membayangkan versi kecil dari CEO yang sekarang duduk canggung di sebelahnya, bingung membaca menu warung nasi. "Kenapa berhenti?"

Madoc diam sejenak, memikirkan jawaban yang jujur tapi tidak terlalu personal untuk diucapkan di tempat seramai ini. "Ada... aturan tertentu. Soal tempat makan yang boleh sama gak boleh. Alasan keamanan, katanya."

"Aturan dari siapa?"

"Keluarga."

Gwen tidak mendesak lebih jauh, menangkap dari nada suaranya bahwa itu topik yang tidak perlu dibongkar lebih dalam di malam santai seperti ini. "Ya udah, sekarang kesempatan bagus buat nyoba lagi," katanya, mengganti topik dengan ringan. "Anggap aja ini kelas pengenalan."

"Kelas pengenalan apa?"

"Cara jadi orang biasa," katanya, tersenyum jahil. "Langkah pertama, jangan panik liat menu yang gak familiar. Langkah kedua, kalau bingung, tanya aja langsung, gak usah gengsi."

Madoc tertawa, satu tawa yang lebih lepas dari biasanya, terdengar berbeda dari tawa formalnya di rapat. "Kedengarannya kayak pelajaran hidup."

"Emang," kata Gwen, mengangkat bahu. "Kadang hal-hal simpel kayak gini yang paling susah dipelajarin kalau dari kecil udah gak pernah dibiasain."

---

Pesanan datang beberapa menit kemudian, dan Madoc menatap piringnya dengan hati-hati—nasi putih, ayam bakar potongan sedang, sedikit sambal di pinggir piring, sayur asem dalam mangkuk kecil terpisah.

Dia mengambil sendok, mencoba mencicipi dengan gerakan yang terlalu berhati-hati untuk sekadar makan nasi campur biasa.

"Gimana?" tanya Gwen, memperhatikan reaksinya.

Madoc mengunyah, berpikir sejenak. "Enak," katanya, agak kaget dengan nada suaranya sendiri yang terdengar jujur terkejut. "Beneran enak."

"Kenapa kedengeran kaget banget?"

"Karena saya kira bakal biasa aja. Ternyata—" dia mengambil sendok lagi, "—ini enak banget."

Gwen tertawa, geli melihat betapa antusiasnya CEO Kane Group menikmati semangkuk nasi campur seharga dua puluh ribu rupiah. "Makanya, Pak. Kadang yang paling sederhana itu justru yang paling enak."

Di ujung meja, Reza dan Bas sesekali melirik ke arah mereka, mencoba tidak terlalu kentara memperhatikan interaksi yang terlihat jauh lebih santai dan natural daripada yang biasa mereka lihat di kantor.

"Lo liat gak," bisik Bas ke Reza, "Pak Kane ketawa lepas kayak gitu jarang banget."

"Iya," bisik Reza balik, mengangguk pelan. "Cuma sama Gwen doang kayaknya dia bisa se-santai itu."

Keduanya tidak melanjutkan komentar itu, memilih untuk kembali fokus ke makanan masing-masing, tapi pandangan mereka sesekali kembali lagi ke arah dua orang yang duduk berdampingan itu, memperhatikan bagaimana percakapan mereka terus mengalir tanpa jeda canggung sama sekali—berbeda jauh dari suasana kaku yang biasa muncul setiap kali Madoc berada di sekitar karyawan lain.

---

"Bapak tau gak," kata Gwen, di tengah makan, "ini kali pertama saya liat Bapak makan tanpa mikirin cara duduk yang benar."

Madoc menatapnya, agak tersinggung tapi lebih ke arah geli. "Saya emang selalu duduk benar."

"Iya, itu masalahnya," katanya, tersenyum. "Sekarang Bapak lebih santai. Kayak orang biasa."

"Saya emang orang biasa."

"Orang biasa yang punya gedung dua puluh lima lantai," koreksinya, sambil tertawa kecil.

Madoc ikut tertawa, mengangguk mengakui poin itu. "Oke, Fair."

Mereka lanjut makan dalam diam yang nyaman, sesekali diselingi obrolan ringan—soal makanan lain yang harus dicoba selama di Bandung, soal rencana sesi terakhir retreat besok pagi, soal hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan.

Bagi Gwen, ini cuma malam santai biasa bersama rekan kerja, kesempatan mengenal sisi lain dari atasannya yang selama ini dia kenal cuma dalam konteks formal.

Bagi Madoc, ini malam pertama dalam waktu yang sangat lama di mana dia merasa tidak perlu jadi CEO Kane Group sama sekali—cuma seseorang yang duduk di bangku kayu, makan nasi campur, tertawa lepas karena hal-hal sederhana, dengan seseorang yang membuatnya lupa sejenak betapa berat gelar yang biasa dia bawa ke mana pun dia pergi.

Dia tidak sadar, sepanjang malam itu, betapa jarangnya dia merasa seringan ini—dan betapa satu-satunya benang merah dari perasaan itu duduk tepat di sebelahnya, menikmati sambal yang sama, sepenuhnya tidak menyadari efek yang sedang dia timbulkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!