Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Sinar matahari pagi menyinari kaca-kaca jendela Ar-Rasyid Tower dengan kemegahan yang biasa, namun suasana di lantai 50 penthouse hari itu jauh lebih hidup dari biasanya. Suara tawa pelan dan derap langkah kaki teratur mengisi keheningan yang biasa mendominasi apartemen mewah tersebut.
Keisha melangkah keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam aromatik dan sepiring croissant segar yang baru saja dihangatkan. Ia mengenakan gaun rumah midi berwarna sage green berpotongan longgar yang elegan, rambutnya dicepol rapi dengan jepit mutiara kecil.
Di ruang keluarga, Alexander sudah duduk di sofa panjang berwarna arang, mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung sampai siku. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka menampilkan laporan portofolio global, namun perhatian pria itu saat ini tidak sedang tertuju pada layar monitor, melainkan pada sebuah dokumen tebal beramplop kulit hitam yang tergeletak di atas meja kopi. Dokumen itu berstempel lambang resmi keluarga Ar-Rasyid.
"Kopi pertama untuk CEO yang kemarin sempat mengancam akan meninggalkan dewan direksi demi piknik di perbukitan," sapa Keisha dengan nada menggoda, meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di samping suaminya.
Alex mendongak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menawan. Ia meraih tangan kiri Keisha, mengecup jemari istrinya sekilas sebelum menarik wanita itu untuk bersandar di bahunya. "Itu bukan ancaman, Nyonya Ar-Rasyid. Itu adalah keputusan mutlak yang berhasil menyadarkanku bahwa hidup tidak melulu tentang grafik perusahaan."
Alex menunjuk dokumen beramplop kulit hitam di hadapan mereka dengan dagunya. "Meskipun demikian, ada beberapa hal formal yang tetap harus kita selesaikan hari ini."
Keisha melirik amplop tersebut dengan alis terangkat sebelah. "Dokumen apa itu? Jangan bilang kakekmu mengirimkan surat perjanjian kontrak baru lagi untuk kita tanda tangani?"
Alex tertawa kecil, suara baritonnya bergetar di dada Keisha. "Bukan. Ini bukan kontrak paksaan. Ini adalah surat keputusan resmi dari dewan pengawas keluarga yang dikirimkan langsung oleh Kakek pagi ini."
Alex membuka amplop tersebut, mengeluarkan beberapa lembar kertas tebal bermaterai resmi, lalu menyerahkannya kepada Keisha.
Keisha menerima kertas itu dengan rasa penasaran. Saat matanya membaca baris demi baris teks formal di atas kertas tersebut, napasnya tertahan seketika. Itu adalah akta pengalihan hak kepemilikan dan warisan strategis dari sebagian besar saham pribadi Kakek Raden—bukan hanya kepada Alexander, melainkan mencantumkan nama Keisha Azalea Pramesti sebagai pemegang saham sah dengan hak suara mutlak di dewan direksi Ar-Rasyid Group.
"Alex... ini..." Keisha mendongak menatap suaminya dengan mata membelalak tak percaya. "Saham mayoritas keluarga? Ini hak waris mutlak milik garis keturunan utama Ar-Rasyid. Kenapa Kakek mencantumkan namaku di sini?"
Alex menatap istrinya lekat-lekat, sorot matanya memancarkan kebanggaan yang luar biasa. "Kakek bukan pria yang mudah terkesan, Keisha. Tapi setelah melihat bagaimana cara Kakek mengujimu—mulai dari skandal plagiarisme di butikmu, intrik kotor Damian, hingga cara berpikir strategismu saat menghadapi ancaman Wijaya Corp—beliau menyadari satu hal: bahwa darah kepemimpinan dan kecerdasan bisnis tidak selalu harus lahir dari garis keturunan, melainkan dari karakter dan integritas."
Alex merangkul bahu Keisha lebih erat, menarik tubuh istrinya agar semakin menempel padanya. "Kakek ingin memastikan bahwa masa depan imperium ini berada di tangan orang-orang yang tepat. Dan tidak ada orang lain di dunia ini yang lebih layak berdiri di sisiku untuk memegang kendali selain istriku sendiri."
Keisha merasakan matanya sedikit menghangat. Ingatannya melayang kembali ke masa beberapa bulan lalu, saat ia berdiri di ambang pintu penthouse ini sebagai seorang istri kontrak yang dipandang sebelah mata, membawa beban kebencian dan keraguan yang luar biasa besar. Tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam benaknya bahwa takdir akan membawanya berdiri di puncak kejayaan dunia korporat, bukan sebagai boneka porselen, melainkan sebagai seorang ratu sejati yang dihormati oleh seluruh anggota keluarga besar.
"Aku tidak pernah meminta semua ini, Alex," bisik Keisha tulus, jemarinya meraba permukaan kertas dokumen tersebut. "Aku hanya ingin mempertahankan butik kecilku, Azalea Label."
"Dan butik kecilmu itu kini telah berkembang menjadi rumah mode internasional yang bermitra resmi dengan divisi ritel Ar-Rasyid Group," balas Alex lembut, menyelipkan helai rambut Keisha ke belakang telinganya. "Dunia fesyen dan dunia korporat tidak lagi terpisah, Keisha. Keduanya kini menyatu, persis seperti kita berdua."
Keisha tersenyum, lalu meletakkan dokumen tersebut kembali ke atas meja. Ia menangkup wajah tegas suaminya dengan kedua telapak tangannya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya.
"Baiklah, Tuan Ar-Rasyid," ucap Keisha dengan binar mata yang penuh percaya diri dan kilat ketegasan yang memukau. "Jika Kakek dan dewan direksi sudah mempercayakan masa depan imperium ini kepada kita, mari kita buktikan bahwa keputusan mereka adalah keputusan terbaik sepanjang sejarah keluarga Ar-Rasyid."
Alex tersenyum lebar, menangkap tangan Keisha di pipinya dan mengecup telapak tangan wanita itu dengan penuh rasa cinta. "Dengan senang hati, Ratu-ku."
Gedung utama butik Azalea Label yang baru direnovasi total di kawasan Menteng tampak dipenuhi oleh karangan bunga ucapan selamat yang berderet rapi hingga ke tepi jalan raya. Hari ini adalah hari pembukaan butik flagship internasional mereka, hasil kolaborasi strategis antara kreativitas seni tinggi Keisha dan dukungan penuh infrastruktur global dari Ar-Rasyid Group.
Di dalam ruang galeri utama yang dipenuhi oleh para sosialita, kritikus fesyen ternama, dan jajaran direksi korporasi, para tamu undangan terpukau melihat deretan gaun haute couture yang dipajang di balik etalase kaca khusus. Cahaya lampu sorot menyoroti gaun utama koleksi terbaru Keisha—sebuah gaun malam berwarna midnight blue bertabur kristal halus yang mengingatkan pada gaun pertama yang ia kenakan pada malam jamuan amal beberapa bulan lalu, malam di mana takdir mempertemukan mereka dalam badai intrik yang mengubah segalanya.
Keisha berdiri di dekat pintu masuk galeri, mengenakan setelan blazer putih gading berpotongan klasik modern dengan sulaman perak di bagian kerahnya. Auranya begitu memancar, memadukan keanggunan seorang desainer kelas dunia dengan wibawa seorang pemegang saham utama korporasi besar.
Di sampingnya, berdiri Alexander Ar-Rasyid dalam balutan setelan tuksedo gelap tanpa cela, memegang segelas champagne ringan sambil terus mengawasi setiap tamu yang datang dengan tatapan tajam berwibawa, namun sesekali menunduk untuk melemparkan senyuman hangat kepada istrinya.
"Kau gugup?" bisik Alex pelan, merangkul pinggang Keisha dengan penuh kepemilikan di hadapan para wartawan hiburan dan bisnis yang mengambil foto mereka secara bergantian.
Keisha menggeleng pelan, menyunggingkan senyuman paling menawan yang pernah menghiasi bibirnya. Ia merapatkan tubuhnya ke sisi suaminya, menikmati kehangatan yang selalu diberikan oleh pria itu.
"Gugup? Sama sekali tidak," jawab Keisha mantap. "Aku sudah melewati ujian dari kakekmu, konspirasi sepupumu, dan badai media paling kejam di negeri ini. Apa lagi yang harus kutakutkan?"
Alex terkekeh kecil—suara rendah yang begitu akrab dan menenangkan di telinganya. "Benar juga. Tidak ada lagi yang bisa menakutimu di dunia ini, karena kau sudah memiliki semuanya."
"Tidak," koreksi Keisha sambil mendongak menatap mata hitam suaminya dengan penuh cinta. "Aku tidak memiliki semuanya. Aku hanya memiliki satu hal yang paling berharga di dunia ini..."
Alex menaikkan sebelah alisnya, tersenyum menggoda. "Dan apa itu, Nyonya Ar-Rasyid?"
Keisha merapatkan bibirnya ke dekat telinga suaminya, berbisik lembut namun penuh penekanan yang membuat jantung Alex berdegup kencang:
"Aku memiliki dirimu, Alexander. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan seluruh dunia."
Di bawah sorotan lampu kilat kamera wartawan dan kilau ribuan kristal galeri fesyen tersebut, Alex merunduk dan mengecup bibir istrinya dalam sebuah ciuman singkat yang penuh kehangatan dan rasa memiliki yang utuh. Kontrak pernikahan di atas kertas yang dulu dimulai dari sebuah paksaan kini telah berubah menjadi sebuah kisah cinta abadi—sebuah bukti nyata bahwa di balik benteng dingin dunia bisnis dan intrik keluarga, dua jiwa yang keras kepala telah menemukan rumah sejati di dalam pelukan satu sama lain.