NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA KATEGORI

Menjelang malam, rintik hujan yang turun sedari tadi siang belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda. Air terus turun membasahi tanah yang kini semakin becek dan licin, membuat udara di dalam hutan itu terasa dingin dan lembap. Melihat keadaan yang demikian, mereka pun memutuskan untuk mendirikan selembar terpal plastik berukuran besar di bagian depan tenda-tenda mereka, agar dapat berteduh dan memasak tanpa harus terus-menerus terkena percikan air hujan yang jatuh dari langit.

Adit dan Rangga bergerak paling dulu. Dengan cekatan mereka berdua mengangkat terpal yang masih berlipat-lipat itu, lalu membuka lipatannya agar terbentang luas, mengikatkan ujung-ujungnya pada batang pohon yang berdiri kokoh di dekat sana. Mereka bekerja sama dengan penuh ketelitian, memastikan tidak ada bagian yang kendur agar air hujan tidak menumpuk di atasnya dan membuat terpal itu roboh. Setelah terpal itu berdiri tegak dan membentuk atap pelindung yang cukup luas, barulah Kevin dan Doni melangkah maju membawa potongan kayu yang telah dikumpulkan. Mereka berdua lalu memotong dan mengupas bagian luar kayu yang basah kuyup terkena air hujan, agar bagian dalamnya yang masih kering dapat terbakar dengan baik dan aman digunakan untuk memasak di atas api unggun.

Joel dan Jeki tampak sibuk mendirikan terpal di depan tenda peserta baru. Dengan penuh semangat mereka berdua menyusun tiang penyangga dan mengikatkan ujung-ujung terpal agar terbentang rapi dan kuat menahan rintik hujan yang terus turun. Setelah terpal itu berdiri kokoh menaungi area depan tenda mereka, Bobi pun segera ikut membantu memotong dan membelah kayu-kayu yang lebih kecil agar siap dibakar menjadi api. Suara ketukan dan gesekan kayu terdengar berirama di tengah suara hujan yang terus turun, menyiratkan kebersamaan yang mulai tumbuh di antara mereka semua.

Setelah api unggun berhasil menyala dan memberikan kehangatan, mereka pun mulai mengeluarkan bahan makanan yang telah disiapkan sejak berangkat dari kampus. Di bawah naungan terpal yang meneduhkan itu, mereka bergantian mengiris, mengaduk, dan menata bahan makanan di atas perapian yang terbuat dari batu-batu yang tersusun rapi. Asap mengepul perlahan, membawa aroma masakan yang harum dan menggugah selera, menyebar ke udara yang sejuk dan segar. Suara tawa kecil sesekali terdengar di sela-sela percakapan ringan, seakan kelelahan dan ketakutan yang dialami siang tadi perlahan mulai sirna tergantikan rasa syukur dan kehangatan yang mereka rasakan bersama.

Makan malam pun tersaji dengan sederhana namun terasa nikmat. Mereka duduk melingkar di sekitar api unggun, menikmati hidangan yang dimasak bersama dengan penuh rasa persaudaraan. Tak ada yang mengeluh, tak ada yang membeda-bedakan. Semuanya tampak menikmati momen kebersamaan itu dengan hati yang tenang dan bersyukur. Setelah piring-piring bersih dan sisa makanan tersimpan rapi kembali, suasana perlahan menjadi hening, hanya suara api yang berdesis dan hujan yang terus membasahi daun-daun di sekitar mereka.

Kevin kemudian berdiri dan berjalan mendekati kelompok peserta baru yang sedang duduk berkumpul di bawah terpal berbeda. Wajahnya tampak serius namun tetap lembut saat membuka suara.

"Kawan-kawan, izinkan aku menyampaikan sedikit hal malam ini," ucap Kevin pelan namun terdengar jelas di telinga mereka semua. "Kejadian siang tadi menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Alam bisa berubah dengan sangat cepat dan tak terduga. Karena itu, kita harus selalu sigap terhadap perubahan keadaan di sekitar kita. Jangan pernah merasa aman sepenuhnya sebelum kita benar-benar kembali ke tempat yang selamat. Seperti yang terjadi siang tadi, air bah datang tanpa peringatan, dan itu mengajarkan kita untuk selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan."

Para peserta baru mendengarkan dengan saksama, mengangguk pelan seakan menanamkan pesan itu ke dalam hati masing-masing. Suasana pun kembali hening, hanya suara hujan yang menemani.

Sementara itu, di bagian depan tenda panitia yang terpisah, hanya terlihat Billy, Rangga, dan Adit yang sedang duduk beristirahat. Kristin melirik ke sekeliling, namun tidak melihat sosok Doni maupun Nisa di sana. Namun ia tidak mengambil pusing hal itu. Hatinya sudah terasa cukup bahagia hanya dengan mengingat kehadiran Doni tadi, yang datang sejauh itu demi memastikan keselamatan mereka.

Di dalam tenda panitia yang agak terpisah dan sepi itu, Doni sedang duduk dengan tenang sementara Nisa membantunya mengganti perban di kepalanya yang telah basah terkena air hujan tadi. Cahaya lampu yang remang di dalam tenda menyinari wajah mereka yang tampak serius namun tenang. Saat Nisa perlahan membuka perban lama yang sudah lembap, Doni tak kuasa menahan rasa perih yang menjalar di kepalanya. Wajahnya meringis kesakitan, napasnya tersendat sejenak.

"Rupanya kau juga bisa merasakan sakit ya?" ucap Nisa tiba-tiba sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang tegang itu.

Doni menarik napas panjang, lalu menghela napasnya perlahan. "Wajar... aku juga manusia," jawabnya pelan namun tegas.

Nisa terus melanjutkan pekerjaannya dengan hati-hati, membersihkan sisa perban yang menempel pada luka itu. Matanya menatap lekat wajah Doni yang tampak menahan sakit, lalu kembali bersuara dengan nada yang sedikit menyelidik namun tetap lembut.

"Manusia seperti apa yang berlari menerobos hujan deras tanpa peduli dengan luka di kepalanya? Hanya demi ingin menyelamatkan dua orang... atau mungkin salah satu orang?"

Doni terdiam sejenak, menatap lurus ke depan tanpa menatap Nisa. "Aku memang ingin menyelamatkan Ari dan Kristin," jawabnya singkat dan jujur.

Nisa tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Tangannya berhenti sejenak bergerak. "Dari dulu... kau tidak pernah berhasil membohongiku," ucapnya pelan dengan nada yang penuh pengertian.

"Sebenarnya, karena sekarang kepalamu plontos tanpa rambut," Nisa tiba-tiba berucap sambil menahan tawa, "maka kau termasuk dalam dua kategori."

Doni menoleh sedikit, menatap wajah Nisa dengan tatapan bingung. "Dua kategori apa?"

"Kategori pertama adalah tuyul," ucap Nisa sambil menahan senyum lebar, "dan kategori kedua adalah alien."

Nisa pun tertawa kecil merasa berhasil mengerjai Doni di tengah suasana yang seharusnya serius itu. Doni hanya menggeleng pelan, namun sudut bibirnya tampak sedikit terangkat meski samar.

Namun seketika itu juga, wajah Doni kembali tampak serius. Ia menatap Nisa dengan pandangan yang tulus dan jujur, lalu berkata dengan suara yang rendah namun terdengar begitu jelas di dalam tenda itu.

"Nisa... sejujurnya, tadi siang aku sangat khawatir dengan Kristin."

Nisa pun berhenti tertawa. Ia menatap Doni lekat-lekat, lalu mengangguk pelan dengan senyum yang tulus. "Itu hal yang wajar, Don. Dan itu menjadi bukti bahwa kau bukan sedingin kutub selatan seperti yang sering kau tunjukkan."

Doni terdiam sejenak, lalu kembali menatap Nisa dengan pandangan yang menyelidik namun tetap lembut. "Lalu... apakah kau tidak cemburu? Atau tidak marah?"

Nisa menunduk sejenak, jari-jemarinya perlahan melipat sisa perban yang sudah tidak terpakai. Saat ia kembali mendongak, matanya menatap lurus ke manik mata Doni dengan ketenangan yang luar biasa.

"Jujur saja... aku memang cemburu," ucap Nisa pelan namun tegas. "Namun aku juga tidak mau menghalalkan segala cara hanya agar kau menyukaiku. Aku percaya... kau pasti tahu siapa yang pantas bersamamu."

Doni terdiam mendengar pengakuan itu. Hatinya terasa terenyuh mendengar ketulusan hati wanita yang berdiri di hadapannya itu.

"Terima kasih..." ucap Doni tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. "Terima kasih karena kau tetap berbuat baik kepadaku, walaupun aku telah menyakitimu secara tidak sengaja."

Nisa tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya sejenak agar Doni tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. "Sudahlah... mari kita bahas hal lain sebelum aku menjadi sedih," ucapnya berusaha mengubah suasana.

Doni terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada yang sedikit canggung, "Sebenarnya... aku bukan tipe orang yang pintar mencari topik pembicaraan."

Nisa terdiam sejenak mendengarnya, lalu perlahan tersenyum kembali. Tangannya menyentuh ujung perban yang baru saja terpasang rapi di kepala Doni, lalu berkata lembut, "Sudah selesai. Perbanmu sudah terganti dengan yang baru."

Suasana di dalam tenda itu kembali hening sejenak, hanya terdengar suara hujan yang terus turun membasahi bumi di luar sana. Dua jiwa itu berdiri dalam keheningan yang penuh makna, saling memahami tanpa perlu banyak kata terucap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!