NovelToon NovelToon
Menantu Tak Terkalahkan

Menantu Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Action
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Argumen Hukum dan Keadilan yang Tumpul

​Langkah kaki Chen Fei menggema di atas lantai pualam aula perjamuan, memecah kesunyian yang mencekam. Kerumunan elit Jiangzhou menyingkir, membuka jalan bagaikan rakyat jelata yang membungkuk di hadapan raja tiran. Setiap pengawal bersenjata yang mengikutinya memancarkan aura intimidasi yang membuat napas para tamu tercekat.

​Chen Fei berhenti tepat dua langkah di hadapan Su Yuhan. Ia tersenyum, namun matanya memancarkan kekejaman absolut.

​"Kau datang lebih cepat dari dugaanku, Nyonya Su," ucap Chen Fei santai, mengulurkan tangannya seolah meminta segelas anggur. "Mana kontrak dari Bank Sentral? Serahkan padaku sekarang, tanda tangani dokumen pengalihan 90 persen sahamnya, dan kau boleh menikmati hidangan pembuka malam ini dengan tenang."

​Yuhan mencengkeram tas kecilnya erat-erat. Jantungnya berdetak liar hingga serasa akan melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan iblis, namun harga dirinya sebagai seorang CEO yang memimpin ribuan karyawan menolak untuk menyerah begitu saja tanpa perlawanan.

​Mengabaikan tangan Chen Fei yang terulur, Yuhan menegakkan punggungnya. Ia menatap lurus ke mata pria arogan itu, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki. Suaranya terdengar jernih dan tegas, menggema di seluruh penjuru aula yang sunyi.

​"Tuan Muda Chen, apa yang Anda lakukan ini adalah sebuah tindak kejahatan korporasi yang terstruktur," kata Yuhan berani. "Saya tidak akan menyerahkan satu sen pun dari dana tersebut kepada Keluarga Chen, karena secara hukum, tuntutan Anda sangat tidak berdasar."

​Bisik-bisik kaget meledak di antara kerumunan. Tidak ada yang menyangka seorang wanita muda dari keluarga kelas dua berani mendebat Chen Fei di wilayah kekuasaannya sendiri.

​Yuhan melanjutkan argumennya dengan logis, memaparkan tiga lapis pertahanan hukum yang ia yakini bisa melindunginya:

​Klausul Eksklusif Bank Sentral: "Kontrak senilai 500 Miliar Yuan itu memiliki klausul mutlak bahwa hanya saya, Su Yuhan, yang memiliki hak otorisasi. Jika uang itu dialihkan secara paksa ke rekening Joint Venture fiktif Anda, sistem Bank Sentral akan otomatis membekukannya."

​Hukum Perjanjian Batal Demi Hukum: "Sebuah kontrak yang ditandatangani di bawah ancaman pembunuhan dan paksaan—seperti yang Anda lakukan saat ini—adalah cacat hukum (Void ab initio). Jika masalah ini dibawa ke pengadilan, Keluarga Chen tidak akan mendapat apa-apa selain tuntutan pidana pemerasan."

​Pengawasan Publik: "Kita berada di tempat umum dengan ratusan saksi. Anda tidak bisa memaksa saya menyerahkan aset perusahaan begitu saja tanpa memicu investigasi dari lembaga anti-korupsi nasional."

​Mendengar argumen Yuhan yang runut, profesional, dan dilandasi hukum perdata yang kuat, beberapa taipan di aula saling berpandangan. Logika Yuhan memang sempurna. Di dunia bisnis yang beradab, Keluarga Chen sudah pasti kalah telak.

​Hening sejenak. Chen Fei menatap Yuhan dengan alis terangkat. Sedetik kemudian, pria itu melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras, mengejek, dan dipenuhi oleh kegilaan.

​"Hukum? Kau berbicara tentang hukum perdata di depanku?!" Chen Fei menyeka air mata di sudut matanya, tawanya perlahan mereda menjadi seringai buas.

​Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Yuhan. "Su Yuhan, kau benar-benar wanita yang naif. Biar kuberitahu bagaimana hukum bekerja di Kota Jiangzhou."

​Chen Fei mengangkat tangannya, menunjuk ke arah kerumunan elit yang menundukkan wajah mereka.

​"Kau melihat pria gemuk yang memegang gelas sampanye di sudut sana? Dia adalah Kepala Pengadilan Negeri. Kemarin malam, dia kalah berjudi puluhan juta di kasinoku, dan aku yang melunasi utangnya. Kau melihat pria botak di sampingnya? Dia adalah Kepala Polisi Distrik yang baru saja menerima kunci apartemen mewah dari pamanku," desis Chen Fei tajam.

​Chen Fei kembali menatap Yuhan yang kini wajahnya sepucat kertas.

​"Jika kau melapor ke polisi, laporannya akan hilang di laci. Jika kau membawanya ke pengadilan, hakim akan menolak gugatanmu. Sistem Bank Sentral? Pamanku yang duduk di kursi Wakil Gubernur Provinsi bisa dengan mudah menekan direksi bank untuk 'menyesuaikan' klausul tersebut dalam semalam."

​Pertahanan mental Yuhan hancur berkeping-keping. Perisai hukum yang ia banggakan ternyata tidak lebih dari kertas tipis di hadapan raksasa korupsi yang mengakar hingga ke tulang sumsum kota. Ia benar-benar sendirian, terjebak di kandang singa tanpa pintu keluar.

​"Kesabaranku sudah habis," suara Chen Fei tiba-tiba berubah dingin dan mematikan. Ia menjentikkan jarinya. "Pengawal, ambil kontrak itu dari tasnya. Jika dia menolak tanda tangan, potong jari manisnya. Kita lihat apakah dia masih bisa menggunakan pena setelah itu."

​"Jangan sentuh aku!" Yuhan mundur selangkah, namun dua pengawal bertubuh raksasa sudah bergerak maju mengurungnya.

​Melihat istrinya diancam secara fisik, Lin Fan yang sejak tadi diam bak patung batu, akhirnya bergerak. Ia melangkah maju dengan tenang, menempatkan tubuhnya persis di hadapan Yuhan, menghalangi para pengawal itu.

​"Oh? Suami sampahmu ingin menjadi pahlawan?" Chen Fei mencibir, menatap Lin Fan dengan rasa jijik yang luar biasa. "Bagus. Aku memang sedang ingin melihat darah malam ini."

​Chen Fei memberi isyarat pada kepala pengawalnya yang berwajah penuh bekas luka.

​"Patahkan kedua kaki dan tangan pria miskin ini di depan istrinya. Buat dia berteriak sekeras mungkin, agar Nyonya Su bisa lebih fokus membaca isi kontrakku," perintah Chen Fei dengan senyum sadis.

​Sang kepala pengawal menyeringai, mengeluarkan sebuah tongkat besi teleskopik dari balik jasnya, dan berjalan mendekati Lin Fan.

​Di saat seluruh aula menahan napas menanti pemandangan berdarah, Lin Fan justru tidak bergeming. Ia tidak mengangkat tangan untuk memukul, ia juga tidak mundur ketakutan. Lin Fan hanya berdiri di sana, menatap Chen Fei dengan sorot mata yang biasa ia gunakan saat melihat bangkai serangga.

​Lin Fan melirik jam tangan murahan di pergelangan tangannya. "Waktunya sudah pas," gumamnya pelan.

​Duar!

​Tepat saat tongkat besi pengawal itu terangkat ke udara, suara ledakan dahsyat terdengar dari arah pintu masuk utama Hotel Imperial, diikuti oleh jeritan histeris dari para petugas keamanan di luar.

1
Glastor Roy
update
Driver Muda
Jelek💪💪👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
mantep coy 😎
Ariya Noviandy Khusofi
kok sama alur ceritanya dengan kebangkitan pewaris sakti
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini ☕😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!