NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:304.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Belas

Pagi harinya, suasana rumah orang tua Azka terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya.

Setelah sarapan selesai, Azka berdiri dari kursinya. Ia merapikan kemejanya sambil melirik Reatha yang masih duduk di samping Mama.

“Ma, Pa, kami pamit,” ucap Azka.

Mama langsung menoleh. “Mau pergi?” tanya wanita itu

“Iya. Hari ini kami berangkat bulan madu," jawab Azka.

Seketika wajah Mama berubah cerah. “Bulan madu?” tanyanya.

Reatha yang sedang mengambil segelas air hampir tersedak.

Azka mengangguk santai. “Iya," jawabnya singkat.

Mama langsung tersenyum lebar. “Kalau pergi berdua, pulangnya harus sudah mau tiga!” ucap Mama dengan tersenyum.

Reatha membeku. Azka menatap mamanya dengan wajah tidak percaya. Papa yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya tertawa kecil.

“Mama pikir mereka apa? Langsung mau cucu saja?” sindir Papa.

Mama langsung cemberut. “Lho, itu doa, Pa.”

Papa menggeleng sambil tersenyum. “Biarkan mereka pacaran dulu," ucapnya.

“Sudah menikah kok masih dibilang pacaran,” gerutu Mama.

Reatha menahan tawanya. Ia menunduk agar Mama tidak melihat wajahnya yang mulai memerah. Azka justru terlihat semakin tidak nyaman.

“Sudah, Ma. Kami pergi dulu," ucap Azka memotong obrolan.

“Tunggu.” Papa tiba-tiba memanggil Reatha.

Gadis itu menoleh. “Iya, Pa," jawabnya.

Papa mengambil sebuah kartu dari dompetnya lalu berjalan mendekati Reatha. Ia menyerahkan pada gadis itu.

“Ini kartu buat kamu," ucap Papa.

Reatha mengerutkan kening ketika kartu itu disodorkan kepadanya. “Buat saya?” tanyanya.

“Iya. Pakailah sesuka hatimu. Anggap saja kado pernikahan dari Papa," jawab Papa.

Mata Reatha langsung membesar. “Pa, aku pergi dengan suamiku. Dia pasti bawa uang.”

Papa terkekeh, ia lalu berkata, “Ini buat berjaga-jaga. Takut Azka pelit.”

Azka yang berdiri tak jauh dari mereka langsung menyela.

“Kapan aku pelit, Pa?” tanya Azka.

Papa menoleh sambil tersenyum jahil. “Memangnya kamu nggak pelit?” Bukannya menjawab, ia justru balik bertanya.

“Aku selalu memberikan apa pun yang orang aku cintai minta," ucap Azka selanjutnya.

Reatha yang mendengar ucapan itu langsung menoleh. Ia tersenyum kecil.

“Kalau yang minta orang yang kamu sayangi. Kalau tidak?” tanya Reatha.

Azka langsung mendelik. Tatapannya tajam mengarah kepada Reatha. Bukan karena marah. Melainkan takut perempuan itu keceplosan.

Reatha hanya tersenyum polos seolah tidak terjadi apa-apa. Azka segera menghampirinya dan menarik tangannya.

“Raisa, sudah jam berapa? Nanti kita ketinggalan pesawat," ucapnya.

“Eh, tunggu—”

“Salaman dulu sama Mama dan Papa.”

Azka membawa Reatha mendekati kedua orang tuanya. Mereka pun berpamitan dan menyalami Mama serta Papa.

“Hati-hati di jalan,” pesan Mama.

“Iya, Ma,” jawab Reatha.

“Jaga suamimu baik-baik," ucap Mama selanjutnya.

Reatha melirik Azka. “Dia juga harus jaga aku, Ma.”

Mama tertawa. “Nah, begitu dong!”

Azka menghela napas panjang. Sepertinya bulan madu ini belum dimulai, tetapi kepalanya sudah dibuat pusing.

Sesampainya di bandara, Azka langsung memarkirkan mobilnya di area penitipan kendaraan. Ia bahkan berjalan dengan langkah tergesa-gesa begitu turun dari mobil.

Reatha yang membawa tas kecilnya harus mempercepat langkah untuk mengimbanginya.

“Kenapa jalannya cepat sekali?” gumamnya.

Azka tidak menjawab. Reatha mengernyitkan dahi. Pria itu seperti sedang mengejar sesuatu. Atau seseorang.

Begitu mereka sampai di ruang tunggu, Reatha langsung melihat seorang perempuan yang sangat ia kenal. Vania.

Perempuan itu duduk sambil memainkan ponselnya. Namun begitu melihat Azka, ia langsung berdiri.

Wajahnya seketika berubah cerah. “Azka!”

Vania berjalan cepat menghampiri. Tanpa ragu, ia langsung memeluk Azka.

Azka sempat terdiam. Sementara itu, mata Vania justru melirik ke arah Reatha.

Ada sesuatu yang ia cari dari tatapan gadis itu. Rasa cemburu dan marah. Atau setidaknya rasa tidak nyaman. Namun, tidak ada.

Reatha hanya berdiri beberapa langkah dari mereka sambil memegang tas kecilnya. Wajahnya datar. Bahkan ia terlihat seperti sedang menonton adegan biasa di televisi.

Dalam hati, Reatha justru merasa geli. Pantas saja dia ingin cepat sampai bandara. Takut yang tersayang menunggu terlalu lama.

Reatha kemudian sengaja tersenyum. “Vania mengantar kita berangkat, ya?” tanyanya.

Azka langsung melepaskan pelukan Vania. “Bukan mengantar," jawabnya.

Reatha mengangkat alis. “Lalu?”

Azka menatapnya sebentar. “Dia akan ikut dengan kita.”

Senyum Reatha langsung melebar. “Oh.” Hanya satu kata. Namun nada suaranya membuat Azka sedikit waspada.

Reatha menatap Vania, lalu kembali menatap Azka. “Katanya bulan madu?”

Azka diam.

“Bukankah bulan madu itu biasanya berdua?”

Vania terlihat tidak nyaman.

Sementara Azka langsung mendekati Reatha.

Ia meraih tangan gadis itu dan menariknya sedikit menjauh dari Vania.

“Raisa,” bisiknya.

“Apa?” jawab Reatha.

“Jangan sampai Mama atau Papa tahu!" seru Azka.

Reatha menatapnya santai. “Aku nggak tahu kalau bibir ini tiba-tiba nggak sengaja mengatakan semuanya dengan jujur.”

Azka memejamkan mata sebentar. Ia benar-benar tidak habis pikir menghadapi perempuan satu ini.

“Kamu mau berapa?” tanya Azka.

Reatha tersenyum. “Apa?” Gadis itu balik bertanya.

“Aku akan menambah uangmu tiga ratus juta lagi," ucap Azka.

Reatha langsung membelalakkan mata. “Tiga ratus juta?”

“Iya.” Azka mendekat sedikit. “Biar cukup setengah miliar. Apa kamu masih tidak mau tutup mulut?”

Senyum Reatha semakin lebar. “Baiklah, Tuan Azka.” Ia mengangguk mantap. “Aku bersedia.”

“Bagus," ujar Azka.

“Bibirku ini pasti bisa diajak kerja sama," ucap Reatha.

Azka menggeleng dan berkata “Dasar cewek matre.”

Bukannya tersinggung, Reatha justru tertawa. Tawanya terdengar ringan dan tulus.

“Memangnya salah?” tanya Reatha.

Azka menatapnya tak percaya. “Kamu benar-benar .…”

“Kenapa? Aku cuma memanfaatkan kesempatan.”

Azka menghela napas. Namun di sudut bibirnya, hampir saja muncul senyum.

Tanpa mereka sadari, Vania memperhatikan percakapan itu dari kejauhan.

Entah kenapa, melihat Reatha tertawa bersama Azka membuat dadanya terasa panas.

Ia tidak menyukai pemandangan itu. Vania akhirnya berjalan mendekati mereka.

“Azka," panggil Vania.

Azka dan Reatha sama-sama menoleh. Vania tersenyum, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang berbeda.

Ia berdiri di antara keduanya. “Apa yang sedang kalian obrolkan?” tanyanya.

Reatha menatap Azka. Begitu juga sebaiknya. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling pandang. Dan kali ini, senyum Reatha justru semakin lebar.

Sementara wajah Azka perlahan berubah tegang. Tak tahu harus berkata apa.

1
ken darsihk
Akhir nya restu itu kamu dapat Azka , restu dari papa Handoko papa nya Reatha
Eka ELissa
ancur sndiri knpa slhin orang 🤦
Patrick Khan
mam..gk up lg kah..q nungguin li
Sugiharti Rusli
memang aneh yah sama reaksi istri pak Handoko itu, dia selalu mèrasa paling benar bila menyangkut putri kesayangannya Raisa
Sugiharti Rusli
salah satu langkah besar Azka menunjuk kan keseriusannya pada Reatha yah membatalkan pernikahan mereka atas nama Raisa, dan itu sudah aďa hasilnya
Sugiharti Rusli
memang paling pùas menggoda pasangan yang sedang jatuh cinta yah Fa
Sri Supriatin
Terharu biru dgn restu pa Handoko🙏🙏🙏
Nar Sih
good job 👍 azka
vania larasati
lanjut kak
Apriyanti
keren bgt kau Azka 👍,,abau kan si nenek lampir yg kg ada berubah nya
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
semoga lancar segala urusan mu azka
Patrick Khan
lampir kyk e gila beneran..lah azka gk lapo2 nag raisa kok di salahno..raiso jelas2 salah di sanjung..wes wes angel lampir🔨🔨🔨
Sugiharti Rusli
anak yang paling kalian sayangi dan manjakan, akhirnýa hanya menjadi anak yang paling melukai dan meyakiti kalian pada akhirnya
Maria Kibtiyah
pengen getok tuh pala emaknya si raisa
Dcy Sukma
meski dikasih paham nih mamanya Raisha.. yg salah anaknya kok nyalahin orang lain..
Sugiharti Rusli
entah akan seperti hubungan Raisa dengan kedua ortunya nanti yah itu,,,
Sugiharti Rusli
lha yang sudah menghancurkan hidupmu yah kamu sendiri Raisa, toh kamu sudah berniat menggugurkan kandungan, kalo pada akhirnya rahim kamu diangkat itu sudah konsekuensi dari tindakan yang lebih fatal nanti,,,
Sugiharti Rusli
terkadang memang bisà jadi rancu sih penjagaan yang diinginkan oleh yang mendiang Beni dari seorang Azka terhadap si Vania adiknya
Linda Ayu Tong-Tong
mamanya raisa kyak anjing😌😌
Cicih Sophiana
Azka hebat bisa membungkam mulut nenek lampir yg so baik.. ibu yg gak adil memperlakukan anak nya pilih kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!