Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian yang hilang
Kamar water villa tempat mereka menginap malam itu disulap oleh pihak resor menjadi sebuah ruangan romantis khusus bagi pasangan suami istri yang sedang berbulan madu.
Aromaterapi beraroma lavender dan vanilla membelai indra penciuman, sementara kelopak-kelopak bunga mawar merah ditata membentuk lambang hati yang presisi di atas sprei putih yang terbuat dari sutra halus. Cahaya lampu temaram berwarna keemasan menyirami ruangan, menciptakan atmosfer yang teramat hangat sekaligus intim.
Namun, begitu memasuki kamar tersebut, Alfa dan Senja justru saling melempar pandang. Detik berikutnya, tawa renyah pecah di antara mereka berdua.
Mereka terkekeh bersama menatap segala ornamen serba romantis itu, menyadari betapa ironisnya situasi yang sedang mereka jalani, nyatanya, mereka bukanlah pasangan kekasih yang sesungguhnya.
"Atmosfernya terlalu niat, ya?" Kekeh Alfa seraya mengusap bagian belakang lehernya.
"Sangat niat" Sahut Senja seraya berjalan mendekati ranjang king size tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, Senja menepis pelan kelopak-kelopak bunga mawar di atas kasur agar tidak tertindih saat mereka tidur.
Alfa kemudian memutar tubuhnya, melangkah pelan menuju sebuah sofa panjang empuk yang terletak di sudut ruangan dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke laut lepas. Pria itu berniat mengambil bantal ekstra.
Melihat pergerakan Alfa, Senja menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut halus.
"Apa Mas mau tidur di sofa itu?" tanya Senja polos saat melihat Alfa sudah memegang bantal di tangannya.
Alfa mendadak bingung. Pria tegap itu terhenti di tempatnya, berdiri kaku lalu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Rasa canggung mendadak menyelimutinya kembali.
"Tidurlah di sini, kita sudah biasa, bukan? Selama sebulan kita tidur seranjang" Lanjut Senja seraya menepuk sisi ranjang yang masih kosong di sebelahnya.
Senja mengingatkan Alfa pada bulan-bulan pertama pernikahan mereka di rumah, di mana mereka memang berbagi tempat tidur yang sama demi formality, sebelum akhirnya belakangan ini Alfa sering kali ketiduran di sofa kerja karena tumpukan tugas.
Alfa menatap Senja sejenak, lalu tersenyum tipis.
"Baiklah."
Alfa melangkah kembali ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang masih kosong. Kasur berbahan busa premium itu tenggelam sedikit menahan bobot tubuhnya.
Mereka berdua kini berbaring terlentang, menatap langit-langit kamar bernuansa kayu yang tinggi.
Meski berada di atas kasur yang sama, ada jarak beberapa jengkal yang sengaja ditinggalkan di tengah-tengah mereka. Namun, di dalam keheningan malam yang sunyi, jarak yang hanya beberapa jengkal itu terasa bagaikan membentang begitu jauh.
Suara gesekan lembut kain sprei terdengar ketika Senja menggeser sedikit posisinya. Keheningan kamar hanya diisi oleh desiran ombak samar dari luar jendela. Senja berdeham pelan sebelum memecah kesunyian.
"Mas..." panggil Senja lembut.
"Ya?"
"Apa Dila tidak marah karena kita tidur di ranjang yang sama? Apa kamu tidak memberitahunya karena ingin menjaga perasaannya?" Tanya Senja polos.
Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari bibir Senja, tanpa ada nada cemburu atau tuduhan di dalamnya, melainkan murni sebuah rasa penasaran yang terbersit di kepalanya.
Alfa menarik napas panjang, matanya tetap menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menjawab.
"Tanpa memberitahunya pun, dia pasti tahu, Senja... karena kita suami istri" Tutur Alfa dengan suara serak yang tenang.
"Bahkan dia tidak pernah bertanya apakah kita pernah berhubungan badan atau tidak, kita sekamar atau tidak. Karena sejak awal dia memang mengerti tentang status dan hubungan kita yang sudah sah menjadi suami istri. Dia tidak pernah ikut campur sama sekali untuk hal-hal seperti itu."
Mendengar jawaban yang keluar dari bibir Alfa, Senja perlahan memiringkan tubuhnya. Ia menopang kepalanya dengan salah satu tangan di atas bantal, menatap profil samping wajah suaminya dari jarak dekat.
"Dia wanita yang baik, Mas" Ujar Senja tulus.
"Seharusnya kalian bisa hidup bahagia bersamanya kalau kamu tidak terjebak dalam pernikahan ini."
Alfa tertegun. Pria itu mengalihkan pandangannya dari langit-langit, memutar kepalanya untuk menatap mata Senja yang jernih di kegelapan malam.
"Kamu juga wanita yang baik, Senja" Jawab Alfa lirih, suaranya sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Entah apa yang dulu pernah aku lakukan sampai aku dikelilingi dua wanita yang sangat baik. Hanya aku saja pria bodoh di sini, karena pada akhirnya aku justru menyakiti kalian berdua."
Alfa benar-benar sadar betapa egoisnya posisi yang ia ambil selama ini. Ia terikat oleh cinta masa lalunya bersama Dila, namun di sisi lain ia terikat oleh komitmen, rasa hormat, dan kekaguman yang makin membesar kepada Senja. Rasa bersalah itu menggerogoti sudut hati Alfa yang paling dalam.
"Dan... aku minta maaf karena aku tidak menjadi suami yang baik untukmu" Tambah Alfa lagi. Tatapannya terkunci rapat pada manik mata Senja.
"Aku justru menyakiti perasaanmu, di saat aku harusnya menjadi orang yang paling menjaga perasaanmu..."
Entah mengapa, mendapat permohonan maaf yang begitu tulus dari pria tegap di hadapannya, Senja hanya bisa tersenyum tipis. Tidak ada amarah, tidak ada luapan kekecewaan. Yang ada hanya kepasrahan yang teramat anggun.
"Senja..." panggil Alfa lagi, suaranya makin merendah, menuntut perhatian penuh.
"Hmm?"
Alfa memiringkan tubuhnya. Kini mereka berdua saling berhadapan sepenuhnya, terpisah hanya oleh helai-helai kain sprei dan jarak napas yang hangat.
"Apa sebelumnya ada pria yang dekat denganmu?" Tanya Alfa penasaran. Ini adalah pertanyaan pribadi pertama yang pernah Alfa ajukan mengenai kehidupan asmara istrinya sebelum mereka menikah.
Senja tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada. Kamu tahu sendiri bagaimana ketatnya lingkungan dan kalangan kita, Mas. Tentu Papa tidak akan pernah mengizinkan aku dekat dengan pria mana pun... kecuali pria pilihannya."
"Lalu, pria yang kamu sukai? Masa tidak ada sama sekali?" Buru Alfa lagi.
Senja kembali menggelengkan kepalanya dengan begitu polos.
"Aku tidak pernah ada waktu untuk memikirkan tentang hal seperti itu. Sejak dulu hidupku hanya dipenuhi oleh les, tuntutan akademis, dan rapat-rapat bisnis Papa."
Alfa mendadak terkekeh pelan. Suara ketawa kecilnya mengalun hangat di tengah malam yang sunyi.
Senja mengerutkan dahinya dengan gemas karena reaksi Alfa itu.
"Kenapa? Kamu tidak percaya padaku, Mas?"
"Aku hampir tidak percaya, Senja" Aku Alfa seraya tersenyum menggoda.
"Kamu ini wanita yang sangat cantik dan pintar. Bahkan semua rekan bisnismu saja dulu sering membicarakanmu di belakang rapat, memuji kecerdasan dan pesonamu. Lalu bagaimana mungkin wanita sepertimu tidak pernah menjalin hubungan atau mencintai pria di luar sana?"
Mendengar pujian spontan dari Alfa, Senja tertawa renyah. Rasa canggung yang tersisa menguap begitu saja.
"Wooww... ternyata pesonaku tidak dapat ditampik ya, Mas?" Seloroh Senja bercanda, matanya berbinar gembira menanggapi godaan Alfa.
Alfa menyunggingkan senyum hangatnya melihat Senja yang mulai mau bercanda lepas padanya. Ia merasa makin dekat dan nyaman berada di sisi wanita ini. Kehangatan percakapan mereka membuat Alfa lupa akan semua beban pekerjaan dan kerumitan konflik di Jakarta.
Namun, Alfa kemudian melontarkan pertanyaan berikutnya yang mendadak mengubah seluruh atmosfer di kamar itu.
"Lalu, apa impianmu yang belum tercapai, Senja?" Tanya Alfa dengan lembut.
Begitu pertanyaan itu meluncur dari bibir Alfa, tawa bercanda di raut wajah Senja mendadak sirna seketika. Bibirnya yang tadi tersungging manis kini mengatup rapat. Ada perubahan ekspresi yang begitu drastis dan cepat.
Senja menarik tubuhnya kembali terlentang. Bibirnya terkatup rapat saat matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Pandangan matanya yang semula berbinar gembira, perlahan-lahan berubah menjadi redup, menerawang jauh ke dalam ketidakpastian, dan tampak kosong.
Alfa menyadari perubahan sikap itu dengan sangat jelas. Ia merasa ada dorongan kepedihan yang sangat besar yang mendadak menyelimuti aura istrinya.
"Impianku..." Gumam Senja sangat lirih, hampir berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah jawaban sederhana yang begitu ingin Senja ucapkan sejak dulu,
"Rumah kecil yang hangat, yang terisi oleh orang-orang yang benar-benar mencintaiku dan menghargaiku apa adanya, Mas."
Namun, Senja sadar betapa tidak realistisnya impian itu bagi sosok wanita seperti dirinya yang sejak lahir dijadikan alat politik dan bisnis oleh keluarganya sendiri. Harapan sederhana itu terasa begitu mewah dan tak mungkin terjangkau.
Senja menelan salivanya dengan berat, mengubur dalam-dalam keinginan jujur itu di dasar hatinya.
"Sudah tidak ada lagi, Mas... impianku sudah hilang" Alih-alih kalimat jujurnya, justru kalimat pahit itulah yang akhirnya keluar mengalir dari bibir Senja.
Suara Senja terdengar begitu datar dan hampa, namun menyimpan gema kepedihan yang amat dalam.
Alfa tertegun membisu di sisinya, menatap wajah profil samping Senja yang kini tampak begitu rapuh dan asing. Pria itu menyadari bahwa di balik benteng keanggunan dan kebaikan hati yang ditunjukkan Senja, ada sebuah jiwa yang telah lama patah dan kehilangan harapannya.
Dan untuk pertama kalinya, Alfa merasa hatinya teriris begitu perih melihat kekosongan di dalam mata istrinya. Tapi sayangnya, Alfa tidak tau apa yang sebenernya telah hilang itu.
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.