"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Bianca yang awalnya tidak mengetahui siapa gadis sebaya di depannya saat ini, mulai teringat. Bahwa hari ini, akan ada kedatangan pembaru baru yang akan bekerja di dalam rumah ini.
"Oh ... Jadi ini ulah lo! Hah?! ... Jawab! Jangan diem aja." bentak Bianca, yang terus menunjuk-nunjuk ke arah Anya yang masih menunduk merasa bersalah.
Bianca terdiam beberapa saat, ketika menyisir seluruh tubuh Anya dari ujung bawah kakinya sampai atas ujung rambutnya. Ia sekilas memuji kecantikan alami yang ada pada diri Anya.
"Kalo di pikir-pikir ... Cantik juga, nih orang. Ah, tapi tetep aja ..."
"Orang miskin, tetep aja miskin ... Kalo di banding gue, jelas cantikan gue kemana-mana. Cih!" lanjut gumam Bianca dalam hatinya, tetap merasa ingin menang sendiri dan merasa orang yang paling cantik sedunia.
"Maaf Non ... Ini salah saya, bukan Bi Inah. Saya minta maaf ..." ucap Anya dengan nadanya yang pelan, memohon permintaan maaf dari Bianca.
"Cih! Yaa harus! ... Lain kali, kalo kerja yang bener! Kalo sampe ini terulang, jangan harap bisa kerja lama di sini!!! Ngerti?!" bentak Bianca lagi, langsung berjalan pergi begitu saja meninggalkan para pembantunya. Tanpa ingin mendengar ucapan apapun lagi dari mereka berdua.
Ketika Bianca pergi meninggalkan mereka, Bianca sudah kembali berjalan dengan santai. Memakai earphone nya kembali dan lupa akan rasa sakit yang tidak seberapa di ujung kakinya tadi.
Setelah kepergian anak majikan itu, Bi Inah dan Anya baru bisa kembali menghembuskan nafas panjangnya. Kini mereka saling bertatapan, berbagi penderitaan yang harus menuntut mereka mempunyai sabar seluas samudra.
"Maaf, yaa Bi ... Gara-gara aku, Bibi jadi kena marah," kata Anya, menatap Bi Inah dengan penuh perasaan bersalah.
Bi Ina sama sekali tidak menganggap ini kesalahan Anya. Ia sudah merasa terbiasa atas semua perlakuan yang tidak mengenakan selama bertahun-tahun bekerja di keluarga ini. Dan bagi Bi Inah, hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.
"Nggak apa-apa Anya ... Bibi sudah terbiasa. Malah, Bibi merasa khawatir dengan perasaan kamu karena baru pertama kali bekerja di tempat seperti ini," jawab Bi Inah, seraya menunjukan senyumnya yang tulus menguatkan Anya.
"Kamu yang sabar yaa ... Sebenarnya Non Bianca baik, kok. Cuma ... Agak suka kasar aja sedikit ucapannya. Tapi nanti juga kamu akan terbiasa," sambungnya, seraya mengusap-usap pundak Anya.
"Iyaa Bi ... Terimakasih yaa," kata Anya, mencoba tersenyum menerima perlakuan yang tidak pernah ia bayangkan di hari pertamanya bekerja sebagai pembantu di kota besar.
Setiap jam berlalu, Anya semakin sedikit mulai beradaptasi dengan lingkungnya. Lingkungan yang menuntut Anya harus mempunyai sabar yang lebih, agar tetap bisa bertahan hidup. Saling menguatkan satu sama lain.
Di dalam kamar Bianca yang luas dan mewah. Terlihat Bianca baru saja meletakan ponsel yang sempat ia mainkan ke samping tubunya yang tidur di atas ranjang besar berwarna putih.
Dan saat ini, Bianca ingin menelpon ibunya. Untuk memberitahu tentang kejadian tadi dan tentang anak baru yang membuatnya kesal hari ini.
Tuut ...
Tuut ...
Panggilan itu diangkat oleh Nyonya Laras yang sedang mengendarai mobilnya. Ia ingin segera kembali pulang kerumah karena urusannya di luar baru saja selesai.
Tut!
"Iyaa sayang, ada apa?" tanya Laras, dengan nada suaranya yang lebay dan terlihat seperti memanjakan Bianca sepenuhnya.
"Mamah~ ... Aaa ..."
"Tau nggak, sih ... Hari ini tuh aku kesel banget! Gara-gara anak baru itu yang bekerja hari ini di rumah ..." balas Bianca, sama lebay nya dengan nada bicara yang di buat-buat mirip dengan ibu kandungnya sendiri.
"Anya maksud kamu? ... Kenapa, memangnya?" tanya Laras yang masih menyetir dan sekarang menjadi sedikit penasaran. Tentang apa yang membuat anak kesayangan satu-satunya ini merasa badmood.
"Itu ... Aku, kan baru pulang kuliah. Terus kaki aku kesandung ember yang dia taro sembarangan di tengah jalan lantai ... Kalau aku jatuh gimana? ... Aaa~ Mana sekarang masih kerasa lagi sakitnya. Sebel deh!" ujar Bianca, berharap mendapat perhatian yang lebih dari ibu yang selalu memanjakannya.
"Hah?! Kok bisa? ... Terus kamu nggak apa-apa?"
"Ish! Baru aja di tinggal sebentar itu anak! Sudah bikin masalah aja. Bukannya ada Bi Inah?" tanya balik Laras, yang sekarang malah ikut merasa kesal kepada Anya. Mengikuti ego anaknya yang selalu bersikap manja ketika di depannya.
"Bi Inah, ada ... Tapi Bi Inah kaya ingin membela terus itu anak baru ... Aku jadi tambah kesel~" sahut Bianca yang sedang merajuk lewat obrolan telepon mereka.
"Yaudah-yaudah ... Kamu tenang sekarang, ibu sebentar lagi sampai kok. Nanti ibu akan bicara sama Anya, kamu jangan khawatir lagi," ungkap Laras, yang selalu mendukung Bianca. Tentang semua hal yang berhubungan dengannya. Baik itu benar, atau salah.
"Makasih, yaa ... Bian sayaaang ... Ibu, muaach!" balas Bianca, memberi kecupan suara agar membuat hati sang ibu senang kembali.
"Sama-sama sayang ... Bye, muaach~" sahut Laras, mengikuti kemanjaan anaknya lewat telepon.
"Bye~" balas Bianca, yang kemudian menutup telepon antara ibu dan anak itu. Tuut! Sebuah senyuman puas sekarang terukir di wajah Bianca, yang sudah tidak sabar. Melihat pembantu baru itu atau Anya, mendapat omelan dari ibunya sendiri.
"Haha ... Rasain! Siapa suruh punya wajah cantik. Rasanya, wajah itu nggak pantes berada untuk orang miskin kaya lo Anya ..." gumam Bianca berbicara sendiri di dalam kamarnya. Ia sekarang malah menyalahkan kecantikan alami yang ada pada wajah Anya. Bianca benar-benar iri akan hal ini sekarang.
Sinar matahari sore yang cerah perlahan memudar. Cahayanya tidak lagi seterang ketika waktu Anya mengepel lantai. Terlihat sekarang Anya baru saja selesai mencuci piring di sebuah wastafel yang berada di dapur.
Anya tidak sengaja bertemu Bi Inah yang tengah sibuk mondar-mandir sendiri sedang memasak. Untuk menyiapkan makan malam keluarga Adiwijaya.
"Anya ... Udah, kamu istirahat aja dulu. Makan dulu, gih sana ... Ada lauk sebagian yang sudah matang Bibi masak," pinta Bi Inah seraya memegang sekantung plastik ayam mentah, menyuruh Anya makan mengisi perutnya. Karena Bi Inah tahu, bahwa Anya hari ini belum makan apapun.
Anya mencuci bekas-bekas busa yang berada di tangannya. Usai ia mencuci piring barusan. Menatap Bi Inah seraya menunjukan senyumnya.
"Iyaa, Bi ... Nanti aja gampang. Saya makannya setelah yang keluarga ini selesai makan aja ..." sahut Anya, karena masih merasa tidak enak bila mendahului pemilik rumah belum pada makan.
Padahal, hal itu adalah hal yang sangat wajar di lakukan. Di tambah, orang-orang rumah ini tidak akan pernah menanyakan kondisi pembantunya, kecuali pak Adiwijaya sendiri.
"Ih, jangan gitu ... Bibi ambilin, yaa?" tanya Bi Inah lagi sedikit memaksa karena merasa khawatir dengan kondisi Anya.
"Gausah, Bi ... Beneran, Anya nanti aja makan nya. Sini Anya bantuin masaknya, biar cepet selesai," kata Anya, mengambil kantung plastik besar yang sedari tadi di pegang Bibi. Ia malah ingin membantu Bi Inah masak untuk keluar Adiwijaya ini sekarang.
"Hmm ..." gumam Bi Inah pelan. Menatap Anya yang ia lihat, benar-benar seorang anak yang baik. Bi Inah terdiam sejenak seperti melamunkan anak yang seumuran Anya di kampungnya.
Burm ... Burm ...
Suara mobil yang ingin masuk gerbang rumah baru saja terdengar. Tono yang sedang duduk sambil ngopi di sore hari, langsung loncat berdiri karena merasa kaget dengan kepulangan Nyonya Laras.
Tono langsung segera keluar dari basecampnya dan membuka pintu gerbang yang besar dengan sedikit usahanya.
"Suami saya sudah pulang?" tanya Nyonya Laras. Ketika membuka pintu hitam kaca mobilnya. Dengan suara angkuh dan tidak perduli dengan sekitarnya.
"Be-belum Nyonya ... Tapi kalau, Non Bian ... Sudah," sahut Tono, yang tiba-tiba merasa gugup karena panik. Ia menunduk sedikit ketika berbicara.
"Saya nanya suami saya! ... Kenapa kamu malah jawab yang lain?!" bentak Laras, yang membuat Tono menjadi lebih takut tidak berani memandang atau bahkan melirik Nyonya besarnya sendiri.
"Ma-maaf Nyonya ..." jawab Tono, bibirnya gemetar ketika takut salah berbicara lagi di depan Nyonya Laras.
Pintu kaca mobil Laras kembali menutup. Dan sedikit terdengar samar suara dari Laras yang kesal kepada Tono. "Dasar budek!" Suara itu pelan. Namun, Tono yang berada di luar masih bisa mendengarnya.
Ketika mobil Nyonya Laras sudah berjalan ke depan rumahnya. Pak Tono kini bisa menghembuskan nafas leganya. Namun kali ini, karena merasa tersinggung ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak bisa berbuat apa-apa selain patuh.
Pak Tono harus segera berlari mengikuti mobil Laras. Untuk memarkirkan dan memasukannya ke dalam garasi bila sudah tidak lagi di pakai.
Ketika keluar dari mobil, Laras berjalan dengan sangat angkuh masuk ke dalam rumahnya. Ingin segera bertemu dengan Anya secepatnya.
"Sayaang ... Bian~" teriak Laras, ketika masuk ke dalam rumah memanggil anaknya yang masih berada di kamar lantai atas. Ekspresinya, terlihat sedikit kesal ketika mengingat cerita Bianca soal Anya.
Bersambung ...