"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Bzzz... Bzzz...
Getaran konstan dari dalam saku gaun kremnya memecah keheningan syahdu yang sempat tercipta antara Vexana dan nisan marmer di depannya.
Vexana mengembuskan napas panjang, merogoh saku, dan mengeluarkan ponselnya.
Di layarnya, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal muncul, memotong barisan kenangan yang sedang ia bangun bersama Amara.
[Unknown Number]:
Kenapa kau memblokirku? Aku Brain. Kita harus bertemu, Vexa. Tolong jangan kekanakan, kita perlu membicarakan ini baik-baik.
Vexana hanya membaca sekilas pesan sampah itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk segaris senyuman sinis yang sarat akan rasa muak.
Tanpa niat sedikit pun untuk membalas, jemarinya bergerak cepat di atas layar, menekan tombol block untuk kesekian kalinya.
Pria itu benar-benar tidak tahu malu. Setelah mengkhianatinya dengan Luna, dia masih berani memintanya untuk bersikap dewasa.
Dia menurunkan ponselnya, lalu kembali menatap ke arah nisan marmer putih di depannya. "Lihat, Amara..." Vexana kembali berlutut, menyentuh permukaan batu dingin itu dengan ujung jemarinya yang gemetar.
"Si brengsek ini masih menghantuiku. Mengapa dunia luar begitu penuh dengan orang-orang palsu? Aku benar-benar lelah..."
Sementara itu, di balik bayangan pilar makam yang tak jauh dari sana, Andriana sudah tidak tahan lagi berada di posisinya.
Mendengar suara parau Vexana yang sarat akan kesedihan dan beban hidup yang begitu berat, ego dan dinding pertahanan yang dibangun Andriana selama bertahun-tahun runtuh seketika.
Andriana berpikir, masa lalu mereka di high school—tentang rebutan Landon Desmon dan perselisihan kekanakan mereka—sudah terlalu usang untuk terus dipertahankan.
Mereka pernah menjadi sepasang sahabat yang sangat dekat sebelum racun kecemburuan memisahkan mereka.
Selama bertahun-tahun di luar negeri, rasa bersalah karena telah mengkhianati persahabatan mereka terus menghantui Andriana. Dia sudah tidak tahan dengan keasingan di antara mereka selama ini. Dia ingin mengakhiri permusuhan dingin ini. Dia akan meminta maaf.
Dengan memantapkan hatinya, Andriana keluar dari tempat persembunyiannya. Langkah kakinya yang tergesa-gesa membelah rumput hijau, mendekati sosok Vexana yang masih berlutut.
"Vexa...."
Suara itu pelan, namun cukup kuat untuk memutus keheningan. Vexana menoleh dengan cepat, matanya yang masih basah oleh sisa air mata membelalak lebar saat menangkap sosok gadis berambut hitam panjang di belakangnya.
Tiba-tiba saja, respons Vexana benar-benar di luar dugaan Andriana. Andriana sudah mempersiapkan mentalnya; dia mengira dia akan dimaki, disumpahi, atau setidaknya diusir dengan pandangan menghina khas seorang Valerio. Ternyata, semua perkiraan buruk di dalam pikirannya salah total.
Vexana langsung berdiri, melangkah maju, dan tanpa ragu langsung memeluk tubuh Andriana dengan sangat erat.
Sangat-sangat erat, seolah-olah dia takut jika dia melepaskan pelukan itu, sosok di hadapannya akan menguap seperti kabut pagi.
"Andriana?! Kau kembali?!" Vexana terisak, bahunya berguncang hebat di dalam dekapan mereka. Sambil menangis, dia mempererat pelukannya, menenggelamkan wajahnya di pundak Andriana.
"Kau menghilang... kau menghilang dari aku dan Amara. Aku merindukanmu, jalang kecil," ucapnya, menggunakan panggilan sayang bernada sarkas yang biasa mereka lontarkan saat masih menjadi remaja pemberontak di masa high school dulu.
Deg.
Andriana mematung di tempatnya. Kedua tangannya yang semula menggantung kaku di udara perlahan-lahan terangkat, membalas pelukan Vexana dengan kebingungan yang luar biasa.
Jalang kecil?
Panggilan-panggilan masa remaja mereka meluncur begitu saja dari bibir Vexana tanpa ada beban dendam sedikit pun.
Andriana bertanya-tanya di dalam hatinya, apa Vexana sudah benar-benar melupakan masa lalu mereka? Apakah waktu telah menghapus semua luka akibat perselisihan mereka tentang Landon?
Merasakan ketulusan dan kehangatan yang luar biasa dari pelukan Vexana, pertahanan Andriana runtuh sepenuhnya. Sedetik kemudian, air matanya juga mengalir membasahi pipi. Dia mendekap tubuh sahabat lamanya itu dengan erat. "Aku juga merindukanmu, Valerio Bar-bar..."
Di dalam pelukan yang hangat dan emosional itu, Vexana terus menggumamkan banyak hal, menumpahkan segala rasa sepi yang dia pendam selama empat tahun ini.
"Amara meninggalkan kita, Dre... dia lebih suka berlari di rumah Tuhan daripada bersama kita di dunia yang memuakkan ini. Tapi tidak apa-apa, kan? Dia... dia sudah bahagia di sana," lirih Vexana, suaranya teredam di pundak Andriana.
Andriana mengangguk pelan, mencoba menenangkan sahabatnya meskipun ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya.
"Iya, Vexa. Dia menemukan teman yang lebih baik daripada kita di sini. Makanya dia meninggalkan kita terlebih dahulu..."
Setelah beberapa saat saling menumpahkan kerinduan, Vexana perlahan mengurai pelukan mereka.
Sambil menghapus air mata di pipinya menggunakan ujung jari, Vexana menatap penampilan Andriana dari atas ke bawah. Untuk sejenak, senyum jenaka muncul di wajahnya yang sembap.
"Hey... bukankah dulu kau paling benci menjadi gendut? Sekarang kau sudah... terlihat lebih berisi," ungkap Vexana, mencoba mencairkan suasana dengan candaan khas mereka.
Andriana spontan membelalakkan matanya, lalu mendengus geli sambil menepuk lengan Vexana pelan. "Aku sedang hamil, dasar gila! Ini kehamilan keduaku!"
"Woah!" Vexana spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak tak percaya. "Hamil? Kehamilan kedua?! Bagaimana bisa? Dimana anak pertamamu?"
"Dia seorang perempuan, sekarang sudah sekolah dan usianya sudah tujuh tahun," jawab Andriana santai, tersenyum bangga memikirkan putri kecilnya.
Namun, senyuman di wajah Vexana mendadak membeku. Kerutan dalam muncul di keningnya. Dia menatap Andriana dengan tatapan seolah-olah sahabatnya itu baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Tujuh tahun? Apa maksudmu tujuh tahun, Driana?" tanya Vexana, suaranya meninggi karena bingung.
"Kita baru lulus high school enam tahun yang lalu. Umur kita baru 24 tahun sekarang. Dan kau bilang anakmu sudah tujuh tahun? Kau konyol. Kau melahirkannya saat kita masih di kelas Tiga SMA? Jangan bercanda."
Andriana menghentikan senyumannya. Dia menatap Vexana dengan tatapan heran yang sangat dalam. "Aku tidak bercanda, Vexa. Anakku memang sudah berusia tujuh tahun. Dan... apa kau lupa? Kita lulus high school bukan enam tahun lalu, tapi sudah delapan tahun yang lalu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar di sekitar Vexana. Angin musim panas Los Angeles yang bertiup di antara pohon willow mendadak terasa sedingin es.
"Delapan tahun?" Vexana memundurkan langkahnya satu tapak, menatap Andriana dengan pandangan ngeri. "Maksudmu... kita lulus SMA delapan tahun yang lalu? Begitu, Andriana? Jangan membuat lelucon yang tidak lucu di depan makam Amara."
Andriana mengangguk pasti, wajahnya kini berubah menjadi sangat serius. Dia melihat ada kepanikan yang nyata dan tidak wajar di sepasang mata Vexana. Dan saat pandangannya beralih dari wajah Vexana, matanya tak sengaja menatap lurus ke arah batu nisan marmer putih yang sejak tadi ditangisi oleh Vexana.
Batu nisan bertuliskan Amara Zamora, dengan tahun kematian empat tahun yang lalu.
Kening Andriana berkerut semakin dalam. Logikanya berputar cepat, mencocokkan garis waktu yang dia ketahui dengan apa yang terpampang di depan matanya saat ini.
"Sepertinya ada yang tidak beres, Vexa..." ucap Andriana lagi, jari telunjuknya terangkat, menunjuk langsung ke arah nama yang terpahat di batu nisan itu.
Vexana Valerio yang masih mematung, dengan jantung yang berdegup kencang laksana genderang perang, tidak memedulikan tunjukan jari Andriana. Pikirannya masih tersangkut pada angka-angka tahun yang disebutkan sahabatnya tadi.
"Kalau kita lulus delapan tahun yang lalu..." Vexana melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Andriana dengan kuat, menuntut jawaban. "Berarti... berarti umur kita sudah 26 tahun? Begitu maksudmu, Andriana?!"
Andriana mengangguk perlahan, rasa heran dan cemas mulai merayap di dadanya melihat respons Vexana yang begitu histeris.
"Ada apa denganmu, Vexa? Kenapa kau jadi amnesia begitu? Umur kita memang sudah 26 tahun sekarang. Kau... kau mengira dirimu masih berusia 24 tahun? Begitu?"
Vexana melepaskan cengkeramannya dari bahu Andriana. Dia mundur beberapa langkah, memegangi kepalanya yang mendadak terasa berdenyut sangat pusing, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan.
Ini... ini semua belum bisa ia pahami. Informasi ini bertentangan dengan seluruh realitas yang dia jalani setiap hari.
Baru kemarin dia merayakan selesainya ujian di Fakultas Bisnis sebagai mahasiswi berusia 24 tahun. Baru kemarin dia mengingat kecelakaan maut itu terjadi empat tahun lalu saat usianya 20 tahun!
"Tidak... tidak mungkin," Vexana menggelengkan kepalanya dengan kuat, napasnya mulai memburu, memicu gejala serangan panik.
Dia berkata dengan suara bergetar, "Aku memang 24 tahun, Andriana! Aku tahu pasti usiaku! Dan... dan Amara juga harusnya berusia 24 tahun bersamaku sekarang jika dia masih hidup!"
Andriana menatap Vexana dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba sekaligus kengerian yang mendalam. Dia melangkah mendekat, mencoba menyentuh tangan Vexana yang dingin dan gemetar.
"Tidak, Vexana. Dengarkan aku baik-baik," ucap Andriana dengan suara yang sengaja ditekankan, seolah ingin menembus dinding ilusi yang mengurung pikiran sahabatnya.
"Amara Zamora juga tetap akan berusia 26 tahun jika dia masih ada. Dan... enam tahun yang lalu, dia dimakamkan di ujung sana. Di blok pemakaman umum. Bukan di sini, Vexa. Bukan di nisan ini."
Deg.
Kata-kata Andriana menghantam kesadaran Vexana laksana gada besi yang menghancurkan seluruh kaca pembatas realitasnya.
Apa lagi ini, Tuhan? batin Vexana, matanya membelalak lebar menatap nisan putih di depannya yang selama empat tahun ini selalu dia kunjungi, selalu dia tangisi, dan selalu dia anggap sebagai tempat peristirahatan Amara Zamora.
Jika dia berusia 26 tahun, mengapa ingatan di kepalanya bersikeras mengatakan dia 24 tahun?
Dan jika Amara dimakamkan di ujung sana enam tahun lalu, lalu... nisan siapa yang sedang dia tangisi selama ini?
Dan tahun kematian empat tahun lalu yang tertulis di nisan ini... milik siapa?
Sebuah lubang hitam misteri mendadak menganga lebar di bawah kaki Vexana, siap menenggelamkannya ke dalam distorsi ingatan yang mengerikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk Karya ini Dengan Komen Suka-suka ya kak, Author Siap Terima Masukan Reader 🙏🏻 Happy Reading 🌷