NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Malam yang Tenang

Udara malam di Puncak terasa jauh lebih dingin dibanding Jakarta.

Kabut tipis mulai turun menutupi sebagian perbukitan teh yang terlihat dari jendela vila.

Luna baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan sweater rajut berwarna krem ketika Alex mengetuk pintu kamar.

Tok.

Tok.

"Luna."

"Iya?"

"Beres belum?"

Luna membuka pintu.

Alex sudah berdiri rapi dengan jaket hitam dan celana panjang santai.

Membuat Luna sedikit heran.

"Kita mau ke mana?"

Alex memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.

"Makan malam."

"Makan malam kan tadi udah."

Alex menggeleng.

"Itu makan sama pengelola kebun."

"Lalu sekarang?"

"Kita makan berdua."

Luna langsung tersenyum lebar.

"Oke."

---

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil.

Luna memperhatikan jalanan yang mulai sepi.

Lampu-lampu kendaraan terlihat berkilauan di antara kabut malam.

"Jauh?"

tanya Luna.

"Nggak."

jawab Alex.

"Sekitar lima belas menit."

---

Perjalanan terasa menyenangkan.

Karena sudah lama mereka tidak memiliki waktu berdua tanpa gangguan pekerjaan.

Tanpa telepon kantor.

Tanpa rapat.

Tanpa Family Gathering.

Hanya mereka berdua.

---

Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang berdiri di pinggir bukit.

Mata Luna langsung membesar.

Cafe itu terlihat cantik.

Didominasi kayu dan kaca besar yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh.

Lampu-lampu hangat menggantung di berbagai sudut.

Menciptakan suasana yang nyaman dan romantis.

"Bagus banget."

gumam Luna.

Alex tersenyum tipis.

"Aku tahu kamu bakal suka."

---

Begitu masuk, aroma kopi dan teh langsung menyambut mereka.

Suasana cafe tidak terlalu ramai.

Hanya beberapa pengunjung yang duduk menikmati malam.

Alex memilih meja di dekat jendela.

Dari sana mereka bisa melihat lampu-lampu kecil yang tersebar di area perkebunan.

Seperti bintang yang turun ke bumi.

---

"Aku baru tahu ada tempat sebagus ini."

kata Luna.

"Aku sering ke sini dulu."

jawab Alex.

"Dengan Mama?"

Alex mengangguk.

"Iya."

---

Luna tersenyum kecil.

Belakangan ini Alex memang lebih sering bercerita tentang ibunya.

Dan Luna senang mendengarnya.

Karena itu membuatnya merasa lebih dekat dengan pria tersebut.

---

Seorang pelayan datang membawa menu.

Namun ternyata Alex sudah memesankan semuanya sebelumnya.

"Kamu udah pesan?"

tanya Luna.

"Iya."

"Kalau aku nggak suka?"

Alex menatapnya datar.

"Kamu pasti suka."

Luna tertawa.

"Terlalu percaya diri."

---

Tak lama kemudian makanan datang.

Pasta.

Steak.

Kentang panggang.

Dan teh hangat hasil kebun milik keluarga Dimitri.

Luna langsung mencicipinya.

Lalu matanya berbinar.

"Enak."

Alex terlihat puas.

"Kan."

---

Mereka mulai makan sambil mengobrol santai.

Tentang pekerjaan.

Tentang Family Gathering.

Tentang masa kuliah Luna.

Dan berbagai hal kecil yang selama ini tidak sempat mereka bicarakan.

---

"Ngomong-ngomong."

kata Alex.

"Hm?"

"Aku dengar presentasimu kemarin bagus."

Luna langsung mengangkat kepala.

"Kamu dengar dari siapa?"

"Ryan."

Luna langsung tertawa.

"Dia emang nggak bisa diam ya."

Alex ikut tersenyum.

---

"Jadi?"

tanya Alex.

"Menurut kamu?"

Luna berpikir sejenak.

"Aku masih banyak belajar."

Alex mengangguk.

"Itu bagus."

"Bagus?"

"Orang yang merasa sudah sempurna biasanya berhenti berkembang."

Luna tersenyum.

Kadang nasihat Alex terdengar sederhana.

Tapi selalu masuk akal.

---

Beberapa saat kemudian suasana menjadi lebih tenang.

Mereka menikmati makanan masing-masing sambil sesekali melihat pemandangan malam di luar.

Angin dingin membuat kaca jendela sedikit berembun.

Menciptakan suasana yang nyaman.

---

"Alex."

"Iya?"

"Aku boleh tanya sesuatu?"

Alex mengangguk.

"Tanya aja."

---

Luna terdiam sesaat.

Lalu berkata pelan,

"Kalau waktu itu Kak Liana nggak kabur..."

Alex menghentikan gerakan tangannya.

Pertanyaan itu membuatnya sedikit terkejut.

---

"Kamu pernah mikirin nggak?"

lanjut Luna.

"Kalau hidup kita bakal seperti apa sekarang?"

---

Beberapa detik Alex tidak menjawab.

Hanya menatap secangkir teh di depannya.

Kemudian ia mengangkat kepala.

"Aku pernah."

jawabnya jujur.

---

Luna menunggu.

---

"Dulu aku pikir pernikahan itu cuma kewajiban."

kata Alex.

"Kewajiban terhadap Kakek."

"Kewajiban terhadap keluarga."

Luna mendengarkan tanpa menyela.

---

"Aku nggak pernah membayangkan akan jatuh cinta."

lanjut Alex.

Apalagi mengucapkan kalimat itu dengan suara setenang sekarang.

Membuat jantung Luna berdetak lebih cepat.

---

"Lalu?"

tanya Luna pelan.

Alex menatapnya.

Lama.

Sangat lama.

Sampai Luna hampir lupa bernapas.

---

"Lalu ternyata aku salah."

ucap Alex.

---

Wajah Luna langsung memanas.

Bukan karena udara.

Melainkan karena cara Alex menatapnya.

---

Pria itu memang tidak romantis.

Tidak pandai merangkai kata-kata manis.

Namun setiap kalimat yang keluar darinya selalu terdengar tulus.

Dan justru itu yang membuat hati Luna bergetar.

---

"Kalau boleh jujur."

kata Alex.

"Aku bersyukur semuanya terjadi seperti sekarang."

Luna terdiam.

Tak mampu berkata apa-apa.

---

Di luar jendela.

Kabut semakin tebal.

Lampu-lampu kecil terlihat samar.

Namun suasana di antara mereka terasa hangat.

Sangat hangat.

---

Malam itu menjadi salah satu malam favorit Luna.

Bukan karena cafe yang indah.

Bukan karena makanan yang enak.

Melainkan karena untuk pertama kalinya Alex secara terbuka mengakui sesuatu yang selama ini hanya mereka rasakan.

Bahwa pernikahan yang awalnya terpaksa itu...

Kini telah menjadi sesuatu yang berharga bagi mereka berdua.

Dan Luna tahu.

Perasaannya terhadap Alex juga semakin dalam setiap harinya.

Tanpa mereka sadari, malam yang tenang itu akan menjadi kenangan yang terus mereka ingat.

Sebelum badai baru kembali menunggu di Jakarta.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!