King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Matahari pagi Chicago menyapa jendela apartemen Lincoln Park dengan berkas cahaya keemasan yang hangat.
Bagi Olivier Martinez, pagi ini adalah babak baru yang harus ia jalani dengan kepala tegak.
Setelah malam yang menguras emosi di kamar VIP nomor satu, ia memilih mengubur seluruh percakapannya dengan King Stone jauh-dalam di sudut memorinya. Fokus utamanya saat ini, dan selamanya, adalah putri kecilnya.
"Mommy, ayolah! Kita bisa terlambat kalau Mommy masih melamun sambil memegang sendok selai," seru sebuah suara nyaring yang seketika memecahkan lamunan Olivier.
Nora Amelie sudah berdiri di dekat meja makan dengan seragam sekolah swasta khususnya yang rapi.
Tas ransel bermotif rasi bintang sudah bertengger di punggung kecilnya. Gadis berusia hampir sepuluh tahun itu menatap ibunya dengan sebelah tangan bertumpu di pinggang, menampilkan ekspresi menuntut yang sangat familier.
Olivier tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya untuk mengusir sisa kabut pikiran. "Maaf, Sayang. Mommy hanya memastikan tidak ada peralatanmu yang tertinggal. Ayo, kita berangkat sekarang."
Pagi ini, Nora meminta secara khusus agar Olivier mengantarnya hingga ke depan gerbang sekolah.
Biasanya, Nora pergi bersama bus jemputan atau ditemani Nenek Martha, namun karena hari ini ada presentasi proyek sains tahunan, Nora ingin sang ibu menyaksikan keberangkatannya.
Olivier tentu tidak bisa menolak. Ia segera menyambar kunci mobil, menuntun Nora keluar dari apartemen, dan membelah jalanan Chicago yang mulai merayap padat.
***
St. Jude Academy adalah salah satu sekolah paling prestisius di distrik utara Chicago.
Kompleks sekolah berarsitektur gotik modern ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan elite, mulai dari putra-putri politisi, pengusaha papan atas, hingga keluarga lama yang memiliki pengaruh besar di kota ini.
Olivier sengaja memilih sekolah ini karena sistem pengamanan dan kurikulum sainsnya yang luar biasa, tanpa pernah menduga bahwa hierarki tertinggi Chicago juga menempatkan keturunan mereka di tempat yang sama.
Mobil Olivier berhenti di area drop-off yang dipenuhi oleh deretan sedan mewah dan SUV hitam antipeluru.
"Semoga sukses dengan presentasimu, anak pintar. Mommy akan menjemputmu tepat jam empat sore nanti," ucap Olivier sembari mengecup kening Nora dengan penuh kasih sayang.
"Tenang saja, Mom. Proyek ku akan membuat para juri kagum," balas Nora dengan binar percaya diri yang mutlak di mata bulatnya. Ia memberikan pelukan singkat, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Olivier menurunkan kaca jendela mobilnya, mengawasi punggung putrinya yang berjalan tegap menyusuri selasar sekolah. Namun, baru beberapa langkah Nora berjalan, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat dengan plat nomor khusus berhenti tepat di belakang mobil Olivier.
Pintu belakang mobil mewah itu terbuka. Langkah pertama yang menapak ke aspal adalah sepatu pantofel buatan Italia yang berkilat sempurna.
Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang pria bertubuh tinggi tegap yang mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap tanpa cela.
Kaelix Stone. Pangeran ketiga dari klan Stone.
Berbeda dengan King yang memancarkan aura intimidasi yang panas dan meledak-ledak, atau Kendrick yang efisien, Kaelix adalah perwujudan dari gunung es yang tak tersentuh.
Kaelix berbalik, lalu mengulurkan tangannya yang dibalut sarung tangan kulit tipis untuk membantu seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun turun dari kursi belakang. Anak itu adalah Xander Hayes-Stone, putra tunggal Kaelix.
Begitu Xander berdiri di samping ayahnya, siapa pun yang melihat anak itu pasti akan langsung terkesima.
Xander memiliki keunikan fisik yang sangat langka: heterochromia murni.
Olivier yang masih berada di dalam mobilnya mendadak merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Jelas saja Ia mengenali Kaelix.
Meskipun mereka jarang berinteraksi saat di high school dulu karena Kaelix selalu menutup diri di perpustakaan atau ruang senat, Olivier tahu betul pria itu adalah adik kembar King dan Kendrick—meskipun mereka bertiga tidak terlahir sebagai kembar identik, melainkan kembar fraternal yang memiliki perbedaan fisik dan karakter yang cukup jelas.
Di selasar sekolah, sebuah insiden kecil terjadi. Nora yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil memeriksa catatan di tabletnya tidak sengaja menyenggol bahu kecil Xander yang baru saja berjalan masuk. Catatan kertas milik Xavier terjatuh ke lantai.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak melihat jalan," ucap Nora cepat. Dengan cekatan, ia berlutut untuk membantu mengambilkan kertas tersebut.
Xavier ikut berlutut, sepasang matanya yang unik menatap Nora. "Tidak apa-apa, Kak. Aku juga tidak memperhatikan."
Kaelix Stone yang berdiri di dekat mereka otomatis menghentikan langkahnya. Matanya yang sedingin es langsung menunduk, mengawasi interaksi kedua anak itu.
Kaelix awalnya berniat menyuruh pengawalnya untuk menjauhkan anak asing tersebut dari putranya, namun saat Nora mendongak untuk menyerahkan kertas pada Xavier, pandangan mata Kaelix mendadak terkunci pada wajah Nora.
Kaelix menyipitkan matanya yang tajam. Ia meneliti setiap senti dari struktur wajah gadis kecil berusia sepuluh tahun itu.
Kenapa... matanya sangat mirip dengan mata King? batin Kaelix, dadanya berdenyut oleh sebuah rasa penasaran yang aneh.
Cara Nora menatap, binar fokus di matanya, hingga bentuk lipatan kelopak matanya adalah replika sempurna dari sepasang mata elang milik kakak sulungnya, King Stone.
Hanya saja, karena ini adalah versi anak perempuan yang lebih lembut, wajah itu terlihat sangat manis.
Kaelix terdiam selama beberapa detik, menganalisis garis rahang dan ekspresi tegas Nora yang sangat khas klan Stone. Namun, setelah beberapa saat melakukan pengamatan dingin, Kaelix perlahan menggelengkan kepalanya secara samar. Ia mengusir pikiran gila yang sempat melintas di benaknya.
Sebagai adik yang tumbuh bersama di dalam kastel keluarga, Kaelix tahu betul bagaimana tabiat saudara-saudaranya.
Meskipun King terkenal sebagai playboy arogan yang kerap memamerkan pesonanya di masa muda, Kaelix sangat mempercayai satu hal: King adalah pria yang memegang teguh sumpah dan janjinya di hadapan Mommy Emmeline.
King tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun menyentuh atau berbagi ranjang pribadinya. Kaelix tahu tempat tidur kakaknya tetap steril dari sentuhan wanita luar, jadi mustahil ada anak haram klan Stone yang berkeliaran di sekolah ini, apalagi anak sekira seusia sepuluh tahun.
"Ayo, Xander. Kita harus masuk," ucap Kaelix, suaranya terdengar datar dan dingin, memutus kontak mata dengan Nora.
Nora berdiri, memberikan senyuman sopan, lalu berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelas sains yang terletak di gedung sayap barat.
Karena Nora berusia hampir sepuluh tahun, dia berada di kelas yang lebih tua tiga tahun di atas Xander yang masih berada di tingkat dasar.
Xander menerima kertasnya, lalu menggandeng ujung jas ayahnya saat mereka berjalan masuk menuju lobi utama sekolah. Namun, baru beberapa langkah menjauh dari gerbang, anak kecil bermata indah itu mendongak, menatap wajah kaku Kaelix.
"Daddy," panggil Xander dengan suara khas anak-anaknya yang polos.
"Ya, Xander?"
"Gadis yang tadi menyenggolku... apa Daddy tidak melihatnya?" tanya Xavier, mata biru dan cokelatnya berkedip berurutan.
"Wajahnya... wajah itu sangat mirip dengan Kyara (Anak Kendrick), Dia juga terlihat seperti versi perempuan dari Uncle King."
Deg.
Langkah kaki Kaelix Stone seketika terhenti tepat di tengah lobi utama St. Jude Academy.
Aura dingin yang melingkupi tubuhnya mendadak menegang dengan ketat. Kata-kata polos dari putranya itu menghantam logikanya yang kaku dengan hantaman yang luar biasa telak.
Jika Xander yang masih anak-anak saja bisa melihat kemiripan yang begitu spesifik antara gadis kecil tadi dengan Kyara dan King, maka itu bukan lagi sekadar kebetulan visual yang bisa diabaikan.
Kaelix menoleh kembali ke arah gerbang sekolah, namun siluet Nora sudah menghilang di balik kerumunan murid, dan mobil SUV putih milik Olivier Martinez juga sudah bergerak pergi meninggalkan area drop-off.
Di dalam mobilnya, Olivier mencengkeram kemudi dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ia sempat melihat bagaimana Kaelix meneliti wajah putrinya tadi dari kaca spion. Detak jantungnya bergemuruh hebat di balik dadanya.
"Hampir saja..." bisik Olivier dengan napas yang memburu.
Ia tidak menyangka bahwa bahaya akan datang dari arah yang sama sekali tidak terduga—melalui Kaelix dan sepupu kecil Nora.
Pertemuan pagi ini di St. Jude Academy menjadi sinyal peringatan paling keras bagi Olivier bahwa Chicago tidak lagi aman untuk menyembunyikan rahasia terbesarnya.
Benang merah yang menghubungkan Nora dengan klan Stone perlahan-lahan mulai ditarik oleh takdir, dan Olivier tahu, ia harus bergerak lebih cepat sebelum Kaelix atau siapa pun dari tiga bersaudara Stone itu mulai melakukan penyelidikan formal yang akan merenggut kebahagiaan hidup putrinya.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣