Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Kamar berukuran empat kali empat meter itu cuma diterangi pancaran cahaya dari tiga monitor LED yang menyala terang di atas meja kayu panjang. Di luar jendela besar, langit seputar perumahan klaster pinggir danau masih berwarna biru gelap keunguan. Kabut tipis pagi hari tampak mengapung malas di atas permukaan air yang tenang. Jam digital yang berada di pojok kanan bawah layar komputer utama menunjukkan pukul 04.15 pagi. Suasana di dalam rumah itu sunyi senyap, jenis kesunyian yang mencekat, dingin, dan sudah menjadi teman akrab Jasmine Elvira selama bertahun-tahun. Sejak memutuskan untuk hidup mandiri dan keluar dari panti asuhan tempatnya dibesarkan sejak bayi, Jasmine sudah terbiasa dengan kesendirian. Rumah bernuansa asri yang sekarang dia tempati ini sebenarnya terlalu luas untuk dihuni oleh satu orang gadis tanpa keluarga. Namun, di sinilah Jasmine, menjalani hidupnya yang monoton tanpa banyak berinteraksi dengan dunia luar. Kesunyian di dalam kamar itu mendadak pecah oleh rentetan bunyi klik dari mouse gaming dan ketukan cepat, beritme, serta bertenaga di atas keyboard mekanik.
"Gue incer backline mereka. Ilias, tahan lini depan. Bryan, jangan mati konyol please. Ini match penentuan," sebuah suara bariton terdengar dari headphone hitam yang melingkar di kepala Jasmine. Suara itu datar, dingin, namun entah kenapa selalu berhasil membuat Jasmine merasa membumi dan aman.
Itu Axel. Kapten tim mereka, sekaligus orang pertama yang menarik Jasmine keluar dari lubang depresi saat dia baru saja mulai merintis karier di dunia game. Axel adalah sosok yang selalu ada di baris paling depan setiap kali Jasmine merasa tersesat atau mulai tenggelam dalam rasa sepinya yang akut.
"Aku back up dari belakang, Kak Axel. Mana karakter aku masih penuh. Jangan maju sendirian," balas Jasmine pelan. Suaranya agak serak dan lemah karena dia belum meneguk air minum sama sekali sejak semalam. Fokusnya benar-benar tersita.
Di layar monitor utama Jasmine, karakter Kira Permafrost dengan elemen es miliknya bergerak lincah di area map kompetitif game PC taktis populer, turnamen esports. Jarinya menari super cepat di atas keyboard itu. Mata indahnya yang kelihatan lelah namun tajam fokus menatap pergerakan piksel demi piksel di depannya. Refleksnya luar biasa, tidak menunjukkan tanda-tanda kantuk sedikit pun meskipun dia sudah terjaga belasan jam. Hari-hari Jasmine memang dihabiskan di depan komputer ini. Sebagai seorang freelance pro player, dunianya berputar di antara strategi, refleks mikro-makro, dan tekanan kompetisi tingkat tinggi. Ini adalah hidup yang dia pilih setelah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Jasmine adalah seorang yatim piatu. Sejak bayi, dia tidak pernah tahu bagaimana hangatnya pelukan seorang ibu atau tegasnya suara seorang ayah. Dia tumbuh besar di sebuah panti asuhan yang padat. Begitu menginjak usia 15 tahun, didorong oleh keinginan untuk tidak lagi membebani ibu panti dan impian untuk mandiri, Jasmine memilih keluar dari panti tersebut. Tahun-tahun awal setelah keluar dari panti adalah masa yang paling berat. Di usia yang masih sangat muda, Jasmine harus pontang-panting bekerja part time sehabis pulang sekolah. Tubuhnya sering kali lelah luar biasa, tetapi impiannya tidak pernah surut. Setiap malam, setelah pulang kerja dan membersihkan diri di kamar kosannya yang sempit kala itu, Jasmine akan menyalakan komputer rakitan murahnya untuk bermain game hingga larut malam. Di dunia virtual itulah, Jasmine menemukan pelarian. Di sana, dia bukan lagi anak yatim piatu yang kesepian, melainkan seorang petarung yang tangguh. Keahliannya yang terus terasah itulah yang akhirnya membawanya ke titik ini, menjadi pro player yang diakui.
"Jasmine, kanan! Ada yang flank! Dua orang!" giliran suara Kenzie yang menyahut lewat voice chat, memecah lamunan sekilas Jasmine tentang masa lalu. Suara Kenzie terdengar santai tapi penuh peringatan.
"Aman, udah gue pasang trap di koridor kanan. Mereka gak bakal bisa lewat tanpa kena stun," timpal Ilias dengan nada bapak-bapaknya yang super sabar dan selalu menenangkan.
"Sikat, Jasmine! Jangan kasih ampun! Kalau match ini menang, aku traktir batagor depan komplek kamu besok siang!" teriak Bryan random melalui mikrofonnya, seketika merusak atmosfer tegang turnamen latihan malam itu.
Jasmine tidak menjawab celetukan Bryan, tapi sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman yang sangat samar. Detik berikutnya, fokusnya kembali terkunci penuh pada layar monitor. Tangan kanannya menggeser mouse dengan presisi tinggi, mengarahkan kursor tepat pada target.
*Klik! Klik!*
*Double Kill!*
Karakter Jasmine berhasil menumbangkan dua musuh yang mencoba menerobos pertahanan tim mereka dari arah samping dengan kombinasi skill es yang mematikan.
"Rata. Tinggal satu orang lagi di site B," lapor Jasmine pendek, memberikan informasi penting kepada rekan setimnya.
"Nice info, Jasmine. Biar aku yang urus sisanya. Kamu stay di pos kamu, jangan terpancing keluar," perintah Axel tegas. Di layar, karakter Razer milik Axel bergerak secepat kilat, menerjang bayangan, dan mengeksekusi musuh terakhir dengan mekanik yang luar biasa rapi dan tanpa celah.
"VICTORY!"
Efek suara kemenangan menggema keras dari speaker headphone Jasmine, disusul sorak-sorai heboh dari Bryan yang langsung pamer kalau damage yang dia hasilkan paling tinggi di antara yang lain, padahal kalau dilihat dari bagan statistik, itu bohong besar. Satu per satu anak-anak tim mulai berpamitan untuk tidur karena cahaya matahari sebentar lagi akan benar-benar terbit. Panggilan suara di Discord perlahan-lahan menjadi sepi setelah Ilias, Kenzie, dan Bryan disconnect, menyisakan Jasmine dan Axel yang masih berada di dalam room voice chat yang sama. Jasmine menghela napas panjang. Dia melepas headphonenya dan mengalungkannya di leher, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi gaming yang empuk. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pegal akibat terlalu lama menatap layar. Kesunyian rumah itu langsung kembali menyergapnya, terasa jauh lebih dingin dan sunyi setelah keramaian game tadi usai.
"Jasmine," suara Axel kembali memecah keheningan dari headphone yang tergeletak sedikit menjauh di atas meja. Jasmine sengaja menghidupkan fitur loudspeakernya.
"Iya, Kak Axel? Ada apa?" Jasmine menjawab sambil memejamkan mata, menikmati rasa rileks yang perlahan menjalar di tubuhnya.
"Kamu jangan langsung tidur. Minum air putih dulu yang banyak. Aku tahu dari semalam kamu cuma modal kopi instan sasetan di meja kamu," kata Axel. Cowok itu memang terkenal sangat irit omong dan sedingin es kalau di depan orang lain atau saat sedang diwawancarai media. Namun, jika sudah berbicara berdua dengan Jasmine, kadar perhatiannya bisa naik drastis tanpa dia sadari sendiri. Penggunaan kata yang lembut selalu menjadi pengecualian khusus dari Axel hanya untuk gadis itu.
Jasmine terkekeh pelan, membuka matanya dan menatap layar monitornya yang kini menampilkan halaman statistik akhir pertandingan. "Iya, ini aku mau ambil minum ke dapur. Terima kasih ya, Kak Axel, udah nemenin latihan sampai subuh begini."
"Aku enggak nemenin kamu latihan. Ini memang sudah jadi jadwal wajib tim kita sebelum berangkat ikut turnamen internasional di London bulan depan. Kamu jangan kepedean," balas Axel cepat, berusaha menyembunyikan perhatiannya dengan sifat gengsinya yang khas.
Namun, setelah jeda beberapa detik yang canggung, suara Axel kembali melunak, terdengar lebih berat dan dalam. "Tapi... kalau kamu merasa rumah kamu terlalu sepi atau kamu lagi tidak bisa tidur... kamu tahu kan nomor aku selalu aktif dua puluh empat jam buat kamu?"
Kata-kata sederhana dari Axel itu berhasil membuat dada Jasmine sedikit menghangat. Di dunia yang asing ini, di mana dia tidak memiliki satu pun anggota keluarga sedarah yang bisa didekap, Axel adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dan tenggelam dalam rasa sepi yang bisa merusak mentalnya. Axel adalah orang yang menariknya masuk ke dalam tim pro ini, Axel yang melatih ketahanan mentalnya, dan Axel pula yang selalu sadar kapan Jasmine mulai merasa kesepian hanya dari cara cewek itu mengetik di chat game atau dari nada bicaranya yang sedikit berubah. Kedekatan yang intens itulah yang perlahan-lapan, tanpa disadari oleh Jasmine, mulai melelehkan hati Axel yang sedingin gunung es. Axel mulai jatuh hati pada gadis pendiam yang rapuh namun berpura-pura kuat ini.
"Iya, Kak Axel. Aku tahu. Terima kasih banyak buat semuanya," ucap Jasmine dengan nada yang sangat tulus.
"Ya udah, aku off duluan. Kamu langsung istirahat. Jangan nonton drakor lagi, jangan lupa pakai jaket atau hoodie yang tebal kalau kamu mau keluar halaman buat cari angin pagi. Di luar dingin banget," ucap Axel memberikan instruksi terakhir sebelum akhirnya ikon akun Discordnya berubah menjadi warna abu-abu, menandakan bahwa sang kapten sudah benar-benar log out dari jaringan.
Jasmine menatap layar komputernya yang kini benar-benar sepi dan gelap setelah dia mematikan aplikasinya. Rutinitasnya sebagai seorang pro player papan atas mungkin kelihatan sangat keren, mewah, dan menyenangkan di mata orang awam. Bisa menghasilkan banyak uang hanya dari dalam kamar, memenangkan turnamen, dan memiliki ribuan penggemar yang mengidolakannya di media sosial. Namun bagi Jasmine, semua teknologi canggih dan layar komputer ini hanyalah sebuah tameng besar sekaligus pelarian sementaranya dari kenyataan hidup yang pahit. Kenyataannya adalah, saat tombol power komputer itu ditekan dan semua layar menjadi hitam, dia hanyalah seorang Jasmine Elvira. Seorang gadis yatim piatu berusia 23 tahun yang tidak memiliki siapa-siapa, yang harus berjuang melawan rasa sunyi yang menggerogoti hatinya setiap hari di dalam rumah besar yang terletak di tepi danau ini.
---
Dia berdiri dari kursi, meregangkan otot-otot leher dan lengannya yang terasa kaku setelah duduk berjam-jam. Jasmine berjalan perlahan ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah danau di depan perumahannya. Kabut putih sisa malam tampak menari-nari di atas permukaan air yang jernih, menciptakan pemandangan yang indah namun sekaligus terasa menyedihkan bagi seseorang yang berhati sepi.
"Dingin banget ya ternyata..." gumam Jasmine pada diri sendiri, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai merasakan terpaan suhu pagi.
Dia berjalan mendekati tempat tidur, mengambil sebuah hoodie hitam kebesaran yang tergeletak di sana, lalu memakainya hingga menutupi sebagian besar rambut panjangnya dan separuh wajahnya yang tampak pucat karena kurang tidur. Jasmine memutuskan untuk keluar rumah sebentar, berjalan kaki di sepanjang tepi danau demi menghirup udara segar yang bersih, berharap oksigen pagi bisa mengusir rasa penat, kantuk, dan kabut kesepian yang bergantung di dalam kepalanya. Gadis itu melangkah keluar, mengunci pintu rumahnya, tanpa pernah tahu bahwa keputusan sederhana untuk keluar rumah di pagi yang dingin ini akan mempertemukannya dengan seseorang dari masa lalu yang terlupakan. Seseorang yang akan membalikkan seluruh dunia virtualnya dan mengarahkannya keluar dari lingkaran kesunyian untuk selamanya.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏