NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Teman Baru

Senin gue langsung gas ke gym deket apartemen. Badan masih pegel gara-gara semalem sama Ria, tapi gue butuh endorfin. Gymnya rame, musik EDM kenceng. Gue lagi angkat dumbbell di area free weight pas mata gue ketemu sama cewek yang badannya gila.

Nina. Tinggi sekitar 165, umur 28an, badannya berisi banget. Pinggul lebar, pantatnya montok bulat, perut rata tapi dada sama paha penuh. Pakai sport bra ketat sama legging hitam yang nempel banget di tubuh melengkungnya. Dia lagi squat, pantatnya naik turun bikin konsentrasi gue buyar. Nina satu kompleks apartemen hanya beda tower. Rasanya bakal jadi teman hot juga karena apartemennya dekat.

“Eh, lo baru ya? Keliatan sering tapi baru notice,” gue sapa sambil nyengir pas dia istirahat.

Nina balas senyum, keringetan di dada. “Iya, Nina. Lo Bram kan? Sering liat lo angkat beban berat. Kuat juga ya.”

Obrolan ringan, dia cerita kerja di marketing juga, suka gym tiap pagi biar badan tetap oke. Ga lama Poppy dateng, janda cantik umur 34. Muka dia baby face, badan masih kenceng meski udah punya anak satu. Rambut pendek, senyumnya manis.

“Poppy nih temen gue,” kata Nina. “Dia janda, tapi masih hot kan?”

Poppy ketawa malu. “Nina apaan sih. Hai Bram.” Poppy tidak tinggal di apartemen tapi kost agak jauh dari apartemen.

Terus Ulva muncul. Badannya mirip Nina, melengkung, pantat sama dada berisi, tapi muka lebih imut. Umur 29, belum nikah.

“Ulva, temennya Poppy juga. Kita bertiga sering bareng,” kata Nina. Ulva tak kalah hotnya. Ukuran dadanya paling besar dibanding yang lain dan terawat meski tak semulus Nina yang tangannya berbulu dan sedikit kumis.

Gue ngobrol sama mereka bertiga sambil latihan. Banyak dialog receh soal gym, diet, sampe gosip seleb. Nina paling agresif, sering senggol tangan gue pas nunjukin teknik squat. Poppy lebih kalem, Ulva suka ketawa kecil tiap gue godain.

“Besok pagi gym lagi yuk Bram, bareng kita,” ajak Nina sambil ngedip.

“Deal,” gue jawab. Bram juga minta no WhatsApp ke Nina berikut Poppy dan Ulva.

Sore harinya Aprilia chat.

Aprilia: Bram, free ga malem ini? Mau jalan ke mall terus nonton film baru?

Gue langsung setuju. Ketemu di mall Senopati. Aprilia pakai dress hijau off-shoulder kayak di foto yang ibu kirim, keliatan elegan banget. Rambut bergelombang, kalung mewah, senyumnya dewasa.

“Kamu keliatan fresh,” katanya pas gue jemput.

“Kamu juga cantik banget. Dressnya cocok.”

Kita jalan ke mall, ngobrol soal kerjaan bank dia, target gue di retail. Makan malam ringan, terus nonton film action di bioskop. Di dalam gelap, tangan gue pegang tangannya pelan. Dia ga narik.

Pas film selesai, di parkiran, gue berani. Gue tarik pinggangnya pelan, cium bibirnya. Aprilia kaget sebentar, tapi balas ciuman gue. Bibirnya lembut, manis. Ciuman kami agak lama, lidah sedikit bertemu.

“Wah… pelan-pelan ya Bram,” katanya sambil blushing tapi senyum.

“Maaf, kebawa suasana,” gue bales sambil garuk kepala.

Pulang dari Aprilia, HP gue bunyi. Laras.

Laras: Bram, kita baikan. Mau ketemu besok?

Gue senyum, tapi sebelum bales, chat Ria masuk.

Ria: Apartemen sekarang. Suami ga ada, kangen punya lo.

Gue mikir bentar. Laras lagi baikan, Aprilia baru, tapi nafsu gue naik gara-gara ciuman tadi. Akhirnya gue ke apartemen Ria.

Dia buka pintu pake kimono tipis doang. Langsung tarik gue masuk.

“Malem ini kita pake kamar utama, kamar Angga. Gue mau lo kasarin istri dia di tempat tidurnya,” bisik Ria mesum.

Kamarnya mewah, king size bed, foto pernikahan Angga-Ria di dinding. Ria dorong gue ke kasur, lepas kimono. Badannya telanjang, payudara gede, organ kewanitaan udah basah.

Foreplaynya lama banget. Gue cium lehernya, turun ke dada, isep puting sambil jari gue main di memeknya. Ria mendesah keras.

“Ahh… Bram… jilatin gue dulu.”

Gue turun, jilat punyanya pelan, lidah muter di lubang itu. Ria pegang kepala gue, pinggulnya goyang. “Enak… lebih dalam… iya gitu!”

Gue masukin dua jari, gerakin cepet sambil hisap. Ria orgasme pertama, cairannya muncrat kecil.

“Gantian,” katanya. Dia ngisep senjata gue dalam-dalam, lidahnya muter, tangan goyang pelan. Lama banget, hampir 10 menit gue tahan.

Akhirnya gue angkat dia, posisi missionary di kasur Angga. Gue masukin pelan, dorong dalam. Ria jerit, “Habisin! Hajar istri orang ini!”

Gue pompa kenceng, tangan remas payudaranya. Pindah ke posisi doggy, pantat Ria gue tampar pelan, punya gue masuk keluar bunyi plok-plok. Ria jerit-jerit, “Lebih kenceng Bram… Angga ga pernah gini!”

Gue tahan lama, ganti posisi wanita diatas. Dia naik turun di atas gue, payudaranya goyang-goyang. Gue pegang pinggul, dorong dari bawah. Foreplay panjang bikin kami lama banget main. Akhirnya gue keluar di dalam pas dia orgasme ketiga.

Kami rebahan keringetan. “Enak banget malem ini,” kata Ria sambil cium dada gue.

Pagi harinya gue gym lagi. Nina udah nunggu.

“Ayo Bram, latihan bareng,” ajaknya.

Setelah latihan, di ruang ganti cewek yang lagi sepi, Nina tarik gue masuk. “Cepet, gue pengen.” Tanpa basa basi

Gue hajar dia di bangku ganti. Buka leggingnya, pantat montoknya gue remas. Gue masukin dari belakang, doggy cepet dan kasar. Nina gigit handuk biar ga jerit.

“Ahh… gede banget… hajar terus Bram!”

Gue pompa kenceng, tangan pegang pinggul lebarnya. Ganti posisi berdiri, angkat satu kakinya. Nina lemas, badannya gemeteran orgasme. Gue keluar di perutnya. Dia ambruk duduk, napas ngos-ngosan.

“Besok lagi ya,” katanya lemes.

Gue ke kantor siangnya, telat. Pas makan siang, dipanggil HRD.

Bu Sita, umur 38-an, duduk di ruangan dengan kemeja ketat yang dua kancing atas kebuka, bra hitamnya keliatan jelas. Dada dia gede, senyumnya profesional tapi nakal.

“Duduk Bram. Ini surat peringatan. Kamu telat 3 kali bulan ini. Gaji dipotong 500 ribu.”

“Bu, maaf. Kemarin overtime,” gue coba alesan.

Bu Sita angkat alis, dada naik turun. “Overtime sama Bu Ria ya? Hati-hati, banyak yang ngawasin. Kalau mau nego, ke ruangan aku sore nanti.”

Dia nyengir tipis, jari mainin kancing kemeja. Gue keluar ruangan dengan perasaan panas lagi. Gaji dipotong, tapi hari ini penuh banget Nina di gym, Aprilia ciuman, Laras baikan, Ria semalem, sekarang Bu Sita.

Pulang kantor gue chat Laras.

Bram: Besok ketemu yuk, maaf soal Vera.

Laras: Oke, tapi pelan-pelan ya.

Gue senyum. Tapi besok pagi Nina pasti nunggu di gym lagi. Hidup gue makin rumit, tapi enak.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!