NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Perpisahan & Senjata Penyelamat

"Ying'er!"

Melihat sosok gadis di depan pintu kios, mata Lin Qian berbinar senang. Siapa lagi kalau bukan Peng Ying , teman masa kecil yang sudah tidak ia temui berbulan-bulan lamanya. Wajah gadis itu masih sama manis dan bersahaja seperti dulu.

"Mhm." Peng Ying hanya mengangguk pelan, senyumnya tampak sedikit kaku dan berat.

"Ayo masuk, duduk dulu di dalam," ajak Lin Qian ramah sambil menggenggam tangan mungil itu.

"Tidak usah." Peng Ying perlahan menarik tangannya. Ia tampak ragu, seolah ada kata-kata yang tertahan di tenggorokannya. Akhirnya ia menghela napas panjang. "Aku tidak akan lama. Hanya lewat, sekadar melihat keadaanmu. Oh ya… ada kabar baik. Aku… aku sudah diterima di Sekte Lingxue. Sekarang aku sudah jadi murid luar di sana."

"Begitu ya? Selamat," jawab Lin Qian sambil tersenyum, meski hatinya terasa berdenyut samar.

Ada dua perasaan yang bertentangan di dadanya. Di satu sisi, ia ikut senang melihat teman masa kecilnya menggapai cita-cita. Tapi di sisi lain, ia tahu betul — begitu seseorang masuk ke dunia kultivasi, jalan hidupnya berubah total. Jarak di antara mereka akan semakin jauh. Mungkin pertemuan hari ini adalah yang terakhir.

"Aku tahu kamu sebenarnya tidak terlalu suka kalau aku ikut berlatih kultivasi," ujar Peng Ying pelan sambil menunduk. "Tapi Lin Qian, kau harus mengerti. Bergabung dengan sekte dan menjadi kultivator adalah impian seumur hidupku. Sekarang aku sudah berhasil meraihnya… seharusnya kau senang buatku, kan?"

Lin Qian hanya bisa tersenyum pahit dan menghela napas. Setiap orang punya jalan takdirnya masing-masing. Ia tak berhak melarang siapa pun.

"Iya, aku mengerti. Aku senang kok."

Peng Ying terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara berat, "Sudah, aku pamit ya. Mungkin ke depannya aku tidak akan sering mencarimu lagi. Atau malah tidak akan datang sama sekali."

Setelah berkata demikian, ia berbalik hendak pergi.

Lin Qian ingin memanggil, ingin bertanya — tapi ia bungkam. Ia paham maksud gadis itu. Dunia mereka kini sudah berbeda. Setelah dua kehidupan yang ia jalani, ia cukup dewasa untuk melepaskan apa yang memang harus dilepaskan.

Ia menyusul selangkah ke depan. "Aku doakan yang terbaik untukmu. Hanya saja… bagaimana dengan orang tuamu?"

"Aku akan menjaga mereka dengan baik," jawab Peng Ying tanpa menoleh.

Lin Qian mengangguk. Ia teringat kedua orang tua Peng Ying yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri sejak ia kecil dan kehilangan keluarganya. Dengan teringat hal itu, sesuatu terlintas di pikirannya.

Ia mengulurkan pisau dapur baru yang baru saja ia tempa, pisau yang menurutnya cukup tajam dan enak dipakai.

"Aku tidak punya hadiah istimewa. Ibumu dulu pernah minta dibuatkan pisau dapur yang bagus kalau aku punya waktu luang. Tolong bawa ini buat mereka ya."

Peng Ying menatap pisau itu dengan kening sedikit berkerut, ekspresinya bercampur antara ragu dan tak nyaman.

"Ying'er, apakah kau sudah selesai? Kita harus segera kembali ke Sekte."

Suara lantang itu datang dari kejauhan. Seorang pemuda tampan berjubah putih berjalan mendekat, pedang panjang tersampir di pinggangnya. Wajahnya dingin dan angkuh.

"Saudara Yu Wujie, sebentar lagi," jawab Peng Ying buru-buru. Ia menoleh ke Lin Qian. "Ini temanku, Lin Qian."

Yu Wujie melirik sekilas ke arah Lin Qian, lalu mengalihkan pandangannya begitu saja — seperti melirik batu di tepi jalan. Baginya, manusia biasa tidak layak disapa.

"Cepatlah."

"Siapa dia?" tanya Lin Qian tenang.

Ekspresi Peng Ying makin rumit. Ia menghela napas pasrah. "Kuharap kau tidak marah sama aku. Kau tahu kan, bakatku sebenarnya biasa saja. Kalau tidak ada bantuannya, aku tidak mungkin diterima di Sekte Lingxue. Aku tidak boleh mengecewakannya — aku berhutang budi besar padanya."

Ia menatap pisau di tangan Lin Qian, lalu menggeleng pelan.

"Simpan saja pisau itu buatmu sendiri. Aku… aku pergi ya."

Peng Yin menyerahkan kembali pisau pemberian Lin Qian.

Tanpa menunggu jawaban, Peng Ying bergegas mengikuti langkah Yu Wujie dan menghilang di tikungan jalan.

Kata-kata terakhir itu terus bergaung di telinga Lin Qian.

Aku tidak boleh mengecewakannya…

Lin Qian tertawa getir sendiri. Dia tidak boleh mengecewakan orang lain… lalu bagaimana denganku? Apa aku ini tidak ada artinya sama sekali?

"Dasar sialan. Kalau tidak mau terima, ya sudah, urusanku selesai!" gerutunya pelan.

Ia membawa pisau itu kembali ke dapur dan menyimpannya. "Han Yu, kamu jaga tempat ini ya."

Setelah itu, Lin Qian duduk malas di kursi santainya, meneguk dua gelas anggur, dan dalam sekejap ia sudah terlelap tidur — berusaha melupakan rasa kesal yang mengganjal di hatinya.

Sementara itu, jauh di atas Gunung Baiyun, suasana Aula Utama Sekte Lingxue terasa berat dan mencekam.

Patriark Tianhe duduk di kursi utama dengan wibawa yang mengagumkan. Di bawahnya berkumpul seluruh pimpinan Sekte, para Tetua, hingga murid-murid inti. Semua elit kekuatan Sekte Lingxue hadir lengkap — sesuatu yang jarang terjadi.

Pertarungan penentuan nasib Sekte antara Patriark Tianhe dan Patriark Xuanwu tidak bisa dibatalkan hanya karena Tianhe baru saja menerobos ranah Raja Bela Diri. Awalnya, banyak orang berharap peluang kemenangan ada di pihak mereka.

Namun kabar baru saja datang: Patriark Xuanwu sudah berada di ranah Raja Bela Diri sepuluh tahun yang lalu.

Berita itu membuat seluruh isi Sekte seperti disiram air es. Satu pihak baru saja masuk ke ranah itu, pihak lain sudah mendalaminya selama sepuluh tahun. Kesenjangan itu sangat jelas, nyata, dan mengerikan.

"Semua, berikan pendapat dan usulanmu! Bagaimana cara kita menghadapi Xuanwu?" tanya Ketua Sekte Zhu Yun dengan suara berat.

Aula sepi senyap.

Di hadapan kekuatan absolut, segala taktik dan rencana hanyalah omong kosong belaka. Apakah Sekte Lingxue yang telah berdiri ratusan tahun ini benar-benar akan musnah hari ini?

Saat keheningan mencekam itu berlangsung, seorang pemuda berjubah putih melangkah maju. Itulah Yu Wujie, murid pribadi salah satu Tetua — pemuda angkuh yang baru saja bertemu Lin Qian di jalanan kota.

"Yu Wujie, kau punya gagasan?" tanya Zhu Yun.

"Lapor kepada Leluhur dan Ketua Sekte… karena kita tidak punya cara mengalahkan Patriark Xuanwu, kenapa kita tidak membatalkan pertarungan ini saja?"

Beberapa Tetua tersenyum getir.

"Menghindar? Semudah itu?" gumam seorang Tetua tua. "Kedua Leluhur kita telah bersumpah dengan nyawa masing-masing, disaksikan Dao Surgawi puluhan tahun lalu. Siapa pun yang mundur akan dihukum mati oleh langit sendiri. Kalau Leluhur Lingxue mundur, berarti Sekte kita kalah total dan tunduk selamanya pada Xuanwu."

"Cukup!" Suara Patriark Tianhe memotong pembicaraan. "Percuma mengandalkan kalian, tidak ada satu pun rencana yang berguna."

Meski wajahnya serius, hatinya justru jauh lebih tenang dibandingkan semua orang di ruangan itu. Karena ia sudah punya rencana jitu di kepalanya.

Kalau aku bisa meminjam pisau dapur milik Senior Lin di bawah gunung sana… Xuanwu itu apa artinya?

"Kalian semua bubar dulu!"

"leluhur agung…?"

"Paman Tua… apakah kita sudah menyerah?"

Semua orang tampak bingung dan sedih. Melihat kepanikan di wajah para bawahannya, Patriark Tianhe sadar ia harus memberi sedikit harapan.

"Aku sudah punya rencana. Aku akan pergi meminjam sebuah senjata. Asalkan aku berhasil membawanya kembali… Xuanwu? Hmph, dia bukan apa-apa."

"Senjata macam apa, patriark...?" tanya Zhu Yun heran.

"Nanti kalian akan lihat sendiri." Patriark Tianhe sengaja tidak mau menjelaskan lebih jauh. Terlalu banyak orang tahu tentang keberadaan Senior Lin adalah rahasia berbahaya jika sampai bocor.

Meski masih penuh keraguan, mereka pun mundur perlahan — menanti keajaiban yang disebutkan tetua agung mereka.

"Zhu Yun, tunggu. Ikut aku." Patriark Tianhe merasa perlu membawa Ketua Sekte bersamanya. Ia harus mengajarkan Zhu Yun betapa mengerikannya sosok yang tinggal di kota bawah sana — ia takut pemimpin Sekte ini tanpa sadar menyinggung Sang Senior karena tidak tahu apa-apa.

Keduanya melesat turun menuju Kota Yunzhou.

Namun, saat jarak ke kios Lin Qian masih agak jauh, Patriark Tianhe perlahan menurunkan kecepatannya dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki biasa.

"Paman Tua… kenapa kita jalan kaki? Kenapa tidak terbang langsung?" tanya Zhu Yun bingung.

"Diam dan ikuti saja!" tegur Patriark Tianhe dengan suara rendah namun tegas. "Dan kau — segera sembunyikan semua aura kekuatanmu. Jangan ada sedikit pun niat membunuh atau tekanan yang keluar. Ingat baik-baik."

Zhu Yun makin bingung, tapi ia patuh.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kios bela diri tua itu.

"Inilah tempatnya," kata Patriark Tianhe sambil menegakkan punggung, wajahnya penuh rasa hormat.

Zhu Yun melirik bangunan itu dengan pandangan sebelah mata. Kios kecil dengan meja kayu tua, tumpukan buku, dan seorang pemuda yang tidur santai di kursi dengan kipas daun menutupi wajahnya.

"Paman Tua… ini kan cuma kios bela diri biasa saja. Anda ini Leluhur Agung Sekte kita, kenapa harus bersikap setegang dan sehormat ini?"

"DIAM!!!" bisik Patriark Tianhe tajam. "Mulai sekarang, cara bicaramu, cara panggilanmu — semuanya harus biasa saja. Jangan sampai ada kata-kata yang berhubungan dengan kultivasi, ranah, atau kekuatan. Jangan sampai kau menimbulkan ketidaksenangan beliau. Kalau tidak… aku sendiri yang menghukummu lebih dulu."

Zhu Yun menahan napas. Rasa penasaran bercampur rasa takut mulai merayapi hatinya.

Patriark Tianhe mengubah raut wajahnya seketika menjadi senyum ramah dan penuh penghormatan. Ia berjalan cepat mendekat.

"Senior Lin! Senior Lin yang terhormat!"

Lin Qian menggeser kipas daun dari wajahnya, mengintip sebentar, lalu duduk sambil menguap kecil.

"Eh? kamu lagi? Ada apa lagi?"

"Iya, ini saya, Senior Lin," jawab Patriark Tianhe sambil mengangguk-anggukkan kepala berulang kali persis seperti ayam mematuk nasi, wajahnya berseri penuh rasa hormat.

Di sampingnya, mata Zhu Yun melotot lebar, nyaris copot dari tempatnya.

Ia tidak salah lihat, kan?

Sang Leluhur Agung yang satu kata-katanya bisa mengubah nasib Sekte — sosok yang ditakuti di seluruh wilayah ini — kini di hadapan seorang pemuda yang baru saja bangun tidur, menunduk, mengangguk, dan bersikap sangat berhati-hati seolah anak kecil di hadapan orang tuanya?

Kenapa?! Apa yang salah di sini? Manusia biasa ini bisa mati cuma dengan sentuhan jari saja! Kenapa Leluhur bersikap seperti ini?!

Batin Zhu Yun bergemuruh penuh kebingungan yang tak terkira.

----Bersambung Bab 9 ----

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
Hadi Hadi
up up up 💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha terimakasih Thor selalu update.. sehat2 selalu 👍😀
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!