NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Rencana Jahat Valerie

Kemegahan ballroom Hotel Grand Voss malam itu benar-benar berada di skala yang tidak pernah Aletha bayangkan sebelumnya. Alunan musik orkestra klasik terdengar samar-samar menembus pintu kayu ek tebal ruang rias VIP di lantai tiga. Di luar sana, ratusan tamu undangan dari kalangan konglomerat, pejabat, hingga kolega bisnis papan atas kedua keluarga sudah mulai memenuhi ruangan yang didekorasi mewah dengan bunga-bunga lili putih dan ornamen emas.

Namun, di dalam ruang rias, atmosfernya terasa begitu menyesakkan bagi Aletha.

Gadis itu duduk terpaku di depan meja rias besar berbingkai lampu-lampu putih yang terang. Ia sudah mengenakan gaun pastel satin berpotongan anggun yang tempo hari mereka coba saat fitting. Riasan wajahnya yang natural membuat kecantikan alaminya terpancar sempurna, dengan rambut panjang yang ditata sanggul modern menyisakan beberapa helai membingkai pipinya yang merona kaku.

Tangan mungil Aletha bergetar hebat di atas pangkuan. Dadanya naik-turun dengan napas yang memburu pendek. Sejak menginjakkan kaki di hotel ini dua jam lalu, perasaannya benar-benar tidak tenang. Ada sepercik firasat buruk yang tak kasat mata, seolah-olah ada badai besar yang sedang mengintai di balik pintu ruang pesta.

'Gue takut... gimana kalau semuanya kacau? Gimana kalau anak-anak sekolah ngeliat ini sebagai lelucon?' batin Aletha panik setengah mati. Tatapan matanya bergerak liar menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Klek.

Suara pintu ruang rias yang terbuka perlahan membuat Aletha refleks menoleh cepat. Jantungnya yang semula berdegup maraton mendadak melompat ke tenggorokan saat melihat siapa yang melangkah masuk. Langit.

Cowok tegap itu melangkah masuk sendirian setelah menutup pintu rapat-rapat. Langit terlihat teramat sangat tampan malam ini. Setelan jas formal hitam slim-fit melekat sempurna di tubuh tingginya yang menjulang, kemeja putihnya dikancingkan rapi dengan dasi kupu-kebab hitam di lehernya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi dan garis rahang kokohnya yang kini sudah bersih dari luka lebam. Ia tidak lagi memakai kacamata peraknya, membuat sepasang mata hazel-nya berkilat begitu tajam sekaligus dalam di bawah sorotan lampu ruangan.

Langit menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Aletha. Untuk beberapa detik, cowok dingin itu sempat terpaku kaku, matanya menatap lekat penampilan Aletha dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip. Sorot mata hazel-nya yang biasanya sedingin es mendadak bergetar halus, sebuah pengakuan tak kasat mata bahwa gadis di depannya malam ini terlihat begitu cantik dan memesona hingga sanggup meruntuhkan pertahanan logikanya.

"Masih mau terus-terusan masang wajah kayak buronan polisi begitu, Kurcaci?" suara bariton Langit yang rendah memecah keheningan ruangan dengan nada datarnya yang khas.

Aletha mengembus napas pendek, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemarinya yang dingin.

"Langit... gue serius, perasaan gue beneran nggak enak banget malam ini. Jantung gue mau copot rasa-rasanya."

Langit diam beberapa saat, memperhatikan bahu mungil Aletha yang tampak bergetar gelisah. Ia melangkah maju perlahan, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga berhenti tepat di sebelah kursi rias Aletha.

Cowok tegap itu mengubah posisinya menjadi sedikit membungkuk, menumpu satu tangannya di sandaran kursi Aletha.

Set.

Jarak mereka yang kembali mengikis habis langsung membuat aroma parfum mint yang mewah dari tubuh Langit mengepung indra penciuman Aletha.

"Lihat gue, Aletha," perintah Langit lembut. Suaranya terdengar begitu rendah dan berat, sangat kontras dengan nada dinginnya yang biasa.

Aletha mendongak pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena cemas. Begitu ia mendongak, manik mata hazel milik Langit langsung mengunci pandangannya penuh kehangatan yang mendalam. Tangan panjang Langit bergerak maju dengan gerakan yang teramat telaten, jari-jari hangatnya menggenggam erat kedua tangan Aletha yang sedingin es di atas pangkuan.

"Gue udah bilang kan waktu di teras samping rumah kemarin," ucap Langit dengan nada suara yang teramat tenang namun begitu kokoh, sanggup mengirimkan gelombang rasa aman yang instan ke dalam dada Aletha.

"Tugas lo malam ini cuma satu. Berjalan di samping gue, tersenyum di depan kamera, dan biarkan gue yang mengurus sisanya."

Langit meremas lembut jemari Aletha, menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya.

"Nggak akan ada yang bisa mengacaukan acara ini selama gue berdiri di depan lo sebagai pelindung lo. Paham, Babu?"

Mendengar sindiran di ujung kalimat yang dibalut proteksi absolut itu, Aletha menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdentum hebat, namun kali ini bukan karena panik, melainkan karena debaran baru yang begitu manis dan membahagiakan. Benci yang selama tiga tahun ini ia jadikan tameng runtuh total tanpa sisa. Di bawah tatapan mata Langit yang menguncinya penuh keyakinan, kecemasan Aletha perlahan mencair bagai es yang tersiram air hangat.

"L-lagian... siapa juga yang mau nangis," cicit Aletha kaku, mencoba memalingkan wajahnya yang kini sudah merona merah demi menyembunyikan salah tingkahnya yang luar biasa.

Langit perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang teramat tulus dan tampan di wajah tegasnya. Ia menegakkan kembali tubuh tingginya, namun tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aletha.

"Bagus. Ayo keluar. Waktunya udah tiba."

_____________________

Sementara itu, di lantai bawah, di sudut lorong yang remang-remang di dekat ruang kontrol operator monitor besar ballroom, sebuah pergerakan rahasia sedang berlangsung dengan sangat cepat.

Valerie Clarissa berdiri anggun mengenakan gaun malam mewah berwarna merah menyala yang mencolok. Senyum licik bertengger sempurna di bibirnya yang dipoles lipstik merah tua. Di sampingnya, Reza menyelinap masuk membawa sebuah flashdisk hitam kecil di tangannya, setelah berhasil mengelabui petugas keamanan hotel berkat kartu akses VIP milik keluarga Valerie.

"Semua filenya udah ada di dalam sini, Val," bisik Reza dengan suara rendah yang sarat akan kelicikan, menyodorkan flashdisk tersebut. "Foto-foto masa lalu Aletha yang bakal bikin semua orang borjuis di dalam sana jantungan."

Valerie menyambar flashdisk itu dengan mata yang berkilat dipenuhi dendam dan cemburu yang membakar dada. Ia menepuk pundak Reza dengan puas.

"Bagus. Tugas lo sama Tommy selesai sampai di sini. Sekarang... biar gue yang menyalakan sumbu bomnya tepat saat mereka berdua naik ke atas altar."

Valerie melangkah cepat menuju ruang operator dengan langkah anggun namun mematikan. Di dalam kepalanya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana reputasi Aletha akan hancur lebur dalam hitungan menit, dan bagaimana pertunangan spek dewa itu akan berubah menjadi bencana nasional yang paling memalukan bagi keluarga Voss.

Bom waktu telah diaktifkan di balik kemegahan hotel, bersiap meledak menghancurkan seluruh debaran manis yang baru saja mekar di antara Aletha dan Langit.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!