Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saluran Penyelamat
Kepanikan menelan pasar di kawasan Teladan seperti gelombang air bah. Suara teriakan warga bercampur dengan lolongan sirine kendaraan yang melintas di Jalan Sisimangaraja. Orang-orang mengerubungi Bang Jaka yang tergeletak kaku di lantai semen warung kopi, darah segar masih menetes dari lubang telinganya.
Faris mundur perlahan, kakinya terasa lemas dan bergetar hebat. Di tengah kekacauan itu, tidak ada yang menyadari bahwa pemicu teror ini berada di genggaman tangannya.
Ponsel di tangan Faris bergetar lagi. Teks merah menyala di layarnya masih belum menghilang.
0000: Satu saluran baru telah dibuka. Jika kau mematikan ponselmu atau melarikan diri, frekuensi berikutnya adalah orang di sebelahmu.
Faris menatap seorang ibu-ibu pedagang sayur yang menangis histeris tepat di sebelah kanannya, memegang ponsel dengan tangan gemetar untuk menghubungi ambulans. Jika Faris tetap berdiri di sana, wanita itu—atau siapa pun yang ada di dekatnya—bisa menjadi korban berikutnya.
"Maafkan aku... maaf..." bisik Faris parau.
Ia membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya.
Faris menerobos kerumunan pasar, menabrak keranjang-keranjang plastik dan lapak pedagang tanpa peduli pada umpatan yang mengiringi langkahnya. Udara pagi Medan terasa menyengat paru-parunya, namun rasa dingin di lehernya akibat memar hitam semalam bertambah menyiksa seiring detak jantungnya yang makin cepat.
Ia terus berlari menuju gang-gang sempit di pemukiman padat penduduk Teladan. Suara riuk-pikuk pasar perlahan memudar, berganti dengan keheningan lorong-lorong berdinding batako yang lembap. Faris menyandarkan tubuhnya ke dinding sebuah rumah kosong, nafasnya tersengal-sengal.
Ia mengangkat ponselnya. Layar kembali menampilkan timer panggilan yang terus berjalan tajam:
Panggilan Berlangsung: 0000
Durasi: 05:48:12
"Kenapa harus aku? Apa salahku?!" jerit Faris pada layar ponselnya. Tidak ada jawaban selain desis statis berfrekuensi rendah yang konstan.
Tiba-tiba, sebuah nada dering terputus-putus terdengar—bukan dari ponsel Faris, melainkan dari dalam tas selempang usang yang tergantung di pundaknya. Itu adalah ponsel cadangan Faris, sebuah ponsel tombol jadul tanpa akses internet yang sudah dua minggu tidak pernah ia isi pulsa.
Siapa yang bisa menghubungi nomor mati itu?
Dengan tangan bersimbah keringat dingin, Faris merogoh tasnya dan mengeluarkannya. Layar monopiksel hijau ponsel jadul itu berkedip-kedip menampilkan nomor pemanggil yang teridentifikasi sebagai Nomor Pribadi.
Faris ragu. Pengalaman beberapa menit lalu di warung Bang Jaka membuat dadanya sesak oleh trauma. Tetapi ponsel jadul ini tidak tersambung ke jaringan data.
Dengan napas tertahan, Faris menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga kirinya—telinga yang tidak disentuh oleh tangan hantu semalam.
"Ha... halo?"
"Dengarkan aku baik-baik kalau kau masih mau bernapas besok pagi," suara seorang wanita meluncur cepat dari ujung telepon. Suaranya serak, tegas, dan diiringi latar belakang suara ketikan keyboard yang cepat. "Jangan pernah lagi lari ke area ramai. Setiap perangkat seluler aktif di sekitarmu adalah pemancar amplifier untuk entitas itu."
Faris tersentak, matanya membelalak. "Kau... kau siapa? Dari mana kau tahu?!"
"Namaku Maya," jawab wanita itu tanpa jeda. "Aku sudah melacak lonjakan sinyal tidak wajar di menara pemancar kawasan Teladan sejak jam dua pagi tadi. Kode frekuensinya sama persis dengan kasus di Padang Bulan dua tahun lalu. Kau memanggil nomor 0000, kan?"
Jantung Faris bertolak cepat. "Iya! HP-ku tak bisa dimatikan! Panggilannya jalan terus dari semalam! Orang di warung kopi tadi—"
"Aku tahu apa yang terjadi pada pria itu," potong Maya dingin, walau ada jejak kecemasan dalam nadanya. "Telinganya pecah karena gelombang elektromagnetik frekuensi rendah dipaksa masuk ke tatanan saraf otaknya. Entitas itu memakai saluran suara ponselmu sebagai pintu masuk."
"Tolong aku, Kak! Bagaimana cara mematikannya?!" panggil Faris, hampir menangis karena rasa frustrasi yang menumpuk.
"Kau tidak bisa mematikannya dari ponselmu," kata Maya tegas. "Setiap kali kau mencoba mematikan paksa, kau cuma memberi entitas itu alasan untuk menarik energi dari lingkungan sekitar—itu kenapa lehermu lebam dan orang di dekatmu terkena dampaknya."
Maya menghentikan ucapannya sejenak. Suara ketikan keyboard di ujung sana makin cepat.
"Dengar, Faris. Kau punya waktu kurang dari tiga jam sebelum entitas itu mengunci gelombang otaknya secara permanen ke tubuhmu. Kalau itu terjadi, kau bukan cuma pembawa sinyal, tapi wadah fisiknya di dunia nyata."
Faris menyapu peluh di dahinya. "Jadi aku harus ke mana?!"
"Jalan Sutomo, kompleks ruko tua bekas stasiun pemancar TV kabel yang sudah bangkrut. Datang ke lantai tiga ruko nomor 42B. Jangan lewat jalan besar, jangan naik angkot atau bentor. Jalan kaki lewat gang-gang sepi. Dan yang paling penting..."
Maya memberi jeda panjang yang mencekam.
"...jangan pernah sekali-pun menatap cermin atau permukaan berkilat saat ponsel di saku bajumu bergetar."
Klek.
Sambungan terputus.
Faris berdiri terpaku di gang sempit yang dingin. Ponsel tombol jadul di tangan kirinya mendadak mati total, baterainya terkuras habis dalam seketika. Sementara itu, ponsel pintar di tangan kanannya—yang masih menampilkan panggilan aktif ke nomor 0000—kembali bergetar pelan.
Layar merahnya berkilat, menampilkan pesan singkat yang hanya terdiri dari satu kalimat:
0000: Dia tidak bisa menyelamatkanmu dari dalam layar.
Faris menelan ludah dengan susah payah. Ia memasukkan kedua ponsel itu ke dalam saku, menarik kupluk jaketnya untuk menutupi kepala dan memar di lehernya, lalu mulai berjalan menyusuri lorong-lorong sepi Kota Medan menuju Jalan Sutomo.