Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — ALKEMIS YANG TERLUPAKAN
Farel Kurniawan meminta Joko Taruna dan Dewi Ratih untuk beristirahat sepenuhnya di penginapan tamu kediaman keluarga Rara. "Nikmati waktu kalian berdua. Kalian aman di sini. Aku memiliki beberapa urusan kecil di kota, dan aku akan kembali sebelum matahari terbenam," ucapnya meyakinkan mereka.
Sebelum berangkat, Rara menyerahkan sebuah kepingan giok halus yang memancarkan cahaya redup keemasan. "Ini tanda pengenal keluargaku. Tunjukkan ini kepada penjaga mana pun di gerbang kediaman ini, dan mereka akan membiarkanmu masuk kapan saja, bahkan jika aku tidak ada di sana."
Farel tersenyum dan menyimpan giok itu di dalam lengan jubahnya. "Terima kasih, Rara. Aku akan berhati-hati."
Kota Kediri di siang hari terasa hidup dan berdenyut. Di tengah hiruk-pikuk pasar dan jalanan yang sibuk, berdiri sebuah bangunan yang tak bisa dilewatkan mata — Menara Pusaka, pusat penelitian alkimia dan ramuan spiritual terbesar di seluruh wilayah Kediri. Sebuah menara tinggi berbentuk pagoda menjulang di tengah kompleks bangunan luas, dikelilingi oleh paviliun-paviliun yang tenang namun penuh aktivitas.
Organisasi ini, meski bukan bagian dari kekuasaan istana, memiliki pengaruh yang begitu besar sehingga bahkan para bangsawan pun memperlakukannya dengan hormat. Konon, Menara Pusaka lahir dari sisa-sisa pengetahuan kuno yang selamat dari Malapetaka Besar, terinspirasi oleh sebuah lembaga legendaris yang pernah berdiri di dunia yang jauh lebih tua dan lebih agung dari ini.
Alkimia adalah napas bagi dunia kultivasi. Tanpa ramuan, pil, dan bahan murni, kemajuan seorang kultivator akan terhambat drastis. Itulah sebabnya Menara Pusaka memegang posisi yang begitu sentral — enam dari sepuluh alkemis di wilayah Kediri berafiliasi dengan mereka, menjadikannya jaringan pengetahuan terluas yang ada. Namun di balik kemegahannya, kabut misteri menyelimuti: ada bisik-bisik tentang persaingan internal, antara mereka yang ingin menjadikan pengetahuan milik semua orang, dan mereka yang ingin memegang kendali penuh atas rahasia kehidupan itu sendiri.
Farel melangkah masuk ke aula utama, tempat udara terasa lebih sejuk dan beraroma harum rempah-rempah yang samar. Seorang petugas muda yang ramah menyapanya di meja resepsionis.
"Selamat datang di Aula Pesanan Khusus Menara Pusaka. Bagaimana saya bisa membantu Anda, Tuan?" tanyanya sambil tersenyum sopan, namun matanya terbelalak sedikit saat melihat Farel.
"Halo, Nona. Aku ingin menyewa seorang alkemis," jawab Farel dengan senyum yang ramah namun menenangkan. "Seseorang yang terbuka terhadap hal-hal baru, tidak takut pada kegagalan, dan... mungkin yang sedikit lebih muda. Aku sudah cukup banyak mendengar nasihat panjang lebar dari para tetua di rumahku."
Petugas itu terkikik geli. "Baiklah, Tuan. Izinkan aku mencarikan yang paling cocok." Ia merenung sejenak, lalu ragu-ragu berkata, "Ada satu orang yang mungkin sesuai dengan keinginan Anda. Namanya Nyai Wiyati. Dia sangat berbakat, namun... catatan kerjanya belum terlalu menonjol. Banyak eksperimen yang belum berhasil sempurna, dan pelanggan jarang mencarinya."
Farel tersenyum lebar. "Itu justru yang aku cari. Seseorang yang berani mencoba hal yang belum tentu berhasil. Itu jauh lebih berharga daripada seseorang yang hanya mengulang apa yang sudah diketahui orang lain."
"Baiklah. Ini biaya jasa penghubungnya," Farel meletakkan beberapa keping koin emas di meja.
Petugas itu memberikannya sebuah kepingan kayu berukir. "Silakan menuju ruang konsultasi nomor tujuh di sayap timur. Harap diingat, biaya jasa dan kesepakatan kerja sama akan dibicarakan langsung dengan Nyai Wiyati. Menara Pusaka hanya memfasilitasi pertemuan ini."
Farel menyimpan tanda itu, lalu sebelum pergi ia berbisik pelan, "Terima kasih banyak atas bantuannya, Nona yang ramah. Semoga harimu menyenangkan." Ia menyelipkan beberapa keping perak tambahan di atas meja, membuat wajah gadis itu memerah tersipu.
Ruangan konsultasi itu sederhana — dua kursi kayu, meja bundar, dan jendela yang menghadap ke taman kecil di dalam. Farel duduk dengan tenang, menatap ke luar jendela sambil menyusun rencana di dalam pikirannya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita muda melangkah masuk. Ia mengenakan jubah peneliti berwarna kelabu yang agak kebesaran, menyembunyikan bentuk tubuhnya yang ramping. Rambut hitamnya memantulkan kilat keperakan di ujung-ujungnya, dan matanya yang berwarna cokelat kehijauan menatap Farel dengan waspada namun cerdas. Auranya tenang namun tersembunyi — basis kultivasinya berada di tingkat keempat Alam Qi Berputar, pencapaian yang patut dibanggakan untuk usianya yang terlihat masih muda.
Namun yang paling Farel perhatikan bukanlah kekuatannya, melainkan cahaya di matanya — cahaya seseorang yang hidup untuk pengetahuan, bahkan ketika dunia di sekitarnya tidak menghargainya.
"Saya Nyai Wiyati, alkemis tingkat tiga Menara Pusaka," suaranya lembut namun tegas. "Saya dengar Anda ingin meminta bantuan meracik pil?"
Farel berdiri dan menunduk hormat. "Saya Farel Kurniawan. Terima kasih telah bersedia menemui saya, Nyai Wiyati."
Ia meletakkan sebuah gulungan kertas di atas meja, lalu membukanya perlahan. "Sebelum kita berbicara tentang pesanan, izinkan aku menunjukkan sesuatu terlebih dahulu. Ini catatan tentang proses penyempurnaan bahan dasar yang mungkin belum pernah dipelajari di sini."
Nyai Wiyati melangkah mendekat dengan ragu, lalu matanya turun ke tulisan di atas kertas itu. Detik berikutnya, keraguan di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh ketertarikan yang dalam. Ia membaca baris demi baris, bibirnya bergerak pelan mengikuti setiap kalimat. Farel memperhatikannya dalam diam — ia tahu kapan seseorang sedang melihat sesuatu yang benar-benar baru bagi mereka.
Ketika ia selesai membaca, ia mendongak dengan napas yang sedikit tidak teratur. "Ini... prinsipnya sangat masuk akal, namun tekniknya berbeda dari yang kita pelajari di sini. Siapa yang mengajarkan Anda ini?"
"Itulah bagian dari apa yang ingin aku bicarakan," Farel menutup gulungan itu pelan. "Aku tidak datang untuk sekadar memesan pil. Aku datang untuk mengajakmu bekerja sama."
"Bekerja sama?" Nyai Wiyati menyilangkan tangan di dada, tatapannya kembali berhati-hati. "Kebanyakan orang yang mengajakku bekerja sama hanya ingin memanfaatkan waktuku tanpa menghargai pengetahuanku. Apa bedanya dengan mereka?"
Farel tersenyum tipis namun tulus.
"Begini saja. Aku memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki siapa pun di kota ini — resep kuno, teknik penyulingan yang lebih efisien, dan metode peningkatan kualitas bahan yang bisa melampaui apa yang kau ketahui saat ini. Sebagai gantinya, aku membutuhkan bantuanmu untuk meracik berbagai jenis pil. Saat ini kemampuanmu belum cukup tinggi untuk resep-resep yang paling berharga, tapi aku akan membimbingmu langkah demi langkah sampai kau mampu melakukannya sendiri. Kau akan mendapatkan pengetahuan yang sesungguhnya, dan aku akan mendapatkan apa yang kubutuhkan untuk perjalananku."
Nyai Wiyati terdiam lama, menatapnya dengan tatapan yang bercampur antara keraguan dan keinginan yang membara.
"Mengapa aku?" tanyanya akhirnya, suaranya bergetar pelan. "Ada banyak alkemis yang jauh lebih berbakat dan berpengalaman dariku di menara ini."
"Karena mereka sudah puas dengan apa yang mereka ketahui," jawab Farel lembut namun tegas. "Sedangkan kau... aku melihatnya dari caramu membaca tulisan tadi — kau haus akan kebenaran, bukan sekadar pengakuan. Dan orang yang haus akan pengetahuan tidak akan berkhianat pada pengetahuan itu sendiri, selama jalannya benar. Itulah kepercayaan yang kuberikan padamu."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Di mata Nyai Wiyati terlihat pertarungan batin yang berat — ketakutan akan dikhianati bertarung dengan harapan yang selama ini terkubur dalam-dalam.
Akhirnya, ia menghela napas panjang, lalu perlahan mengangguk.
"Baiklah. Aku setuju. Tapi ingat... jika aku menemukan ketidakjujuran sedikit pun, kerja sama ini berakhir seketika."
Farel tersenyum lega, seakan ia sudah tahu sejak awal bahwa ia akan menerima tawaran itu.
"Sepakat. Mulai besok, kita akan memulai babak baru. Terima kasih, Nyai Wiyati."
BERSAMBUNG...