Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Takdir mempertemukan
"Tianyi, lepaskan cengkeramanmu! Aku harus pergi menyusul mereka sekarang juga!"
Jeritan Ratu Bai Luoxue menggema memecah keheningan malam di aula Keputren. Wajah cantiknya basah oleh air mata, sementara tangannya meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Pedang pusaka berlapis perak sudah tergenggam erat di tangan kanannya.
"Luoxue, kumohon tenanglah! Kendalikan emosimu!" Raja Shen Tianyi menahan pinggang istrinya dengan tenaga dalam yang lembut namun tak bisa dibantah.
"Bagaimana aku bisa tenang, Suamiku?!" tangis Ratu Luoxue pecah, memukul dada bidang sang Raja. "Kau dengar sendiri laporan rahasia Jenderal Lei, kan?! Yuan kabur menembus Formasi Kura-kura Besi! Dia masuk ke Hutan Kematian untuk mencari Rui! Firasatku selama ini benar, Tianyi! Putra-putraku sedang berada di mulut iblis dan kau masih menyuruhku tenang?!"
"Aku tahu! Hancur hatiku mendengar kabar ini, tapi kau tidak bisa pergi begitu saja!" bantah Raja Tianyi tegas. "Ibukota sedang siaga satu! Jika Ratu Kekaisaran tiba-tiba menghilang dari istana tengah malam, para menteri dan sekte aliran hitam akan mencium kelemahan kita! Istana akan kacau balau!"
"Persetan dengan tahta dan istana! Aku ini seorang ibu atau pun menjadi Ratu!" Luoxue menatap suaminya dengan tatapan tajam yang memilukan. "Jika kau tidak mau mengerahkan pasukan besar, biarkan aku yang pergi menyusul mereka dengan pedangku sendiri!"
"Tidak akan kuizinkan kau menyentuh bahaya, Luoxue. Itu tugasku sebagai ayah mereka," ucap Raja Tianyi, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat menenangkannya. "Aku sendiri yang akan turun tangan. Aku akan melepas jubah nagaku, menyamar, dan membawa lima Pengawal Bayangan tingkat tinggi. Aku berjanji padamu, nyawaku taruhannya, aku akan membawa Yuan dan Rui pulang ke pelukanmu."
Ratu Luoxue akhirnya luluh, menjatuhkan pedangnya ke lantai dan menangis tersedu-sedu di dada suaminya.
Namun, drama di Keputren itu tak luput dari telinga-telinga kotor yang menguping di balik pilar pualam. Dayang Lian bergegas berlari menembus lorong dan masuk ke dalam Paviliun Teratai Merah.
Di dalam sana, Selir Agung Yao sedang duduk bersila mengasah pedang rampingnya. Pendaran Qi merah menyala tipis mengelilingi mata pedangnya, membuktikan bahwa gelar Pendekar Teratai Berdarah yang disandangnya semenjak muda bukanlah pajangan semata.
"Hamba membawa kabar emas, Yang Mulia Selir," bisik Dayang Lian dengan napas terengah, tersenyum penuh kelicikan.
Selir Yao tidak mengalihkan pandangannya dari pedangnya. "Bicaralah. Apa yang membuat Ratu manja itu berteriak-teriak menangis malam ini?"
"Pangeran kembar itu menghilang di Hutan Kematian, Yang Mulia! Dan yang lebih penting... Raja Tianyi baru saja memutuskan untuk pergi diam-diam meninggalkan istana malam ini juga untuk mencari mereka, tanpa membawa Ratu Luoxue!"
Gerakan tangan Selir Yao seketika terhenti. Matanya yang tajam bagai rubah menyipit, lalu seulas senyum sinis dan mematikan perlahan mekar di bibir merahnya. Ia menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan kilat yang menimbulkan bunyi dentingan nyaring.
"Alam semesta benar-benar memihakku malam ini," gumam Selir Yao sambil berdiri, mengibaskan jubah sutra merahnya. "Ratu lemah itu hanya bisa menangis di sangkarnya. Dayang Lian, siapkan kuda tercepat dan jubah tempurku."
"Yang Mulia Selir berencana menyusul Raja?"
"Tentu saja, bodoh!" Selir Yao tertawa pelan. "Aku akan mencegat Raja di gerbang rahasia dan menawarkan diri sebagai pengawalnya. Aku memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi, Raja tidak akan punya alasan untuk menolak bantuanku dalam misi rahasia ini. Di tengah gelapnya Hutan Kematian, di bawah dinginnya malam... itu adalah kesempatan emas untuk menunjukkan pada Raja siapa wanita yang benar-benar pantas berdiri setara di sampingnya. Ratu Luoxue akan kalah telak kali ini!"
---
Sementara intrik percintaan dan kekuasaan merayap di istana, keadaan di Perguruan Cang Yue sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari kata 'hancur'.
"Mampus... mampus kita, Tetua! Kepalaku rasanya mau pecah berkeping-keping!"
Guru Wu berjalan mondar-mandir di ruang arsip sekte, menjambak rambutnya sendiri hingga rontok beberapa helai. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Tetua Pertama duduk lemas di kursinya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Berhentilah mondar-mandir, Guru Wu! Kau membuatku makin pusing! Kehilangan Pangeran Yuan dan Pangeran Rui saja sudah cukup membuat kepala kita berisiko dipenggal oleh Kaisar!"
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang arsip diketuk dengan tergesa-gesa. Paman Lao, pria tua bungkuk yang bertugas sebagai sopir kuda dan penjaga gerbang sekte, masuk dengan langkah terseret-seret membawa sebuah gulungan perkamen berstempel lilin merah.
"Ampun, Tetua! Hamba baru saja menerima burung merpati pos dari ibukota provinsi!" lapor Paman Lao dengan suara gemetar, menyerahkan surat itu.
Tetua Pertama merebut surat itu, memecahkan segelnya, dan membacanya dengan cepat. Sedetik kemudian, wajah kakek tua itu berubah pucat seperti mayat yang sudah dikubur tiga hari. Tangannya gemetar hebat hingga surat itu jatuh ke lantai.
"A-apa isinya, Tetua?" tanya Guru Wu menelan ludah.
"Surat... surat dari Klan Wang, Klan Li, dan Klan Zhao..." jawab Tetua Pertama dengan suara serak, nyaris tak terdengar. "Orang tua dari tiga bocah pembuat masalah itu... mereka mengirim pesan. Mereka akan datang berkunjung ke perguruan kita..."
"Kapan mereka datang, Tetua?"
"BESOK PAGI!" raung Tetua Pertama histeris, menggebrak meja hingga retak. "Mereka tiba besok pagi untuk melihat perkembangan putra kesayangan mereka! Padahal Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi baru saja menghilang bersamaan dengan Pangeran Yuan! KITA HARUS MENCARI MEREKA DI MANA DALAM SEMALAM?!"
Guru Wu langsung merosot dan jatuh terduduk di lantai, matanya menatap kosong ke langit-langit. "Selesai sudah... Perguruan Cang Yue akan tamat besok pagi. Silakan ukur peti matiku dari sekarang, Tetua."
---
Tepat di saat para guru sedang putus asa menghitung sisa umur mereka, adegan yang jauh dari kata tragis justru sedang berlangsung di ruang bawah tanah istana Iblis Rawa.
BLAM!
Pintu besi sel penjara dibanting dengan kasar. Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi dilemparkan begitu saja ke atas jerami kotor oleh dua siluman harimau yang menutup hidung mereka saking tak tahan dengan bau tai kuda yang menempel pada ketiga pemuda itu.
"Tolong! Lepaskan saya, Tuan Siluman!" jerit Wang Jian histeris, merangkak memegang jeruji besi. "Ini tidak adil! Kami ini keturunan bangsawan murni! Kami bukan makanan yang pantas untuk kalian!"
"Dagingku pahit! Ampun! Lepaskan kami!" tambah Li Mo, menangis tersedu-sedu sambil mengusap ingusnya yang bercampur lumpur selokan.
Tiba-tiba, dari arah sel besi tepat di sebelah mereka, terdengar suara tawa renyah yang luar biasa menyebalkan dan sangat familiar.
"Hoo? Suara cengeng siapa ini? Kenapa telingaku tiba-tiba berdenging mendengar rengekan babi hutan?"
Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi seketika membeku. Mereka perlahan menoleh ke arah sel sebelah yang hanya dibatasi oleh jeruji besi tebal.
Di sana, Shen Rui sedang duduk bersandar santai di dinding batu, menyilangkan kakinya. Tangannya sedang memegang sebuah apel merah besar sisa perjamuannya tadi, mengunyahnya dengan suara kres yang sangat keras.
"SHEN RUI?!" pekik ketiga pemuda itu serempak, mata mereka melotot tak percaya.
"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang mampir," sapa Yui dengan senyum iblisnya yang khas, melambaikan apelnya. "Tiga parasit perguruan. Kenapa penampilan kalian lebih mirip gembel pasar? Wajah kalian cemong semua, dan... ugh! Bau apa ini?! Kalian habis berenang di septik tank kuda ya?!"
Wajah Wang Jian seketika memerah padam menahan amarah yang meledak hingga ke ubun-ubun. Rasa takutnya pada penjara iblis mendadak kalah oleh kebenciannya pada pemuda di sel sebelah ini.
"INI SEMUA GARA-GARA KAU, GEMBEL ES!" raung Wang Jian, memukul jeruji pembatas. "Kalau kau tidak diculik, kami tidak akan ikut campur dan berakhir di tempat laknat ini! Kau pembawa sial!"
Yui menelan apelnya, lalu menatap mereka dengan tatapan polos yang sangat memancing emosi. "Eh? Salahku? Siapa yang menyuruh kalian mengikutiku sampai ke mari? Wah, jangan-jangan kalian bertiga ini sebenarnya adalah penggemar rahasiaku yang sangat terobsesi padaku, ya? Sampai rela melumuri diri dengan kotoran kuda demi mencari perhatianku. Terharunya aku!"
"TUTUP MULUTMU, SHEN RUI!" Li Mo ikut mengamuk, wajahnya menempel di jeruji, mencoba meludahi Yui tapi terhalang sihir pelindung. "Kami mengikutimu untuk melihatmu dimakan monster! Bukan untuk ditangkap!"
"Hahaha! Niat buruk selalu membuahkan hasil yang berbau buruk juga," ejek Yui puas. "Lihat aku. Meskipun ditangkap, aku disuguhi kalkun panggang, buah roh, dan arak manis oleh Raja Iblis. Sementara kalian? Dibuang ke sel jerami karena bau kalian merusak selera makan monster. Derajat kita jelas sangat berbeda, Tuan-tuan kotoran!"
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" jerit Zhao Qi histeris, berusaha menjulurkan tangannya melewati jeruji untuk mencekik Yui.
"Cobalah kalau tanganmu yang pendek dan bau itu sampai!" ledek Yui, justru semakin mendekat ke jeruji dan menjulurkan lidahnya. "Wleee! Ayo tangkap aku, babi-babi bau! Hahaha!"