NovelToon NovelToon
Legenda Arka Yudistira

Legenda Arka Yudistira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
​Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
​Inilah awal dari...
​LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
​Biarkan dunia bersujud pada sang naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

​​“Kalian saja. Sudah terlalu sering aku melihat wajah-wajah sombong di luar sana,” jawab Satya sambil tertawa kecil.

​Larasati tersenyum maklum, ia tahu maksud Satya yang malas berurusan dengan ejekan dari petinggi sekte lain. “Jangan khawatir, Pak Satya. Kali ini, Arka pasti akan membuat kita semua bangga dan mengangkat kepala tinggi-tinggi.”

​Begitu mereka bertiga meninggalkan paviliun, suasana di luar terasa sangat semarak. Kawasan hunian tamu dipenuhi para pendekar dari berbagai penjuru negeri. Para tokoh terkemuka yang biasanya angkuh di wilayah masing-masing, kini bersikap lebih rendah hati. Di sini, pengaruh mereka mungkin hanya setitik debu dibandingkan kekuatan raksasa sang tuan rumah. Tak ada yang berani bertindak liar di tanah suci ini.

​“Kalian ingin ke mana dulu? Teras Ribuan Pedang atau Gelanggang Agung?” tanya Larasati antusias. “Di Teras Ribuan Pedang, ada ribuan pusaka yang tertancap di tebing. Pemandangan pedang-pedang itu beterbangan saat dipanggil pemiliknya... itu luar biasa. Sedangkan Gelanggang Agung adalah tempat turnamen diadakan besok.”

​Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat familier menghentikan langkah mereka dari belakang.

​“Putri Larasati?”

​Arka menoleh. Tujuh orang berjalan mendekat. Empat pemuda dan tiga tetua, semuanya mengenakan jubah merah membara dengan lambang api di dada. Tatapan Arka langsung terkunci pada sosok tetua di barisan depan—pria berambut putih dengan aura yang sangat pekat.

​Arka mengenalinya. Dia adalah tetua agung dari Perguruan Langit Membara—Faisal Surya—yang kekuatannya sudah menyentuh ambang Alam Tiran.

​Dan pemuda yang memanggil tadi adalah sosok yang sangat Arka benci: Juan Surya. Ia menatap Larasati dengan senyum tipis yang sarat akan ketertarikan.

​Larasati mengernyit sebelum berbalik dan menjawab formal, “Ternyata Tuan Muda Juan. Kebetulan sekali.”

​Juan melangkah mendekat, mengabaikan keberadaan Arka dan Banu seolah mereka hanya kerikil di jalanan. “Justru saya yang beruntung. Alasan utama saya datang ke sini hanyalah untuk bertemu dengan Yang Mulia Putri. Ternyata benar, Yang Mulia hadir. Saya sungguh bahagia.”

​“Tuan Muda terlalu berlebihan,” balas Larasati dingin. “Saya sedang mengantar sahabat saya berkeliling. Kami permisi dulu.”

​Juan tidak menahan, namun tatapannya seolah menguliti Larasati. “Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu. Sampai jumpa lagi, Putri.”

​Malam turun perlahan menyelimuti pegunungan. Usai menyantap hidangan mewah yang diantar pelayan, suasana paviliun menjadi sunyi. Kebanyakan murid peserta memilih beristirahat lebih awal demi menjaga kondisi fisik untuk turnamen esok hari.

​Namun bagi Arka, waktu masih terlalu dini untuk tidur.

​Ia bangkit dari tempat tidur, membuka pintu kamar, dan berjalan menuju kamar Larasati yang berada tepat di seberangnya. Dari celah pintu, cahaya lilin masih terlihat menyala.

​Tok... tok... tok. “Kak Laras, ini aku,” bisik Arka pelan.

​Pintu segera terbuka. Sosok Larasati berdiri di ambang pintu, tampak begitu cantik di bawah siraman cahaya lilin dan rembulan. “Arka? Besok hari besar, kenapa belum istirahat?”

​Arka tersenyum lembut, melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Ia mendekat, menatap mata Larasati yang jernih, lalu perlahan merengkuh pinggangnya. Wajah Larasati merona hebat. Sebelum ia sempat memprotes, Arka telah membungkamnya dengan ciuman yang dalam.

​Sesaat Larasati terkejut, namun perlahan ia memejamkan mata, tenggelam dalam kehangatan yang mendebarkan. Napas mereka berpadu, waktu seakan berhenti berputar.

​Namun, di tengah kemesraan itu, Arka tiba-tiba melepaskan tautannya. Ia menegang.

​Larasati membuka mata dengan tatapan sayu yang masih kabur. “Arka...?”

​“Diam,” bisik Arka tajam, bibirnya mendekat ke telinga Larasati. “Seseorang datang.”

Tok, tok, tok...

​Tak lama setelah bisikan Arka menghilang, langkah kaki yang sangat ringan terdengar dari pelataran, disusul ketukan pintu yang berirama tenang—berwibawa namun sopan.

​Larasati seketika menahan napas. Saat ini, wajahnya merah padam, rambut panjangnya berantakan, dan pakaiannya sedikit tersingkap oleh Arka, menyingkap bahu putih sehalus pualam. Ia benar-benar tidak dalam kondisi yang layak untuk menemui siapa pun. Sambil berusaha mengatur napas, ia bertanya, "Siapa itu?"

​Suara Juan yang halus terdengar dari balik pintu. "Ini aku, Juan."

​Arka melirik ke arah pintu, lalu menatap mata Larasati dengan senyum nakal yang sulit diartikan. Khawatir Arka salah paham, Larasati segera menjawab dengan nada dingin, "Tuan Muda Juan berkunjung selarut ini, ada urusan apa?"

​Juan menyahut sambil tersenyum, "Tadi aku sedang berjalan-jalan menikmati malam di perguruan ini, dan kulihat kamar Yang Mulia masih terang. Kebetulan malam ini bulan purnama di atas Perguruan Pedang Surgawi sangat memikat. Jika dilewatkan, pastilah sangat disayangkan. Jika Yang Mulia ada waktu, bolehkah aku mengundangmu menikmati rembulan bersama?"

​Sudut bibir Arka berkedut kesal. Ia sedang bermesraan dengan sang putri, tapi "sampah" ini malah datang mengajak melihat bulan. Kenapa tidak kau lihat saja bokong kerbaumu!

​Kesal, tangan Arka tiba-tiba bergerak nakal, meremas lembut bahu dan pinggang Larasati.

​"Ah..." Larasati mengerang pelan. Erangan pendek namun menggoda itu tertangkap oleh telinga Juan di luar. "Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya Juan cemas.

​Larasati mencengkeram pergelangan tangan Arka, menatapnya dengan mata malu-malu, dan berusaha sekuat tenaga untuk tenang. "Tuan Muda Juan, terima kasih. Namun, aku sama sekali tidak tertarik memandang bulan. Silakan undur diri."

​Selagi ia berbicara, tangan Arka mulai bergerak lebih jauh, menggoda titik-titik sensitif Larasati hingga napas sang putri tidak teratur. Larasati hanya bisa menggertakkan gigi agar tidak mengeluarkan suara.

​Juan terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Yang Mulia, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Berilah aku kesempatan. Setelah itu, aku janji tidak akan mengganggumu lagi."

​Tangan Arka kini menyusup ke balik kain rok Larasati, menyentuh kaki jenjangnya yang halus. Tubuh Larasati gemetar hebat seperti tersengat listrik. Ia merasa malu sekaligus cemas. Dengan kemauan keras, ia menjawab Juan dengan nada datar:

​"Aku sudah hendak tidur. Jika ada sesuatu, bicarakan besok saja. Tuan Muda Juan, silakan pergi!"

​Juan tetap tenang dan sabar. "Aku minta maaf telah mengganggu. Aku tahu Yang Mulia punya prasangka buruk padaku, tapi niatku tulus, matahari dan rembulan bisa jadi saksi. Jika Yang Mulia memberiku kesempatan, aku akan memenuhi semua keinginanmu."

Setelah Juan pergi, Arka kembali menindih Larasati di atas ranjang. Larasati meringkuk malu, menutupi dadanya dengan selimut. "Benar-benar tidak ada apa-apa antara aku dan Juan. Kamu... kamu tidak marah, kan?"

​"Hmph, tidak ada apa-apa?" Arka pura-pura ketus. "Larut malam begini dia langsung ke kamarmu. Pasti kau yang memberitahu tempat ini."

​"Bukan begitu! Dia pasti tahu dari murid penjaga," rengek Larasati.

​"Kalau begitu buktikan," goda Arka sambil menarik ujung selimut. "Patuhlah, agar aku bisa 'memakanmu'."

1
Jojo Shua
😄🔥✅️
Jojo Shua
👍🥛
Jojo Shua
👍🫰☕️
Jojo Shua
🫰☕️
Jojo Shua
👍👍
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
☕️☕️☕️☕️
Jojo Shua
☕️☕️☕️
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
☕️
Uswatun Hasanah
ratna ratna ratna
Uswatun Hasanah
arka arka arka
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍✅️🫰
Jojo Shua
👍🔥
Uswatun Hasanah
dua duanya dilahap
Jojo Shua
Gak boleh dibunuh si Yeti, merusak ekosistem
Jojo Shua
Moyangnya Yeti
Jojo Shua
kalau 4 chapter sekaligus biasax pembaca lupa kasi ole" ke author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!