NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suasana kafetaria Fakultas Bisnis University of Southern California siang itu begitu riuh.

Riuh yang bising, khas atmosfer Los Angeles yang selalu bergerak cepat dan penuh energi.

Suara denting garpu yang beradu dengan piring porselen, tawa renyah sekelompok mahasiswa di pojok ruangan, hingga deru pendingin ruangan yang berjuang melawan sengatan matahari California di luar sana, semuanya melebur menjadi satu latar suara yang konstan.

Di salah satu sudut meja dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman kampus, dua orang gadis duduk berhadapan.

Sinar matahari LA yang menembus kaca menyinari paras keduanya, mempertegas perbedaan kontras yang ada.

Vexana Valerio duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura anggun dan kedewasaan yang alami.

Kemeja satin putih dan rambut hitamnya yang tertata rapi membuatnya tampak menonjol. Di depannya, Luna Gabriel duduk dengan jemari yang gelisah, meremas selembar tisu hingga kusut.

Luna menarik napas dalam-dalam, menatap tepat ke dalam manik mata sahabatnya. "Aku hamil," ucap Luna Gabriel tanpa tedeng aling-aling.

Suaranya bergetar, namun ada ketegasan yang aneh di sana.

"Hamil?" Vexana Valerio mengulang kata itu, sedikit terkejut namun belum menangkap distorsi emosi di balik wajah Luna.

Sedetik kemudian, sebuah senyum manis dan tulus merekah di bibir merah muda Vexana. Rasa terkejutnya langsung berganti dengan binar kebahagiaan yang murni.

Sebagai sahabat yang sudah berbagi tawa dan air mata, Vexana tentu tahu apa arti kabar ini—atau setidaknya, apa yang dia pikir dia ketahui.

"Kalian akan menikah?" tanya Vexana dengan nada suara yang begitu anggun dan terdengar sangat dewasa.

Di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan bagaimana ia akan membantu sahabatnya itu memilih gaun pengantin di butik mewah kawasan Beverly Hills.

Luna mengangguk perlahan, ada binar kemenangan sekaligus rasa bersalah yang berkecamuk di matanya. "Kami akan menikah minggu depan," jawab Luna singkat.

"Aku turut bahagia mendengarnya," ucap Vexana lagi, matanya berbinar tulus.

Kebahagiaan itu begitu meluap hingga ia langsung teringat pada kekasihnya sendiri.

"Aku akan datang dengan Brain," ucapnya bahagia, membayangkan betapa indahnya menghadiri pesta pernikahan sahabatnya itu bergandengan tangan dengan pria yang teramat ia cintai.

Namun, senyum di wajah Vexana membeku ketika melihat ekspresi Luna yang mendadak berubah dingin dan kaku. Aura di sekitar meja mereka mendadak turun beberapa derajat, kontras dengan teriknya Los Angeles.

Luna menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum menjatuhkan bom atom yang akan menghancurkan segalanya. "Aku hamil anak Brain Heunte, Vexana. Dia tidak mungkin menghadiri pesta pernikahannya denganmu. Maafkan aku."

Deg.

Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh dunia Vexana seolah berhenti berputar.

Riuh rendah kafetaria kampus yang tadinya memekakkan telinga mendadak lenyap, tergantikan oleh dengingan panjang yang menyakitkan di dalam kepalanya.

Jantungnya berdegup kencang, lalu seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.

Vexana terdiam. Seluruh tubuhnya mendadak kaku bagai patung lilin. Sinar matahari California yang hangat kini terasa membakar kulitnya dengan rasa perih yang luar biasa.

Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata Luna, mencari sepercik keraguan, mencari tanda bahwa ini hanyalah lelucon April Mop yang terlambat, atau sekadar mimpi buruk di tengah hari. Ia mencari kebohongan. Namun, yang ia temukan di sana hanyalah sebuah ketegasan yang dingin.

"Bagaimana mungkin?" tanya Vexana akhirnya.

Suaranya parau, nyaris berbisik, keluar dari tenggorokan yang mendadak kering kerontang.

Bagaimana mungkin Brain, pria yang semalam baru saja mengecup keningnya dan mengucapkan kata cinta, adalah pria yang sama yang menanam benih di rahim sahabatnya sendiri?

Luna menegakkan bahunya, membuang rasa bersalahnya ke udara LA yang kering. "Kami saling mencintai," jawab Luna tanpa kedipan.

Duaaarrrr.

Pertahanan mental Vexana runtuh seada-adanya. Kata 'saling mencintai' itu menghantam dadanya jauh lebih telak daripada kabar kehamilan itu sendiri.

Berapa lama? Sejak kapan?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar gila di otaknya, namun Vexana Valerio bukanlah wanita yang akan menangis histeris dan memohon-mohon di depan umum. Darah Valerio yang mengalir di tubuhnya menolak untuk terlihat lemah.

Vexana terdiam sejenak. Perlahan, seulas senyum terukir di bibirnya. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum pahit yang penuh dengan luka, sinisme, dan kejijikan yang mendalam.

Ia menatap Luna dari atas ke bawah, seolah baru pertama kali melihat makhluk asing di depannya.

"Rupanya... aku bersahabat dengan seorang jalang," ucap Vexana, nadanya begitu tenang namun tajam bagai sembilu yang mengiris kulit. "Selamat atas pernikahanmu."

Kata 'jalang' yang keluar dari bibir anggun Vexana bagai tamparan keras bagi Luna.

Namun, alih-alih merunduk malu atau merasa bersalah karena telah merebut kekasih sahabatnya, Luna justru mendengus egois.

Dengan wajah tanpa dosa yang teramat menyebalkan, ia mengibaskan tangannya ke udara.

"Lupakan Brain, Vexana. Ini sudah terjadi, Hubungan kalian memang sudah hambar sejak lama. Dia bersamaku karena dia menemukan apa yang tidak pernah dia dapatkan darimu." Ujar Luna dengan nada meremehkan, seolah-olah mengkhianati persahabatan menahun adalah perkara sepele seperti salah memesan menu kopi di Starbucks.

​Vexana merasakan dorongan kuat untuk menyiramkan kopi panas di depannya ke wajah Luna, namun harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan aksi murahan seperti itu.

Dia menegakkan punggungnya, menampilkan keanggunan seorang Valerio yang tak tergoyahkan bahkan di titik terendahnya.

Sedetik kemudian Vexana melepaskan tawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan sarkasme.

"Heyy... tenang girl, tentu aku akan melupakan sampah," desis Vexana.

Matanya berkilat tajam. "Aku tidak sudi menumpuk rongsokan di dalam hidupku."

Luna, yang tidak terima calon suaminya sekaligus ayah dari anak yang dikandungnya dikatai sebagai 'sampah', langsung tersulut emosi.

Keangkuhannya terusik. Wajahnya memerah padam, menahan amarah yang meledak-ledak. Luna tidak berniat tinggal diam dan menerima penghinaan itu begitu saja.

Dengan suara yang sengaja ditinggikan hingga menggema dan memotong keriuhan kafetaria Fakultas Bisnis, Luna berdiri dari kursinya.

"Kau mengatakan kami sampah?!" teriak Luna, menarik perhatian beberapa meja di sekitar mereka.

"Lalu kau apa, Vexana? Kau pikir dirimu suci? Kau itu wanita bekas Landon Desmon! Wanita yang ditiduri berkali-kali tapi tetap saja DITINGGALKAN!!"

Seketika itu juga, atmosfer di dalam kafetaria berubah total.

Keheningan yang mencekam mendadak merayap, sebelum akhirnya bisik-bisik dari setiap penjuru kafetaria mulai mendominasi ruangan.

Ratusan pasang mata kini tertuju pada meja mereka. Mahasiswa-mahasiswa yang tadinya sibuk dengan laptop dan tugas akuntansi kini saling berbisik, melempar pandangan penuh spekulasi dan gosip hangat.

Nama 'Landon Desmon' yang diteriakkan oleh Luna bagai minyak yang disiramkan ke dalam api.

Di lingkungan USC, siapa yang tidak mengenal Landon Desmon?

Bisik-bisik kafetaria mulai mendominasi, menyebar bagai virus yang menular dengan cepat dari satu meja ke meja lain.

"Hei, dengar itu? Dia bilang Landon Desmon?"

"Serius? Vexana dan Profesor Desmon?"

"Bukankah Landon Desmon itu dosen genius di Fakultas Elektro?"

"Iya! Pria yang dikenal pintar, dan... tunggu, bukankah dia sekarang sedang berpacaran dengan anak Dekan?"

"Benar! Gadis dari Fakultas Seni yang sangat populer itu! Siapa namanya? Ah, tidak penting, tapi kabar ini gila!"

Nama Landon Desmon memang memiliki daya ledak yang luar biasa di kampus ini.

Dia bukan sekadar dosen biasa; di usianya yang masih muda, dia telah memegang beberapa paten di bidang teknologi elektro, memiliki ketampanan yang sering kali membuat para mahasiswi sengaja mengambil kelas pilihan hanya untuk menatap wajahnya, dan yang paling penting, dia dikenal sebagai sosok yang tidak tersentuh.

Rumor bahwa dia menjalin hubungan dengan anak Dekan—mahasiswi populer dari Fakultas Seni—telah menjadi rahasia umum yang membuat posisinya di kampus semakin tak tergoyahkan.

Kini, nama itu diseret ke dalam drama domestik di kafetaria Fakultas Bisnis, melibatkan Vexana Valerio, gadis yang selama ini dikenal sebagai ikon keanggunan.

Vexana merasakan darahnya berdesir hebat. Kata-kata Luna bukan hanya menusuk hatinya tentang pengkhianatan Brain, tapi juga membuka luka lama yang terkubur rapat di bawah tanah terdalam ingatannya.

Landon Desmon. Nama itu adalah sebuah trauma, sebuah rahasia kelam, dan sekaligus penyesalan terbesar dalam hidup Vexana.

"Jaga bicaramu, Luna," ucap Vexana, suaranya kini merendah, sarat akan ancaman yang berbahaya. Matanya menatap tajam, memancarkan kilat yang sanggup membuat orang awam bergidik ngeri.

Namun, Luna yang merasa telah memegang kartu as, justru tersenyum kemenangan saat melihat reaksi Vexana.

Dia merasa berada di atas angin karena berhasil mengoyak topeng ketenangan sahabatnya—atau mantan sahabatnya itu.

"Kenapa? Kau takut semua orang tahu bahwa Vexana yang agung, yang selalu terlihat seperti orang suci ini, sebenarnya hanyalah mainan yang dicampakkan oleh Landon?"

Luna setengah berbisik namun dengan nada yang cukup sarkas agar terdengar oleh mahasiswa di meja sebelah.

"Kau menyebut Brain sampah, padahal kau sendiri hanyalah barang rongsokan yang tidak diinginkan lagi oleh Landon setelah dia puas mencicipimu!"

Bisikan di kafetaria semakin riuh, bagai lebah yang mengerumuni madu.

Pandangan-pandangan menghakimi, penasaran, dan penuh skandal kini tertuju sepenuhnya pada Vexana.

Beberapa mahasiswa bahkan mulai mengeluarkan ponsel mereka secara sembunyi-sembunyi, siap mengetikkan gosip terhangat hari ini ke grup obrolan kampus.

Vexana mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Rasa sakit akibat dikhianati oleh Brain dan Luna kini bercampur aduk dengan rasa malu dan amarah yang membakar akibat masa lalunya dengan Landon diungkit kembali di depan publik.

Di kota sebesar dan sekejam Los Angeles, reputasi adalah segalanya.

Dan dalam hitungan detik, di dalam kafetaria yang bising ini, reputasi yang dibangun Vexana dengan susah payah selama bertahun-tahun berada di ambang kehancuran.

Namun, alih-alih menundukkan kepala atau berlari keluar sambil menangis seperti yang diharapkan Luna, Vexana perlahan berdiri.

Dia memperbaiki letak tas di lengannya, menegakkan dagunya, dan menatap Luna dengan pandangan paling merendahkan yang bisa dia berikan.

"Jika kau berpikir bahwa dengan membawa nama masa laluku bisa membuat tindakan menjijikkanmu dan Brain terlihat lebih terhormat, kau salah besar, Luna," ucap Vexana, suaranya bergaung dengan kejelasan yang mutlak, membungkam beberapa bisikan di sekitarnya.

"Nikmati sisa-sisa dari hidupku. Ambil pria itu, karena seorang Valerio tidak pernah memungut kembali apa yang sudah dibuang ke tempat sampah. Dan untuk urusan Landon..."

Vexana menjeda kalimatnya, memberikan senyuman dingin yang membuat Luna mendadak merasa tidak nyaman.

"...setidaknya dia memiliki otak yang jenius, tidak seperti calon suamimu yang bodoh karena mau menampung wanita murah sepertimu."

Tanpa menunggu balasan dari Luna, Vexana membalikkan badannya.

Dengan langkah kaki yang mantap dan anggun, diiringi oleh ratusan pasang mata yang terus memperhatikannya serta bisik-bisik yang kembali memuncak, dia berjalan keluar dari kafetaria.

Setiap ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai marmer seolah menegaskan bahwa dia belum kalah.

Namun, begitu pintu kaca kafetaria tertutup di belakangnya dan angin hangat Los Angeles menerpa wajahnya, pertahanan Vexana sedikit goyah.

Dia berjalan cepat menuju area parkir, mencari mobilnya dengan pandangan yang mulai kabur oleh air mata yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga.

Hari itu, di bawah langit California yang biru bersih, Vexana Valerio tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Di bawah langit Los Angeles yang biru bersih tanpa awan, Vexana Valerio menyadari satu hal: hidupnya yang tenang dan teratur di kota ini telah berakhir hari ini.

Dan perang baru saja dimulai.

Sementara itu, di dalam kafetaria yang masih kasak-kusuk, Luna Gabriel ditinggalkan sendirian di tengah tatapan-tatapan menghakimi sekaligus penasaran dari mahasiswa lain.

Ia menghentakkan kakinya kesal, mencoba mengabaikan rasa malu yang mulai merayap di tengkuknya. Ia segera merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan mendial sebuah nomor.

"Brain," ucap Luna begitu panggilan tersambung, suaranya mendadak berubah manja dan bergetar, berpura-pura menjadi korban.

"Vexana sudah tahu. Dia... dia mencaciku di depan semua orang di kafetaria. Aku takut, Brain. Kau harus segera datang ke kampus."

Di ujung telepon, terdengar helaan napas berat dari Brain Heunte. "Aku akan ke sana, Luna. Tenanglah, jaga kandunganmu."

Luna menutup telepon dengan senyum kemenangan yang kembali terkembang. Ia tidak peduli jika harus dicap sebagai jalang atau pencuri oleh seluruh Fakultas Bisnis.

Yang terpenting baginya, ia telah memenangkan Brain, pria tampan dari keluarga terpandang yang selama ini selalu dipuja-puja di samping Vexana.

Ego Luna yang selama ini selalu berada di bawah bayang-bayang keanggunan Vexana akhirnya merasa terpuaskan.

Namun, Luna tidak menyadari bahwa gosip di kampus USC menyebar lebih cepat daripada api yang membakar semak kering di bukit Hollywood.

Di sudut lain kampus, tepatnya di dalam gedung Fakultas Teknik Elektro yang bernuansa lebih tenang dan dipenuhi oleh aroma kopi serta dengung komponen elektronik, seorang pria berambut cokelat gelap sedang menatap layar tabletnya.

Jari-jarinya yang panjang berhenti mengetik baris kode ketika sebuah notifikasi dari grup obrolan kampus masuk, menampilkan potongan video amatir yang direkam secara diam-diam dari kafetaria Fakultas Bisnis beberapa menit lalu.

Pria itu adalah Landon Desmon.

Mendengar namanya disebut-sebut dalam video tersebut oleh seorang gadis bernama Luna, sepasang mata tajam Landon menyipit.

Pandangannya kemudian beralih pada sosok Vexana yang berdiri anggun namun menyimpan luka mendalam di dalam rekaman video berdurasi pendek itu.

Landon menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar pena di jemarinya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang dingin.

"Vexana Valerio..." gumam Landon lirih, menyebut nama wanita yang pernah mengisi lembaran hidupnya dan kini kembali terseret dalam pusaran rumit kehidupannya.

"Rupanya kau sedang tidak baik-baik saja."

Angin siang kota Los Angeles berembus melewati jendela laboratorium yang terbuka, membawa serta aroma lautan yang jauh dan debu kota yang tak pernah tidur.

...🌷🌷🌷...

Happy Reading Kak 🫶🏻🥰

Cerita Vexana Valerio anak Maximilian Valerio Dan Amieyara.

Sequel Dari Novel "Purdeb".

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!