Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Daging?
Suasana ruangan hening mematikan. Surat dari Rania tergeletak di lantai, seolah membawa wabah yang mencekam. Putra menatap kosong ke depan, tubuhnya gemetar hebat meski masih terbaring lemah. Fakta bahwa ia mungkin memiliki anak yang tak pernah ia ketahui keberadaannya, terasa seperti pukulan telak yang menghancurkan segalanya.
"Aku tidak tahu, Citra... Aku benar-benar tidak tahu," bisik Putra parau, matanya berkaca-kaca menatap istrinya. "Dulu kami memang dekat, tapi tak pernah ada hal sejauh itu. Dia tak pernah bilang apa-apa, lalu tiba-tiba aku putuskan hubungan demi keamanan. Aku tak menyangka dia menyimpan rahasia sebesar ini."
Citra berlutut, mengambil surat itu kembali. Ia membacanya sekali lagi dengan tangan gemetar. Rasa sakit menyayat hati, namun naluri dokter dan kasih sayang yang besar membuatnya tetap tenang. Ia mengerti betapa liciknya Rania; wanita itu pandai memutarbalikkan keadaan demi keuntungan sendiri.
"Mas, tenanglah dulu," ucap Citra lembut, mendekat dan menggenggam tangan suaminya. "Kita tak boleh langsung percaya begitu saja. Ingat siapa penulis surat ini. Rania adalah ahli kebohongan, dia pandai menanam keraguan. Ini bisa saja cara terakhirnya untuk menyakiti kita dan merusak kebahagiaan yang baru saja kau raih."
"Tapi bagaimana jika itu benar, Citra? Bagaimana jika aku benar-benar punya anak bernama Andi yang tumbuh membenci ayahnya karena didikan jahat wanita itu?" suara Putra bergetar penuh kepedihan. "Aku tentara, aku biasa menghadapi bahaya fisik. Tapi ini... rasa bersalah ini... jauh lebih menyakitkan dari luka apa pun."
Kolonel Bayu yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara berat. Ia mengambil surat itu, menelitinya dengan tatapan tajam. "Masalah ini tak bisa dianggap remeh. Apakah ini fakta atau kebohongan, kita harus membuktikannya. Jika anak itu ada, dia korban. Dia tumbuh dalam kebencian dan kebohongan. Dan jika Rania menggunakannya sebagai senjata, bahaya baru sedang menanti kita."
Pria tua itu berdiri tegak, sorot matanya kembali tegas. "Aku akan kerahkan seluruh tim penyelidik. Kita telusuri jejak Rania selama empat tahun terakhir. Kita cari tahu ke mana dia pergi, dengan siapa, dan apakah benar ada seorang anak bernama Andi bersamanya. Tak ada tempat persembunyian yang tak akan kita telusuri."
"Terima kasih, Paman," ucap Putra lirih. "Apapun hasilnya, aku harus tahu. Jika anak itu benar-benar ada, aku punya tanggung jawab sebagai ayah. Aku tak akan membiarkannya jadi alat balas dendam, sama seperti aku dulu jadi korban kebohongan."
Hari-hari berlalu dengan penuh ketegangan. Putra perlahan memulihkan diri, namun beban di pundaknya jauh lebih berat daripada sakit fisik. Citra tetap setia merawatnya, membagi waktu antara rumah sakit tempatnya bertugas dan pendampingan pada suami. Di mata Citra, cinta mereka telah melewati banyak badai, dan ia bertekad tak akan membiarkan masa lalu atau anak dari masa lalu itu merobohkan ikatan yang sudah dibangun dengan susah payah.
Seminggu kemudian, Kolonel Bayu kembali membawa kabar. Wajahnya serius, rautnya sulit dibaca. Ia masuk ke ruang rawat Putra, di mana Citra juga sedang ada di sana.
"Ada hasil penyelidikan," buka Kolonel Bayu pelan, meletakkan berkas foto dan dokumen di meja. "Kami telusuri catatan perjalanan Rania. Benar, empat tahun lalu dia sempat tinggal di luar negeri cukup lama, tepat saat dia menghilang dari lingkaran kita. Kami dapatkan rekaman pengawasan dan foto-foto diam-diam."
Kolonel Bayu menggeser satu foto ke depan mereka.
Di sana, terlihat Rania berdiri di taman bermain, di sebelahnya ada seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun. Rambutnya hitam legam, wajahnya... ada kemiripan yang sangat mencolok dengan Putra saat kecil. Jantung Putra seolah berhenti berdetak. Citra menahan napas, tangannya menutup mulutnya perlahan.
"Fisiknya... ya, ada kemiripan," gumam Putra lirih, suaranya hilang ditelan rasa terguncang. "Tapi wajah anak itu... tatapannya dingin. Seolah dia tak pernah mengenal kasih sayang."
"Anak itu bernama Andi," jelas Kolonel Bayu. "Menurut data yang kami dapatkan, Rania mendaftarkannya sebagai anak tunggal yang diasuh sendiri, tanpa nama ayah. Dia mendidiknya jauh dari sini, membanjiri hati anak itu dengan cerita buruk tentangmu, Putra. Bahwa ayahnya adalah orang jahat yang membuang mereka, bahwa ayahnya musuh besar yang harus dibenci."
Putra memejamkan mata, rasa sakit luar biasa menjalar di dadanya. "Tuhan... Andi tak bersalah, tapi dia sudah diracuni kebencian sejak bayi."
"Apa rencana selanjutnya, Paman?" tanya Citra, matanya tajam dan bertekad. "Jika Rania sudah tertangkap, siapa yang menjaga Andi sekarang? Apakah dia dalam bahaya?"
"Di sinilah bagian yang membuatku khawatir," jawab Kolonel Bayu serius. "Rania punya rekanan yang masih bebas, jaringan lama Adi yang belum kami tangkap sepenuhnya. Mereka yang menjaga Andi selama Rania di sini. Dan menurut laporan terakhir kami... anak itu baru saja dipindahkan. Lokasinya tak lagi di tempat yang kami pantau."
Putra langsung bangkit dari tempat tidurnya, meski masih sedikit terhuyung. Luka di lengannya masih nyeri, tapi rasa tanggung jawab mengalahkan segalanya.
"Artinya apa? Mereka membawa Andi ke mana?" tanya Putra tegas.
"Belum ketahuan pasti," jawab Kolonel Bayu. "Tapi ada petunjuk. Sebelum Rania ditangkap, dia sempat berkomunikasi dengan seseorang. Ada satu tempat yang sering disebut... sebuah desa terpencil di pegunungan, bekas wilayah tambang tua militer yang dulu dikuasai Adi. Tempat itu terpencil, rawan, dan penuh kenangan buruk masa lalu."
Putra mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Mereka membawanya ke sana. Rania pasti sudah mengatur semuanya. Dia tahu dia kalah, jadi dia mengirim Andi ke tempat berbahaya itu. Entah untuk disembunyikan, atau... dijadikan umpan terakhir untuk melawanku."
Putra menatap Citra lekat-lekat, matanya penuh penyesalan namun juga ketegasan. "Citra, aku harus pergi ke sana. Aku harus mengambil anak itu kembali. Dia darah dagingku, dia keluarga kita. Aku tak peduli apa pun yang dia rasakan atau percayai, aku harus menyelamatkannya."
Citra mengangguk mantap, menggenggam tangan suaminya erat. "Aku ikut, Mas. Ke mana pun kau pergi, aku ada di sana. Andi mungkin bukan darah dagingku, tapi dia anakmu. Dan karena aku mencintaimu, aku juga akan mencintainya dan melindunginya. Kita selesaikan ini bersama-sama."
Kolonel Bayu tersenyum tipis melihat kekuatan ikatan mereka, meski beban berat menimpa. "Bagus. Aku akan siapkan tim pengamanan terbaik. Tapi hati-hati. Ini rencana terakhir Rania. Tempat itu penuh jebakan, dan Andi mungkin sudah diprogram untuk membenci dan tak percaya padamu. Bahkan mungkin, bahaya terbesar justru datang dari anak itu sendiri yang tak kita duga."
Malam itu, persiapan dilakukan dengan cepat. Putra kembali mengenakan seragam militernya, meski luka di lengannya masih terbalut perban. Citra menyiapkan perlengkapan medis lengkap, siap bertugas sebagai dokter sekaligus pendamping setia. Perjalanan menuju tambang tua itu bukan sekadar misi penyelamatan, tapi perjalanan untuk menebus dosa masa lalu, memulihkan nama baik, dan menyatukan keluarga yang sempat hancur oleh kebohongan.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: Apakah Andi benar-benar anak kandung Putra?
Bersambung...