Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arga memutar otaknya dengan cepat mencari cara untuk mengulur waktu.
Kalau dia menarik kailnya sekarang, misinya bisa dipastikan akan gagal.
"Sebentar aja, Pak, nanggung nih kayaknya umpannya udah mau dimakan," bujuk Arga sopan.
"Saya janji lima menit lagi saya langsung pergi dari tempat ini."
"Gak ada lima menit lima menitan," potong satpam pertama dengan nada tegas.
"Ini tuh kompleks perumahan elit, bukan tempat pemancingan umum buat umum."
Satpam pertama maju satu langkah dan berniat merebut joran dari tangan Arga.
Tepat pada detik itu, ujung joran karbon Arga melengkung ke bawah dengan sangat kasar.
Arga langsung menahan joran itu dengan kedua tangannya agar tidak terlepas.
"Eh, bentar Pak, ini ditarik beneran kailnya," seru Arga menahan beban pancingannya.
Kedua satpam itu terkejut melihat batang joran Arga yang melengkung sangat tajam.
Mereka refleks mundur satu langkah melihat kekuatan tarikan misterius dari dalam air.
"Gila, ikan jenis apa itu yang nyangkut di selokan sini?" gumam satpam kedua penasaran.
Arga mengabaikan ucapan satpam itu dan fokus memutar tuas penggulung benangnya.
Tarikan dari dalam air sangat kuat sampai membuat urat di leher Arga menonjol.
Benda itu terasa sangat berat seperti menarik batu bata dari dasar selokan.
'Sistem, lo nyuruh gue mancing apa sih ini?' keluh Arga dalam hati.
"Terus tarik benangnya, Host," jawab sistem dengan suara mekanisnya yang dingin.
Arga menarik jorannya ke atas menggunakan seluruh tenaga lengannya.
Sebuah benda melesat dari dalam air kotor dan melewati celah jeruji besi.
Benda itu mendarat tepat di atas rumput trotoar di depan kedua ujung sepatu Arga.
Brak.
Kedua satpam itu buru-buru maju untuk melihat benda apa yang berhasil ditarik.
Ternyata itu sama sekali bukanlah ikan lele atau hewan air jenis apa pun.
Benda itu adalah sebuah koper kecil berbahan logam perak yang terkunci sangat rapat.
Anehnya koper itu terlihat sangat bersih tanpa ada noda lumpur sedikit pun.
"Koper?" ucap satpam pertama dengan nada suara sangat kebingungan.
"Mas dapat koper perak itu dari dalam selokan air?" tanya satpam kedua tidak percaya.
Arga segera memungut koper tersebut sebelum para satpam sadar sepenuhnya.
Koper itu terasa cukup ringan saat dipegang namun terbuat dari bahan logam yang tebal.
Ding.
"Misi harian berhasil diselesaikan," ucap sistem di dalam kepala Arga.
"Host mendapatkan Peningkatan Fisik Tingkat Dasar dan satu Umpan Emosi Acak."
Arga tiba-tiba merasakan aliran energi hangat masuk dari telapak tangannya.
Energi itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat otot-ototnya terasa padat seketika.
Rasa pegal akibat menarik pancingan tadi hilang tak berbekas dalam sekejap mata.
"Mas, coba buka dulu isi kopernya," perintah satpam pertama dengan raut wajah curiga.
"Jangan-jangan ini barang hasil curian yang dibuang ke dalam selokan."
"Bukan urusan bapak," jawab Arga sambil memasukkan koper itu ke dalam tas pancingnya.
"Tadi bapak yang nyuruh saya cepat-cepat pergi dari sini kan?"
Arga melipat joran karbonnya dengan cepat dan segera menggendong tasnya.
"Tunggu dulu, Mas harus ikut kita ke pos buat diperiksa isi tasnya," cegah satpam kedua.
Satpam kedua mencoba memegang pundak Arga untuk menahan langkah pemuda itu.
Namun karena efek peningkatan fisik barunya, refleks tubuh Arga menjadi sangat cepat.
Arga menepis tangan satpam itu dengan gerakan yang halus namun sangat bertenaga.
Satpam itu langsung terhuyung ke belakang karena kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Maaf, Pak, saya lagi buru-buru sekarang," kata Arga sambil berjalan menjauh.
Arga melangkah dengan cepat meninggalkan kedua satpam yang masih kebingungan di trotoar.
Dia berjalan keluar dari area kompleks perumahan menuju jalan raya utama yang lebih ramai.
Arga kembali memanggil sebuah taksi untuk membawanya pulang ke rumah kos.
Dia baru saja menyewa sebuah kamar kos eksklusif siang tadi setelah menjual emasnya.
Di dalam taksi, Arga terus menatap tas pancingnya yang kini berisi koper perak tersebut.
'Kira-kira apa isi koper ini sampai sistem ngasih misi khusus buat mancing di selokan?' batin Arga penasaran.
Dia mencoba menebak siapa pemilik asli dari koper misterius tersebut.
Mungkin saja ini adalah awal dari konflik baru yang akan membawanya ke dalam masalah besar.
Tapi saat ini Arga sama sekali tidak merasa takut atau khawatir.
Dengan uang di rekening dan kekuatan sistem di pihaknya, Arga siap menghadapi apa pun yang terjadi besok.