NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Sayatan Kecil dan Putaran Sentrifugal

Suasana di dalam kabin Maybach hitam yang melaju membelah sunyinya jalanan ibu kota terasa begitu menyesakkan, seakan pasokan oksigen di sana tiba-tiba menipis.

Narendra duduk dengan tubuh kaku di samping Alika, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. Tidak ada lagi sisa-sisa senyum menawan atau gestur posesif yang tadi ia pamerkan di hadapan para tamu gala. Yang tertinggal kini hanyalah aura seorang tiran yang tengah menyusun rencana hukuman.

Di pangkuannya, Alika meremas clutch bag beludrunya dengan jemari yang gemetar. Jantungnya berpacu liar, memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Di dalam tas kecil itu, tersembunyi sebuah botol pipih berisi pil kortikosteroid pemberian Raditya.

Ucapan Narendra di depan pintu ballroom tadi terus terngiang, menghantui pikirannya: Malam ini, aku sendiri yang akan memeriksa apa kau menyembunyikan sesuatu.

Alika sadar betul bahwa Narendra tidak pernah sekadar menggertak. Begitu mereka tiba di rumah, pria itu atau Rasti pasti akan menggeledah barang bawaannya tanpa ampun. Ia harus segera memindahkan botol itu sekarang juga, atau tamat sudah riwayatnya malam ini.

Saat itu, Narendra sedang menerima panggilan telepon dari rekan bisnisnya. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan tempo cepat dan nada bicara yang ketus. Pria itu sedikit memalingkan wajah ke arah jendela, membelakangi Alika.

Inilah satu-satunya kesempatan yang ia punya.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, Alika membuka pengait tasnya. Tangannya yang terasa kaku dan linu merogoh ke dalam, hingga ujung jarinya menyentuh permukaan botol plastik pipih tersebut.

Sambil menahan napas agar tidak menimbulkan suara, ia menarik botol itu keluar, menyembunyikannya di balik telapak tangan, lalu dengan sigap menyelipkannya ke balik garis leher gaun beludrunya. Ia mendorongnya jauh ke bawah hingga terselip aman di antara belahan dada dan korset ketat yang menyesakkan tubuhnya.

Napas Alika tersengal halus. Dinginnya permukaan botol itu menyentuh kulitnya, namun untungnya tersamarkan dengan sempurna oleh potongan gaunnya yang berbahan tebal.

Begitu mobil berhenti di pelataran rumah mewah mereka di kawasan Menteng, Narendra langsung mematikan ponselnya. Ia turun lebih dulu dan melangkah masuk tanpa memedulikan Alika yang mengekor di belakang.

Di area foyer, Rasti sudah berdiri tegak menyambut kedatangan mereka.

Narendra mendadak berhenti dan menoleh ke arah istrinya yang baru saja melangkah masuk. "Rasti, ambil tas Nyonya. Periksa isinya. Semuanya."

Alika menelan ludah, berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap datar saat menyerahkan clutch beludru itu kepada Rasti. Tanpa ragu, asisten itu membukanya dan mengeluarkan seluruh isinya ke atas meja kaca. Sebuah lipstik merah, bedak padat, cermin kecil, dan beberapa lembar tisu. Tidak ada benda mencurigakan lainnya.

Narendra mendengus pelan, tampak sedikit kecewa karena tidak menemukan bukti pengkhianatan yang ia cari. "Naik ke kamar, Alika."

Di dalam kamar utama, udara terasa makin mencekik. Narendra melepaskan jas tuksedonya dan melemparnya begitu saja ke atas sofa. Ia berjalan mendekati Alika yang berdiri mematung di depan cermin meja rias.

"Buka gaunmu," perintah Narendra dengan suara rendah yang terdengar seperti desisan ancaman.

Alika memutar tubuhnya, membelakangi sang suami. Ia mengangkat tangan ke punggung, namun jemarinya yang membengkak tak cukup kuat untuk menarik ritsleting gaun yang panjang itu. Pada saat itulah, sebuah ingatan menghantamnya dengan keras.

Plester!

Di lipatan siku kirinya, masih tertempel plester bedah transparan yang menutupi bekas tusukan jarum suntik dari Raditya. Jika Narendra sampai melihatnya, pria itu akan langsung tahu apa yang ia lakukan di toilet hotel tadi.

Narendra melangkah mendekat, lalu mengambil alih ritsleting gaun Alika. "Kau bilang ritsleting ini bermasalah. Mari kita lihat seberapa jauh kau berbohong padaku malam ini."

Saat ritsleting ditarik turun perlahan, menyingkap punggung putih Alika yang terasa dingin, tangan kanan Alika bergerak cepat menuju lipatan siku kirinya. Tanpa ragu, ia menggunakan kuku jari telunjuknya untuk menggaruk dan mengelupas plester bening itu secara paksa.

Plester yang melekat kuat itu ditariknya hingga kulit tipis di area nadinya ikut terkelupas kasar. Rasa perih yang tajam menyengat saraf, dan darah segar langsung merembes dari luka cakaran yang baru saja ia buat sendiri, menutupi titik kecil bekas jarum suntik Raditya.

Gaun beludru itu meluncur jatuh ke lantai, bersamaan dengan botol pipih yang meluncur dari balik korsetnya. Benda itu jatuh tepat di atas tumpukan kain beludru hitam, sehingga suaranya teredam sempurna.

Narendra memutar tubuh Alika, matanya menyapu tubuh sang istri dengan tatapan yang mengintimidasi. Namun, perhatiannya langsung teralih pada darah yang mengalir di lengan kiri Alika.

"Apa itu?" Narendra mencengkeram lengan Alika, menatap luka gores yang memerah.

Alika meringis, air mata kesakitan secara refleks menggenang di matanya. "Aku... aku tidak sengaja menggaruk lenganku terlalu keras di toilet tadi, Mas. Payet di lengan gaunku tajam, dan aku panik karena ritsletingnya macet."

Narendra menatap luka itu dengan tatapan jijik, lalu melepaskan lengan istrinya dengan kasar. Ia melirik gaun beludru di lantai, melihat detail payet kecil di bagian ujung lengan. Kebohongan Alika terdengar masuk akal bagi egonya. Baginya, itu hanyalah bentuk kecerobohan seorang wanita yang terlalu terobsesi pada penampilan.

"Kau menghancurkan malam yang sempurna ini dengan kepanikan bodohmu," desis Narendra seraya melangkah mundur. "Bersihkan lukamu dan segera tidur. Dokter Hendrawan akan datang besok pagi untuk mengambil sampel darahmu. Dan sebaiknya hasil tesmu kali ini normal, karena kesabaranku sudah habis."

Narendra berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, lalu membanting pintunya dengan keras.

Begitu pintu terkunci, kekuatan di kaki Alika seakan lenyap. Ia merosot ke lantai, buru-buru menyambar botol obat di atas tumpukan gaunnya dan menyembunyikannya ke dalam laci rahasia di bawah meja rias. Ia menangis tanpa suara sambil memeluk lututnya sendiri. Ia berhasil melewati malam ini, menipu suaminya dengan darahnya sendiri.

Besok, biarkan Dokter Hendrawan mengambil darahnya. Kini, ia sudah memiliki senjata dari Raditya.

Pukul dua belas malam, di ruang laboratorium Rumah Sakit Medika Utama.

Cahaya lampu neon yang putih benderang menyinari wajah lelah Dokter Raditya. Pria itu berdiri di depan mesin centrifuge, memperhatikan tabung darah Alika yang berputar dengan kecepatan ribuan RPM. Mesin itu berdengung konstan, memisahkan sel darah merah dari plasma yang berwarna kekuningan.

Raditya sengaja tidak melibatkan teknisi laboratorium. Ia mengerjakan semuanya sendirian agar data ini tidak masuk ke sistem utama rumah sakit yang bisa dipantau oleh Narendra.

Setelah mesin berhenti, Raditya mengambil tabung berisi plasma darah Alika. Ia memindahkannya ke dalam slide mikroskop khusus untuk menjalani tes Antinuclear Antibody (ANA) dengan metode Immunofluorescence Assay (IFA), yang merupakan standar utama dalam mendiagnosis penyakit autoimun sistemik.

"Narendra bilang kau hanya anemia dan kurang tidur," gumam Raditya pelan, matanya menatap tajam ke arah sampel darah tersebut. "Mari kita lihat, monster apa yang sebenarnya sedang menggerogoti tubuhmu di dalam sangkar emas itu, Alika."

Raditya menyalakan mikroskop fluoresensinya. Hitungan mundur menuju kebenaran absolut yang akan meruntuhkan seluruh kebohongan Narendra Pradipta telah dimulai.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!