“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Ambulans Tanpa Sirene dan Hitungan Detik yang Krusial
"Jangan hanya diam seperti patung, Narendra! Angkat dia sekarang!" Suara bentakan Raditya memecah keheningan yang membekukan di dalam kamar utama.
Dokter muda itu tidak lagi memedulikan status pria di hadapannya sebagai salah satu orang paling berpengaruh di negeri ini.
Di mata Raditya saat ini, Narendra tidak lebih dari seorang pria bodoh yang baru saja mengeksekusi istrinya sendiri dengan rasa cemburu yang buta.
Narendra tersentak.
Seluruh sendi di tubuhnya terasa mati rasa, namun perintah Raditya bagaikan sengatan listrik yang memaksa otot-ototnya kembali bergerak.
Dengan napas yang tersengal-sengal dan jantung yang berdegup liar, Narendra merosot ke atas kasur.
Ia menyisipkan kedua lengannya di bawah tubuh ramping Alika—satu di balik tengkuknya yang panas membara, dan satu lagi di bawah lipatan lututnya yang membengkak.
Saat tubuh Alika terangkat dari atas ranjang, Narendra merasakan hantaman emosional yang begitu hebat hingga dadanya terasa sesak.
Alika begitu ringan.
Wanita yang dulu selalu tampak anggun dan bertenaga, kini terasa seperti tumpukan tulang yang ringkih di dalam dekapannya.
Tidak ada bobot kehidupan yang hangat di sana, yang ada hanyalah tubuh yang membara oleh demam tinggi, dengan napas yang keluar pendek-pendek dari belahan bibirnya yang menyisipkan bercak darah keperangan.
"Mas... sakit..."
Sebuah rintihan halus, nyaris tidak terdengar, lolos dari bibir Alika yang pecah-pecah.
Matanya tidak membuka, namun keningnya berkerut dalam, menampilkan penderitaan fisik yang luar biasa hebat akibat gesekan pada selaput parunya setiap kali tubuhnya bergerak.
"Iya, Alika... Mas di sini. Tahan sebentar, sayang. Tolong tahan..." Suara Narendra pecah.
Ia tidak pernah memanggil Alika dengan sebutan itu sejak pernikahan mereka berubah menjadi medan perang.
Namun sekarang, kata itu keluar begitu saja dari lubuk hatinya yang paling dalam, bersamaan dengan air mata yang akhirnya luruh, membasahi pipi tegas sang CEO.
Narendra berlari menyusuri koridor lantai atas dengan Alika di dalam dekapan eratnya.
Raditya memimpin di depan, membuka jalan dan berteriak ketakutan pada siapa saja yang menghalangi.
Di ujung tangga, Rasti berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.
Nampan perak yang ia bawa beberapa saat lalu kini entah berada di mana. Kedua tangannya menutup mulut, menatap pemandangan di hadapannya dengan horor yang murni.
Rasti melihat rambut asli Alika yang pitak di bagian puncak, melihat noda darah di sudut bibir sang nyonya, dan melihat tuannya—pria yang tidak pernah tunduk pada apa pun—kini menangis ketakutan sambil mendekap tubuh yang nyaris tak bernyawa.
Pada detik itu, Rasti menyadari bahwa laporan-laporan "disiplin" yang ia kirimkan kepada Narendra setiap hari sebenarnya adalah surat kematian yang ia tulis untuk Alika.
"T-Tuan... Nyonya Alika—"
"Minggir, Rasti! Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi, atau kupastikan kau membusuk di penjara!" raung Narendra dengan mata yang memerah karena amarah dan penyesalan.
Pria itu terus berlari menuruni anak tangga, tidak memedulikan Rasti yang langsung luruh ke lantai dengan tubuh gemetar hebat.
Mereka menembus lobi utama.
Penjaga gerbang yang tadi sempat menahan Raditya kini dengan sigap membuka pintu mobil SUV milik sang dokter.
Narendra menurunkan tubuh Alika ke kursi belakang dengan sangat hati-hati, seolah-olah wanita itu adalah porselen retak yang bisa hancur berkeping-keping jika ia melakukan satu gerakan kasar.
"Aku yang akan menyetir. Kau jaga dia di belakang!" perintah Raditya tegas.
Namun, Narendra menggeleng dengan tatapan mata yang liar namun penuh tekad. "Tidak. Kau dokternya, Raditya! Kau yang tahu bagaimana cara menjaganya agar tetap bernapas sampai di rumah sakit. Biar aku yang menyetir!"
Tanpa menunggu persetujuan, Narendra langsung melompat ke kursi kemudi, menghidupkan mesin mobil dengan raungan keras, dan menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil SUV hitam itu melesat keluar dari halaman kediaman Pradipta, membelah jalanan kota Jakarta layaknya peluru yang lepas dari selongsongnya.
Di kursi belakang, suasana tidak kalah mencekam. Raditya langsung memposisikan tubuh Alika miring ke sisi kiri untuk mencegah cairan lambung yang bercampur darah masuk ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).
Ia merobek sepotong kain bersih dari tas medisnya, dengan lembut menyeka sisa darah di sudut bibir Alika.
"Alika, dengar suaraku? Tetap buka matamu sedikit saja, Alika. Jangan menyerah," bisik Raditya, suaranya bergetar meskipun ia mencoba tetap profesional.
Ia menempelkan oksimeter portabel ke jari telunjuk Alika yang dingin dan membiru.
Angka di layar digital kecil itu berkedip, menampilkan indikator yang membuat jantung Raditya mencuat ke tenggorokan. Saturasi oksigen Alika berada di angka 84%. Itu adalah angka yang kritis bagi pasien dengan komplikasi pleuritis akut.
Tubuh wanita itu sedang kekurangan oksigen secara masif karena paru-parunya tidak mampu mengembang dengan sempurna.
"Narendra, lebih cepat! Saturasinya drop di bawah 85 persen! Paru-parunya mulai terendam cairan!" teriak Raditya ke arah depan.
Narendra tidak menjawab dengan kata-kata.
Sebagai gantinya, ia memukul kemudi dengan keras sebelum membanting setir ke kanan, menerobos jalur busway dan mengabaikan klakson kendaraan lain yang bersahut-sahutan memprotes aksinya.
Di dalam benak Narendra, dunia luar sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah angka digital di dasbor mobil dan suara napas Alika di kursi belakang yang terdengar semakin berat, seperti seseorang yang sedang tenggelam di dalam air jernih.
Jangan ambil dia dariku... Kumohon, jangan sekarang... Narendra merapalkan doa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia ucapkan.
Ia menyadari betapa menjijikkannya dirinya saat ini. Ia mengurung Alika karena takut kehilangan wanita itu, takut Alika akan berpaling pada Raditya.
Namun ironisnya, ketakutan egois itulah yang kini justru mengantarkan Alika ke gerbang kematian.
Sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh abad berlalu. Mobil SUV hitam itu berhenti dengan cara yang ekstrem tepat di depan lobi IGD Rumah Sakit Medika Utama. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan bekas karet hitam di atas aspal.
Narendra adalah yang pertama melompat keluar. Ia berteriak histeris ke arah pintu kaca IGD. "Brankar! Bawa brankar ke sini sekarang! Istriku sekarat!!"
Suara raungan sang CEO langsung membuat para perawat jaga dan petugas keamanan bergerak dengan kecepatan tinggi.
Sebuah brankar dorong segera dilarikan ke samping mobil. Raditya membantu mengeluarkan tubuh Alika yang kini sudah sepenuhnya tidak sadarkan diri.
Kulit wajahnya yang melepuh merah kini tampak kontras dengan warna bibirnya yang membiru kelabu.
Saat Alika dipindahkan ke atas brankar, Narendra mencoba ikut menggenggam tangan istrinya.
Namun, Raditya langsung menepis tangan pria itu dengan kasar.
"Jangan masuk, Narendra! Kau sudah cukup melakukan kerusakan di rumah. Biarkan tim medis bekerja tanpa gangguan egomu!" ucap Raditya dengan tatapan mata yang dingin sebelum ia ikut berlari mendorong brankar menembus pintu ganda IGD.
Pintu kaca besar itu tertutup rapat dengan bunyi desis yang pelan, menyisakan Narendra yang berdiri mematung di luar.
Pria itu menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kini gemetar tanpa henti. Di atas kulit tangannya, terdapat noda kosmetik hijau dan foundation tebal milik Alika yang luntur, berbaur dengan sisa keringat dingin dan setitik noda darah kering yang keluar dari bibir istrinya.
Narendra melangkah mundur perlahan hingga punggungnya membentur dinding rumah sakit yang dingin.
Ia merosot, jatuh terduduk di atas lantai koridor yang berbau tajam cairan antiseptik.
Topeng penguasa, tiran, dan CEO arogan yang selama ini melekat erat pada dirinya, kini telah luruh sepenuhnya, menyisakan seorang pria yang hancur, sendirian, dan dipenuhi oleh rasa penyesalan yang terlambat.
Di dalam ruang tindakan sana, detak jantung Alika kini sedang dipertaruhkan di atas meja medis, sementara Narendra hanya bisa menunggu di dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
kejer, nyesek 😭
tapi kalau narendra yg masih suami alika,
waww....... rasanya geram kali